Jaringan pipa PDAM rusak, Wamena krisis air bersih

17walesialbinaa.co.id
Ilustrasi, Walesi, lokasi baru sumber air baku Kota Wamena dan sekitarnya 

“Saat ini air PDAM di Wamena mati total. Penyebabnya terjadi longsoran yang besar di Napua, sekitar 300 meter hingga memutuskan pipa delapan inci dan pipa sudah rusak parah,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Jayawijaya, Max Hattu, di Wamena, Sabtu (20/10/2018).

Wamena – Selama dua tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya telah mengalokasikan dana sebesar Rp 35 miliar untuk mengatasi krisis air bersih di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Jayawijaya, Max Hattu, di Wamena, Sabtu (20/10/2018), mengatakan air PDAM yang selama ini dimanfaatkan tidak mengalir dengan baik akibat putusnya pipa.

Untuk mengatasi persoalan itu, pada tahun pertama Pemkab mengalokasikan Rp 20 miliar dan tahun ke dua dianggarkan Rp 15 miliar, untuk pembangunan indep baru.

“Kita sudah bangun indep di Kampung Wasi. Pemda juga sudah bayar hak ulayat Rp 1 miliar. Tahun kedua, pemerintah mengalokasikan dana Rp 15 miliar dan telah dibangun fasilitas lain bersama IPAL yang ada di taman LIPI,” katanya.

Pembangunan jaringan pipa baru harus dilakukan sebab jaringan pipa PDAM yang selama ini dimanfaatkan sudah rusak akibat tanah longsor.

“Saat ini air PDAM di Wamena mati total. Penyebabnya terjadi longsoran yang besar di Napua, sekitar 300 meter hingga memutuskan pipa delapan inci dan pipa sudah rusak parah,” katanya.

Ia mengatakan air yang selama ini dimanfaatkan yang berada di Napua, juga sudah mengalami penurunan debit sehingga dipilih lokasi baru di Wasi, Distrik Welesi.

“Sumber air baku kita pindahkan ke Wasi, sebab debit air yang di Napua, kini hanya 12 liter per-detik. Pemindahan sumber air baku ke Wasi ini telah berjalan dua tahun,” katanya.

Karena instalasi pipa air itu akan melewati permukiman warga, ia mengajak warga untuk bekerja sama dengan tidak memalang, sebab pemasangan pipa itu untuk kepentingan bersama.

Berdasarkan pantauan, sebagian warga di Kabupaten Jayawijaya masih mengandalkan air kali dan air hujan untuk kebutuhan setiap hari. (*)