Imajinasi dan Perjuangan (II)

1_Iskk54yYtlHI7S1TWtWiEQ

Satu hal yang membuat saya menuliskan ini, ada hal-hal yang membuat saya terkesima. Sebelumnya, izinkan saya merenungi situasi dan kehidupan yang saya lakoni selama saya hidup. Sebagai hasil aktivitas pribadi dan beberapa kekuatan intelektual serta perjuangan. Ketika saya dibawa oleh mobil polisi dengan beberapa mahasiswa Papua, saya berusaha menjernihkan pemikiran-pemikiran saya dengan warna hitam dalam diri yang belum jelas. Kita seperti raungan singa didalam penjara, kita bebas mengkritik Presiden di sosial media, namun kita selalu dapat perlakuan kurang menyenangkan di jalan. Sesat pikir akan terus bertumbuh dan dipahami dengan jiwa yang cacat.

Produk mana kah jiwa yang cacat itu? Sudah jelas kita di cacat kan dan dibuat lumpuh oleh negeri kita sendiri. Peristiwa-peristiwa bersama mahasiswa Papua membuat hati saya semakin teombang-ambing. Apalagi mendengar kakak perempuan Mahasiswa Papua berbicara “Kakak, di dalam mobil ini panas sekali” kata nya. Kemudian di peluk erat dengan kakak lain nya dan meminta nya sabar kemudian terus merangkai imajinasi yang terus terangkai.

Sungguh, ini perasaan hati yang sangat luar biasa. Saya seperti melebur dengan diri mereka, perjuangan mereka, dan beberapa hal yang membuat kita simpati akan hidup kita yang menyenangkan. Mereka tidak bisa meleburkan eksistensi, dan kita akan menyadari keterpisahannya mereka dengan kebahagiaan yang berusaha mereka raih. Bagaimana kah mereka dapat terlepas dari penjara itu.

Jika kita masih saja dilema akan mempertahankan mereka atau membuat mereka menentukan nasib sendiri di lain waktu. Kita berhak mengambil andil dalam perjuangan mereka, karena ini bukan persoalan apa yang diraih oleh rezim ini dan rezim-rezim berikutnya. Ini permasalahan kemanusiaan.

Kita tak perlu memberikan presentase mengenai berapa luka yang dirasakan oleh orang asli Papua. Melihat papua, seperti melihat mutiara yang berharga dan sulit kita jaga. Beberapa hal lain yang membuat saya semakin simpati adalah ketika salah satu kawan Papua berbicara “Kita ini juga manusia. Kita berhak memilih jalan apa dapat membuat kita merdeka” Mereka, terus membangun infrastruktur. Tetapi tidak membangun kemanusiaan.

Mungkin orang-orang tidak dapat memahami kegusaran mereka karena peran media sangat pasif jika berbincang mengenai Papua. Apabila emas hanya berdiam diri di dalam tanah, kini ia sudah menjadi pusat ya di dalam bumi, ya di Papua.

Sesungguhnya emas itu lah yang membuat mereka depresi, hanya satu doa anak-anak Papua “Mengapa kau turunkan emas di tanah kami. Bisa kah emas itu habis? Kami merasa asing dengan diri kami, kami melihat jutaan wajah berbeda. Kami melihat jutaan senyum semringah. Namun mereka tidak melihat kami sedang menangis”

Izinkan aku menderita dan membuai sembari menunggu mendung yang tak kunjung cerah. Menggelantung pupus diantara beberapa kebahagiaan yang sulit dicapai. Dalam tulisan ini, aku mengungakapkan bukti betapa dalam nya penderitaan mereka dan betapa kuat nya rasa tulus dan cinta yang mereka rangkai. Kawan-kawan, semoga hati kita tidak ditundundukan oleh semangat perlawanan yang tak tahu kapan akan berakhir. Semoga tuhan dapat menyertai perjuangan kita. (*)

One thought on “Imajinasi dan Perjuangan (II)”

Komentar ditutup.