Menikmati Secangkir Kopi, Terinspirasi dari Film hingga Menjamur Menjadi Gaya Hidup

images-3-5bd269b2677ffb5c5f619ba4
sparkplugcoffee

Tidak perlu berhenti, cukup mengurangi?

Sejatinya, secangkir kopi hampir merupakan pengiring  dari setiap aktifitas. Bahkan akhir-akhir ini secangkir kopi sudah menjadi gaya hidup bagi kaum milenial sehingga menjamurnya kedai-kedai kopi dalam negeri mulai dari kelas bawah hingga coffee shop elite dalam memenuhi pasar kawula muda.

Gaya hidup tersebut tidak hanya digemari oleh pria, bahkan banyak sekali pula anak muda dari kalangan wanita gemar menikmati kopi baik yang disajikan dalam kedai kopi maupun lainnya.

Baca Juga : Cerita Menyusuri Lorong Waktu Menikmati Reruntuhan Kota Kuno di Efesus !

Salah satu alasan meningkatnya kegemeran kawula muda dalam menikmati secangkir kopi dan menjamurnya kedai kopi hingga banyaknya minat kawula muda dalam menggeluti profesi sebagai Barista mungkin terinspirasi oleh film Filosofi Kopi karya sutradara Angga Dwimas Sasongko pada tahun 2015.  Film yang diangkat dan diadaptasi dari cerita pendek Filosofi Kopi karangan Dewi Lestari ini menuai banyak tanggapan positif dari masyarakat dalam memenuhi pengetahuan dalam dunia kopi.

Teringat sebuah diskusi, dimana secangkir kopi menjadi sebuah dorongan lahirnya ide-ide serta gagasan  yang cukup menarik dalam menyikapi persoalan sehari-hari dari hasil pemikiran mahasiswa aktif.

Karenanya, secangkir kopi memang suatu teman yang pas dalam menemani berbagai obrolan bagi semua kalangan dalam negeri. Mungkin, bisa dibilang saya ini pecinta kopi tetapi tidak terlalu candu terhadapnya dan hanya dijadikan sebagai pengiring dalam mengisi kegiatan sehari-hari. Juga, Andrea selaku teman hidup saya memiliki rasa yang sama terhadap kopi. Namun tentunya perlu adanya literasi dalam menikmati kopi itu sendiri demi memahami kesadaran akan pentingnya kesehatan.

Kami pada akhirnya menaruh perhatian terhadap dampak kafein setelah membaca berbagai artikle mengenai manfaat kafein dalam tubuh. Ternyata walaupun kopi memiliki segelintir manfaat yang terkandung didalamnya, banyak pula dampak negatif jika dikonsumsi secara berlebih dalam tubuh manusia.

Untuk itu, setelah bertukar-pikiran dalam sebuah diskusi hangat yang dilaksanakan saat senja dan tentunya di temani secangkir kopi. Kami menghasilkan suatu ide dalam menyikapi permasalah ini yaitu; kami menjadikan hari minggu pagi atau saat senja menjadi satu-satunya waktu untuk menikmati secangkir kopi.

Sebuah ide dan gagasan yang dirasa cukup dalam menyikapi permasalahan dalam menikmati secangkir kopi tanpa harus menghilangkan kebiasaan yang telah melekat dalam diri.

“Loh? Mana bisa menikmatinya hanya pada hari minggu? Bagaimana jika jadwal memaksa kalian menikmatinya saat hari-hari lain? ”

Baca Ini :

Setelah Menulis Saya Merasa Tenang

Kesalahan Fatal Dalam Mengelola Waktu

Menikmati Keindahan Sunyi Danau Sentani

Menyikapi pertanyaannya ini, saya sepakat meminum kopi hanya satu hari dalam seminggu. Walaupun saya khususkan pada hari Minggu, namun bisa diganti pada hari lain dengan catatan; tetap sehari dalam seminggu untuk menikmati secangkor kopi.

Jika kawan-kawan memiliki ide maupun saran yang lebih inspiratif, tuangkan semuanya dalam kolom komentar ya! Semoga bermanfaat.

Terimakasih telah membaca artikle ini.

4 tanggapan untuk “Menikmati Secangkir Kopi, Terinspirasi dari Film hingga Menjamur Menjadi Gaya Hidup”

  1. Hidangan kopi tanpa sebatang nikotin adalah kita meninggalkan teman sejati di lembah agung..
    Heheheh Hormat dan luar biasa artikelnya
    Terus berkarya menyuarakan untuk kain yang tak bersuara.
    Salam pejuang pena!

    Suka

Komentar ditutup.