Orasi Filep Karma di Aksi Kamisan Bandung ke-255 dengan Tema: Empat Tahun Jokowi “Jokowi Sama Dengan Prabowo”

IMG-20181021-WA0013
Ilustrasi,tolipost

Sebelumnya saya ingin mengklarifikasi dan meluruskan soal saya yang dipenjara pada tahun 2004, itu saya mendapatkan grasi secara paksa, dipaksa keluar dari penjara.

Bandung, Tolipost.com — Bukan mendapatkan abolisi. Jadi kalau abolisi berarti perkara dibatalkan. Kasus saya dibawa oleh Freedom Now, sebuah LSM Internasional, yang memperjuangkan antara lain pembebasan Aung San Suu Kyi, Nelson Mandela, dan Liu Xiaobo dari China yang mendapat nobel itu. (Saya) dibawa ke Pengadilan Arbitrase PBB, kasus saya disidangkan dan ternyata saya tidak melanggar hukum di Indonesia.

Jadi waktu zaman SBY tahun 2011 bulan September-November, (pemerintah Indonesia) diperintahkan (oleh Arbitrase PBB) agar saya segera dibebaskan. Tetapi SBY tidak mau mengeluarkan saya, saya ditawari grasi tetapi saya tolak. Saya hanya minta abolishi kalau memang mau diberikan pembebasan.

Kemudian saat zaman Jokowi, saya juga ditawarkan grasi tetapi saya tolak. Akhirnya setelah mereka hitung-hitung saya dikeluarkan dari penjara dengan remisi, saya dipaksa untuk menerima remisi, meskipun saya menolak, itu lah yang terjadi. Jadi saya masuk penjara sejak 1 Desember 2004, keluar pada 19 November 2015. Jadi sekitar 11 tahun saya dalam penjara. Tapi teman-teman, sepengalaman saya dalam penjara: sewaktu kita masuk penjara, jangan berpikir bahwa ini penjara! Berpikir lah kita pindah rumah kontrakan atau kos-kosan.

Sehingga pikiran kita enak, wah, karena ini rumah saya, istana saya, tetap dirawat dan bersih. Tapi kalau kita berpikir ini penjara, kita akan stres. Jadi saya bagi ilmu supaya kalau teman-teman suatu saat kena dipenjara, sudah siap-siap. Jadi jangan berpikir saya masuk penjara, tidak saya cuma pindah kontrakan.

Jadi kita nikmati, kamar-kita kita nikmati, dan pikiran kita juga jangan menerawang jauh keluar karena akan menyiksa. Lebih baik pikiran kita seputar wilayah kita, seputar kamar kita. Pokoknya nikmati dan apapun yang bisa kita kerjakan, kerjakan. Membuat hati enjoy. Sehingga tidak merasa sedih. Soal keluarga yang ada di luar penjara, serahkan pada tuhan yang maha kuasa.

Baik, sedikit refleksi tentang pemerintahan Jokowi-JK. Teman-teman mungkin sudah banyak mendengar tentang dibangunnya jalan tol di Papua, itu plesetan dari media! Sampai sekarang belum ada jalan tol di Papua, belum ada.

Kemudian dibilang transpapua sudah jadi, sudah diaspal, banyak orang ngomong begitu pada saya, saya bilang: sekarang teman-teman coba pikirkan, apakah Jokowi saat di Papua naik motor trail, itu untuk dipakai di jalan tol, untuk jalan yang aspalnya mulus?

Kalau pakai motor trail berarti untuk jalan yang gradakan yang belum diaspal. Jadi dari itu saja sudah menjawab, bahwa yang baru dikerjakan hanya pengerasan jalan.

Kemudian jalan itu dibangun tidak ada diskusi atau dialog dengan pemilik hak ulayat, pemilik tanah, karena yang mengerjakan semua dari TNI. Jadi rakyat sudah ketakutan duluan. Itu sudah berlangsung sejak tahun 1963. Sampai sejak tahun 2014, era SBY, hingga hari ini juga tidak pernah ada dialog atau diskusi dalam pembangunan transpapua. Begitu tentara datang, ekskavator langsung bekerja, suka suka mereka. Mana lahan yang dipilih, itu yang dibangun. Lalu tempat yang sudah dibangun itu akan dibuatkan pos-pos militernya.

Seperti sekarang, ada operasi pemberantasan teman-teman kami yang TPN, OPM yang berjuang dengan cara angkat senjata, sayap militer, sehingga yang mereka hadapi juga militer.

Tapi oleh militer Indonesia, mereka disebut KKSB kelompok kriminal sipil bersenjata. Tetapi ketika mereka ditangkap, pasti yang dipamerkan sebagai barang bukti adalah bendera bintang pagi atau bendera bintang kejora.

Jadi aneh, kok kriminal ada bendera negaranya?

Ini kan memutar balik kan fakta. Jadi sebenarnya mereka ini pejuang kemerdekaan tapi disebut kriminal bersenjata. Jadi supaya teman-teman ketahui bahwa organisasi perjuangan kami adalah OPM, Organisasi Papua Merdeka, itu terdiri dari dua sisi:

sayap militer itu oleh TPN Tentara Pembebasan Nasional, kemudian yang sayap sipil itu kami. Jadi kami tidak bersembunyi di hutan, kami ada dalam kota. Ada yang sebagai mahasiswa, ada yang sebagai PNS, sebagai polisi pun ada, begitu juga tentara. Cuma mereka tidak berani terang-terangan kalau yang polisi dan tentara, teman-teman PNS juga masih banyak yang belum berani. Itu lah sedikit cerita tentang perjuangan kami.

Kembali ke refleksi pembangunan yang dilakukan Jokowi-JK. Masalah HAM di Papua, sampai hari ini masih terjadi pelanggaran HAM. Banyak orang bertanya pada saya dan saya selalu mengatakan: Jokowi sama dengan Prabowo. Tidak ada bedanya antara Jokowi dengan Prabowo. Kalau Prabowo pelaku pembunuhan di Papua, Jokowi juga pelaku tetapi tidak secara langsung.

Dia Jokowi pembuat keputusan, dia panglima tertinggi, seharusnya dia punya kewenangan melarang untuk jangan ada orang Papua dibunuhi lagi oleh militer. Tetapi beliau tidak melakukan apapun, semua tuntutan kami tentang pelanggaran HAM, beliau tidak pernah menjawab itu. Beliau malah menjawab dengan membangun transpapua, membangun pelabuhan kapal.

“Jadi ibaratnya orang Papua ingin minum kopi murni, tapi kami dipaksa minum cocacola, dengan alasan di dalam kandungan cocacola juga ada kopinya. Itu yang terjadi saat ini”.

Jadi sampai hari ini, di Papua masih ada pengejaran terhadap teman-teman kami, yang berjuang untuk hak kami. Hak kami berdemokrasi di Papua betul-betul dibungkam. Jadi kalau ada kegiatan seperti aksi damai, begitu memberi pemberitahuan kepada polisi, baru saja massa kumpul polisi sudah datang, semua massa dinaikkan ke mobil polisi lalu dibawa ke kantor polisi.

Ditahan sampai menjelang maghrib, baru dilepas pulang. Jadi tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan orasi. Itu yang masih terjadi di Papua sampai hari ini. Jadi sepulang nanti saya ke Papua, kami berencana untuk membuat Kamisan di Papua, berharap agar kami juga punya kesempatan untuk berorasi dan menyampaikan pendapat. Jadi saya minta dukungan untuk teman-teman di sini kalau itu sudah terbentuk di Papua. Saya rasa hanya itu yang bisa saya sampaikan teman-teman.

Hidup korban!
Terima kasih,

 

Teks orasi Pak Filep di atas dicatat dari proses transkripsi rekaman suara yang saya rekam langsung pada saat Aksi Kamisan di depan Gedung Sate, pada hari Kamis 18 Oktober 2018.