Kegilaan di Museum

canova-raum-5-1920-xl-5bd2dc14aeebe124d626119c
Ilustrasi: Dokpri

Geni menabrakkan angan-angannya ke langit kamar yang kusam. Pikirannya bergulat antara rasa percaya dan tidak karena telah terlibat masalah dengan sebuah perkumpulan aneh, atau sekte ganjil mungkin? Atau malah lebih tepatnya lagi jika dia menyebutnya sebagai segmen kegilaan.

Perempuan-perempuan itu selain misterius, brutal, juga seksi dalam hal menerjemahkan kematian. Beruntunglah dia bisa lolos sambil membawa tawanan si gadis mungil yang nampaknya sering trance. Entah kesurupan apa? atau barangkali dia mengidap suatu sindrom bernama asing yang rumit?

Yang jelas sebentar-sebentar si gadis yang mulutnya mirip belati kalau tersenyum itu, memiringkan kepalanya seperti sedang mendengarkan instruksi atau semacamnya. Atau telepati?

Hah! Geni merasakan tengkorak kepalanya berdenyut kencang. Rasanya ingin dia membenturkan kepala ke dinding kamar.

Geni memutar balik lamunannya ke fragmen ketika perempuan yang dipanggil Lily (Geni sedikit tersenyum bila ingat Lily dulu pernah begitu menggilainya di kampus…terimakasih Lily, karena memori romansa itulah yang mendorong Lily menyelamatkannya) menimbulkan kegaduhan di luar. Entah bagaimana caranya, dia menghubungi polisi dan menyampaikan laporan palsu. Sekejap saja polisi berduyun-duyun mendatangi rumah kematian itu.

Ketika El dan Des sibuk meyakinkan polisi bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi, Lily diam-diam membuka ikatannya dan menyuruhnya segera pergi. Geni memohon agar bisa membawa si gadis yang dipanggil En, Lily tak banyak komentar, hanya mengangguk kecil.

Geni tidak tahu bahwa diam-diam Lily memang berniat menyingkirkan En dari lingkaran mereka. Lily takut gadis yang terlihat lugu itu bisa menghancurkan semua. Bagi Lily, keluguan adalah jenis bencana paling berbahaya untuk dihadapi.

Satu hal yang membuat Geni penasaran adalah bagaimana cara Lily menjelaskan semua kepada El dan Des. Saat mereka sadar kehilangan mangsa untuk persembahan pesta 2 hari kemudian?

Geni menggoyang kepalanya. Mencoba mengusir kemungkinan Lily akan dianiaya oleh mereka. Bagaimanapun Lily dan dirinya pernah menuliskan sejarah bersama.

Geni membawa En ke sebuah tempat rahasia yang pasti akan sulit diterka oleh perempuan-perempuan mengerikan itu. Tempat yang cuma Geni dan mendiang Baron tahu bagaimana cara mencapainya.

Dan di sinilah mereka. Geni dan En. Geni sengaja menempatkan En di ruang tawanan, begitu dia dulu dan Baron menamai ruang besar tanpa jendela yang pintunya hanya bisa dibuka dari luar itu. Dia akan menginterogasi gadis itu secara lebih dalam lagi nanti. Tadi dia hanya sempat mengorek keterangan sedikit mengenai identitas si gadis. Cukuplah.

Geni tahu dia harus menggunakan taktik interogasi yang berbeda terhadap En. Gadis yang terlihat lugu itu menyimpan ledakan-ledakan yang bisa sangat berbahaya bagi Geni. Geni sadar. En sangat cerdas. Di rongga kepalanya mungkin malah tersimpan banyak cara untuk meloloskan diri dari pertanyaan dan bahkan mungkin bisa saja menjebak Geni dalam kekacauan selanjutnya.

En gadis yang berbahaya. Geni harus extra hati-hati.
—-
Geni membuka matanya. Ah, rupanya dia tertidur sejenak tadi. Lelah. Rasanya seluruh tulang-tulang di tubuhnya habis dirajam oleh gerombolan hyena.

Geni teringat En. Hmm, gadis itu mungkin lapar. Geni memang marah tapi dia tidak akan setega itu untuk membiarkan En mati kelaparan. Lagipula Geni belum mendapatkan informasi penting apapun dari En. En adalah kunci bagi Geni untuk mengurai labirin yang diciptakan perempuan-perempuan mematikan itu.

Geni mengambil bungkusan roti yang dibelinya tadi. Juga sebotol minuman. Sebelum membuka pintu ruang tawanan, Geni mengintip dari balik lubang kecil di pintu. Gadis itu tidak nampak dari sini. Mungkin dia ada di sudut yang lain. Atau…selintas pikiran mengganggu benak Geni.

Lelaki itu memutuskan tidak segera membuka pintu. Ruang tawanandan ruang kecil tempatnya berbaring tadi adalah ruang rahasia di sebuah musium yang terkenal di tengah kota. Ruang yang dulu dipergunakan menyimpan benda-benda paling berharga milik musium sebelum dipamerkan atau dipindahkan. Demi keamanan tentu saja.

Mendiang Baron dulu mendapatkan akses ke ruang rahasia itu dari pimpinan musium yang mengagumi cara kerjanya mengungkap pencurian sebuah lukisan seorang maestro terkenal.

Baron sering mengajaknya kesini untuk berkontemplasi. Kata Baron, musium adalah sebuah jejak sejarah yang bisa membangkitkan ide dan kreatifitas untuk membuat sejarah berikutnya. Geni tidak setuju saat itu. Bagi Geni, sejarah adalah kisah yang sudah punah. Dituliskan hanya untuk mengingat siapa pemenang dalam sejarah tersebut. Sesederhana itu.

Baron tahu semua jalan dan ruang rahasia di musium yang aktif dan ramai dikunjungi pengunjung ini. Geni tidak. Lelaki itu menyesal kenapa dulu tidak menyerap semua pengetahuan tentang musium ini dari Baron. Tapi untuk apa dulu dia melakukan itu? Bagaimanapun dia tidak tahu dan menduga sedikitpun bisa terjadi hal seperti ini.

Geni menajamkan pendengarannya. Tidak terdengar suara apapun dari dalam ruang tawanan. Bahkan desah nafas pun tidak. Geni mulai curiga. Gadis itu memang sungguh-sungguh berbahaya.

Bagaimana caranya dia mengetahui apa yang dilakukan dan akandilakukan oleh En begitu dia memasuki ruangan. Geni mengerucutkan alisnya. Menimbang-nimbang. Jangan-jangan…..duuhh, sialan!

Geni teringat satu hal penting yang dilewatkannya begitu saja!

Baron dulu sempat menyinggung mengenai ruang rahasia yang masih mempunyai rahasia berikutnya. Menjelaskan secara detail rahasia-rahasia itu. Waktu itu Geni tidak terlalu memperhatikan. Dia lebih sibuk menghabiskan sebotol vodka yang selalu dikantonginya kemana-mana.

Geni mengerahkan ingatannya.

Setengah berlari Geni memutari ruang tawanan menuju ruang pameran di atas melalui undak-undakan yang melingkar. Tangga itu hanya bisa dimunculkan jika sebuah tuas kecil yang tersembunyi di balik bata diungkit.

Geni muncul di ruang pameran yang kebetulan sedang sepi pengunjung. Sembari terus menelusuri jejak ingatannya tentang rahasia dalam rahasia yang dulu diceritakan Baron, Geni dengan tergesa-gesa mengikuti lorong panjang menuju pintu keluar belakang musium. Pintu yang jarang sekali digunakan kecuali hanya untuk proses pemindahan barang berharga.

Ah, betul-betul sialan! Kenapa aku jadi begitu ceroboh? Shit!

Geni ingat sekarang bahwa di ruang tawanan terdapat tombol rahasia di lantai yang bisa membuka pintu kecil yang juga terletak di lantai. Pintu itu kalau tidak salah masuk ke ruang bawah tanah level berikutnya dan berakhir di pintu belakang musium.

Mata Geni melotot tak percaya! Astaga! Pintu belakang itu masih berderit lemah ketika dia tiba di sana. Tanda habis dibuka oleh seseorang. Geni memucat. Siapa lagi kalau bukan En!

Satpam pun tidak punya akses ke pintu itu. Kecuali direktur musium.

Benar! Geni berdiri di tengah pintu yang dia buka hanya untuk menyaksikan sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru berdecit-decit berhenti sambil membuka pintu belakang. Menelan tubuh mungil En yang langsung lenyap di dalamnya. Mobil yang pernah dilihatnya menurunkan si nyonya bergaun merah!

Geni terpaku saat mobil itu melintas kencang di hadapannya. Des di belakang kemudi dengan wajah esnya mencibir penuh ejekan. Di sampingnya El menyeringai sambil memberikan tanda menyembelihdi lehernya. Sedangkan di jok belakang seorang perempuan yang sedang hamil menatapnya lekat-lekat. Di samping En yang tertawa sambil mengangkat sebuah handphone kecil di tangannya.

Padahal Geni yakin sudah menyita handphonenya tadi. Padahal Geni yakin sekali pintu rahasia itu hanya sedikit orang yang tahu. Padahal dia hanya terlelap sekejap saja. Padahal…..

Geni balik kanan. Menutup pintu secepatnya. Berlari menuju pintu depan musium. Dia harus menemui seseorang yang bisa membantunya dalam menghadapi segmen kegilaan ini. Seseorang yang sama gilanya tapi Geni yakin orang itu akan membantunya. Lily!

Geni berburu dengan waktu. Terlambat sedikit saja, dia akan menjadi jamuan makan malam berikutnya. Sialan!

Jakarta,  Oktober 2018