Setelah 40 tahun, konferensi GIDI kembali digelar di tempat lahirnya

22davidkonferensi-gidi
Gubernur Papua Lukas Enembe, Ketua DPRP Papua Yunus Wonda, bersama Ketua Panitia Rick Ham Pagawak, saat melepaskan balon ke udara tanda pembukaan Konferensi GIDI XIX 

Setelah 56 tahun GIDI lahir dan disebarluaskan di seluruh pelosok Papua, serta setelah 40 tahun lebih tidak mengadakan konferensi di tempat lahirnya, kini GIDI menggelar konferensi XIX di Bokondini, tempat lahirnya GIDI.

Bokondini  –  Setelah 56 tahun GIDI lahir dan disebarluaskan di seluruh pelosok Papua, serta setelah 40 tahun lebih tidak mengadakan konferensi di tempat lahirnya, kini GIDI menggelar konferensi XIX di Bokondini, tempat lahirnya GIDI.

Gubernur Papua, Lukas Enembe, dalam sambutannya saat membuka Konferensi Umum Gereja Injili di Indonesia (GIDI) XIX wilayah Bogo, di Bokondini, Kabupaten Tolikara, Selasa (27/11) siang, mengatakan Sinode harus berjalan baik dalam suasana suka cita, kebersamaan, dan kekeluargaan.

“Semua elemen harus bersatu dan siapapun yang terpilih adalah mekanisme orangtua kita, para kader gembala yang ikut konferensi, yang sudah biasa mereka lakukan,” kata Gubernur Enembe.

Pada kesempatan itu, Gubernur Enembe juga mengingatkan para bupati yang merupakan kader GIDI agar tidak mengintervensi pelaksanaan konferensi yang akan memilih Presiden dan Wakil Presiden GIDI.

“Saya punya kader (bupati wakil bupati-Red) jangan sampai terlibat. Serahkan pada orangtua kita, terserah mereka punya mau. Kita cukup membantu memfasilitasi pelaksanaan konferensi,” tegasnya.

Pembukaan konferensi dihadiri Kapolda Papua, Ketua DPRP, dan jajaran Forkopimda Papua, pemimpin gereja Baptis dan Kingmi, serta sejumlah bupati di wilayah pegunungan di antaranya Bupati dan Wakil Bupati Tolikara, yang juga selaku pemilik wilayah pemerintahan, Bupati Puncak, Puncak Jaya, Yahukimo, Wakil Bupati Pegunungan Bintang, dan para anggota legislatif tingkat provinsi.

Konferensi juga dihadiri missionaris dari 12 negara. Sementara peserta yang hadir berjumlah lebih dari seribu kader yang berasal dari 9 wilayah pelayanan GIDI, antara lain wilayah Bogo, Toli, Yamo, Yahukimo, Pegunungan Bintang, pantai utara, pantai selatan, dan Yasumbas.

Pembukaan konferensi diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Jems Steri.

Kegiatan konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini akan diselenggarakan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden GIDI.

Sejumlah calon kuat di antaranya Presiden Gidi, Pdt Dorman Wandikbo, Wakil Presiden GIDI, Pdt Usman Kobak, dan mantan Presiden GIDI, Pdt Lipiyus Biniluk.

Ketua panitia konferensi GIDI  XIX, Ricky H Pagawak, kepada wartawan usai acara pembukaan, menjelaskan peserta yang hadir dalam konferensi sebanyak 1.600 orang, yang dari sembilan wilayah.

Paska konflik, kata Pagawak, panitia bersama pihak keamanan sudah melakukan rapat dan sudah ada kesepakatan pihak keamanan akan menjaga sampai kegiatan ini selesai.

Dalam konferensi ini agenda utama adalah laporan pertanggungjawaban Presiden GIDI periode sebelumnya, membahas AD/ART GIDI, dan pemilihan Presiden GIDI masa jabatan 2018-2023.

Dalam laporannya, Pagawak menyebutkan konferensi yang akan berlangsung selama tiga hari ini menghabiskan dana sekitar Rp 80 miliar, yang berasal dari dana hibah Pemerintah Provinsi Papua, APBD Mamberamo Tengah, sumbangan sejumlah bupati yang merupakan kader GIDI, para kepala kampung dari 59 kampung wilayah Bogo, dan sumbangan dari donatur lainnya.

Pembukaan konferensi ditandai dengan pelepasan balon oleh Gubernur Papua dan peluncuran album rohani dari grup Tari Voice. Sebelum membuka konferensi, Gubernur yang didampingi Ny Yulce Enembe meresmikan tugu salib sebagai simbol pertama kal Injil masuk di wilayah Bokondini. *(