Analisis, dan Tafsir Literatur| 2001: A Space Odyssey [9]

12ody-5bfb7c916ddcae7c5f1ad1d2

Analisis, dan Tafsir Literatur: 2001: A Space Odyssey  Bagian Tiga dan Empat (Bab 41-47); Bintang bintang bergegas melewati bidang penglihatan Bowman seolah dia bergerak sangat cepat, tetapi ujung Gerbang Bintang tidak pernah tampak lebih dekat. Jam digital onboard telah melambat dan akhirnya terhenti. Bowman tidak tahu seberapa cepat dia bergerak atau apa yang akan terjadi, tetapi dia merasakan ketenangan yang ekstrim saat petualangan ini mendekatinya. Kemudian, Bowman merasakan bukaan yang tumbuh di ujung terowongan intergalaksi ini; dia melewati itu menjadi dunia yang luas, dipenuhi dengan jaringan bangunan yang rumit di tanah. Langit di atasnya berwarna putih, dengan sedikit bercak hitam. Sepertinya ini adalah dunia yang terbalik dengan langit putih dan bintang hitam. Bowman melihat sekeliling, tetapi segera podnya digiring kembali melalui salah satu titik hitam, “dia melewati Grand Central Station of the Galaxy.”

Ketika Bowman kembali dibebaskan, dia melihat bintang di sekelilingnya. Dia menoleh ke belakang dan melihat pembukaan dari mana dia datang, perlahanlahan digantikan oleh bintangbintang, “seolaholah sewa di bidang ruang telah diperbaiki.” Kagum, dia memandangi banyak keajaiban yang memenuhi langit di depannya; lalu podnya mulai turun menuju matahari raksasa, merah,. Ketika dia bergerak menuju bintang, Bowman menyadari  dia tidak terpengaruh oleh panas yang sangat besar. Kecepatan di mana dia bepergian seharusnya telah membuatnya terkoyak juga. Dia merasa, dan dijaga dan dilindungi. Melalui api yang membumbung, Bowman melihat apa yang tampak seperti ribuan manikmanik. Meskipun dia tidak memahaminya, Bowman sedang mengalami jenis ciptaan baru yang belum pernah dikandung oleh manusia. Polong datang untuk beristirahat di lantai apa yang tampaknya suite hotel yang bagus. Ketika Bowman melihat sekeliling, semua perlengkapan rumah yang normal mengelilinginya, dari tempat tidur dan kursi hingga karya seni yang dikenalnya; hanya buahnya yang tidak pada tempatnya. Dia menjelajahi suite untuk menemukan lemari es dan kotak makanan yang terlihat akrab. Namun di dalam kotakkotak itu, hanya goo biru yang menyerupai puding. Bowman mencicipinya dan itu cukup bagus. Bukubuku di suite itu memiliki judul yang bisa dikenali, tetapi kosong di dalamnya. Bowman berbaring di tempat tidur dan mulai menonton TV — programnya sudah tua, sekitar dua tahun ketinggalan zaman. Bowman menyadari  suite itu dibuat berdasarkan program televisi, digunakan untuk mendapatkan informasi tentang apa yang akan membuat manusia normal merasa lebih nyaman. Lelah, Bowman memadamkan cahaya dan pergi tidur untuk terakhir kalinya.

Bowman merasa dirinya hanyut. Dia mulai memasuki dunia di mana tidak ada manusia yang pernah pergi sebelumnya. Ingatannya tentang suite hotel berkedip di depannya, lalu Star Gate, dan Discovery.Ingatannya terkuras dari otaknya, tetapi disimpan di tempat lain. David Bowman sedang dilahirkan kembali, tetapi kali ini, abadi. Array cahaya dan bentuk muncul di hadapannya dan dia melihat  dia tidak lagi membutuhkan Star Gate untuk melakukan perjalanan melalui ruang angkasa. Pengetahuan baru yang luar biasa datang ke hadapannya. Dia merasa seperti sedang diawasi dan dilindungi, dan tahu  dia tidak akan pernah sendirian.

Di hadapannya, Bowman melihat Bumi, “mainan berkilauan yang tidak bisa ditolak oleh StarChild.” Di bawah sana, alarm akan berdering dan, manusia sejarah sudah tahu, akan segera berakhir. Satu muatan penghancuran telah dilepaskan dan perlahanlahan bergerak melintasi langit. Ini tidak cocok untuk kekuatan Bowman dan dia meledakkan megaton sementara masih di udara. Dia merenungkan kekuatannya sebagai penguasa dunia, dan  dia harus memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Akhir buku agak sedikit rumit. Bowman diberikan karunia teknologi  peradaban yang membangun TMA1 telah datang. Dia diabadikan, berubah menjadi energi, dan diberi kekuatan besar untuk bergerak dan berdampak pada dunia fisik hanya melalui tindakan kehendaknya. Dia kembali untuk melihat Bumi.

Penulisan bab terakhir bersifat metaforis dan agak tidak jelas. “Muatan kematian yang pincang” adalah senjata nuklir. Bowman telah kembali untuk melihat Bumi, tepat ketika senjata nuklir sedang dirilis. Alihalih membiarkannya jatuh kembali ke Bumi dan menimbulkan kehancuran besar, Bowman meledakkan senjatanya di udara. Ini menghasilkan “fajar palsu.”

Acara akhir ini membawa buku kembali ke tema didaktik sentralnya. Sama seperti senjata nuklir disebutkan sebagai bahaya potensial menjelang akhir bagian pertama buku ini, mereka disajikan sebagai bahaya besar yang akhirnya disadari dalam adegan terakhir buku ini. Beruntung bagi mereka yang ada di Bumi, StarChild ada di sana untuk menjaga senjata nuklir agar benarbenar turun ke Bumi dan menyebabkan kehancuran. Di dunia nyata, tidak ada kekuatan mahakuasa yang dapat kita harapkan untuk menyebarkan hulu ledak nuklir yang terbang di udara menuju target. Sementara akhir buku ini menyajikan skenario penuh harapan,  dunia tidak dihancurkan oleh senjata nuklir, ia melukiskan gambaran yang suram. Setelah semua, senjata nuklir dilepaskan. Dan, di dunia kita, begitu senjata diluncurkan, kehancuran akan terjadi. Adegan terakhir ini, kemudian, menekankan peringatan yang ingin disampaikan oleh buku ini. Kami tertatihtatih di ujung bencana nuklir. Kita harus melakukan segalanya dalam kekuatan kita untuk memastikan  itu tidak terjadi. *(

Puluhan Warga Asmat Diduga Keracunan Nasi Bungkus

IMG-20181125-WA0000-774x550
Warga saat dirawat di Puskesmas Atsj, Kabupaten Asmat

Toli Pos – Puluhan warga Distrik Atsj Kabupaten Asmat, Papua diduga keracunan nasi bungkus yang dikonsumsinya usai menghadiri sosialisasi program Bangun Generasi dan Keluarga (Bangga) Papua yang dilaksanakan pemerintah kabupaten itu di SD Inpres Atsj, Sabtu (24/11).

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol A.M. Kamal mengatakan, jumlah warga yang diduga keracunan dan mendapat perawatan di Puskesmas Atsj sebanyak 79 orang, terdiri dari 24 dewasa dan 55 anak-anak.

Menurutnya, usai sosialisasi, panitia membagikan nasi bungkus kepada warga yang hadir, ada warga yang makan di lokasi, juga membawanya pulang ke rumah.

Sekira pukul 15.00 WIT, peserta sosialisasi meninggalkan lokasi dan kembali kerumah masing-masing. Pukul 17.00 WIT tenaga medis di Puskesmas Atsj mulai menangani warga yang mengeluh muntah-muntah dan buang air.

“Setelah dicek, para warga itu merupakan peserta sosialisasi Bangga Papua. Mereka kemudian diberikan cairan dan obat untuk mengatasi keracunan,” kata Kombes Pol A.M. Kamal, Minggu (25/11).

Katanya, untuk menangani puluhan warga yang diduga keracunan itu, dokter dan perawat tambahan didatangkan dari Agats, ibu kota Kabupaten Asmat ke Distrik Atsj dengan membawa cairan dan obat-obatan. Setelah kondisinya mulai membaik, para warga diperkenankan kembali ke rumah masing-masing.

“Selain membantu dokter dan perawat menolong para warga yang diduga keracunan itu, polisi juga mengambil sampel nasi bungkus yang dikonsumsi, mengambil data dan meminta keterangan panitia penyelenggara,” ucapnya.

Dari keterangan panitia lanjut Kombes Pol Kamal, nasi bungkus itu telah disiapkan sejak Sabtu pagi, dibawa dari Agats ke Distrik Atsj yang ditempuh 1,5 jam perjalanan menggunakan speedboat.

“Berdasarkan keterangan beberapa korban, kebanyakan di antara mereka membawa pulang nasi bungkus yang mereka terima untuk dimakan di rumah,” ujarnya. *(

5 Alasan Kenapa Harus Bijak Membagikan Pesan WhatsApp Berbau Politik dan SARA

hands-1167618-960-720-5bfbc8e26ddcae78c95b7942
Sumber: Pixabay

Entah kenapa siang ini sesuatu di kepala saya membisikkan permintaan untuk menuliskan hal ini. Maka dari balik ruang kerja saya dengan jendela di mana saya bisa mengintip LRT Sumsel yang lalu-lalang, memandangi langit mendung dan daun-daun pepohonan tepi pagar kantor ditiup angin, saya menuliskan tulisan ini. Sambil menurunkan nasi dari menu makan siang yang baru saja saya santap, saya menulis. Boleh dong, kan masih jam istirahat, sholat dan makan (ishoma).

Tentu saja bukan tanpa sebab. Sejak kemarin sampai siang ini saya merasakan betapa jengahnya dipaksa menerima dan membaca pesan Whatsapp (WA) politik di WhatsApp Group (WAG) yang saya ikuti. Sebetulnya bukan kemarin dan hari ini saja, sudah sejak lama kejadian itu terjadi. Rasanya… maaf, saya seperti dipaksa membaca sampah WA seperti itu.

Ya, beginilah kondisi WhatsApp Group saat jelang pilpres 2019. Pesan politik berseliweran dihampir semua WAG. Entah sesuai atau tidak sesuai dengan platform grup (kalau ada platformnya), pada maen hajar share pesan berbau politik. Dunia per-WAG-an sudah menjadi ajang jualan politik Pilpres 2019.

Apa saja? Banyak. Dari WA pro dan kontra tentang pihak paslon 01 dan 02, sampai pesan yang sangat intolerance bahkan SARA. Herannya, meski sudah ada info yang mengatakan ada intel yang mengawasi WAG (masa sih), rupanya tidak menyurutkan pesan WA politik itu dishare secara sembarangan di WAG.

Kemarin siang, hiks, di salah satu WAG lokal yang saya ikuti, situasi runyam muncul gegara kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Palembang. He, jika kompas.com menurunkan tulisan tentang elektabilitas Jokowi disinyalir cuma 37% di Sumsel, saya menurunkan tulisan ini saja. Apa pasal? Sebab yang pro dan kontra kunjungan tersebut menyikapi dengan komen di WAG secara tidak rasional. Tentu saja alasan dibalik itu semua adalah karena perbedaan pilihan politik.

Ada yang langsung membagikan link berita memojokkan pihak kubu petahana, ada yang membagikan kegiatan politik kubu lawannya dengan puja-puji dan menyuruh yang lain percaya. Sisanya komentar saling sindir dan saling serang, dengan bahasa beragam. Halus, kasar, kalimat bersayap yang sebetulnya memicu kebencian, dsb.

Pagi ini, di WAG terkait alumni tempat kerja, he, saya masih juga dipaksa membaca sampah. Saya sebut sampah sebab dishare tidak melihat konteks dan situasi lagi. Wong pesan ajakan Acara Reuni Demo 212 dishare di grup alumni kerja yang anggotanya sangat beragam.

Ada yang muslim, ada yang non muslim, ada yang Muslim tapi bukan fans 212, ya memang ada sih yang simpatisan 212 tapi ya kok tidak menghargai perbedaan. Seolah bilang siapa saja boleh menshare apa saja. Tinggal yang membaca mau setuju hayo, tidak setuju delete saja, wew. spechless saya.

Sumber Foto: indopos.co.id
Sumber Foto: indopos.co.id

Situasi yang membuat saya jengah. Pernah mengalami kejengahan yang saya alami, gaes? Semoga tidak. Jangan jengah gaes, cukup saya ajah, he.

Sebetulnya, ada hal-hal yang harus kita ingat sebelum mensharepesan WhasApp. Berikut 5 hal kenapa kita harus bijak sebelum menshare pesan politik dan berbau SARA di WAG menurut saya;

  1. Jangan menshare pesan WA berbau politik dan SARA secara sembarangan. Kita tidak bisa memaksa kehendak pilihan politik kita kepada orang lain. Sebab pilihan politik itu sesuatu yang terkait latar belakang. Entah agama, tingkat pendidikan, lingkungan dsb.
    Pilihan politik orang lain adalah hak asasinya. Sedangkan WAG adalah tempat ajang silaturahim sebuah kelompok. Kecuali anda menshare tentang paslon A dan menjelekkan paslon B di grup timses paslon A. Masih masuk akal sih, meskipun ya bahaya juga ketika kritik dan fitnah itu tidak berdasar dan hoax mulu
  2. Jangan menshare berita politik di grup keluarga, grup kerja, grup komunitas. Kenapa? sebab dipastikan akan timbul kerunyaman. Tidak semua anggota WAG sepandangan dengan anda. Hati-hati juga, pesan anda bisa membahayakan anda sendiri. WAG konon bisa diretas oleh yang bukan anggota loh, bisa bahaya kalau anda menshare pesan yang tendensius dan tak jelas, apalagi yang hoax dan bersifat fitnah terhadap kelompok tertentu. Bisa dilihat di sini
  3. Jangan menshare WAG agama dan rasis secara sembarangan meski menurut anda mayoritas anggota WAG sama agama dan tingkat kefanatikannya dengan anda.
    Menurut saya itu aneh dan sangat tidak bijak. Sebab dunia ini, termasuk dunia WAG bukan soal mayoritas dan minoritas. Semua orang dan semua pihak harus dihargai keyakinan, perasaan dan pilihannya.
  4. Berbagi nasehat agama, syiar agama itu bagus. Hanya jangan maksa dan dishare pula secara sembarangan. Pesan agama ya share di grup pengajian. Jangan lupa lihat-lihat dulu pakemgrup pengajiannya. Pengajian wirid dan salaf jangan anda kirimi pesan ajakan demo 212, bisa berabe. Kecuali kalau anda kirim di grup pengajian 212.
  5. Luaskan pikiran. Perbanyak membaca buku. Jangan jadi pengamat politik dadakan sok teu hanya dari membaca share link yang ditulis orang dan anda share ulang sembarangan pulak.
    Perbanyak amal dengan berkerja nyata. Kurangi menghabiskan waktu di WAG. Lebih baik bekerja dan beraktivitas di dunia nyata. Dengan demikian, dijamin akan mengurangi anda dari hal kurang berfaedah yaitu mensharepesan WA berbau politik dan SARA. Kecuali anda buzzer paslon. Buzzer paslon juga harus melihat situasi seperti uraian saya sebelumnya. jangan asal share.

Begitulah. Berinteraksi di WhatsApp ada etikanya juga. Banyak yang sudah menuliskan etika berinterkasi melalui pesan di WAG tersebut. Salah satunya di sini. Apalagi etika menuliskan pesan WA politik dan SARA, harus lebih hati-hati dan bijak.

Demikian. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika tidak berkenan. Salam kompak selalu. Salam Kompal. Salam Kompasiana. Salam Nusantara. Salam no hoax dan No share WA politik dan SARA sembarangan. *(

Studi: Baca Buku Dapat Cegah Demensia

book-optis

Bermain permainan papan (board game) dan membaca buku ternyata bukan hanya kegiatan mengisi waktu luang. Penelitian terbaru menunjukkan kegiatan semacam itu dapat mencegah risiko demensia di usia tua.

Studi itu diterbitkan dalam jurnal JAMA Psychiatry. Hasil didapat setelah peneliti mengamati lebih dari 15.500 orang berusia 65 dan lebih tua yang tinggal di Hong Kong. Untuk mendapatkan data akurat, mereka diamati selama sekitar lima tahun.

Pada awal pengamatan dan selama wawancara lanjutan, peserta pria dan wanita ditanya tentang “kegiatan intelektual” apa pun yang telah mereka lakukan dalam sebulan terakhir. Termasuk di antaranya membaca buku, koran, atau majalah, bermain permainan papan atau permainan kartu. Kesehatan mereka secara keseluruhan juga dinilai selama pertemuan ini.

Para peneliti kemudian menemukan risiko pengembangan demensia secara signifikan lebih rendah di antara orang-orang yang melaporkan melakukan kegiatan intelektual sehari-hari, dibandingkan dengan yang sebaliknya. Sebagai catatan, hasil ini di luar faktor pendukung lain, seperti makan sehat dan berolahraga teratur.

“Mengingat populasi usia lanjut di seluruh dunia, mempromosikan keterlibatan rutin dalam kegiatan intelektual dapat membantu menunda atau mencegah demensia,” tulis para penelitian, dikutip dari Time, Sabtu (2/6).

Meski begitu, studi ini tidak menunjukkan kegiatan seperti membaca dan bermain gim bakal 100 persen membuat seseorang dapat menghindari demensia. Hanya saja ditekankan kurang berpartisipasi dalam kegiatan intelektual bisa mengarah pada demensia.

Kesimpulannya aktivitas yang membutuhkan kerja otak, terutama pada usia lanjut, dapat memberikan dampak positif pada kinerja ingatan.

Bejat! Kakek di Jembrana Cabuli Cucu di Kebun, Modus Ajak Sabit Rumput

bejat-kakek-di-jembrana-cabuli-cucu-di-kebun-modus-ajak-sabit-rumput
ilustrasi pencabulan. ©2018 Tolipos.com

Tolipos.com – GL, Pria paruh baya berusia 65 tahun terancam dibui di hari tuanya. Betapa tidak, di usianya yang terbilang sepuh, warga Banjar Keleran, Desa Yahembang, Jembrana ini malah berlakon tak terpuji dengan mencabuli bocah berusia 7 tahun.

Padahal, GL punya istri beranak dua serta beberapa orang cucu.

GL tepergok ibu korban saat melancarkan aksi bejatnya di sebuah kebun kosong. Saat itu, ibunda korban memergoki GL dan anaknya tidak mengenakan celana.

Panik, GL langsung mengenakan celana dan kabur. Ibu korban yang masih tak percaya lantas mengadu kepada suaminya. Tanpa tedeng aling, keduanya sepakat menempuh jalur hukum dengan melapor ke Mapolsek Mendoyo, Jembrana, Bali.

Aparat Polsek Mendoyo yang mendapat laporan tersebut langsung menuju ke TKP dan berhasil mengamankan kakek GL yang masih terhitung kerabat keluarga korban dibawa ke Mapolsek Mendoyo, untuk dimintai keterangan. Sementara Bunga divisum ke RSU Negara.

“Yang lihat kejadian itu anak saya, ibunya Bunga (korban, nama samaran), saya langsung lapor ke Polsek bersama menantu saya (bapak Bunga). Saya minta masalah ini diproses hukum,” tegas Ketut Lau kakek Bunga ditemui di Mapolsek Mendoyo, Sabtu (24/11).

Ia juga menyampaikan, dari celana dalam cucunya terdapat bekas cairan sperma. Dia menduga pelaku yang masih terhitung kakek Bunga telah menyetubuhi cucunya itu.

“Celana cucu saya yang ada cairan sperma sudah diambil oleh polisi. Kasihan cucu saya, seharusnya pelaku melindunginya,” ujarnya.

Ia membeberkan, peristiwa memalukan itu terjadi sekitar pukul 08.30 Wita, saat itu Bunga (korban) diajak pelaku ke kebun sambil menyabit rumput. Namun tidak ada yang tahu pelaku mengajak korban. Lantaran korban tidak ada di rumah, ibunya langsung mencari hingga akhirnya menemukannya di kebun dekat rumah bersama pelaku.

Terkait hal tersebut Kanit Reskrim Polsek Mendoyo Ipda Gusti Ngurah Artha Kumara, enggan memberikan keterangan karena masih melakukan pemeriksaan dan Bunga masih dimintakan visum et repertum ke RSU Negara.

“Nanti saja kami berikan keterangan sekarang masih pemeriksaan dan diduga korban masih divisum. Coba konfirmasi ke Bapak Kapolsek,” ujarnya. *(

Mogok massal, Senin besok Maskapai Argentina batal terbang

 

86penerbangan
Ilustrasi penerbangan, pixabay.com

 

Pemogokan terbuka berakhir masalah termasuk apa serikat disebut upah yang tidak memadai.

Argentina –  Maskapai penerbangan milik negara Argentina Aerolineas Argentinas, membatalkan semua penerbangan yang dijadwalkan pada Senin (26/11/2018) besok karena akan ada rencana pemogokan massal yang dilakukan oleh pilot dan personil lainnya. Pemogokan ini dilakukan beberapa hari jelang negara itu menjadi tuan rumah pertemuan G20.

“Lebih dari 370 penerbangan, yang mempengaruhi 40 ribu wisatawan telah dicoret dari jadwal,” kata Aerolineas dalam sebuah pernyataan, Jumat (22/11/2018).

Pada 30 November, pertemuan tahunan para pemimpin 20 negara ekonomi terbesar dunia akan diadakan di Buenos Aires. KTT G20 akan menjadi yang terbesar yang pernah diadakan di Argentina.

Negara dengan inflasi dan resesi berharap untuk menggunakan pertemuan G20 untuk memamerkan kebijakan ramah lingkungan dari Presiden Mauricio Macri. Sejak menjabat pada akhir 2015, Macri dinilai gagal menarik investasi asing yang signifikan.

Industri di Argentina sering diwarnai dengan aksi pemogokan oleh aktivis serikat pekerja. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa investor masih mempertimbangkan masik ke Argentina.

“Mengingat kebutuhan untuk melindungi penumpangnya, Aerolineas terpaksa membatalkan seluruh operasi yang dijadwalkan untuk hari itu (Senin) dan memprogram ulang penerbangan dengan cara yang paling teratur,” kata pernyataan itu menjelaskan.

Dalam pernyataannya Aerolineas menuding dua serikat pilot dan Asosiasi Personel Aeronautika dan Asosiasi Tenaga Teknis Aeronautika sebagai kelompok yang akan menyerang.

“Mulai pukul 00:00 Senin pagi (03:00 GMT) 26 November akan ada penghentian total kegiatan,” kata sebuah pernyataan di situs serikat pilot lokal APLA.

Pemogokan terbuka berakhir masalah termasuk apa serikat disebut upah yang tidak memadai. Sedangkan penghentian tenaga kerja adalah hal yang umum di Argentina. Mereka umumnya menuntut kenaikan gaji sesuai inflasi yang sulit dipenuhi oleh para majikan.

Tercatat Pada Oktober lalu, harga konsumen di Argentina naik 5,4 persen. Inflasi tahunan diperkirakan akan mencapai 47 persen pada akhir tahun ini, menurut jajak pendapat terbaru dari bank sentral. *(

Generasi Papua Zaman Now diminta perkuat daya saing

90alexgub-papua
Gubernur Papua Lukas Enembe saat menghadiri perayaan hari otonomi khusus

“Anak-anak Papua yang sudah diberi kesempatan menempuh pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. Jadi harus perkuat daya saing, jangan kembali dan menjadi bodoh,” kata Lukas Enembe, saat perayaan Hari Otonomi Khusus ke-17, di Jayapura, Rabu (21/11/2018).

Jayapura – Gubernur Papua Lukas Enembe minta generasi Papua Zaman Now diminta memiliki kualitas intelektual, kreativitas, dan inovasi agar tak kalah bersaing dengan anak muda dari daerah lain.

“Anak-anak Papua yang sudah diberi kesempatan menempuh pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. Jadi harus perkuat daya saing, jangan kembali dan menjadi bodoh,” kata Lukas Enembe, saat perayaan Hari Otonomi Khusus ke-17, di Jayapura, Rabu (21/11/2018).

Ia tekankan pondasi pembangunan yang sudah diletakkan para gubernur Otsus untuk kemajuan Papua, wajib dilanjutkan oleh generasi berikutnya dan tentu harus jauh lebih baik dari sekarang.

“Kita minoritas di republik ini, orang Papua sedikit. Oleh karena itu, tunjukkan dengan daya saing. Sebab, kalau kalian menunjukkan kualitas intelektual yang bagus maka kita diperhitungkan di negara ini,” ujarnya.

Menurut ia, generasi Zaman Now harus bisa mendedikasika diri untuk membangun Tanah Papua, dengan tidak bersikap loyo, jadi pemabuk, tidak baku bunuh, dan berkelahi terus menerus. Tetapi harus menunjukkan kemampuan dalam membangun Bumi Cenderawasih.

“Tantangan hari ini berbeda dengan tantangan yang akan datang, mari persiapkan diri sebaik mungkin dengan meninggalkan perilaku negatif,” kata Enembe dengan tegas.

Pada kesempatan itu juga, Gubernur Enembe mengajak para generasi Papua untuk tidak mempersoalkan kekurangan yang saat ini terjadi di era Otsus, tetapi harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan ke depan yang lebih dasyat.

“Generasi Zaman Now pola berfikir dan kemampuan jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Untuk itu, harus jauh lebih baik dalam membangun Papua,” ujarnya.

“Generasi sekarang harus bisa melewati batas generasi sebelumnya, sehingga mampu membangun negara yang kita cintai ini ke arah yang lebih baik lagi,” sambungnya. *(

Mahkota Raja Jokowi, Menusuk Sri Sultan Hamengkubuwono X Dan Keluarga Ninggrat Di Jawa!

IMG-20181120-WA0003

 

Oleh: Natalius Pigai

Tulisan ini adalah lanjutan dari 2 tulisan tentang kekuasaan dalam perspektif Jawa dalam tahun ini. 2 judul sebelumnya “Kumbakarna Mati, Rahwana Akan Tumbang dan Pemimpin Yang Ambisius Selalu Kobarkan Perang, Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, Sekti Tanpo Aji..”

Ketiga tulisan ini saya mengulas pemikiran Jawa tentang kekuasaan. Tentang perebutan tahta kerajaan, tentang jatuh bangunnya kerajaan dan juga tentang penghianatan, pecundang dan petarung, tentang perang dan damai. Semua tulisan berorientasi untuk melihat secara jernih perebutan pengaruh dan kekuasaan yang dipertontonkan oleh Presiden Joko Widodo. Meskipun demikian tulisan saya juga sering bersifat nasehat untuk mengingatkan Jokowi sebagai seorang rakyat biasa dalam tipologi kelas di Jawa.

Dalam seminggu terakhir ini Rakyat Indonesia heboh melihat akrobat politik sejumlah pihak dengan memunculkan poster Jokowi sebagai Raja Jawa. Poster Jokowi Raja Jawa alias Joko Widodo dipasang di berbagai kawasan di Jawa Tengah.
Semula Pihak PDIP menduga dan menuduh poster Jokowi Raja Jawa itu bagian kampanye hitam untuk menjatuhkan Joko Widodo yang dilakukan kubu lawan. salah, Poster Jokowi Raja Jawa dipasang secara massif di sejumlah daerah bahkan di angkutan perkotaan (angkot).
Reaksi keras PDIP itu akhirnya diketahui bahwa penyebar poster itu bukan pihak Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Ternyata pihak Jokowi sendiri yang memasang poster Jokowi Raja Jawa.

Apa yang dipertontonkan oleh pihak Jokowi dalam konteks cara pandang dan pemikiran kekuasaan Jawa tentu sangan kontras. Bahkan bertentangan dengan cara pandang Jawa tentang kekuasaan. Meskipun dalam pelaksanaan jatuh bangunnya kerajaan di Jawa penuh intrik dan konflik.

Tipologi masyarakat Jawa tergambar jelas dan dipotret oleh sosiolog kenamaan Cliford Geerz dalam 3 kelompok komunitas yaitu:

1. Priyayi, kaum Priyayi adalah para keluarga ningrat. Kaum ninggrat berbasis pada kelompok penguasa kerajaan baik besar sepeti Kerajaan Mataram juga kerajaan-kerajaan kecil. Mereka disebut darah biru pengelolah kuasa secara turun temurun. Sejak Senopati 1 sampai Amangkurat dan Hari ini Sri Sultan Hamengkubuwono X dan sanak saudara dalam ikatan pertalian darah.

2. Santri yang berbasis di tempat pesantren dibawah asuhan kyai atau guru agama, khususnya dalam konteks agama islam atau cara pandang Jawa islam. Komunitas santri terkolonisasi dalam salah satu penghayatan spiritualitas agama Islam baik di langgar, mesjid maupun juga disekolah-sekolah agama milik NU dan Muhamadiyah.

3. Kelomok Abangan, mereka tidak termasuk priyayi, tetapi juga bukan santri. Kelompok abangan ini lebih melekat pada masyarakat petani, buruh dan budayawan. Penghayatan tentang nilai hidup berbasis pada kepercayaan spiritualitas Jawa (javance views), seringkali masuk dalam perguruan pencak silat, atau perguruan spiritualisme kejawen. Kekuasan dan kehidupan dinilai dalam cara pandang Tahayul dan mistik meskipun aspek yang dilihat dalam tahayul tersebut tentang kebaikan, ijo royo-royo, tata tenteram Kerta raharjo, gema ripa loh jinawi. Jokowi adalah salah satu kelomok komunitas kaum abangan dalam kelas sosial masyarakat Jawa. Dia bukan kelas priyayi juga bukan kelas santri. Jokowi tidak berada didalam kelas masyarakat yang melingkari kekuasan. Dia kelas rakyat jelata yang jauh dari kekuasaan.

Pertanyaannya, apakah dengan pembagian kelas ini, kaum santri dan abangan tidak bisa menjadi pemimpin? Jawaban kalau hari ini tentu saja tidak! Karena Indonesia negara modern Republik, bukan monarki absolut juga monarki konstitusional. Namum bagi masyarakat Jawa bukan soal kepemimpinan tetapi ini soal wibawa, kharisma, pengayom, penuntun hanya melekat kepada keluarga priyayi. Karena itu sekalipun Jokowi menjadi Presiden wibawa, kharisma, jiwa pengayom dan penuntun tidak akan tercabdra di muka rakyat Jawa khususnya komunitas masyarakat penghuni wilayah mataraman.

Apalagi Jokowi meskipun Presiden dia berasal dari kelas rakyat biasa, bukan keluarga priyayi sekalipun Keluarga Mangkunegaran dan juga kesunanan. Apa yang diperlihatkan kelompok Jokowi dengan Mahkota Raja Jawa sangat mungkin menyinggung keluarga priyayi Mataram termasuk Keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono x.

Apalagi Jokowi orang Solo. Mataram memandang Surakarta (Solo) dalam konteks perebutan kekuasaan atau pemecahan wilayah kuasa sejak adanya perjanjian Giyanti 1755. Itulah penyebab utama (causa prima) dimana Raja Jawa Paling mungkin Tersinggung.

Kerajaan Mataram di Yogya masih menganggap orang Solo masih penghianat, penghancur kuasa dan bahkan tidak patriotik dan nasionalis. Dasarnya apa? Perjanjian Giyanti adalah hasil rekayasa Belanda (VOC) karena Mataram tidak bisa tunduk kepada Belanda. Akhirnya Belanda mendorong adanya perjanjian di Giyanti, di Karanganyar agar Mataram terbagi menjadi 2 yaitu Kesultanan Ngayogjakarto Hadiningrat dan Kesunanan Surakarta. Bahkan ada klausul dalam perjanjian Giyanti yang menyatakan Belanda dapat menunjuk Raja. Gambaran penghianatan terlihat saat penunjukan Raja Surakarta yang seharusnya Arya Mangkunegaran menjadi Raja sebagai penerus Amangkurat IV, namun karena sering menentang Penjajah Belanda akhirnya diasingkan ke Srilangka. Belanda mendorong Prabuyasa yang bermental inlander, patuh pada penguasa Belanda melanjutkan tata kerjaan di Surakarta.

Itulah sebabnya Jokowi oleh Raja Jawa di Mataram bisa diduga masih dianggap penghianat dan berambisi menjadi Raja Jawa hanya Karena menjadi Presiden RI. Sebenarnya Jokowi meskipun dia orang Jawa dia tidak memahami filosofi Jawa tentang kekuasaan; menang tanpa Bolo, Ngluruk Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji. Atau bisa saja karena paham bahwa mahkota Raja bisa berpindah tangan sebagaimana lazimnya.

Jokowi seharusnya baca sejarah dan filosofi Jawa, jangan hanya baca komik-komik Pinokio dan lain yang ecek-ecek.

Jokowi mestinya mengerti bahwa Raja Jawa itu adalah keluarga kerjaan mataram baik dari Mataram Kuno atau Mataram (Hindu) merupakan sebutan untuk dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra, yang berkuasa di Jawa Tengah, Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada tahun 732. Beberapa saat kemudian, Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Kedua dinasti ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung. Kemudian muncul Dinasti isyana adalah sebuah dinasti penerus dari dinasti Sanjaya. Pendirinya adalah mpu sindok yang bergelar Sri Maharaja Rakai Hino sri Isyana Wikramadharmattunggadewa. Ia menjadi raja medang dari tahun 929-947 M.

Joko Widodo mesti memahami bahwa Pada zaman dahulu, hutan Mentaok merupakan wilayah bekas Kerajaan Mataram Kuno yang menguasai wilayah Jawa Tengah bagian selatan pada abad 8 hingga abad 10.

Setelah beberapa abad kemudian Alas Mentaok menjadi wilayah Kesultanan Pajang. Pada tahun 1556, saat Kesultanan Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, wilayah Alas Mentaok, yang juga disebut Bumi Mataram pada kala itu, diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas keberhasilannya, bersama putranya yaitu Danang Sutawijaya dalam menumpas pemberontakan Arya Penangsang.

Setelah serah terima wilayah Alas Mentaok dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan, kemudian Alas Mentaok yang saat itu berupa hutan lebat dibuka menjadi sebuah desa oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani. Desa di Alas Mentaok tersebut selanjutnya dinamai Mataram dan berstatus sebagai tanah perdikan atau swatantra atau daerah bebas pajak. Raja Jawa berasal dari sini Alas Mentaok!.

Sejarah mencatat bahwa di kawasan Alas Mentaok ini, tepatnya di daerah Kotagede saat ini, pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Mataram. Kini, bekas wilayah Alas Mentaok terdapat Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di wilayah Kota ogyakarta. Inilah sesunguhnya RAJA JAWA!

Beberapa waktu lalu, Jokowi kobarkan Perang, keluarkan pernyataan kontroversial Sontoloyondan Genderuwo. Dalam ilmu polemologi mengajarkan kita Perang untuk damai dan Damai juga bisa capai melalui perang. Ahli polemologi Finlandia Jhon Galtung memberi batasan yang jelas bahwa jika terjadi perang maka ada Karena kesenjangan antara realitas dan idealisasi.

Lantas, bagaimana jika perang tersebut dikobarkan oleh Jokowi orang yang berkuasa, penguasa tertinggi negara atas politik, hukum dan semua instrumen negara? apalagi mengobarkan semangat perang dan agitasi perang untuk saling terkam antar rakyat dinegeri yang dipimpinnya?

Mengapa Jokowi yang adalah Pemimpin di negeri ini mengobarkan perang, tidak ada landas konstitusi, tidak ada landas ilmu pengetahuan modern tentang perang dan damai. Saya menduga kuat bawah tentu saja Jokowi terinspirasi dari jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan di Jawa yang memang penuh dengan intrik dan rebutan kekuaaan. Berdirinya kerajaan Mataram oleh Mas Karebet alias Joko Tingkir atawa Panembahan Senopati adalah pemberian tanah Alas Mentaok setelah ayahnya Pemanahan membantu Hadiwijowo di Demak melawan kerajaan Majapahit. Panembahan Senopati menjadi raja pertama setelah menumpas Arya Penangsang. Dalam mitologi Jawa, jauh sebelum kerajaan Mataram, penaklukan negara Alengka oleh Rama Wijaya menumpas Rahwana dan adiknya kumbakarna. Hanoman didapuk oleh raja sebagai seorang patih karena membantu Rama. Meskipun Hanoman adalah seorang penghianat negeri Alengka dan Sang Rahwana. Demikian pula pecahnya Mataram melalui Perjanjian Giyanti dan juga jauh sebelumnya, pada masa Mataram Kuno empu sendok memindahkan kerajaan Mataram sampai di Jawa Timur dan lagi sebagainya. Kisah terakhir kita saksikan konflik perebutan takhta di Mangkunegaran dan instrik dibalik pewaris kerajaan Mataram Yogya sampai Sultan Hamengkubuwono keluarkan Sabdo Raja.

Berbagai cerita intrik dan perang melahirkan Tahta telah meninspirasi para pemimpin untuk merebut tahta di Republik tercinta ini. Jadi apa yang dipertontonkan oleh Jokowi dan Pendukunhnya di negeri ini juga tidak begitu saja lahir dan jatuh dari langit, tetapi ada akar historisnya dan ironisnya taktik perebutan Kekuasan yang sedang dipakai saat ini juga patut diduga bersumber inspirasi perebutan tahta di kerajaan-kerajaan di Jawa.

Pemimpin mengambil keputusan perang adalah pemimpin yang memang haus akan kekuasaan. Pemimpin yang berkeinginan untuk perang itu biasanya memang punya tujuan untuk merebut kekuasaan atau melanggengkan kekuasaan.

Selain haus akan kekuasaan, pemimpin yang secara terang-terangan mendeklarasikan perang di hadapan rakyatnya jelas membuktikan bahwa dirinya adalah pribadi yang ambisius.

Perang dalam philosofie Jawa sendiri tidak hanya berwujud perang fisik melainkan perang non fisik. Non fisik itu suatu tindakan atau kekerasan verbal dan itu yang paling bertentangan dengan hukum karena tanpa agitasi, tanpa propaganda atau tanpa hatespeech yang isinya menyerang individu dan rakyatnya sendiri. Tetapi bermain dengan simbol. Orang Jawa bermain dalam Simbolisme. Mahkota Raja Jawa di kepala Joko Widodo adalah sebuah Signal kuat sebagai pribadi yang ambisius. Oleh karena itu Raja Jawa, Sri Sultan Hamengkubuwono x dan kaum ninggrat harus perang melawan nalar dan logika yang salah.

Perang melawan logika yang salah untuk melahirkan pemimpin rasional yang berwibawa, pemimpin punya yang punya nilai, karakter tanpa menyentuh akar budaya dan eksistensi kerajaan Jawa.

Jokowi, Rebutlah tampuk mahkota secara gentelmen sebagaimana ajaran nenek moyang “Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji”. Bermain tanpa bola, menang tanpa mengalahkan lawan. Berwibawa tanpa menggunakan kekuasaan. *(

(Natalius Pigai, Kritikus & Aktivis Kemanusiaan tinggal Yogya, Solo dan Jakarta)

Bekas orang dekat bos narkoba Meksiko meninggal

3narkoba
Ilustrasi narkoba, pixabay.com

Leyva bersama dengan sejumlah saudaranya Alfredo, Arturo, dan Carlos yang merupakan anggota kartel Sinaloa dipimpin Guzman. Mereka berpisah pada 2008 dan membuat kartel sendiri atas nama Beltran Leyva sebagi pesaing dari kartel Guzman.

Meksiko -Rekan gembong narkoba Meksiko, Joaquin El Chapo Guzman, Hector Beltran Leyva dikabarkan meninggal. Informasi menyebutkan dia mengembuskan napas terakhir akibat serangan jantung di dalam penjara di negara itu.

“Narapidana Hector Manuel Beltran Leyva alias H, meninggal di rumah sakit Toluca akibat serangan jantung,” kata pejabat setempat dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Senin (19/11/2018).

Sebelumnya, Leyva bersama dengan sejumlah saudaranya Alfredo, Arturo, dan Carlos yang merupakan anggota kartel Sinaloa dipimpin Guzman. Mereka berpisah pada 2008 dan membuat kartel sendiri atas nama Beltran Leyva sebagi pesaing dari kartel Guzman.

Mereka ditangkap pada Oktober 2014 di sebuah restoran di San Miguel de Allende, Meksiko. Sedangkan Guzman sedang menjalani sidang di New York, Amerika Serikat.

Melalui kuasa hukumnya dia menuding mantan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto dan pemimpin sebelumnya, Felipe Calderon menerima suap dari kartel pesaingnya. Klaim itu disampaikan kuasa hukum Guzman, Jeffrey Lichtman dalam sidang perdana kliennya di New York.

Dia berdalih kliennya hanya dijadikan kambing hitam atas persaingan kartel narkoba setempat.

Jeffrey beralasan yang berperan penting dalam kartel narkoba Sinaloa bukan kliennya, melainkan tangan kanan Guzman, Ismael El Mayo Zambada.

Guzman dituduh menyelundupkan lebih dari 155 ton kokain ke AS selama lebih dari 25 tahun. Ia akan divonis hukuman penjara seumur hidup jika terbukti bersalah. *(

Polisi bubarkan diskusi publik KNPB lalu tahan aktivisnya

52veros
Aktivis KNPB, termasuk sekretaris umumnya Vero Hubi (baju merah) diangkut dengan mobil polisi usai polisi membubarkan peringatan HUT KNPB ke 10 di asrama mahasiswa Pegunungan Bintang

“Ya, HUT KNPB dibubarkan. Kami di dalam mobil tahanan,” tulis Vero singkat melalui pesan singkat.

Jayapura – Polisi membubarkan diskusi publik yang sedianya akan diselenggarakan oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di Asrama Mahasiswa Pegunungan Bintang, Senin (19/11/2018).

“HUT ke 10 KNPB, sedang berlangsung di asrama mahasiswa Pegunungan Bintang, Waena Jayapura West Papua. Saya hadir sebagai pembicara dalam kapasitas eksekutif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Ditengah situasi kegiatan sedang berlangsung polisi datang dan menghentikan kegiatan,” ungkap Markus Haluk kepada Jubi menjelaskan peristiwa yang terjadi sembari mengatakan HUT ke 10 KNPB itu digelar dalam bentuk diskusi publik.

Sekretaris Umum KNPB, Vero Hubi membenarkan dihentikannya kegiatan KNPB di asrama mahasiswa Pegunungan Bintang tersebut.

“Ya, HUT KNPB dibubarkan. Kami di dalam mobil tahanan,” tulis Vero singkat melalui pesan singkat.

Vero belum tahu akan dibawa kemana oleh mobil polisi yang membawa dirinya bersama sejumlah aktivis KNPB tersebut.

Belum diketahui berapa orang yang dibawa oleh mobil polisi. Hanya saja, berdasarkan informasi panitia, ada tiga truk dan satu mobil polisi yang mengangkut para aktivis KNPB.

Sebelum polisi membubarkan kegiatan di asrama mahasiswa Pegunungan Bintang, aktivis KNPB melaporkan polisi datang ke sekretariat KNPB di Kamp Vietnam, Waena lalu merusak pintu sekretariat. Tak hanya merusak pintu, polisi juga mengecat pintu yang semula bergambar Bintang Kejora dengan warna biru.

“Mereka (polisi) masuk gerebek di Sekretariat KNPB ini tidak di tunjukan surat perintah, mereka masuk dengan senjata lengkap,” ungkap Ones Suhuniap, mantan sekretaris umum KNPB.

Hingga berita ini disiarkan, pihak kepolisian belum memberikan konfirmasi dan keterangan. *(

Gembalakanlah Domba-dombaku ( Yohanes 21:15-19 )

th_socrates

Oleh : Gembala Dr. Socratez  S. Yoman

 

1. Pendahuluan

Sejak saya masih kecil di kampung kecil, Yiwenggame, Lanny Jaya, pada 1973, saya melihat banyak anggota TNI yang bertugas di Tiom dalam jumlah besar. Mereka bertugas, enam bulan, satu tahun paling cepat dan dua tahun paling lama dan saling bergantian. Watak dan perilaku mereka berwarna/bercampur, ada yang kasar, ada yang arogan, ada yang tidak bermoral dan ada yang manusiawi dan bersahabat. Lebih banyak kasar dan tidak bermoral.

Waktu saya sekolah di Sekolah Dasar Negeri di Tiom kota, saya menyaksikan satu peristiwa yang sangat memilukan hati saya dan saya rekam peristiwa ini pertama kali dalam sejarah hidup saya. Pada saat saya pulang sekolah,saya melihat ada tiga anggota TNI menangkap satu orang tua dari kerumunan orang banyak dan mereka memukul orang tua ini dan mengelurkan darah dari hidung dan mulut.

Tidak sampai ditempat umum itu, orang tua dibawa ke Pos TNI di Gunalome dekat halaman sekolah saya. Orang tua ini dipukul bergilir dari anggota TNI di pos itu. Saya mendengar suara orang tua ini meminta tolong. Saya amat sedih melihat orang tua ini keluar dari pos TNI itu darah terus mengalir dari hidung, mulut, kepala yang dilukai dan muka dan hidung membengkak.

Semakin membuat saya tenggelam dalam kesedihan dan membuat hati saya berkeping-keping, tersayat dan terluka ialah ketika anaknya yang masih kecil datang memeluk orang tua itu dan ia menangis.

Saya menyaksikan dan saya menjadikan kejadian ini secara langsung waktu itu dan orang tua ini mencucurkan air mata diantara darah yang sedang mengalir. Darah dan air mata mengalir bersamaan. Istrinya memberikan handuk yang lusuh dan membersihkan darah dan air mata. Saya menyaksikan orang tua memikul anaknya dibahu dan pergi ke kampung mereka. Peristiwa yang merendahkan martabat manusia ini disaksikan orang banyak yang ada pada saat itu. Orang banyak takut dan memilih diam dan tidak ada yang membelanya.

2. Nasihat Orang Tua

Saya pulang ke kampung dengan hati yang berkeping-keping dan pikiran yang kacau dan hati yang tersayat. Saya tiba di kampung dan berjumpa dengan Ayah dan Ibu dan saya menangis. Ayah dan Mama saya bingung dan bertanya.

Kenapa anak menangis. Saya jelaskan peristiwa baru saja yang saya saksikan itu kepada kedua orang tua. Ayah saya sampaikan nasihat yang saya ukir di hati saya sampai hari ini:

“Anak, kaki dan tanganmu masih pendek dan belum kuat. Apalagi lidahmu masih belum kuat. Kamu Sekolah dengan baik dan rajin. Pada ada waktu nanti, kaki dan tanganmu sudah cukup kuat untuk berdiri dan lidahmu makin kuat, kamu bisa berjalan dan gunakan lidahmu untuk bersuara dan membela bangsamu. Pasti waktumu akan tiba. Kamu harus menjadi orang besar. Kamu harus menjadi kepala. Kamu harus keliling dunia. Tujuan utama untuk membela bangsamu. Sekolah baik-baik. Jangan pernah membenci orang-orang yang melukai bangsamu. Bersuaralah dan melangkah dengan hati tulus, jujur, benar dan adil. Doa Ayah dan Mamamu menyertaimu. TUHAN Yesus membekati setiap langkahmu dan perjuangan untuk semua orang. Hargai semua orang. Kasihilah semua orang. Anak, jangan orang pernah melanggar nasihat Ayah dan Ibumu ini. Kamu harus pegang dengan erat nasihat ini. Sekarang, kamu jangan menangis, kamu orang besar.”

Nasihat dan orang tua saya menghilami saya dan sudah menjadi pelita hati dan cahaya pikiran saya. Sekarang kaki dan tangan saya sudah kuat. Lidah saya sudah kuat. Saya sudah sekolah. Doa kedua orang tua saya sudah menjadi nyata. Saya sudah menjadi pemimpin umat. Saya sudah mulai keliling dunia.

Sudah 45 tahun saya lalui sejak 1973 sampai 2018. Usia saya tahun ini sudah 55 tahun. Saya lahir pada 6 Juni 1963. Guru saya potong 4 tahun kelahiran saya dan tulis dalam ijazah 6 Juni 1967.

Dalam usia 55 tahun ini, saya tetap ingat dengan segar seluruh nasihat kedua orang tua saya telah menjadi terang hidup dan juga peristiwa yang menyayat hati saya.

Saya selalu membersihkan hati dan pikiran saya supaya nasihat-nasihat orang tua saya tidak menjadi redup dan tidak padam dan tidak menjadi kotor. Walaupun saya tahu, nasihat itu tidak mungkin redup, padam dan menjadi kotor. Karena nasihat kedua orang tua itu kekal dan abadi dan milikku dan tidak ada orang lain rampas dengan cara apappun. Saya menjaga dan memeliharanya sebagai benteng pertahanan.

Saya juga semakin kekalkan nasihat kedua orang tua saya dengan memegang nasihat TUHAN kepada Raja Daud:

” Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

Kedua orang tua saya juga menasihati dan membekali perjalanan hidup saya untuk selalu berbicara JUJUR walaupun itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkannya. “Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelah yang akan tetap tinggal di situ” (Amsal 2:21).

3. Gembalakanlah domba-dombaku (Yohanes 21:15-19)

“Sesudah sarapan Yesus berkata Simon Petrus: Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?”

Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau.”

Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Tuhan Yesus bertanya kepada Rasul Simon Petrus. Apakah engkau mengasihi Aku? Pertanyaan Yesus Kristus ini disampaikan tiga kali berturut-turut.

Penugasan ini sangat tegas, jelas bagi kita semua. Tugas mulia dan suci yang diberikan Tuhan Yesus kepada Rasul Simon Petrus ialah menggembalakan umat Tuhan. Jaga umat Tuhan. Lindungi umat Tuhan. Memberkati umat Tuhan. Menuntun umat Tuhan.

Tuhan Yesus tidak memberikan tugas dan perintah untuk OPM-kanlah domba-domba-Ku. Separatiskanlah domba-domba-Ku. KKSB-kanlah domba-domba-Ku. Kerjalah domba-domba-Ku. Tembaklah dan matikanlah domba-domba-Ku. Penjarakanlah domba-Ku. Angkatlah dan sandiwarakan domba-domba-Ku hanya pura-pura untuk misi dan kepentingan politik.

Mengapa Tuhan Yesus memberikan tugas kepada Rasul Petrus dan kepada Anda dan saya.?

Karena, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Penugasan dari Yesus Kristus dan juga nasihat Rasul Simon Petrus kepada kita hari ini. Baik Presiden, Menteri, Pejabat, Petinggi TNI/Polri, Uskup, Ketua Sinode, Presiden Gereja dan semua orang bahwa:

“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Jangalah kamu berbuat seolah-seolah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” ( 1 Petrus 4:2-4 ).

Saudara-saudara, peristiwa tahun 1973 itu tidak pernah berubah wajah sampai hari ini. Karena pelakunya bangsa atau penguasa/ pemerintah yang sama. Marilah kita berdoa, bekerja dan berjuang dengan cara-cara damai dan bermartabat untuk mengakhiri penindasan dan penjajahan dan belenggu kuasa Iblis dan dosa dan juga kuasa kolonialisme Indonesia yang menduduki dan menjajah dan menindaskan domba-domba Allah di West Papua. Kita punya hak untuk membela hak hidup, martabat dan kehormatan kita.

Kita harus mengakhiri tetesan air mata, cucuran darah dan penderitaan domba-domba Allah di West Papua. Mari kita menghargai dan menghormati martabat manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). *(

 

Tuhan Yesus memberkati kita.

Ita Wakhu Purom, Minggu, 18 November 2018; 97:15 AM

Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo dan Kapolda Papua Menjadi Pemain Sinetron dan Tidak Menyentuh Subtansial Akar Persoalan West Papua

IMG-20181117-WA0002

Oleh : Gembala Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

Pada 16 November 2017 di Merauke Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo memainkan peran Sinetron dengan mengendong anak kecil dari bangsa West Papua. Menurut pak Jokowi, pendekatan lelucon begini akan menyembuhkan luka hati dan penderitaan rakyat dan bangsa West Papua.

Seorang teman baik penulis, ilmuwan, cendiawati, intelektual ternama yang dimiliki Indonesia dan juga peneliti senior LIPI, Dr. Adriana Elisabeth menanggapi komentar penulis. Berikut ini komentar penulis (Yoman) pada 16 Nop 2018.

“Para pemimpin Melayu/Indonesia yang menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa West Papua ini ahli Aktor/Sutradara Sinetron. Atau pandai bersandiwara.

Pendekatan ini paradoks dengan pendekatan para misionaris asing.

Misionaris pendekatan kasih yang tulus dan pendekatan para kolonial ialah pendekatan sarat pesan politik.

What do you think? This ini my opinion and interpretation for the pictures.”

Tanggapan Dr. Adriana sebagai berikut: “Pak Jokowi kelihatan tulus menyayangi anak2. Bgm menurut bpk Pendeta?”

Tanggapan penulis (Yoman). “Itu penghinaan bagi bangsa West Papua.”

Balasan ibu Dr. Adriana sebagai berikut.

“Oh begitu kah? Apa karena hanya seremonial dan simbolik? Jadi tidak menyentuh esensi Papua yang sesungguhnya.”

Sebelum Presiden memainkan peran Sinotron di Merauke, Kapolda Papua juga lebih dulu pada awal Nopember buat film Sinetron di Kabupaten Lanny Jaya dengan duduk di tengah anak-anak kecil dan juga mendukung seorang anak kecil.

2. Penghinaan dan Pelecehan martabat bangsa West Papua

Menurut bangsa kolonial Indonesia yang menduduki dan menjajah bangsa West Papua, pendekataan seperti ini akan mengambil hati dan menyembuhkan luka dan penderitaan rakyat di West Papua.

Pendekatan ini semakin melukai hati dan memperpanjang penderitaan bangsa West Papua. Cara-cara ini penghinaan, pelecehan dan merendahkan martabat dan harga diri bangsa West Papua. Rakyat dan bangsa West Papua tidak minta digendong dan dibuat film Sinetron.

3. Tujuan Film Sinetron

Pada September 2017, wakil Presiden Republik Indonesia, Haji Muhammad Jusuf Kalla telah berbohong kepada para pemimpin terhormat dunia di PBB, di New York. Jusuf Kalla sampaikan: “Di Papua tidak ada pelanggaran ham.”

Film Sinetron yang dibuat Ir. Joko Widodo dan Kapolda Papua merupakan bagian integral yang terpisahkan dari kebohongan ini. Pendekatan ini ialah murni agenda politik untuk berbohong lagi kepada komunitas internasional bahwa dengan memutar Film Sinetron di mana-mana. Para diplomat bahkan presiden sendiri akan gunakan Film Sinetron sebagai materi kampanye bahwa di West Papua aman-aman saja.

“Hei, kamu, komunitas Internasional, lihat, Presiden Indonesia dan Kapolda Papua pikul anak-anak kecil ini. Mereka cinta NKRI. Di West Papua Tanah Damai. Di West Papua tidak ada pelanggaran HAM.”

4. Esensi Akar Masalah

Penulis sangat setuju dengan apa yang disampaikan ibu Dr. Adriana.

” Oh begitu kah? Apa karena hanya seremonial dan simbolik? Jadi tidak menyentuh esensi Papua yang sesungguhnya.”

Presiden Republik Indonesia dan Kapolda Papua hanya bersandiwara, berpura-pura, serimonial, simbolik, pencitraan dan tidak menyentuh esensi masalah bangsa West Papua, yaitu:

4.1. Status politik bangsa West Papua: Penggabungan dengan moncong senjata. Sejarah penggabungan yang cacat hukum dan moral dan melanggar prinsip hukum Internasional.

4.2. Pelanggaran berat HAM merupakan kekerasan/ kejahatan Negera/Pemerintah Republik Indonesia HARUS dipertanggungjawabkan. Kejahatan ini sudah mengindikasikan terjadi proses genocide (pemusnahan etnis) sistematis, terstruktur dilakukan Negara dengan menggunakan alat/sistem negara.

5. Solusi

RI-ULMWP duduk berunding.

Lucu, bahas masalah HAM Papua di Jakarta!

51hl-ham-7-nov
Pembahasan masalah HAM di Tanah Papua harus dilakukan di Bumi Cenderawasih – TP/doc

“Pembahasan masalah HAM di Tanah Papua harus dilakukan di Bumi Cenderawasih. Itu pun harus dilakukan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Majelis Rakyat Papua, dan seluruh pemangku kepentingan di kabupaten-kabupaten”

Jayapura — Pemerintah Provinsi Papua dengan tegas menolak rencana rapat penanganan dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua, yang dijadwalkan digelar pemerintah pusat pada 9 November 2018, di Jakata.

“Kami tidak setuju pembahasan ini dilakukan di Jakarta. Untuk itu, kami akan layangkan surat terlulis kepada Kemenkum Ham dengan tembusan Presiden Joko Widodo,” kata Sekretaris Daerah Papua, Hery Dosinaen, kepada wartawan di Jayapura, Selasa (6/11/2018) sore.

Ia menekankan agar pembahasan masalah HAM di Tanah Papua harus dilakukan di Bumi Cenderawasih. Itu pun harus dilakukan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Majelis Rakyat Papua, dan seluruh pemangku kepentingan di kabupaten-kabupaten.

“Setelah semuanya duduk sama-sama membahas permasalahan baru disimpulkan. Jangan masalah ini dibahas di Jakarta. Untuk itu, mari datang ke Papua,” ujarnya.

Ia menilai konsep draft Pergub penanganan dugaan pelanggaran HAM di Papua yang diajukan Kemenkum HAM untuk dibahas pada 9 November dibuat secara sepihak tanpa melibatkan Pemerintah Provinsi Papua dan masyarakat Papua.

Sementara isu draft Pergub tersebut, salah satunya mengamanatkan Pemprov membentuk tim penanganan dugaan pelanggaran HAM di Papua, yang hanya menangani kejadian di Wamena pada 2003 dan Paniai 2014.

Padahal kejadian pelanggaran HAM di Papua ini banyak, bukan hanya di Wamena dan Paniai.

“Jelas kalau kita turuti keingingan pusat tentu berpotensi membuat konflik baru bagi masyarakat di Papua,” kata Hery.

“Lucunya lagi, nantinya konsekuensi pembiayaan kepada korban pelanggaran HAM, mesti bersumber dari dana Otsus. Ini yang kami tidak mau. Sehingga kami harap Kemenkum HAM lebih berpihak kepada Papua dan rakyatnya terkait penanganan dugaan pelanggaran HAM di atas tanah ini,” lanjutnya.

Kepala kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengatakan tak ada langkah konkret terkait penyelesaian masalah HAM Papua. Kesannya lembaga negara yang berwenang malah mempertahankan ego masing-masing.

Menurutnya, Presiden Jokowi menyatakan komitmen menyelesaikan masalah HAM Papua. Namun instansi teknis seperti Kementerian Polhukam, Kejaksaan Agung, kepolisian, TNI, dan Komnas HAM belum bersinergi untuk menyelesaikan kasus ini secara baik.

“Setiap pihak masih mempertahankan kewenangan masing-masing. Ini yang kemudian menjadi hambatan penyelesaian kasus HAM di Indonesia pada umumnya, dan Papua khususnya,” kata Frits Ramandey.

Katanya, yang menghambat penyelesaian tidak hanya kewenangan setiap lembaga, tapi juga kelemahan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM, yakni kewenangan yang terbatas. *(

Bapak World Wide Web Ingin Selamatkan Internet

Tim Berners Lee. Foto: Getty Images
Tim Berners Lee. Foto: Getty Images

Jakarta – Tim Berners-Lee yang dikenal sebagai pencipta World Wide Web (WWW) baru saja meluncurkan kampanye global untuk menyelamatkan internet dari penyalahgunaan.

Saat berbicara di pembukaan Web Summit di Lisbon, Portugal, Berners-Lee menyerukan pemerintah, perusahaan teknologi dan pengguna internet untuk menandatangani ‘Contract for the Web’ yang bertujuan untuk melindungi hak dan kebebasan orang-orang di internet.

Menurut Berners-Lee, saat ini internet memiliki banyak masalah yang membuatnya menjadi tempat yang tidak nyaman.
“Dalam 15 tahun pertama, banyak yang memperkirakan web untuk melakukan banyak hal hebat,” kata Berners-Lee seperti dikutip detikINET dari The Telegraph, Jumat (9/11/2018).

“Apa yang salah? Segala macam hal telah menjadi salah. Kita memiliki berita palsu, kita memiliki masalah dengan privasi, kita memiliki masalah dengan penyalahgunaan data pribadi, orang-orang diprofilkan sehingga bisa dimanipulasi oleh iklan,” sambungnya.

Dalam kontrak ini, pemerintah harus memastikan bahwa semua rakyatnya harus terhubung dengan internet dan privasi mereka harus dihormati agar mereka bisa online secara bebas dan aman.

Sedangkan perusahaan teknologi dituntut untuk membuat internet lebih terjangkau dan dapat diakses semua orang, menghormati privasi dan data pribadi pengguna serta mengembangkan teknologi yang memastikan web sebagai tempat yang aman untuk penggunanya.

Pengguna internet pun diminta untuk membuat konten yang relevan, membangun komunitas yang menghormati tatanan sipil dan martabat manusia serta memperjuangkan web yang terbuka bagi semua orang.

Kontrak ini nantinya akan diterbitkan oleh World Wide web Foundation pada bulan Mei 2019, ketika separuh dari populasi dunia sudah terhubung dengan internet. Sudah lebih dari 50 organisasi menandatangani kontrak ini, termasuk Facebook, Google, pemerintah Prancis, serta individu seperti pendiri Virgin Group, Richard Branson. *(

Pengungsi Suriah ingin kembali ke tanah air mereka

79edipengungsi-ibu-anak
Ilustrasi, seorang ibu dan anaknya menjadi pengungsi – TP/pixabay.com  

Pengungsi asal Suriah di Turki ingin pulang ke tanah air mereka. Para pengungsi asal Kabupaten Tal Abyad di Raqqah itu sebelumnya menyelamatkan diri dari perbuatan anggota YPG/PKK.

Sanliurfa, TP – Pengungsi asal Suriah di Turki ingin pulang ke tanah air mereka. Para pengungsi asal Kabupaten Tal Abyad di Raqqah itu sebelumnya menyelamatkan diri dari perbuatan anggota YPG/PKK.

Seorang pengungsi asal Tal Abyad, Shair Radeyni, yang tiba di Akcakale tiga tahun lalu, mengatakan kelompok teror mengusir sebagian besar warga Arab Sunni.

“Turki satu-satunya negara yang mendukung warga Suriah,” kata Radeyni.

Seorang pengungsi lain, Ahmet Seyh, menuduh anggota Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Partai Pekerja Kurdis (PKK) menanam ganja di ladang warga lokal dan menjual narkotika.

“Mereka dengan paksa merekrut anak-anak berusia 11-12 tahun untuk berperang buat mereka,” kata Ahmet.

Ia mengaku ingin pulang ke tanah airnya.

“Kami menginginkan bantuan dari Turki, satu-satunya pendukung kami dalam masalah ini,” katanya.

Wakil Presiden Perhimpunan Suku Turkmenistan dan Arab Suriah, Omer Dede, mengatakan hanya Turki yang dapat membersihkan Tal Abad dari pelaku teror.

“Kami sangat ingin pulang ke tanah leluhur kami,” katanya.

Ia berharap Turki akan menyelamatkan mereka dari penindasan para pengkhianat. (*)

Koteka dan ukiran Asmat perlu diusulkan ke UNESCO

53kotekaflickr
Koteka Papua – Jubi/Flickr

“Konvensi UNESCO 2003 menyatakan, warisan tak benda bagi semua masyarakat, baik besar maupun kecil, dominan atau tidak dominan patut dihormati. Hal ini jelas menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari masyarakat dalam melindungi dan melestarikan, serta mengelola koteka sebagai warisan budaya, karena hanya merekalah yang dapat mempertahankan keberadaan dan memastikan masa depan warisan tersebut”

Oleh: Hari Suroto

Koteka, pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki masyarakat Papua, perlu diusulkan untuk masuk dalam daftar perlindungan mendesak UNESCO, mengingat saat ini kalangan laki-laki terpelajar di daerah Pegunungan Tengah dan Suku Dani yang tinggal di Kota Wamena, Papua jarang mengenakan koteka, kecuali pada saat upacara adat.

Dengan melihat kondisi itu, dikhawatirkan tradisi berkoteka akan musnah ditelan modernisasi, sehingga harus dijaga kelestariannya. Salah satu caranya adalah mengusulkan koteka dalam daftar yang memerlukan perlindungan mendesak UNESCO.

Koteka dapat dikategorikan sebagai warisan budaya tak benda. Konvensi UNESCO 2003 mengenai warisan budaya tak benda menyebutkan warisan budaya tak benda mengandung arti berbagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok, dan dalam beberapa hal tertentu, perorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

Warisan budaya tak benda ini bagi masyarakat, kelompok, dan perorangan memberikan rasa identitas dan keberlanjutan, membantu mereka memahami dunianya dan memberikan makna pada kehidupan dan cara mereka hidup bermasyarakat.

Sumber dari keragaman budaya dan bukti nyata dari potensi kreatif umat manusia, warisan tak benda secara terus-menerus diciptakan oleh penerusnya, karena warisan ini dipraktikkan dan disampaikan dari individu ke individu lain dan dari generasi ke generasi.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi UNESCO 2003, hal ini tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2007 tentang Pengesahan Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda.

Negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi Warisan Budaya tak benda berkomitmen untuk melindungi dan melestarikan warisan dengan melakukan berbagai upaya seperti perlindungan, promosi, dan penyampaian melalui pendidikan formal dan non-formal, penelitian dan revitalisasi, dan untuk meningkatkan penghormatan dan kesadaran.

Jika dikaitkan dengan keberadaan koteka di pegunungan tengah Papua, sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi UNESCO 2003, maka pemerintah Indonesia wajib melindungi dan melestarikan koteka.

Konvensi UNESCO 2003 menyatakan warisan tak benda bagi semua masyarakat, baik besar maupun kecil, dominan atau tidak dominan patut dihormati. Hal ini jelas menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari masyarakat dalam melindungi dan melestarikan, serta mengelola koteka sebagai warisan budaya, karena hanya merekalah yang dapat mempertahankan keberadaan dan memastikan masa depan warisan tersebut.

Koteka secara harfiah adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya penduduk pegunungan tengah Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air (Lagenaria siceraria). Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Koteka ini dipakai dengan cara menggantungkannya dengan tali pada sebuah ikat pinggang, sehingga berdiri ke depan, pada ujungnya seringkali dibuat jambul.

Tidak hanya koteka suku Dani, koteka khas kaum pria suku Yali di Kabupaten Yalimo, juga terancam punah, seiring makin banyaknya anggota suku yang menggunakan pakaian modern.

Koteka ternyata tak hanya pakaian, tapi juga fungsi lain. Pakaian tradisional suku Yali mulai ditinggalkan dan hanya generasi tua yang menggunakan. Sedangkan generasi muda suku itu, lebih suka menggunakan pakaian modern berbahan kain.

Pakaian tradisional suku Yali adalah paduan antara koteka dan lingkaran rotan yang dililitkan ke badan. Bahan koteka suku Yali adalah buah labu panjang yang dikosongkan isinya kemudian dikeringkan dengan dijemur di atas perapian.

Setelah kering, labu tersebut dipasang di atas kemaluan lelaki suku Yali, dan diikat dengan tali rotan halus yang dililitkan di bagian pinggang hingga perut. Lingkaran rotan di perut dan badan, juga menunjukkan tingkat keberanian seorang pria dari suku itu.

Semakin banyak lingkaran yang dimilikinya, berarti semakin tinggi pula tingkat keberanian dan status yang dimilikinya itu. Sebab rotan hanya tumbuh di luar daerah Yali, sehingga orang Yali biasa menyebut rotan hanya tumbuh di daerah musuh, dan untuk memperolehnya harus menempuh risiko.

Lingkaran rotan dan koteka juga bukan cuma pakaian dan perhiasan. Ada kegunaan lain dari pakaian tradisional ini, yaitu untuk membuat api. Rata-rata pria Yali membuat api dengan menggunakan sebuah tali rotan sebagai korek api.

Untuk membuat api, seorang suku Yali akan mengambil sepotong rotan dari pakaian mereka, kira-kira sepanjang 60 sentimeter. Rotan itu lalu dililitkan ke sepotong kayu yang diletakkan di atas tanah, dikelilingi dengan rumput dan dahan kering.

Lalu, lelaki itu akan berdiri, dengan masing-masing kaki menginjak ujung kayu. Dengan tangan, mereka akan menarik tali rotan yang dililitkan tadi dengan cepat naik turun digesekkan ke kayu, sampai keluar asap, api mulai menyala, dan ujung tali putus terbakar. Setelah itu, mereka menutupi kayu tersebut dengan rumput dan meniup sampai terjadi kobaran api yang besar.

Saat ini pakaian tradisional suku Yali belum terdokumentasi dengan baik. Perlu penelitian mendalam serta pendokumentasian lengkap dan baik, dalam beragam metoda pendokumentasian, sebelum pakaian ini benar-benar punah.

Penggunaan pakaian tradisional ini dalam festival budaya maupun pada hari besar nasional, juga dapat menjadi cara untuk melestarikan pakaian tersebut.

Siapa yang tak mengenal suku Asmat di Papua? Suku ini terkenal memiliki tradisi seni ukir yang khas dan terkenal sampai ke mancanegara. Bahkan seniman terkenal Eropa, Pablo Picasso, pada masa hidupnya mengagumi seni ukir ini. Oleh sebab itu, rasanya perlu sekali tradisi seni ukir khas ini diusulkan menjadi salah satu warisan budaya Papua yang diakui oleh UNESCO.

Seni ukir Asmat menunjukkan keahlian istimewa pembuatnya yang disertai perasaan yang tinggi akan garis-garis indah dan komposisinya. Maha karya yang terdiri atas beragam ukiran itu muncul di tengah masyarakat yang melangsungkan hidupnya di atas lumpur rawa.

Pelestarian tradisi ukiran Asmat merupakan sebuah unsur penting untuk memelihara identitas, jati diri, dan rasa bangga orang Asmat terhadap budayanya sendiri. Seni ukir Asmat dapat dikategorikan sebagai warisan budaya tak benda yang perlu diusulkan guna memperoleh perlindungan, pengakuan, dan pengesahan UNESCO sebagai warisan dunia dari Papua.

Konvensi UNESCO 2003 menetapkan sejumlah karakteristik untuk mengategorikan suatu budaya termasuk dalam warisan budaya tak benda.

Ciri-ciri budaya yang masuk dalam kategori tersebut adalah budaya yang ditularkan antargenerasi, berkembang secara dinamis, menyatu dengan identitas komunitas, dan merupakan sumber kreativitas.

Bentuk atau jenis ukiran Asmat bisa berbentuk rupa manusia, perahu, perisai, dan lain-lain. Dengan motif hewan seperti cicak, kadal, ataupun purwarupa alam. (*)

Penulis adalah peneliti pada Balai Arkeologi Papua

 

Sumber : JUBI

Papua Mencari Jalan Perdamaian

065-papua-mencari-jaalan-150x150

Konflik Papua masih menjadi isu seksi yang bergaung hingga kini. Perbedaan fisik, ras dan budaya, perbedaan ekonomi dan kesejahteraan, serta pertumbuhan ideologi politik eksklusif sering menjadi pemicunya.

 

Description

Selain itu, sengketa sejarah integrasi politik, nasionalisme kepapuaan, kesenjangan pembangunan, tindak kekerasan dan pelanggaran hak asasi, serta kisah marginalisasi dan diskriminasi orang Papua, menambah panjang litani penyebabnya.

Konflik ini juga membentang panjang dalam sejarah, rentan ditunggangi, dan melibatkan banyak pihak. Tidak heran jika konflik Papua kini telah menjadi konflik multidimensi.

Baca Juga : West Papua : Dulu Bangsa Merdeka dan Berdaulat, Kini Bangsa Yang Diduduki, Dijajah dan Dimusnahkan Oleh Kolonial Indonesia

Banyak pihak telah mencurahkan pelbagai upaya penanganan. Alhasil, penyelesaiannya secara menyeluruh tidak kunjung mewujud. Buku ini berusaha menganalisis konflik Papua dan menawarkan gagasan resolusi berupa dialog inklusif-proporsional.

Ada dua pisau analisis, yaitu perspektif konflik yang terjadi di Tanah Papua yang resolusinya adalah dialog pembangunan dan konflik terkait sengketa Tanah Papua yang resolusinya adalah dialog politik. Dua hal ini harus berjalan beriring. Buku ini mengupas tuntas dua perspektif analisis tersebut beserta resolusinya. (*)

Baca Ini : 

Solidaritas Mahasiswa Rakyat Papua | Menolak Transmigrasi Papua Bukan Tanah Kosong !

Imajinasi dan Perjuangan (II)

TNI/Polri telah Memasang Baliho dua tempat yang berbeda di kota Tomohon

 

Sumber : KOMPAS

West Papua : Dulu Bangsa Merdeka dan Berdaulat, Kini Bangsa Yang Diduduki, Dijajah dan Dimusnahkan Oleh Kolonial Indonesia

FB_IMG_1541300395452

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

Saya akan menulis apa yang saya tahu dan yang saya percaya. Saya selalu menulis apa yang saya lihat. Saya selalu menulis apa yang dialami oleh bangsaku. Saya selalu bersuara bagi bangsaku yang tak bersuara, dan membisu. Saya selalu hadir dengan tulisan-tulisan untuk bangsaku yang teraniaya dan tertindas dan terabaikan. Apapun kata orang, terutama orang Melayu Indonesia yang menjajah rakyat dan bangsaku. Saya sudah sekolah dan saya sudah tahu siapa itu bangsa Melayu Indonesia sesunggunhnya. Ia merampok kemerdekaan dan kedaulatan kami dan menduduki dan menjajah bangsa kami selama ini.

Bangsa kolonial memang tidak pernah mengakui ia adalah penjajah. Pemahaman ini terbukti dengan wajah kolonial Indonesia yang menduduki bangsa West Papua selama ini. Ia mengaku penyelamat dan membawa perubahan dan kemajuan. Ia mengaku mebangun bangsa West Papua. Pernyataan ini paradoks dengan fakta di lapangan yang terlihat wajah-wajah perampok, pencuri dan pembunuh dan watak kriminal. Pembunuh bangsa kami disebut pahlawan dan dinaikan pangkat dan diberikan jabatan.

Para kolonial memang tidak pernah menerima pendapat dari bangsa yan dijajah. Penjajah selalu memaksa supaya pandangannya harus diterima oleh bangsa diduduki. Mereka tidak peduli dan tidak pernah mengerti kegelisahan & penderitaan yang dialami bangsa yang dijajah akibat dari kebijakan penguasa kolonial.

Pater Dr. Neles Tebay dalam kata pengantar buku penulis yang berjudul: “Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” dengan tepat mengatakan: “Konteks kehidupan sosial-kemasyarakatan dimana seorang penulis menggoreskan buah penanya turut mempengaruhi isi, nada, cara penyajian dan sasaran dari suatu karya. Maka, untuk memahami secara lebih baik isi dari suatu buku, para pembaca perlu mendalami konteks kehidupan masyarakat di mana penulis hidup” (Yoman: 2010).

2. Bangsa Merdeka dan Berdaulat

Untuk menjelaskan topik ini penulis membawa para pembaca untuk melihat dan mengerti bahwa bangsa West Papua ialah bangsa yang merdeka dan berdaulat sebelum bangsa Indonesia merampok, menduduki dan menjajah bangsa West Papua.

Penulis berangkat dari kehidupan bangsa West Papua dari suku Lani dimana penulis berasal. Kata “Lani” mempunyai tiga pengertian. Pertama, Lani artinya pergi. Kedua, Lani artinya orang yang tidak mempunyai kerabat. Sedangkan arti kata “Lani” yang ketiga ialah sebagai berikut:

“Orang-orang independent, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki hidup, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas,mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka selalu hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya” (Sumber: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri: Yoman: 2010:hal. 92).

Dari kemerdekaan dan kedaulatan ini, pertanyaan yang perlu dijawab oleh kita semua, terutama kolonial Indonesia ialah sebagai berikut:

2.1. Siapa yang pernah mengajar bangsa West Papua dalam suku Lani untuk membuat honai dengan bahan-bahan yang berkualitas dan bertahan sampai 50 tahun?

2.2. Siapa yang mengajar bangsa West Papua dalam suku Lani membuat pagar dengan bahan-bahan yang berkualitas dan bertahan bertahun-tahun?

2.3. Siapa yang mengajar membuat kebun dengan teratur dan menanam umbi-umbi yang bermutu tinggi?

2.4. Ahli atau konsultan siapa yang mengajar untuk membangun jembatan gantung untuk sungai-sungai besar dengan bahan-bahan berkualitas? Bagaimana caranya mereka menyebrangi sungai itu dalam memuat material?
2.5. Siapa yang melakukan penelitian untuk bahan-bahan berkualitas untuk membuat noken, membuat panah,membuat gelang dan kerajinan lainnya?

3. Pengakuan Orang Asing yang Beriman, Bernurani dan Bermoral.

Dr. George Junus Aditjondro mengakui keunggulan bangsa West Papua dalam bukunya: Cahaya Bintang Kejora:

“Lihat saja betapa populernya penggambaran tentang orang Dani ‘sebagai orang-orang yang nyaris telanjang yang masih hidup di zaman batu’ tanpa menyadari bahwa para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” ( 2000: hal. 50).

Ia melanjutkan: “Sama halnya seperti koteka dan noken, honai atau rumah bundar suku-suku pegunungan Jayawijaya Barat merupakan hasil daya cipta yang tinggi dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada, dengan teknologi yang sangat sederhana. Tanpa tradisi tertulis dan tanpa rumusan matematika yang rumit, suku-suku pegunungan itu mampu membuat lingkaran yang hampir sempurna, dan mampu membangun jembatan kayu dan rotan melintasi jurang-jurang yang dalam, tanpa menggunakan sebatang paku pun. Teknik sipil asli Pegunungan Tengah ini pantas didokumentasikan oleh para ahli lulusan perguruan tinggi, sekaligus mengabadikan mitologi dan pandangan dunia yang ada dibalik rumah bundar itu” (hal. 85).

Senada dengan George, Pastor Frans Lieshout OFM mengakuinya.

“Saya sendiripun belajar banyak dari manusia Baliem yang begitu manusiawi. Mendengar pengalaman orang-orang luar yang pernah bertemu dengan masyarakat Dani di Pegunungan Tengah, maka ternyata mereka semua menjadi heran dan kagum. Heran, karena masyarakat Pegunungan Tengah, yang hidup teritolasi dan terkurung di tengah-tengah gunung-gunung tinggi dan yang sebelumnya dianggap primitif di segala segi kehidupannya, yang lagi dikhawatirkan jahat itu, ternyata orang-orang yang ramah, bersahabat dan sopan. Kagum, karena orang-orang Dani itu, meskipun masih hidup di zaman batu namun mempunyai peradaban dan kebudayaan tinggi, mempunyai ketampilan untuk bertani dan menggarap tanah secara intensif, memiliki teknik tinggi untuk membangun sistim irigasi, jembatan gantung, dan pagar-pagar dengan tekun dan teliti, membangun dan memelihara rumah-rumah mereka dengan rapi dan bersih serta situasi dengan iklim dan alam hidup mereka” (Sumber: Sejarah Gereja Katolik di Lembah Balim: 2008: hal. 11).

George menegaskan: “Kekayaan dan kedinamisan itu kelihatannya bagi para penguasa rezim militeris korup Orba dianggap ancaman. Sehingga kekayaan kultural yang memperkuat identitas kepapuan sengaja dimatikan an warga pendukungnya diintimidasi dan diteror agar ia meninggalkan jati dirinya. …Paradigma dan kebijakan yang mengintimidasi dan menteror rakyat Papua itu sekaligus merupakan realitas pelanggaran hak asasi manusia yang dahsyat.” (hal.107).

Ia menambahkan, “Pada saat penjajah tidak bisa lagi meniadakan penduduk jajahannya secara fisik, dia kemudian mengeliminir mereka secara kultural, dengan mengatakan bahwa mereka tidak punya kebudayaan, atau dengan dalih bahwa kebudayaan mereka lebih rendah. Jadi mitos tentang koteka, Zaman Batu dan lain-lain itu, memang sengaja dipupuk karena mendukung cara berpikir penguasa.” (hal. 197).

Watak kolonialisme Indonesia digambarkan dengan tepat oleh Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno.

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia (hal. 255). …kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam” (Sumber: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: 2015: hal. 257).

Dr. Veronika Kusumaryati menulis Indonesia penjajah di West Papua dalam karyanya: “Ethnography of a Colonial Present: History, Experience, and Political Consciousness in West Papua” (Harvard University, USA, 2018). (*)

Solidaritas Mahasiswa Rakyat Papua | Menolak Transmigrasi Papua Bukan Tanah Kosong !

FB_IMG_1541188160397
Solidaritas Mahasiswa Rakyat Papua-TP/Dok.

Orang Asli Papua akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri. Dan itu pun harus mulai terwujud di dalam setiap kepemimpinan di atas tanah ini.

Untuk menjadi Pemimpin no. 1 di negeri ini adalah sebuah kemustahilan bagi orang asli Papua (OAP). Kecuali Papua berdiri sendiri sebagai sebuah negara berdaulat.

Kita masih berada pada Stigma negara ini tetapi kita diberikan Otonomi Khusus OTSUS yang dapat diartikan independent terkontrol. Seharusnya setiap pelaksanaan pemerintahan ditentukan oleh pemerintahan daerah ini sendiri yang telah dikhususkan tersebut.

Dengan demikian kita harus berpola pikir untuk setiap posisi dalam pemerintahan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif di Papua bahkan pemerintahan provinsi hingga pemerintahan kampung di pegang 100 persen oleh orang asli Papua.

Pekan dini, sedang digencar persiapan pemilihan calon legislatif baik di pusat, provinsi dan kabupaten. Diharapkan setiap orang Asli Papua untuk memilih anak-anak adat asli Papua untuk menduduki setiap kursi kehormatan tersebut.
Anak adat asli Papua baik laki-laki dan perempuan memiliki integritas, intelek, dan kompeten, untuk menyuarakan dan memperjuangkan Hak Orang Asli Papua.

Tidak pernah ada Orang Asli Papua yang di percayakan menduduki posisi apapun di wilayah provinsi lain. Maka saatnya orang asli Papua pun bertindak untuk menduduki posisi apapun yang ada di tanah Papua.
Ini baru murni otsus itu benar-benar untuk orang Papua tetapi salah pergunakan oleh pihak ke tiga atau semuanya kepenting Individualis. (*)

Mana Suara Orang Asli PAPUA Bukan TANAH KOSONG…!!

 

)*Penulis Adalah Aktivis Gerakan Mahasiswa Papua (GEMPAR)

 

 

Martabat Masyarakat Papua yang Terabaikan !

 

img_20181103_025858_0202046054463.jpg

Oleh : Tabo Ap

Pembahasan terkait isu Papua selalu mengundang kontroversi. Masih segar di ingatan kita tentang video diplomat yang viral di sosial media. Ia menyangkal tuduhan bahwa Indonesia melakukan pelanggaran HAM, justru sebaliknya melakukan banyak pembangunan di tanah Papua. Bahkan melalui UU Otonomi Khusus, Papua mendapatkan keistimewaan dari Indonesia melalui anggaran yang sangat besar untuk pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia. Sebagai masyarakat Indonesia, banyak dari kita tentu bangga dengan pernyataan diplomat muda tersebut dan merangkul Papua sebagai bagian dari Indonesia.

Di sisi lain, tuduhan pelanggaran HAM seringkali dikumandangkan pihak internasional yang tentu bukanlah tanpa dasar. Kompleksnya permasalahan Papua dan minimnya pemberitaan membuat sebagian besar masyarakat Indonesia pun tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di sana.

Perdebatan ini memantik kami untuk melakukan diskusi bersama Ligia Judith Giay, sejarawan yang lahir dan besar di tanah Papua, tepatnya di Sentani, Jayapura. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Sanata Dharma Jogjakarta dan melanjutkan studi master dalam bidang Colonial and Global History di Universitas Leiden, Belanda. Saat ini, Giay melanjutkan studi S-3 di Murdoch University, Perth, Australia dan melakukan penelitian terkait Pencari Mutiara di Kepulauan Aru, Maluku Utara tahun 1870-an hingga 1930-an. Hasil diskusi ini disarikan menjadi lima bagian dan ditutup dengan kesimpulan yang disusun oleh moderator diskusi, Joevarian Hudiyana, mahasiswa S-3 Psikologi Universitas Indonesia.

Pelanggaran Ham Di Papua

Papua memiliki sejarah panjang pelanggaran HAM, sebut saja Paniai Berdarah, Abe berdarah, Biak Berdarah , Wamena Berdarah dan konflik-konflik lain yang masih terus berlanjut hingga saat ini. Buku terbitan ELSAM berjudul A Cartography of Violence merupakan buku yang membahas beberapa konflik yang terjadi di Papua tahun 2000-an. Buku ini merupakan kumpulan esai Budi Hernawan yang juga menulis karya ilmiah yang berjudul Torture As a Mode of Governance in PapuaDalam tesis ini, Hernawan berargumen bahwa penyiksaan dan kekerasan yang dilakukan aparat Indonesia merupakan cara Indonesia untuk mengatur dan memimpin masyarakat Papua. Sebagai gambaran, berikut cerita yang sempat terungkap dalam diskusi ini:

“Ada sebuah keluarga yang harus pindah ke Jayapura dari pegunungan tengah karena kesehatan. Di pegunungan tengah, dia dipukul tentara sampai hampir mati karena dituduh mencuri. Orang dari suku Lani juga banyak susah, tahun 1996 ada peristiwa penyanderaan orang-orang PBB dan Kopassus membalas dengan menghantam orang-orang Lani yang tinggal di Jila, Bela dan Alama. Katanya untuk menumpas OPM (Organisasi Papua Merdeka), tapi sama seperti di Indonesia tahun 65, mereka tidak perlu membuktikan orang-orang itu anggota OPM atau tidak. OPM itu label karet yang bisa dilekatkan kepada siapapun.”

Menurut Giay, pelanggaran HAM di Papua memiliki kesamaan dengan kasus-kasus lainnya; adanya perebutan lahan dan arogansi aparat negara. Yang membuat kasus Papua lebih istimewa adalah ekspos media yang minim dan perjuangan Papua Merdeka.

Tidak banyak media nasional yang berani untuk mengangkat isu papua. Permasalahannya tidak lain adalah kesulitan akses, sensor yang ketat, mengancam posisi mereka karena bertentangan dengan agenda politik nasional, dan isu yang tidak populer di kalangan masyarakat yang menyulitkan mereka untuk menjual berita tersebut. Di sisi lain, jurnalis asing juga kesulitan meliput kondisi Papua. Izin meliput sangat sulit didapat dan keberadaan mereka dicurigai. Aparat khawatir mereka akan menulis hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi di Papua dan mengancam posisi Indonesia di mata internasional. Minimnya akses informasi ini menyebabkan berita tersebar hanya melalui cerita meskipun saat ini cukup terbantu dengan media sosial seperti facebook. Media-media Papua, seperti suarapapua.com, tabloidjubi.com, juga menjadi salah satu corong informasi untuk mengetahui kondisi Papua langsung dari tangan pertama.

Perjuangan Papua Merdeka

Pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dianggap sebagai kelompok separatis seringkali menjadi legitimasi aparat Indonesia untuk melakukan kekerasan dan melakukan pembunuhan. Tapi perjuangan Papua Merdeka juga selama ini berperan penting dalam upaya untuk menekan pemerintah Indonesia menyelesaikan isu HAM. Kelompok diplomasi Papua Merdeka yang sekarang paling aktif adalah ULMWP (United Liberation Movement for West Papua’s). Mereka lah yang melakukan lobi ke negara-negara Pasifik yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG) terkait kasus pelanggaran HAM yang dilakukan Indonesia kepada Papua. Negara-negara ini lah yang mendukung advokasi Papua di tingkat internasional, termasuk di sidang PBB namun ditolak mentah-mentah oleh Indonesia.

Argumen ULMWP terkait HAM cukup sederhana: Indonesia telah dan masih terus melakukan pelanggaran HAM, dan tidak ada usaha dari pemerintah untuk mengakhiri ini. Demonstrasi pro-Papua Merdeka ditanggapi dengan kekerasan aparat, yang kembali jadi senjata ULMWP dalam lobby mereka. Mereka pesimis bahwa kasus pelanggaran HAM ini akan diselesaikan oleh Indonesia mengingat kasus pelanggaran HAM masa lalu, seperti 65 dan 98 pun tidak kunjung selesai, apalagi kasus yang menimpa Papua selama ini. Oleh karenanya, menjadi independen menjadi langkah yang dipilih supaya bangsa Papua bisa menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Penjajahan Melalui Pembangunan?

Pembangunan massif menjadi bukti komitmen Pemerintah Indonesia untuk mensejahterakan masyarakat Papua. Meskipun di sisi lain, Dale (2016) justru menyatakan bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah Indonesia ini merupakan alat penjajahan untuk mengontrol sumber daya dan budaya Papua. Pembangunan juga selalu dihubungkan dengan modernisasi, seakan orang Papua adalah orang primitif maka harus dimodernisasi. Pola pikir ini serupa dengan pola pikir penjajah dalam melihat negara koloninya, seperti bangsa Belanda ketika dulu melihat orang Indonesia.

Dalam upaya pembangunan infrastruktur dibutuhkan pembebasan lahan, hal itu berdampak pada kehidupan orang Papua di lokasi tersebut. Masyarakat umumnya sangat enggan melepaskan tanah karena banyak yang merupakan tanah ulayat (tanah kolektif milik kelompok adat). Visi Jokowi sangat berdasar pada infrastruktur dengan proyek-proyek yang besar akan menyebabkan debat panjang tentang pelepasan tanah. Entah berapa trilyun dan tahun akan habis untuk negosiasi tanah. Freeport sendiri merupakan kutukan bagi orang yang tinggal di lokasi tersebut dan sekitarnya, seperti pasar mama-mama yang terpaksa pindah. Program transmigrasi yang dicanangkan tahun 1990-an untuk meratakan pembangunan justru menggusur masyarakat asli Papua dan menjadi minoritas di tanahnya sendiri (lihat dokumentasi watchdoc tentang keluarga di Merauke yang sedang berjuang untuk tetap mempertahankan tanahnya).

Tidak dipungkiri, sebagian masyarakat Papua merasakan dampak dari pembangunan tersebut. Kita juga sering melihat testimoni rakyat asli Papua yang pro-NKRI melihat pembangunan yang dilakukan pemerintah Indonesia. Untuk hal ini, Giay mengungkapkan ada kemungkinan hal ini juga berhubungan dengan privilege/kelas. Orang-orang di Papua, terutama yang sukses dan di kota, memiliki opsi untuk mengacuhkan adanya pelanggaran HAM. Mereka yang rentan dikorbankan aparat adalah mereka yang berada di kelas menengah ke bawah. Mereka yang tidak kelihatan, dan ketika mereka hilang atau meninggal, yang mengingat juga hanya kalangan mereka. Kurang lebih sama dengan Jakarta dan isu penggusuran. Tanpa pemberitaan media, kesulitan yang mereka alami tidak terlihat. Pergerakan kelas menengah ke atas untuk merdeka mulai naik ketika di Jakarta terjadi kasus Ahok. Bagi rakyat Papua yang sebagian besar beragama Kristen, peristiwa di Jakarta cukup menggugah dan membuat mereka mulai ikut bergerak menuntut kemerdekaan.

Upaya Damai

Selama ini terdapat lembaga yang mengadvokasi dialog dengan Jakarta untuk menyelesaikan masalah HAM di Papua, bernama Jaringan Damai Papua (JDP). Kelompok pro-dialog ini biasanya dikelompokkan dengan aliran yang moderat, karena tidak seperti ULMWP, mereka masih mau ketemu Jokowi dsb. Namun belakangan kelompok ini pun mulai diserang, beberapa bulan lalu Ibrahim Peyon, seorang dosen antropologi Universitas Cendrawasih yang sekarang sedang kuliah di Jerman mengeluarkan tulisan yang sangat penting. Dalam tulisan tersebut ia berargumen bahwa kelompok ini dipakai oleh pemerintah Indonesia sebagai bukti bahwa ‘Indonesia punya komitmen untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM’, tapi sebenarnya tidak menghasilkan apapun. Berbagai upaya mulai dari membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) hingga bertemu Komnas HAM dan Presiden, tidak melahirkan solusi. Sejak awal dibentuknya, kelompok ini memang tidak populer, tapi sebelumnya serangan terhadap kelompok yang mau berdialog soal Papua tidak sekuat ini. Dahulu orang tidak suka kelompok pro-dialog hanya karena mau merdeka tapi dengan adanya tulisan Peyon ini, posisi kelompok pro-dialog makin lemah.

Peran Gereja Dalam Perdamaian

Gereja sebagai institusi agama seharusnya menjadi instrumen kunci yang mengampanyekan perdamaian dalam konflik yang terjadi di Papua ini. Namun kenyataannya, posisi gereja sangat dipengaruhi oleh pemimpin gerejanya dan banyak misionaris di sana yang cenderung bersikap apolitis, termasuk misionaris dari Amerika. Saat Indonesia mengambil alih Papua dari Belanda, misionaris Amerika berusaha mati-matian untuk tidak terlibat dalam politik karena itu mempengaruhi ijin beroperasi. Akhirnya mereka menyatakan bahwa gereja tidak boleh berpolitik, termasuk mengkritisi pemerintah Indonesia.

Saat ini, ketika gereja-gereja di Papua tidak lagi diatur orang misi, semua keputusan tergantung pemimpin sinodenya. Ada yang tetap apolitis, namun ada juga yang lebih vokal. Yang menarik adalah Gereja Katolik karena memiliki track record yang cukup baik. Dahulu, keuskupan Jayapura memiliki Sekretariat untuk Keadilan dan Perdamaian (SKP). Sekretariat ini aktif di awal tahun 2000-an dan setiap tahunnya mengeluarkan buku yang sederhana namun luar biasa karena mencantumkan daftar pelanggaran HAM yang terjadi per tahunnya. SKP juga sempat mempunyai proyek tahunan di mana mereka menerbitkan buku “Memoria Pasionis di Papua”. Sayangnya, saat ini SKP tidak lagi aktif. Meskipun demikian, aktivitas yang dilakukan oleh beberapa kelompok, seperti Pr. John Djonga dan rekan-rekannya tetap vokal.

Dikusi ini menghasilkan lima poin kesimpulan, yaitu:

  1. Hak Asasi Manusia di tanah Papua masih jauh dari kondisi ideal. Banyak sekali kasus di seantero Papua yang menunjukkan penindasan oleh aparat dan para penegak hukum.
  2. Tidak ada langkah atau bahkan solusi efektif dari pemerintah Indonesia dalam menghilangkan penindasan HAM ini.
  3. Penyebaran informasi pun juga ditekan sehingga warga luar tidak banyak tahu tentang apa yang sebetulnya terjadi di tanah Papua terkait HAM.
  4. Ada upaya advokasi dari Jaringan Damai Papua ke Indonesia, namun dianggap tidak membuahkan hasil dan bahkan dianggap juga mengancam perjuangan manusia Papua selama ini. Gereja pun bersikap apolitis akan kasus ini, meskipun ada beberapa kelompok yang tetap vokal menyerukan pelanggaran HAM
  5. Masalah Papua tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembangunan. Pertama karena pembangunan tidak menyelesaikan masalah HAM, kedua, di beberapa kasus pembangunan justru menyebabkan masalah HAM (seperti kasus penggusuran di Jakarta).

 

Kobar,  03 November 2018

)*Penulis Adalah Aktivis Solidaritas Nasional Mahasiswa dan Pemuda Papua (SONAMAPPA)

Imajinasi dan Perjuangan (II)

1_Iskk54yYtlHI7S1TWtWiEQ

Satu hal yang membuat saya menuliskan ini, ada hal-hal yang membuat saya terkesima. Sebelumnya, izinkan saya merenungi situasi dan kehidupan yang saya lakoni selama saya hidup. Sebagai hasil aktivitas pribadi dan beberapa kekuatan intelektual serta perjuangan. Ketika saya dibawa oleh mobil polisi dengan beberapa mahasiswa Papua, saya berusaha menjernihkan pemikiran-pemikiran saya dengan warna hitam dalam diri yang belum jelas. Kita seperti raungan singa didalam penjara, kita bebas mengkritik Presiden di sosial media, namun kita selalu dapat perlakuan kurang menyenangkan di jalan. Sesat pikir akan terus bertumbuh dan dipahami dengan jiwa yang cacat.

Produk mana kah jiwa yang cacat itu? Sudah jelas kita di cacat kan dan dibuat lumpuh oleh negeri kita sendiri. Peristiwa-peristiwa bersama mahasiswa Papua membuat hati saya semakin teombang-ambing. Apalagi mendengar kakak perempuan Mahasiswa Papua berbicara “Kakak, di dalam mobil ini panas sekali” kata nya. Kemudian di peluk erat dengan kakak lain nya dan meminta nya sabar kemudian terus merangkai imajinasi yang terus terangkai.

Sungguh, ini perasaan hati yang sangat luar biasa. Saya seperti melebur dengan diri mereka, perjuangan mereka, dan beberapa hal yang membuat kita simpati akan hidup kita yang menyenangkan. Mereka tidak bisa meleburkan eksistensi, dan kita akan menyadari keterpisahannya mereka dengan kebahagiaan yang berusaha mereka raih. Bagaimana kah mereka dapat terlepas dari penjara itu.

Jika kita masih saja dilema akan mempertahankan mereka atau membuat mereka menentukan nasib sendiri di lain waktu. Kita berhak mengambil andil dalam perjuangan mereka, karena ini bukan persoalan apa yang diraih oleh rezim ini dan rezim-rezim berikutnya. Ini permasalahan kemanusiaan.

Kita tak perlu memberikan presentase mengenai berapa luka yang dirasakan oleh orang asli Papua. Melihat papua, seperti melihat mutiara yang berharga dan sulit kita jaga. Beberapa hal lain yang membuat saya semakin simpati adalah ketika salah satu kawan Papua berbicara “Kita ini juga manusia. Kita berhak memilih jalan apa dapat membuat kita merdeka” Mereka, terus membangun infrastruktur. Tetapi tidak membangun kemanusiaan.

Mungkin orang-orang tidak dapat memahami kegusaran mereka karena peran media sangat pasif jika berbincang mengenai Papua. Apabila emas hanya berdiam diri di dalam tanah, kini ia sudah menjadi pusat ya di dalam bumi, ya di Papua.

Sesungguhnya emas itu lah yang membuat mereka depresi, hanya satu doa anak-anak Papua “Mengapa kau turunkan emas di tanah kami. Bisa kah emas itu habis? Kami merasa asing dengan diri kami, kami melihat jutaan wajah berbeda. Kami melihat jutaan senyum semringah. Namun mereka tidak melihat kami sedang menangis”

Izinkan aku menderita dan membuai sembari menunggu mendung yang tak kunjung cerah. Menggelantung pupus diantara beberapa kebahagiaan yang sulit dicapai. Dalam tulisan ini, aku mengungakapkan bukti betapa dalam nya penderitaan mereka dan betapa kuat nya rasa tulus dan cinta yang mereka rangkai. Kawan-kawan, semoga hati kita tidak ditundundukan oleh semangat perlawanan yang tak tahu kapan akan berakhir. Semoga tuhan dapat menyertai perjuangan kita. (*)

TNI/Polri telah Memasang Baliho dua tempat yang berbeda di kota Tomohon

stop penentuan nasib sendiri Papua adalah indonesia
Jln Trans Manado, Tomohon – TP/Dok.

Pekan ini tanggal 01 November 2018 (TNI/Polri)  Indonesia telah memasang baliho dua tempat yang berbeda di kota tomohon yaitu.

 

 

Manado, TOLIPOST.com — Memasangan baliho ini dimana Mahasiswa/I Papua, biasa melakukan aktivitas perkuliahan disini sehingga mahasiswa Papua, merasa terganggu dengan perbuatan-perbuatan TNI/Polri indonesia. Tindakan kami memastikan bahwa oknum TNI/Polri Indonesia yang memasang baliho, karena kontribusi Mahasiswa-mahasiswi Papua Barat, terhadap Perjuangan Papua Merdeka sangat deras dari dulu hingga pekan dini, karena adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di West Papua oleh TNI/Polri, indonesia merupakan kegagalan Pemerintah Republik Indonesia dengan memaksa Orang Asli Papua, pengunjuk rasa mengindonesiakan.

Baca Juga : Detik-detik jelang referendum Kaledonia Baru

Perbuatan Pemerintah Republik Indonesia dipaksakan Orang Asli Papua, pengunjuk rasa mengindonesiakan, tetapi riilnya bahwa orang asli Papua sudah menetapkan agenda prioritas atas Hak Asasi Manusia menjadi hal teramat sulit bagi Pemerintah Republik Indonesia.
Sebab perjuangannya yang tertata rapi dalam sejarahnya, Pemerintah Republik Indonesia tidak bertanggunjawab atas mengisi kemerdekaan bagi orang asli West Papua. Semuanya dipengaruhi oleh Pembatasan Hak Berekpresi, Hak Kepemilikan Tanah, Hak Hidup, Instrumen Beragama, dan Hak-hak asasi lainnya di Papua Barat.

Baca Juga : Jalan Berliku Para Elite Papua

Jikalau demikian kita dapat mengatakan bahwa Indonesia di Papua mengalami krisis perjuangan hak-hak dasar hidup manusia Papua. Aktivitas-aktivitas perjuangan Hak Asasi Manusia selalu dipolitisasi, oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dampaknya perlawanan Ideologi. Lojisnya, tidak mengherankan jika Orang Asli Papua (OAP), masih hidup dalam Penindasan, Pemarjinalisasian, Diskriminasi serta Pembiaran, tanpa mengisi semua lini hidup Orang Asli Papua. Hukuman mati pun dilangsungkan bagi Rakyat Papua Barat dari tahun 1969 sampai saat ini.
Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI, tidak pernah alfanya terus sumbangsi pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua Barat. Ada realisasi kongkret bahwa Orang Asli Papua dibunuh bagaikan hewan oleh Pemerintah Repulik Indonesia, kapan dan di mana saja.

Baca Ini :

Ideologi Indonesia Yang Ditanam di Tanah Tandus dan Disemak-semak Duri

Jokowier, Pedagang Pengaruh, Machavelian, RASIALIS dan ISLAMOPHOBIA !

Bahwa adanya Pelangaran-pelangaran Hak-hak Sipil di Papua Barat sehingga Mahasiswa-mahasiswi Papua terus berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri secara demokratis, dan terbuka jujur di Tanah Papua Barat. (*)

 

 

 

Reporter : Admin
Editor : Tabo Ap

 

 

Detik-detik jelang referendum Kaledonia Baru

37pasifik-2
Kampanye untuk referendum kemerdekaan Kaledonia Baru dari Prancis. – RNZI/ Michael Parsons

Para pemilih akan menghadiri tempat pemungutan suara berkat ketentuan yang tercantum dalam Perjanjian Nouméa – roadmap tahun 1998, yang telah menentukan jalur institusional di wilayah itu dan berakhir dengan referendum ini.

Kaledonia — Referendum kemerdekaan Kaledonia Baru minggu mendatang diperkirakan akan melanjutkan status quo, Perdana Menteri Prancis mengatakan kepada Majelis Nasional di Paris, bahwa dia tidak percaya akan hasil survei apa pun yang diumumkan sebelum pelaksanaan.

Belum ada jajak pendapat yang menunjukkan bahwa para pemilih Kaledonia Baru cenderung memilih kemerdekaan, namun mereka akan ditanyai, apakah mereka ingin Kaledonia Baru memiliki kedaulatan penuh dan merdeka.

Para pemilih akan menghadiri tempat pemungutan suara berkat ketentuan yang tercantum dalam Perjanjian Nouméa – roadmap tahun 1998, yang telah menentukan jalur institusional di wilayah itu dan berakhir dengan referendum ini. Pemungutan suara dibatasi untuk 174.000 orang, terdiri dari penduduk pribumi Kanak dan penduduk yang tinggal tetap di Kaledonia Baru sejak tahun 1994.

Alain Christnacht, salah satu perancang kesepakatan itu mengatakan kepada kantor berita AFP, hanya sedikit penduduk non-Kanak yang diperkirakan akan memilih merdeka dan, bahkan jika semua orang Kanak memilih merdeka, mereka akan gagal karena minoritas suara.

Perjanjian itu, yang juga mengatur prosesi perpindahan kekuasaan bertahap dari Paris ke Nouméa, dicapai antara partai anti-kemerdekaan, RPCR, dan partai pro-kemerdekaan, FLNKS, dan memberikan kewenangan kepada Kongres Kaledonia Baru, agar meminta pemungutan suara tersebut dilakukan kapan saja setelah tahun 2014.
Namun, rasa lapar akan referendum telah menyusut setelah bertahun-tahun, sebagian disebabkan oleh sistem pembagian kekuasaan di bawah Perjanjian Nouméa, yang telah membantu menjaga perdamaian karena sentimen yang diinginkan semua pihak adalah untuk mencoba menghindari lagi semua persoalan pada tahun 1980-an.
Dengan serangkaian pemerintahan Prancis, dari tahun ke tahun, bersikeras agar referendum itu tetap diadakan, dan kelompok pro-kemerdekaan memiliki komitmen yang sama, meskipun prospek untuk pihak ini tampaknya muram, tanggal 4 November ditetapkan pada suatu pertemuan di Paris pada Maret tahun ini.

Perpindahan kekuasaan dan status quo
Pemungutan suara ini memiliki tiga aspek. Jika suara pro-kemerdekaan menang, Prancis akan memindahkan kekuasaan yang tersisa ke Pemerintah Kaledonia Baru. Wewenang ini mencakup pertahanan, keamanan dalam negeri/kepolisian, peradilan, kebijakan moneter, dan urusan luar negeri. Kedua, Kaledonia Baru akan menjadi negara berdaulat dan diizinkan untuk mendaftar menjadi anggota PBB. Dan ketiga, kewarganegaraan Kaledonia Baru akan dibuat.

Dengan memilih kemerdekaan, periode transisi untuk memungkinkan deklarasi kemerdekaan resmi diperkirakan dapat dilakukan pada 2021.

FLNKS telah menjabarkan visinya, mengusulkan untuk mengganti nama negara itu menjadi Kaledonia Baru Kanaky, dan menggunakan bendera FLNKS sebagai bendera nasional. FLNKS menyarankan pembentukan suatu republik multi-budaya dan sekuler, sesuai dengan permohonan dekolonaissi yang diserahkan kepada PBB pada tahun 1986, ketika Kaledonia Baru dimasukkan kembali dalam daftar Wilayah Perwalian dan Non-Pemerintahan-Sendiri PBB.

Rencananya adalah untuk menyusun konstitusi oleh sebuah majelis, yang terdiri dari semua pihak yang relevan dan untuk diadopsi oleh rakyat. FLNKS ingin membubarkan Kongres yang ada saat ini, dan menggantikannya dengan suatu majelis nasional yang mencakup anggota-anggota yang dipilih, untuk majelis tingkat provinsi dan perwakilan dari dewan-dewan adat. Provinsi-provinsi akan memilih presiden negara itu, sementara majelis nasional akan memilih pemerintah yang akan diusulkan oleh presiden.

Untuk keamanan dalam negeri, pasukan kepolisian akan dibentuk, menggabungkan kewenangan yang saat ini dipegang oleh kepolisian nasional dan kota serta para gendarmes. Sistem pengadilan tiga tingkat juga akan dibentuk, termasuk Mahkamah Agung, yang akan menjalankan fungsi-fungsi yang sekarang dipegang oleh tiga pengadilan tinggi Prancis.

Kaledonia Baru Kanaky akan berupaya menjadi anggota PBB, membentuk angkatan bersenjatanya sendiri, dan memulai kerja sama bidang pertahanan dengan negara-negara Kepulauan Pasifik lainnya dan Prancis untuk melindungi zona ekonomi eksklusifnya.

Sementara itu, bagi pemerintah Prancis, jika suara pro-merdeka kalah berarti kembali ke status quo.
Namun, ini juga berarti bahwa salah satu ketentuan Perjanjian Nouméa berlaku, dimana Prancis diwajibkan mengizinkan dua referendum kemerdekaan lagi di tahun 2022, jika sepertiga anggota Kongres meminta hal ini.
Pihak anti-merdeka membujuk pemilih dengan mengingatkan mereka akan berbagai keuntungan menjadi bagian dari Prancis, termasuk perlindungan oleh suatu negara besar. Mereka memperingatkan bahwa tanpa Prancis, Kaledonia Baru bisa menjadi ‘provinsi Tiongkok’.

Blok anti-kemerdekaan menekankan bahwa dukungan keuangan dari Prancislah, yang selama ini telah memungkinkan adanya pelayanan sosial yang jauh lebih berkualitas, dibandingkan dengan yang tersedia di negara-negara Melanesia tetangganya.

Dukungan terbatas untuk negara baru
Di luar negeri, dukungan untuk kemerdekaan Kaledonia Baru pun bermunculan, dan datang, terutama, dari Catalunya di Spanyol, Korsika, Papua Barat, dan kelompok pro-kemerdekaan Polinesia Prancis, Tavini Huiraatira.
Forum Kepulauan Pasifik (PIF), yang pada tahun 1980-an merupakan pendukung kukuh Kaledonia Baru merdeka, telah berkurang dalam dukungannya, dan Melanesian Spearhead Group pun bungkam.

Tidak ada partai politik di Prancis yang secara terbuka mendukung kemerdekaan, sementara Partai Republik dan partai National Rally, yang sebelumnya dikenal National Front, berkampanye agar Kaledonia Baru tetap berada di bawah Prancis. Hal ini kontras dengan jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh televisi Prancis yang menemukan bahwa di Prancis, hampir dua pertiga responden menilai kemerdekaan Kaledonia Baru sebagai sesuatu yang ‘baik’ atau ‘sangat baik’.

Menjelang pelaksanaan referendum, komisi pemantau resmi, terdiri dari sekelompok hakim dan wakil dari pengadilan administratif dan konstitusi utama Prancis, telah didatangkan dan akan mengawasi hampir 300 TPS, sementara pengamat PBB akan menyediakan tim pemantau tambahan.

Dalam sebuah wawancara dengan RNZ pada tahun 2013, Presiden Kaledonia Baru saat itu, Harold Martin, memperingatkan agar Kaledonia Baru tidak melaksanakan referendum.

“Selama bertahun-tahun ini, orang-orang Kaledonia baru telah terbukti bisa mencapai persetujuan dalam segala hal, namun tidak pernah tentang masalah kemerdekaan,” katanya.

Hasil referendum akan diumumkan pada tanggal 5 November mendatang dan Perdana Menteri Prancis, Edouard Philippe, akan berada di Nouméa untuk membahasnya. (*)

Jalan Berliku Para Elite Papua

2
Eliezer Jan Bonay di rumahnya di Kota Wijhe, 31 Desember 1988. Kredit foto: John Rumbiak/ Suara PapuaNomor 5, Maret/April 1990/dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda

 

FRAGMEN-fragmen bentangan sejarah Papua, salah satunya, ada di media-media yang diterbitkan atas inisiatif pemerintah Belanda saat masih menduduki Papua. Media-media tersebut hampir mustahil kita dapatkan kini di Indonesia. Tidak hanya media massa, begitu juga dengan buku-buku yang diterbitkan oleh pemerintah Belanda tentang Papua pada tahun 1950-hingga 1960-an. Saya masih ingat betul, seorang paitua (bapak) lulusan sekolah zending dan saksi sejarah Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969, sangat bangga menunjukkan salah satu media terbitan GKI (Gereja Kristen Injili) di Papua. Seolah ingin menunjukkan perhatiannya dengan dokumen-dokumen sejarah itu, paituaini kemudian menunjukkan beberapa buku karya Izaak Samuel Kijne, salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan pendidikan Papua yang dibawa oleh zending.

Paitua yang dengan bersemangat bercerita pengalamannya pada zaman Belanda itu kemudian minta izin ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Dari sana ia membawa dua buku yang mulai lusuh kulit mukanya. Buku itu adalah Itu Dia, Djalan Pengadjaran di Nieuw Guinea dan Seruling Mas Njajian Pemuda Pemudi dan Perkataanja. Keduanya dalam kondisi yang mulai rusak. Seruling Mas telah dicetak berulang-ulang, tapi paitua ini memiliki yang aslinya. “Bapa dapat ini saat sekolah di Serui. Selalu jadi teman tidur dengan menyanyi. Tong (kita) kadang-kadang diskusiakan (mendiskusikannya) apa maksud di balik syair-syair di buku ini. Tong percaya, Kijne menyimpan rahasia di Papua. Ini misteri. Tersembunyi di ujung jalan,” kisahnya sambil tertegun.

Pendidikan yang dikembangkan oleh zending dan misi di berbagai wilayah di Papua beriringan dengan masuknya para Bestuur dan dibukanya pos-pos pemerintahan. Generasi Papua tumbuh menjadi pamong yang terjun bersama pegawai Belanda ke kampung-kampung dan membuka pemerintahan. Di sisi lainya, sekolah guru berjalan lebih mantap dengan tangan dingin Kijne. Sejalan dengan itulah tumbuh kesadaran politik baru yang dijiwai oleh semangat Kekristenan dan tentu saja hasil didikan politik para pejabat pemerintahan Belanda. Hal itu, saya kira, tak terbantahkan.

 

Cetakan pertama seri buku pelajaran membaca “Itu Dia!” oleh I.S. Kijne
(dokumen STT I.S Kijne Abepura)

 

Kesadaran

Kesadaran atas wilayah Papua yang memiliki posisi penting dan pendidikan yang didapatkan dari sekolah guru dan pamong, membuat sekelompok kecil orang-orang Papua terdidik mulai bersuara untuk membangkitkan semangat Pan-Papua, sebuah usaha awal untuk menggelorakan semangat kebangkitan. Usaha ini tentu saja difasilitasi oleh Belanda dan media-media massa terbitannya tahun 1950-1960-an.

Johan Ariks, salah satu tokoh terdidik penting pada masanya mengungkapkan:

Kedudukan Nieuw-Guine Barat kita setjara politiek adalah amat penting. Maka oleh sebab itu adalah penting sekali bahwa kita, orang Papoea – kaum terpelajar dan pemimpin-pemimpin—pikir akan bahaja jang besar jang mengantjam rakjat kita. Keinginan jang amat kita pudji hendak direbut dari kita. Keinginan itu jang isinja: kedaulatan – keamanan dan kemakmuran. Kedaulatan oleh karena kebanjakan kita orang Kristen dan kita didik setjara orang Kristen (PENGANTARA, Tahun 13 No. 20, 27 Mei 1961).

Kesadaran politik itulah yang membuat masa-masa kesadaran berpolitik tumbuh subur di Nederlands Nieuw-Guinea (West Papua). Pada saat itu, Papua telah memiliki partai-partai lokal yang menyemarakkan dinamika politik pada dekade 1950-1960-an. Manokwari, sebagai salah satu kota penting dalam pemerintahan Belanda, memiliki dua partai besar yang diotaki oleh tokoh-tokoh penting diantaranya adalah: Johan Ariks, Lodwijk Mandatjan dan Barend Mandatjan. Tahun 1960-an juga adalah masa-masa puncak dalam perkembangan politik orang Papua. Berbagai golongan masyarakat sudah menunjukkan pendiriannya dengan mendirikan atau bergabung ke dalam partai-partai politik lokal Papua. Tentu saja gairah politik ini menjadi kabar gembira saat kebebasan menentukan sikap politik dibuka lebar oleh Pemerintah Belanda ketika itu.

 

Media PENGANTARA, salah satu media penting pada masa Belanda yang berhubungan dengan Nederlands Nieuw-Guinea
(foto: Dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda)

 

Majalah Triton edisi Januari 1961, No.1 menuliskan semaraknya perkembangan politik di Nieuw-Guinea dengan menuliskan judul “Perkembangan Politiek Sudah Mulai”. Majalah Triton menuliskan analogi perkembangan partai politik bagai bangunan rumah yang nanti akan berperanan penting dalam membangun negara Papua Barat:

Kami bersama-sama harus membangun rumah rakjat kita. Djangan sampai kami kumpulkan bahan bangunan lalu membawanja ke lain tempat sehingga rumah tidak djadi. Masing-masing pendirian ada sebagai bahan membangun rumah, semangat kita itulah tenaga untuk bekerdja, tudjuan kita jaitu kepentingan rakjat, itulah tjiptaan rumah.

Gairah politik memang sangat terasa di daerah Nederlands Nieuw-Guinea dengan terbentuknya partai-partai politik lokal. Kondisi ini sebagai permulaan dalam persiapan pemilihan wakil-wakil Papua yang akan duduk di Nieuw Guinea Raad pada 5 April 1961. Aktivis-aktivis politik, baik tua maupun muda, memainkan pengaruhnya untuk merebut hati rakyat Papua dengan pandangan-pandangan politiknya. Keinginan utamanya adalah keterlibatan orang Papua untuk menentukan sikapnya dalam serangkaian perundingan-perundingan yang membahas nasib dari tanah mereka sendiri. Kelak di kemudian hari, inilah yang menjadi duri dalam daging permasalahan Papua terintegrasi (aneksasi?) ke wilayah Indonesia.

 

Johan Ariks, Ketua Partai PONG (Persatuan Orang Nieuw-Guinea) bersama ketua mudanya O. Manupapami
(foto: Majalah Triton No.1 Januari 1961/dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda)

 

Johan Ariks, salah satu tokoh terdidik itu, adalah seorang guru yang berasal dari Manokwari. Ia sangat keras memperjuangkan agar ada keterwakilan orang Papua dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Negeri Belanda. Tujuan dari perjuangan Ariks adalah menolak bergabung dengan Indonesia dan adanya keterwakilan orang Papua di KMB. Materay (2012: 170-171) dengan mengutip laporan pembicaraan Ariks dengan P.J.Koets pada 10 Februari 1949, menggambarkan dengan jelas bahwa Ariks berbicara tegas menolak bergabung dengan Indonesia dan mengambil tempat terhormat di lingkungan kerajaan Belanda. Demikian kutipan pernyataan Ariks:

Rakjat Irian memang betoel beloem terpeladjar dan sebagian besar betoel masih hidoep didalam zaman koeno dan keadaan koeno akan tetapi rakjat ini tahoe apa jang terasa dalam hati mereka sendiri. Dalam hal ini hanja ada doea peranjaan jaitoe: Indonesia atau soeka sama Belanda: dan didjawab atas pertanjaan ini biarpoen dari anak ketjil adalah: tidak Indonesia.

Ini adalah pendapat rakjat djelata, rakjat jang tidak terpeladjar, rakjat jang menurut pemerintahan Belanda beloem bisa melapoerkan soeara!

Rakjat Irian bisa mengeloearkan soeranja dan pemerintah Belanda haroes toendoek pada kepoetoesan serta kemaoean rakjat ini. Kita tidak maoe dimasoekan di dalam Negara Indonesia Serikat, kita maoe di bawa mahkoeta Belanda dan maoe dipimpin oleh bangsa Belanda serta mengambil tempat jang terhormat didalam lingkoengan keradjaan Belanda.  

Gerakan-gerakan politik untuk menggalang dukungan dari negara lain dan juga menyebarkan informasi kepada masyarakat di seantero Papua, juga dilakukan oleh tokoh-tokoh politik seperti Nicolaas Jouwe dan Markus Kaisiepo. Di kemudian hari, Nicolaas Jouwe kemudian mendirikan Gerakan Persatuan New Guinea (GPNG) di Hollandia (Jayapura) pada 1951. Partai politik ini mempunyai pengaruh di wilayah Biak, Manokwari, Sorong, Merauke, dan tentu saja Hollandia. Tokoh-tokoh yang terlibat di Manokwari dari partai GPNG diantaranya adalah Johan Ariks, Wanma, Marino, Welem Simorit, Melky Rumfabe, Barend Mandatjan dan Lodwijk Mandatjan. Tujuan partai ini adalah menentang Indonesia dan mempromosikan persatuan orang Papua serta memperjuangkan kemerdekaan untuk Papua (Materay, 2012: 179).

 

Berend Mandatjan berpidato dalam pendirian Eenheidspartij Nieuw Guinea (EPANG) atau Partai Persatuan Nieuw Guinea. Saudaranya, Lodwijk Mandatjan menjadi ketua partai ini
(foto: Majalah Triton No.1 Januari 1961/dokumentasi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda).

 

Secara khusus di Manokwari, Johan Ariks kemudian memilih jalan berbeda dengan Barend Mandatjan dan Lodwijk Mandatjan. Mereka memilih untuk mendirikan partai yang berbeda. Pada 20 September 1960, berdiri Eenheidspartij Nieuw Guinea (EPANG) atau Partai Persatuan Nieuw Guinea. Lodwijk Mandatjan bertindak sebagai ketua dan mendapatkan dukungan dari sebagian besar masyarakat Arfak di Manokwari. Johan Ariks tiga hari kemudian, yaitu pada 23 September 1960, mendirikan Partai Orang Nieuw Guinea (PONG) dengan ketua mudanya yaitu O. Manupapami (Materay, 2012: 191-193).

Partai-partai lain yang ada pada saat itu diantaranya adalah DVP (Democratische Volks Partij), PARNA (Partei Nationaal) di wilayah Hollandia dan di bagian Sentani terdapat Partai Kena U Embay, yang didirikan pada 20 November 1960. Di Manokwari, selain EPANG dan PONG, juga berdiri PERSEPP (Partai Serikat Pemoeda Pemoedi Papoea) yang berdiri pada 20 Oktober 1960. Sementara di Sorong terdapat Partai Sama-Sama Manusia (SSM) dan Partai Persatuan Christen Islam Raja Ampat (Perchisra) yang berdiri di Sorong pada 2 Desember 1960. Begitulah, partai lokal Papua tumbuh dan para elite pun merengkuh kesempatan-kesempatan yang tersemai dari masa gegap gempita politik dan janji-janji Belanda untuk memerdekakan Papua.

 

Kelokan Tajam Bonay

Nama Eliezer Jan Bonay (E. J .Bonay) sangat penting memberikan cermin elite Papua yang dituntut bersikap pada kondisi yang terjadi. Ia adalah Gubernur Papua pertama pada masa transisi kekuasaan di Tanah Papua (1963-1964). E.J. Bonay termasuk dua kepala pemerintahan pertama orang asli Papua selain Frans Kaisiepo (1964-1973).

Dasar dari munculnya dua pemimpin asli Papua ini pada masa Presiden Sukarno adalah Penetapan Presiden Nomor 1/1962 dan Undang-Undang 12 Tahun 1969. Selain itu adalah alasan politis yang berhubungan dengan pengalihan kekuasaan administrasi pemerintahan dari Nederlands Nieuw Guinea kepada Republik Indonesia melalui badan pemerintahan dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang disebut dengan UNTEA pada 1 Mei 1963. Hal ini dilakukan juga untuk mengalihkan perhatian kelompok-kelompok masyarakat lokal agar tidak menimbulkan kesan seakan-akan pemerintah Republik Indonesia sebagai penjajah baru (Griapon, 2010: 23-24).

Latar belakang itulah memunculkan E. J. Bonay yang merupakan tokoh terpelajar dan pamong praja lokal yang berasal dari Pulau Yapen, Kabupaten Yapen Waropen. Saingan utama dari E.J.Bonay adalah Frans Kaisiepo yang kemudian akan menggantikannya menjadi Gubernur Irian Barat. Dalam perjalanannya, hidup Bonay penuh dengan kelokan tajam: dari mendukung pemerintah Belanda, berbalik mendukung pemerintah Indonesia, namun akhirnya kecewa dan bergabung dengan para elite Papua di perantauan.

E.J. Bonay adalah generasi elite Papua saat gerakan kelompok elite Papua yang bekerjasama dengan pemerintah Belanda mendeklarasikan negara Papua Barat dengan bendera, lagu, lambang, nama wilayah. Ia juga adalah anggota Komite Nasional Papua yang mendeklarasikan Negara Papua Barat pada 1 Desember 1961. Dua tahun yang menjadi titik balik dalam hidup E. J. Bonay ketika ia mengetahui bahwa akan terbentuk Provinsi Irian Barat di bawah Indonesia melalui Penetapan Presiden Sukarno Nomor 1 tahun 1962. Ia menaruh harapan dengan otonomi pemerintahan terhadap Irian Barat yang akan memberikan perhatian utama terhadap perkembangan politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan yang mungkin melebihi Belanda.

Semangatnya yang menggebu-gebu untuk memajukan putra-putri Irian tergambar jelas dalam tulisannya pada Musjawarah ke-1 Rakjat Propinsi Irian Barat (30 April – 9 Mei 1964):

Pembangunan Irian Barat terutama terletak pada putera-puteri Irian Barat sendiri. Tenaga-tenaga putera Indonesia dari luar kita tetap hargakan sebagai tenaga-tenaga tehnis, tapi apa tendensi jang kita lihat pada umumnja. Sedangkan saudara-saudara dari pulau-pulau lain di luar Irian Barat jang telah padat penduduknja sangat susah membudjuknja meninggalkan tempat kelahirannja, biarpun hidupnja umpamanja agak sulit, apalagi jang tjukup kesenangan hidupnja. Sungguhpun ia keluar djuga dari tempat kelahirannja, masih amat susah menghapuskan perasaan dan pikirannja, bahwa di hari tuanja ia akan pulang lagi ke tempat-tempat kelahiran asalnja dan akan dikubur disana, dengan mendjual harta kekajaannja jang telah diperolehnja ditempat ia mengembara.

Sudah tentu kita tidak menolak sama sekali mereka tetap tinggal di daerah ini dan menganggapnja sebagai saudara-saudara sendiri, akan tetapi menusia tetap manusia. Sifat ini masih harus diperhitungkan. Sebab itulah masih sering dikatakan, bahwa pembangungan jang kontinju dari satu daerah terutama terletak ditangan putera-putera daerah itu sendiri dengan bantuan dan pengaruh unsur-unsur jang dibawa oleh saudara-saudara dari luar Irian Barat (hlm. 151-152).

E.J.Bonay pada akhirnya harus kecewa dengan harapannya tersebut. Sukarno digulingkan oleh Suharto lewat “kudeta merangkak” dan dilanjutkan dengan pembantaian massal terhadap orang-orang Indonesia yang dituduh komunis pada tahun 1965-1966. Mimpi dapat mengatur pemerintahan Irian Barat sendiri dan menyiapkan putera-putera Papua untuk membangun Papua harus pupus. Bersama dengan D. S. Ajamiseba dan S. D. Kawab, E. J. Bonay pernah meminta kepada Pemerintah Indonesia mengenai izin konsensi penambangan logam mulia bagi penduduk lokal. Namun permintaan itu ditolak. Lengkaplah sudah sakit hati E. J. Bonay yang dapat tipu (kena tipu) Pemerintah Indonesia (Griapon, 2010: 43).

John Rumbiak mewawancarai E. J. Bonay dalam pengasingannya di Belanda yang dimuat di Suara Papua Nomor 5, Maret/April 1990. Bonay mengungkapkan bahwa tidak terbersit keinginannya untuk mengungsi ke Eropa. Kisah awalnya adalah ketika dia memberikan kesaksian dalam Melanesian Solidarity Week yang diadakan di ibukota Papua New Guinea, Port Moresby pada 23-31 Mei 1981. Namun, pemerintah Papua New Guinea kemudian mengusirnya secara tiba-tiba dan ia selanjutnya berangkat ke Swedia pada 27 Juni 1981 dan tiba pada 30 Juni 1981. Pada 1982, Bonay pindah Belanda dan menetap di kota kecil bernama Wijhe.

Di negeri kincir angina itu, E. J. Bonay bergabung dengan elemen perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Ia menyelesaikan manuskrip panjang berjudul “Sejarah Kebangkitan Nasionalisme Papua” di sana dengan masukan data-data sejarah dari M.W. Kaisiepo, tokoh senior gerakan kemerdekaan Papua Barat di Negeri Belanda. Pandangannya yang kuat dan meyakinkan tentang tumbuhnya nasionalisme saat kolonialisme berlangsung tampak dalam kalimat berikut:

Tapi lazimnya di dunia ini, dimana ada kolonialisme, di sana pasti ada nasionalisme. Itu jelas. Belanda juga berjuang 80 tahun (melawan bangsa Spanyol). Akibat adanya kolonialisme. Rakyat Papua juga. Nasionalisme bukan baru tumbuh empat puluh tahun terakhir ini. Nasionalisme sudah ada sejak nenek-moyang, Tapi biasanya orang asing, terutama orang-orang Barat sering menterjemahkan nasionalisme itu lain, Dan Papua sering disebut Barbarian, Kanibal dank open-sneller. Itu kebiasaan kolonial. Indonesia juga. Pemerintah rezim militer Indonesia yang berkuasa saat ini member cap kepada pejuang Papua, kepada gerilyawan figters kita di hutan sebagai gerakan pengacau keamanan, gerakan pengacau liar dsb. Itu tidak aneh. Tidak usah heran. Kalau dulu, pada waktu revolusi 1945 di Pulau Jawa, Belanda juga memberi cap “ekstremisme” bangsa Indonesia. Jadi sama saja. Kalau dulu dia disebut eksremisme, sekarang dia balik dan bilang “GPL”.

Sayang, E.J.Bonay tak bisa berlama-lama terlibat dalam perjuangan memerdekakan bangsanya. Ia wafat pada usia 65 tahun, di rumah sakit Saint Joseph, Deventer-Nederland pada 14 Maret 1990 Pukul 18.15 waktu Nederland. Jenazahnya kemudian diperabukan pada 19 Maret 1990 di kota Zwolle dengan upacara keagamaan dan politik.***

Leiden – Belanda, Januari 2018

 

Posted by: Admin

Copyright ©Indoprogress“sumber”

Hubungi kami di E-Mail: redaksi.tolipost@gmail.com

 

Ideologi Indonesia Yang Ditanam di Tanah Tandus dan Disemak-semak Duri

1451908015
Dok. Pribadi

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

Rasa lucu dan aneh menurut penulis. Tapi penulis merasa sangat terhina. Keluguan dan kepolosan rakyat dan bangsa West Papua dimanipulasi. Pendekatan dan cara-cara yang tidak bermartabat. Cara-cara pemaksaan yang merendahkan martabat rakyat kecil yang tidak tahu maksud dan tujuan orang-orang dianggap penguasa tapi kolonial yang memaksa bangsa lain.

Penulis sebagai orang yang sudah sekolah sangat tidak setuju saudara Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih atau Dandim Wamena, datang di distrik Pirime dan paksakan rakyat dan anak-anak kecil di kepala diikat bendera merah putih.

Seperti Firman Tuhan tertulis ada benih-benih yang ditabur dipinggir jalan, ada yang jatuh di tanah berbatu-batu, ada yang ditabur disemak duri dan ada yang ditabur di tanah subur.

Apakah tidak ada cara-cara yang benar, tepat, bermartabat dan terhormat dan terukur menanamkan nasionalisme ke-Indonesia-an untuk rakyat dan bangsa West Papua.

Metode ini sudah usang dan kuno dan primitif. Hari ini kita berada di era teknologi, era modernisasi dan telekomunikasi. Pendekatan seperti ini sama saja dengan menanam benih-benih ke-Indonesia-an di semak duri, di berbatu-batu dan dipinggir jalan. Benih atau bibit itu bertumbuh sebentar tetapi akan layu dan mati sebentar.

2. Indonesia gagal memenangkan hati rakyat West Papua

Kalau mau membangun nasionalisme ke-Indonesia-an yang kokoh dan kuat dalam hidup rakyat dan bangsa West Papua ialah aparat kepolisian tangkap dan adili dan hukum aparat keamanan yang menembak mati Penduduk Asli West Papua. Contohnya: tangkap dan adili dan hukum anggota TNI yang menembak mati 4 siswa di Paniai pada 8 Desember 2014.

Untuk apa paksa-paksa anak-anak kecil di suruh pegang bendera dan disuruh ikat di kepala dan difoto dan disebarkan. Kami bukan boneka. Kami bukan binatang. Kami manusia yang punya harga diri dan martabat.

Sudah cukup. Kalau mau bangun dan memajukan dengan cara-cara yang wajar dan elegan dan beradab. Kami tidak selamanya bodoh.

“Bagaimana pun bodoh dan primitifnya suatu bangsa, ia akan tumbuh, berkembang dan memiliki naluri mempertahankan hidup.” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Soekarno: Roman Zaman Pergerakan, 2002, hal. 122).

Hai putra-putri bangsa West Papua bergelar sarjana, Master,Doktor dan bergelar muka bekakang.

Dimanakah hati nuranimu?
Dimanakah matamu?
Dimanakah imanmu?
Dimanakah mulutmu?
Dimanakah taring dan taji ilmumu?
Apakah Anda terus menonton bangsamu dibuat seperti permainan dan boneka oleh bangsa kolonial Indonesia yang menduduki bangsa kita?

Uskup Dom Carlos Filipe Ximenes Belo, SDB, menyatakan suara kenabiaannya:

“Dalam realita kalau sudah menyangkut individual manusia, walaupun dengan alasan keamanan nasional. Gereja akan memihak pada person karena pribadi manusia harganya lebih tingginya dari pada keamanan negara atau kepentingan nasional.”
(Sumber: Frans Sihol Siagian & Peter Tukan. Voice of the Voiceless, 1997, hal. 127).

Doa dan harapan penulis, doa-doa dari orang-orang dari balik honai itu menyertai para pemilik bendera merah putih yang datang menyapa mereka. Apakah sapaan mereka tulus.?

Hidup kita jangan berpura-pura. Karena hidup ini ada batasnya. Kekuasaan yang kita miliki hanya sementara. Yang lebih berkuasa dan yang lebih kekal ada, yaitu Tuhan.

Waa…!!

Ita Wakhu Purom, 31 Oktober 2018;20:37PM

Jokowier, Pedagang Pengaruh, Machavelian, RASIALIS dan ISLAMOPHOBIA !

th

Oleh: Natalius Pigai

Pemerintahan kepemimpinan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalah sudah berlangsung 4 tahun lamanya. Apa yang dilakukan oleh pemerintah selama ini sudah dinilai secara paripurna, oposisi bertahan pada kritikan-kritikan yang tajam dan menohok, sementara partisan defensif. Karena itu tahun yang keempat ini tulisan ini difokuskan untuk menilai para pendukung pemerintah Kepemimpinan Jokowi yang saya beri nama Jokowier. Siapa saja yang dimaksud dengan Jokowier? Jokowier disini saya batasi pada Pejabat Pemerintah yang mengklaim diri orang-orang lingkaran dalam (iner sircle) Jokowi, Kerabat Penguasa, Pendukung Pemerintah baik Tim Sukses, Relawan. Namun tentu saja semua penjelasan berikut berbasis pada fakta peristiwa telah disuguhkan oleh media sebagai jendela bangsa. Ada yang terbukti, masih dalam proses hukum dan ada yang masih bersifat praduga tidak bersalah.

Tidak terasa Pemerintah Jokowi telah menelan waktu 4 tahun berlalu, 4 tahun itu pula Jokowier, Para Penguasa, Jokopedia, Seknas, Bara JP, Partai Pendukung dan simpatisan berkoar koar memuja-muji Pemerintah saban hari tanpa henti, tanpa lelah dan tanpa bosan beriring bersama lapuknya waktu. Anda katakan pemerintahan Jokowi anti korupsi, anti kolusi dan anti nepotisme, Pemerintah memberantas mafia, kartel, Pemerintah menepati janji, Pemerintah tidak langgar HAM, komitmen pada rakyat, konsisten, demokratis, bermoral, menghormati kebebasan ekspresi. Semua kata-kata memang enak didengar dan itu adalah kesimpulan kalian, tentu saja, saya hormatinya, namun saya ingin bertanya bagaiamana bisa memberantas para oligarki (mafia ekonomi dan kartel dagang) yang menempatkan seorang Wali Kota ke Gubernur dan Presiden dalam waktu kurang dari 3 tahun, orbit bak meteor ditengah-tengah pemilihan berbiaya trilyunan, kalau tidak dibekini oleh kaum oligarki ekonomi maupun para taipan hoakiao di negeri ini.

Bagaimana kita bisa memastikan pemerintah ini bersih anti Kolusi, Korupsi dan Nepotisme, sedangkan BUMN dijadikan alat banjakan puluhan orang penganggur jalanan dan Job seeker ditampung sebagai pemimpin perusahan berplat merah? Sedangkan Ahok sempat keluarkan jurus jitu adanya sokongan para taipan dalam pemilihan Presiden, udar Pristono diduga dibungkam, freeport tadinya Jokowi tolak bak seorang nasionalis tulen, namun akhirnya tunduk dan bertekuk lutut pada simbol imperialisme Amerika dengan mempermudah ijin eksport dan menyetujui kontrak karya meski menentang amanat undang-undang minerba. Belum lagi 66 janji Presiden dihadapan rakyat Indonesia seperti membeli kembali Indosat, tidak Import pangan, tidak utang luar negeri menyelesaikan persoalan HAM dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Dalam pemerintahan ini, kita telah sedang menyaksikan (sambil ketawa) sandiwara murahan pemerintahan, antar institusi negara dibentrokan, hukuman mati, penenggelaman sampan-sampan murahan, negeri maritim yang paceklik, hukum Jahiliah kebiri, kapitalisasi politik laut Cina selatan yg suhu politiknya tidak pernah besar dan tidak akan pernah besar dengan pura pura dan menipu rakyat dgn mengobarkan semangat nasionalisme diatas geladak kapal perang Republik Indonesia pembelian rakyat kecil (wong cilik), penipuan murahan dan omong kosong terhadap orang-orang telanjang di Papua dengan mengatakan akan bangun rel kereta api di Papua, jalan tol melintasi tebing-tebing terjal.

Selama 4 tahun, Pemimpin di negeri ini hadir tanpa perasaan, tanpa peduli terhadap kaum marjinal, orang-orang miskin. Pundi-pundi orang kaya timbuh 10% / tahun, pengusaha hanya tumbuh 3%, orang miskin hanya turun 1 digit padahal negara telah habiskan uang rakyat 8 ribu trilyun APBN.

Akhirnya juga saya mengukur moralitas pemimpin dgn hanya dilihat dari Mobil ESEMKA bikinan Solo yang mendobrak citra seorang Wali Kota hingga menjadi presiden, orang nomor 1 Republik ini. Hari ini, ESEMKA tidak bisa diproduksi jadi mobil buatan domestik seperti Proton di Malaysia dan Mobil Nasional jaman Suharto. Meskipun konon katanya masih diperdebatkan atas kebenaran akan diproduksinya. Bangsa papua berduka dalam kesedihan atas tragedi yg menimpa ribuan bumi putra, bahkan tokoh pejuang pasar mama-mama meninggal dalam perjuangannya padahal Jokowi janjikan Proyek ini tidak pernah kunjung usai sampai hari ini.

Dalam politik transaksional bagaimana berkoalisi ke Pemerintahan, selain tawaran menteri juga dugaan pembagian proyek triliunan rupiah. Bukankah pembangunan infrastruktur , jalan, jembatan dan lain-lain yang membutuhkan triliunan rupiah itu, Presiden menggunakan otoritas melalui kontraktor Pemerintah, kemudian dengan diam-diam menggandeng kontraktor swasta dengan penunjukan langsung?. Memang berkuasa itu enak, mumpung berkuasa, Aji mumpung dan Itulah kekuasaan, dengan berkuasa secara leluasa bernafsu memanfaatkan kekuasaan untuk dirinya, sanak saudaranya, koleganya dan masa depan kariernya.

Ada benarnya jika seorang Inggris lord acton menyatakan bahwa kekuasaan cederung korup dan mau melakukan korupsi secara mutlak (power tends to korups, and will corupts absolutely). Namun saya menghormati bangsa ini yang masyarakat masih anonim dalam politik sebagaimana Pengamat Politik berkebangsaan Australia Herber Feith pernah sampaikan kondisi pemilih tahun 55 dan saat ini hanya terjadi perubahan pemerintahan dan politik, sementara mayoritas masyarakat masih stagnan dan belum melek politik sehingga timbul kelompok solidaritas nekat, solidaritas buta, militan dan cenderung fanatis.

Kelompok tersebut yang sangat nampak saat ini adalah kelompok pendukung Jokowi, pendukung ahok, pendukung mega, pendukung Luhut, pendukung penguasa. Para punggawa politik mereka oleh para pendukung menganggap sebagai titisan dewa, kata-kata dan perbuatan tokoh-tokoh tersebut benar semua dihadapkan pendukung fanatik ini. Bahkan kata-kata dan nasehat atau perintah mereka dianggap tita dewa, Devine Right of the King, seperti yang pernah praktekan oleh raja Jhon di Inggris abad ke 15 pada masa monarki absolut.

Semoga Jokower pendukung Jokowi tidak demikian, sehingga orang-orang terdidik, komunitas masyarakat sipil harus membangun bangsa Madani yang Kritis dan rasional, Imparsial, objektif untuk menempatkan dan memilih pemimpin berdasarkan rasionalitas, akal yang sehat bukan atas dasar tahayul, fanatisme agama, suku, ras antar golongan. Kita sudah terlalu lama hidup didalam kungkungan kebohongan dan terpolarisasi berdasarkan fragmentasi elit bangsa, tidak berdasarkan fragmentasi ideologi, jutaan rakyat menjadi nasionalis abangan pengikut seorang oknum Individu, saya katakan bangsa bodoh saja yang menempatkan nasionalisme personifikasi oknum individu, bukan nasionalisme cinta tanah air dan bangsa.

Kelompok yang mengaku priyayi dan abangan tidak memiliki doktrin ideologi. Ideologi mereka hanya kekuasaan, mereka tidak punya harapan dan cita-cita untuk bumi putera Karena mereka hamba sahaja kolonial sebagai pemungut cukai. Lain dengan kelompok santri yang jatuh bangun berjuang membebaskan negeri. Semua pahlawan yang merintis lahirnya negeri ini adalah pahlawan kaum bersorban.

Sudah 4 tahun memimpin negeri ini berbagai sandiwara dipertontonkan para Jokowier. Mereka mengklaim diri sebagai pemilik kekuasaan, mampu mengontrol otoritas negara, orang dekat kekuasaan. Pola pikir ponga dan bedebah yang dipertontonkan ke publik sebagai pedagang pengaruh (Trading in influences). Bayangkan berbagai kasus suap dan korupsi yang merusak bangsa di sebagian besar di lakukan karena memanfaatkan atau memperdagangkan pengaruh. Menjual nama pejabat, kedekatan dengan pejabat dan bahkan sanak saudaranya.

Disaat yang sama selama 4 tahun juga menyerang para oposisi secara babi buta tanpa perasaan, tanpa berperikemanusiaan. Menyerang oposis dengan berbagai kata-kata rendahan berbagai bentuk kekerasan verbal. Penyebutan monyet dan gorila sebagai oleh Jokowier kepada lawan politik, suatu tindakan yang relevan hanya dilakukan Simbol manusia tidak bernilai dan berbudaya karena cenderung diskriminatif dan rasialis.

Demikian pula ancaman labilitas intergradasi vertikal dan horisontal yaitu antara negara dan rakyat dan rakyat dan rakyat selama ini, khususnya sebagaimana dialami oleh umat islam sungguh menyakitkan di negeri Pancasila yang beragama mayoritas muslim. Penyerangan, penganiayaan, pelarangan dan diskriminasi terhadap para ulama, kyai, ustad, habaib telah menyatakan secara lancang tentang adanya islamophobia di negeri ini. Hal ini merusak tatanan dan nilai agama yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia.

Berbagai kebijakan dan tindakan pendukung Jokowier lebih mencerminkan pemanfaatan kekuasaan, jabatan dan uang hanya untuk melanggengkan kekuasan dengan cara machiavelian sekalipun. Pertimbangan utamanya adalah karena para Jokowier tidak mau terusik dari zona nyaman mereka.

Para Jokowier, rakyat ini sudah lama menderita, seandainya negara dan rakyat ibarat bersuami dan istri sejak jaman pancarobah 2 tahun lalu, mereka sudah kasih talak 3 ke nagara, apakah kita tahu bahwa rakyat yang hidup di pelosok nusantara ini mereka hidup dan berpengaruh dengan adanya negara? Mereka hidup dari hasil usahanya, ketergantungan kepada alam, hidup sangat autarkis, taken for granted anugerah Ilahi dengan sumber daya alam yg melimpa ruah di bumi nusantara, tanpa sentuhan negara bisa hidup, bahkan lebih aman, mereka tidak paham Presiden operasi pasar harga daging sapi turun sampai 80 ribu, mereka tidak tahu operasi pasar untuk turunkan harga pangan, sandang dan papan, mereka juga tidak paham berbagai kebijakan dan regulasi tetek bengek yg dibuat oleh negara, mereka juga tidak tahu segala kebijakan pembangunan infrastruktur jalan-jalan bertingkat, jembatan tanpa sungai, dan juga gedung-gedung pencakar langit yg menjulang, jutaan rakyat di bumi pertiwi ini hidup bisu, tuli cenderung sebagai orang-orang tidak bersuara, nun jauh dari hirup pikuk modern yang hanya berkutat di Jakarta, Jawa dan kota-kota tertentu.

Memang power tens to corupts, semua ini akibat kita rakus berkuasa, kekuasaan memang penting, namun kita lalai distribusi kekuasaan bagi putra putri di seluruh nusantara, bagaimana mungkin Presiden selalu Jawa, menteri2 mayoritas selalu Jawa lantas bisa distribusi kekuasaan, orang Ambon sudah lama menderita, 40 tahun tidak pernah menjadi menteri, meskipun Leimena pernah menjadi wakil perdana menteri, orang Dayak pemilik pulau terbesar kedua setelah Greenland sampai hari ini belum ada yang menjadi menteri, walaupun orang Dayak di Malaysia sering menjadi menteri. Sejak Indonesia merdeka sampai saat ini orang Buton di Sulawesi Tenggara belum pernah di kasih kesempatan meskipun saudara-saudar kita Laode-Laode banyak orang hebat di negeri ini. Orang Papua jadi pemberontak dulu baru dikasih menteri, padahal bangsa Papua adalah bangsa pemberi bukan bangsa pengemis. Jong Ambon, celebes, Borneo dan Andalas bersatu bukan tanpa cek kosong, mereka memberi dengan cek berisi sumber daya alam yang melimpa.

Selain distribusi kekuasaan ada aspek yang paling penting adalah distribusi pembangunan, sangat tidak adil dan cenderung diskriminatif, ketika pulau Jawa dan Sumatera konektivitas antar daerah baik darat, udara dan laut terbangun rapi sementara di seberang sana, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua pembanguan jalan Trans yang dibangun saat ibu kandung saya masih kecil sampai saat ini belum pernah selesai. Bukan berita hoax, pembangunan jalan Trans Papua dibangun tahun 1970, ibu saya usia 15 tahun, sampai hari ini tidak ada jalan Trans Papua yang terbangun.

Para pendukung nekat sekalian, negeri ini bukan monarki, juga bukan oligarky, yang kekuasaan hanya berpusat pada raja dan sekelompok orang. Negeri ini REPUBLIK INDONESIA, negeri milik bersama dimana kekuasaan berpusat pada rakyat Indonesia dan mereka yang mengelola hanya diberi kedaulatan oleh rakyat ( Summa Potestas, sive summum, sive imperium dominium). Karena itu esensi dari negara demokrasi maka satu2nya cara untuk memperbaiki bangsa ini adalah distribusi keadilan (distribution of justice), melalui distribusi kekuasaan ( distribution of power) dan distribusi pembangunan ( distribution of development) di seluruh Indonesia. Dan itu hanya bisa dilakukan melalui pemimpin yang dipilih secara rasional dan masyarakat Madani yang kritis tanpa pendukung fanatis, militan dan cenderung destruktif dan tahayul. (*)

Natalius Pigai. Di atas Jembatan Udara Nusantara, Jakarta-Manokwari, Oktober 2018

Reporter : Natalius Pigai
Editor : Tabo Ap

PBB desak Saudi ungkap jasad Khashoggi

80wartwan
Ilustrasi, pixabay.com

Meminta ahli internasional untuk membantu penyelidikan kasus dugaan pembunuhan jurnalis yang kerap mengkritik kebijakan Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, tersebut.

Saudi — Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Michelle Bachelet, meminta Arab Saudi mengungkap keberadaan jasad Jamal Khashoggi, seorang  jurnalis pengkritik yang tewas di konsulat negara itu di Istanbul, Turki.

“Pemeriksaan forensik, termasuk otopsi di tubuh korban adalah unsur penting dalam setiap penyelidikan pembunuhan, dan saya mendesak pihak berwenang Saudi untuk mengungkapkan keberadaan tubuhnya tanpa ada penundaan lebih lanjut,” kata Bachelet dalam pernyataan yang dikutip AFP.

Bachelet juga meminta ahli internasional untuk membantu penyelidikan kasus dugaan pembunuhan jurnalis yang kerap mengkritik kebijakan Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, tersebut.

Baca Juga : Ratusan muslim Rohingya dipenjara pemerintah Saudi

“Untuk penyelidikan yang dilakukan akan bebas dari segala pertimbangan politik, keterlibatan dari para ahli internasional akan memiliki akses penuh terhadap bukti dan saksi,” kata Bachelet.

Ia menekankan betapa pentingnya memastikan kasus pembunuhan ini diselidiki secara independen dan tidak memihak.

“Saya menyambut langkah-langkah yang diambil oleh otoritas Turki dan Saudi untuk menyelidiki dan mengadili para tersangka pelaku pembunuhan Khashoggi,”katanya.

Menurut dia, penyelidikan harus ditetapkan untuk memastikan akuntabilitas dan keadilan yang berarti untuk kejahatan yang keji seperti ini terhadap seorang jurnalis dan kritikus pemerintah. Hal itu ia tekankan, mengingat ada kemungkinan keterlibatan dari pejabat tinggi di Arab Saudi dan terjadi di gedung konsulat Saudi.

Ini adalah kali ketiga Bachelet berkomentar mengenai kasus Khashoggi, tapi Saudi tak pernah memberikan tanggapan langsung.

Sebelumnya, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, juga mempertanyakan jasad Khashoggi yang hingga kini belum ditemukan.

“Jelas bahwa dia [Khashoggi] dibunuh, tapi di mana? Kalian harus menunjukkan jasadnya,” ujar Erdogan sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu.

Menurut Erdogan, Saudi seharusnya tahu keberadaan jasad tersebut karena mereka sudah menangkap 18 tersangka kasus pembunuhan Khashoggi.

“Delapan belas orang itu tahu siapa yang membunuh mereka karena pelakunya pasti ada di antara mereka,” kata Erdogan menegaskan. (*)

Ratusan muslim Rohingya dipenjara pemerintah Saudi

26penjara
ilustrasi, pixabay.com

Warga Rohingya banyak melarikan diri ke Arab Saudi untuk menghindari kerusuhan di kampung halaman mereka di Myanmar pada 2011.

Saudi — Hasil penyelidikan media Middle East Eye (MEE) mengungkapkan terdapat ratusan warga etnis muslim Rohingya, terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak yang dipenjara oleh pemerintah Arab Saudi di sebuah pusat penahanan selama beberapa tahun.

Warga Rohingya banyak melarikan diri ke Arab Saudi untuk menghindari kerusuhan di kampung halaman mereka di Myanmar pada 2011. Mereka ke Saudi dengan paspor palsu berharap mencari nafkah di sana, namun akhirnya mereka jadi korban razia karena tidak punya dokumen ketenagakerjaan.

Dalam penyelidikan selama empat bulan MEE mewawancarai mantan tahanan dan mereka yang masih dipenjara, termasuk mereka yang berada di Saudi, kamp pengungsi Bangladesh dan sejumlah aktivis yang membenarkan ratusan orang Rohingya dipenjara di Saudi.

Tahanan yang berada di penjara Saudi itu sudah mendekam selama satu hingga enam tahun di Pusat Penahanan Shumaisi di Jeddah. Mereka tidak bisa bebas dan tidak jelas ditahan untuk berapa lama.

Abu Ubaid, bukan nama sebenarnya, kini ditahan di pusat penahan itu. Lewat ponsel yang diselundupkan ke penjara dia menceritakan kisahnya ketika diwawancara.

“Semua orang di sini ingin keluar. Kami merasa sangat frustrasi dan trauma berada di sini,” kata Ubaid kepada MEE.

Sebagian besar yang ditahan karena memakai paspor palsu. “Tapi mau bagaimana lagi. Pemerintah Myanmar tidak mau memberi kami dokumen apa pun apalagi paspor,” kata Ubaid menjelaskan.

Etnis Rohingya mengalami kekerasan dalam beberapa dekade terakhir oleh militer Myanmar. Tercatat lebih dari 700 ribu muslim Rohingnya terpaksa mengungsi ke Bangladesh menyusul kekerasan oleh militer Myanmar pada Agustus tahun lalu.

Warga Rohingya yang berangkat ke Saudi memakai paspor palsu yang mereka peroleh di Bangladesh, Pakistan, dan Nepal. Mereka ingin mencapi penghidupan di Negeri Petro Dolar.

Sebagian dari mereka langsung dideportasi hanya beberapa hari setelah ditangkap, tapi Saudi tetap menahan warga Rohingya ketimbang mengirim mereka kembali ke Myanmar yang akan membuat mereka mengalami kekerasan.

Sejauh ini belum ada alasan jelas mengapa pemerintah Saudi menahan begitu banyak warga Rohingya di Shumaisi. Namun para tahanan dan aktivis meyakini hal ini karena Saudi masih berusaha memastikan mereka Rohingya atau bukan.

Tahanan Rohingya ditempatkan di sebuah area tahanan yang kurang mendapat sinar matahari dan mereka dilarang pergi ke tempat lain di pusat penahanan itu.nSejumlah warga Rohingya juga ada yang meninggal atau mengalami gangguan jiwa karena sudah terlalu lama ditahan.

“Kami yakin ada ratusan Rohingya ditahan di Pusat Penahanan Shumaisi,” kata Nay San Lwin, aktivis Rohingya kepada MEE.

Win juga menyebut para tahanan itu menempati satu ruangan yang diisi 64 orang dan mereka tidur di ranjang tempat tidur susun.

“Tahanan dan kenalan saya mengatakan ada sejumlah ruangan di Shumaisi yang isinya hanya dihuni orang Rohingya,” katanya. (*)

Referendum Otsus Plus: Biarkan Rakyat Memilih!

yason

Oleh: Yason Ngelia)*

Pemerintah harus konsisten bahwa Indonesia adalah negara berkedaultan rakyat. Setiap keputusan yang menyangkut hidup seluruh rakyat dilaksanakan secara demokratis sesuai amanat konstitusi. Seperti musyawarah dan pemilihan umum untuk mengambil keputusan suara mayoritas dengan seadil-adilnya. Konsistensi negara terhadap demokrasi dibutuhkan untuk memecahkan persoalan krusial kebangsaan yang ada, termasuk setiap konflik berkepanjangan yang ada di Tanah Papua.

Selama ini rakyat Papua menaruh harap kepada negara untuk menyelesaikan konflik di atas tanah ini secara demokratis dan adil, namun tidak kunjung terjadi. Negara tidak perlu merasa pesimis, pertama: demokrasi akan sangat antropologis karena menyangkut kebiasaan yang telah hidup lama pada setiap suku-suku di Papua; kedua: rakyat Papua telah terbiasa dalam mekanisme demokrasi Indonesia setingkat Pilpres, gubernur, bupati hingga legislatif per lima tahun sekali sejak reformasi; ketiga: secara hukum maupun moral, pemerintah akan kuat dan tenang bekerja karena mendapat mayoritas dukungan rakyat.

Argumentasi ini sangat mendasar dan konsisten diusulkan kepada pemerintah Provinsi Papua. Seperti yang telah saya sampaikan saat berhadapan dengan Gubernur Lukas Enembe bersama para pimpinan musyawarah daerah lainnya (Muspida), ketua DPRP Derd Tabuni, Kapolda Tito Karnavian (kini Kapolri), dan aparatur pemeritah daerah di ruang tamu Gubernuran Papua pada 4 November 2013 silam. Pertemuan itu sedianya untuk meminta kesediaan Gubernur Lukas Enembe menjumpai ribuan massa aksi yang bergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (GempaR-Papua) yang telah berjalan kaki ( (long march) dari Merpati Abepura, Kota Jayapura untuk menolak draft Otonomi Khusus “Plus” yang digagas Gubernur Enembe.

Namun sehari setelahnya, Gubernur Papua justru merespon aksi GempaR-Papua dengan mengatakan bahwa aksi mahasiswa tidak mewakili mayoritas Rakyat Papua. Sebaliknya, pemerintah menganggap bahwa usaha perombakan draft Otsus yang sedang didorong kepada pemerintah Pusat di Jakarta adalah langkah strategis dan tepat. Karena dalam perjalanannya, Otsus Papua sejak 1 Januari 2000 tidak menunjukan keberhasilan yang signifikan, bahkan ada kecenderungan “gagal”. Sehingga Otsus Plus adalah solusi di pengujung Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 (tepatnya 2021). Aksi penolakan Otsus Plus oleh mahasiswa tahun 2013 berhasil diredahkan oleh represifitas aparat kepolisian Papua di Jayapura, untuk memuluskan usaha pemerintah Papua melobi Jakarta.

Sebagai kader Partai Demokrat Gubernur Lukas Enembe merasa usahanya melobi Presiden Soesilo Yudhoyono (SBY) di akhir masa jabatan Kepresidenan akan membuahkan hasil. Namun tidak seperti yang diharapkan, Pemerintah SBY melalui Mentri Dalam Negeri saat itu menangapi negatif karena menilai beberapa pasal tidak bermanfaat, bahkan oleh DPR RI usulan itu tidak dimasukan dalam Prolegnas 2014. Sehingga periode pertama Lukas Enembe mendorong perombakan Otsus itu gagal. Memasuki periode kedua Lukas Enembe bersama wakilnya Klemen Tinal, pada 2018 kembali mewacanakan Otsus Plus kepada seluruh rakyat dan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan Lukas Enembe telah menegaskan dukungannya terhadap Jokowi sebagai calon petahana RI periode 2019-2023 itu, walau melawan partai politiknya demokrat.

Pernyataan dukungan itu semakin jelas terlihat sebagai strategi pemerintah Papua untuk meloloskan Otsus Plus yang disiapkan. Dengan alasan Jokowi adalah Presiden Indonesia yang paling banyak memberikan perhatian kepada Papua. Seperti dengan membangun fasilitas jalan, membangun pasar-pasar tradisional di beberapa kota, pembagian sertifikat tanah kepada ratusan keluarga, pemerataan harga BBM wilayah pesisir dan wilayah pegunungan.

Kunjungan Jokowi ke Papua bahkan dinilai telah memecahkan rekor sebagai kunjungan Presiden Indonesia terbanyak ke Papua yaitu delapan kali, dari lima kali kunjungan terbanyak sebelumnya oleh Soeharto.

Konsistensi Massa Rakyat Papua Menolak Otsus

Gelombang massa rakyat Papua menolak kolaborasi kebijakan antara pemerintah daerah dan pemerintah Pusat melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 telah ada sejak wacana dikeluarkan oleh gubernur Jaap Salossa pada tahun 2000. Gelombang penolakan massa rakyat Papua jauh lebih solid dan terjadi di seluruh Papua, karena menganggap bahwa UU Otsus tersebut bukan aspirasi sesungguhnya yang telah diakomodir dalam Agenda Tim 100 yang dipimpin Thom Beanal kepada presiden B.J Habibie pada tahun 1999, juga hasil keputusan Kongres Rakyat Papua II di GOR Jayapura tahun 2000.

Namun dengan terbunuhnya Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay pada tanggal 10 November 2000, berhasil menyebabkan kepanikan dan traumatik seluruh rakyat Papua.

Pada 1 Januari 2001, Otsus praktis telah diterapkan dan penolakan Otsus di berbagai daerah secara kuantitas maupun intensitas di berbagai kota juga menurun. Hingga tahun 2004 ketika pemerintah meloloskan MRP, rakyat Papua seolah tersentak, dan merasa dipermainkan oleh Jakarta, karena terkesan hanya melakukan uji coba “mencoba-coba” kebijakan di Papua. Hal ini terbukti dengan keterbatasan kewenangan yang ada pada MRP sebagai Lembaga Kultural yang mewakili Masyarakat Adat Papua, sebagai pemilik sah atas Tanah dan Sumber Daya Alam Papua. Rakyat yang menolak, kemudian melakukan aksi massa besar-besaran di Jayapura untuk menolak kebijakan tersebut. Seperti biasa, pemerintah selalu menganggap demonstrasi damai tersebut sebagai fenomena sosial yang biasa dalam demokrasi. Negara dan Pemerintah tidak melihat psikologis massa rakyat Papua sebagai suatu masalah yang urgen untuk disikapi secara tepat.

Pada tahun 2010 gelombang konsolidasi penolakan Otsus kembali datang dari berbagai kalangan, seperti yang pernah terjadi pada awal penolakan di tahun 2000. Penolakan tersebut dipicu dengan dilaksanakannya Musyawarah Besar MRP, dengan menghadirkan perwakilan masyarakat adat dari tujuh wilayah adat untuk mengevaluasi Otsus dan kerja-kerja MRP itu sendiri. Musyawarah MRP melahirkan 11rekomendasi politik kepada pemerintah Papua dan pemeritah Jakarta. Sehingga untuk mendesak Jakarta, Forum Demokrasi (Fordem) Papua yang tergabung dari komponen rakyat, yaitu masyarakat adat, tokoh Agama, cendekiawan, aktivis gerakan, hingga mahasiswa, dengan ketua adalah Salmon Yumame.

Aksi bersama massa rakyat Papua tersebut dilakukan dengan long march ke kantor DPRP, dan dilanjutkan menuju Kantor Gubernur Papua. Massa rakyat Papua sempat diinapkan oleh Fordem di kantor Gubernur Papua mendapatkan teror oleh aparat polisi dengan membunyikan (menembak) senjata pada malam hari. Setelah aksi Fordem tersebut, tidak ada satu aspirasipun yang diterima atau direspon oleh pemerintah daerah dan Jakarta, Otsus tetap dilaksanakan secara normatif. Hingga pada tahun 2013, GempaR-Papua merespon penolakan terhadap upaya Otsus Plus oleh gubernur terpilih Lukas Enembe. Karena dinilai sepihak dan tidak aspiratif.

Otsus Plus Untuk Kepentingan Siapa?

Pada tahun 2013-2014 wartawan suarapapua.com Oktovianus Pogau menulis investigasinya terkait Otsus Plus. Dalam tulisan tersebut, ia memaparkan bagian kontroversial dalam draft Otsus Plus yang dirancang pemerintah daerah bersama akademisi dari Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Papua (Unipa) Manokwari.

Pogau juga membuka polemik internal tim penyusun draft akademik tersebut, polemik pemerintah daerah dan Jakarta, hingga upaya memalukan pemerintah Papua yang mengadobsi Draft Otsus Aceh tanpa menghilangkan pasal-pasal Syairatnya.

Dalam draft usulan tersebut menyebutkan bahwa Gubernur Provinsi Papua disebutkan sebagai Gubernur Residen Papua, dan pada pasal 299 terdapat sebuah ancaman bahwa apabila usulan draft Otsus Plus tidak diterima pemerintah Pusat, maka Papua meminta dilaksanakannya Referendum Politik (self determination) untuk memisahkan diri dari NKRI.

Menurut Lukas Enembe adalah sebuah bargaining politik kepada Jakarta untuk menerima usulan tersebut. Namun berbeda dengan Enembe, bargaining itu ditolak oleh Gubernur Papua Barat Abraham Ataruri dengan menulis penolakan pasal tersebut kepada SBY, diikuti ketua DPR PB Jimi Ijie. Belakangan ada rekonsiliasi antara kedua pemerintah Papua untuk mendorong Otsus Plus secara bersama-sama.

Namun menjadi pertanyaan: siapa yang akan diuntungkan dengan semua proses Otsus Plus tersebut? Sebab selama implementasi dari Otsus 2001, afirmatif action yang dijanjikan kepada Rakyat Papua oleh elit politik, akademisi, gubernur, koalisi LSM di Papua sejak tahun 2000 tidak terjadi hingga sekarang. Otsus yang dijanjikan melalui proteksi pada bidang kemanusiaan; yaitu kesehatan, pendidikan, penuntasan masalah HAM, hingga kesejahteraan ekonomi tidak pernah terjadi. Otsus melalui perundang-undangan Nomor 21 Taun 2001 (maupun berbagai perubahannya) adalah sebuah naskah umum yang tidak dapat menerjemahkan kekhususan orang Papua seperti yang dijanjikan sampai sekarang.

Malahan Otsus Papua 2001, hanya terkenal dengan nominal uang yang sangat besar dan pencapaian pemimpin-pemimpin politik daerah seperti bupati, dan gubernur yang orang Papua, selain dari pada itu tidak ada. Uang dengan jumlah besar itu dalam implementasi serta penggunaan tidak jelas hingga sekarang, sedangkan elit politik, para pejabat, mantan pejabat semakin kaya secara mendadak. Sehingga Provinsi Papua adalah wilayah dengan jumlah koruptor tinggi, maupun terindikasi korupsi yang tinggi di Indonesia dan sampai sekarang setiap tahunnya, kita menyaksikan satu persatu pejabat Papua tertangkap dan dijebloskan ke penjara-penjara.

Juga, Otsus tidak memiliki kapasitas hukum yang kuat, karena secara bersamaan berlaku juga undang-undang nasional, seperti undang-undang pemerintahan daerah nomor 32 Tahun 2004 di seluruh Indonesia, Undang-undang tentang HAM Nomor 39 Tahun 1999,Undang-undang Pengadilan HAM yang terbagi, sehingga terkait HAM Papua tidak mememiliki kewenangan untuk menyelesaikan hingga setingkat pengadilan, atau rekonsiliasi seperti impian para elit Papua, mengikuti Uskup Desmond Tutu di Afrika Selatan dengan membentuk badan-badan rekonsiliasi serupa.

Sehingga Orang Asli Papua tidak berubah, justru semakin terhimpit dengan ratusan ribu transmigrasi yang telah lama hidup dan mengusai berbagai bidang kehidupan. Ditambah para pencari kerja yang tidak berhenti datang karena berbagai perusahaan industri, tambang, pertanian yang membutuhkan tenaga kerja dan tidak disediakan oleh Papua. Pada akhirnya rakyat hanya bisa bersuara mengharapkan Otsus dan politik identitas yang dijanjikan sejak awal dikumandangkan dan tidak mungkin terjadi. Sementara, elit politik dan birokrasi terus menumpukan kekayaan pribadi mereka.

Kesimpulan: Referendukan Otsus Plus sebagai Solusi

Ini penting diketahui. Referendum adalah salah satu istilah demokrasi yang universal. Namun di Papua, referendum akrab dengan aspirasi politik (slogan) dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB), sehingga referendum diidentikan hanya menyangkut aspirasi politik kemerdekaan, bukan politik lainnya.

Padahal definisi referendum menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah jejak pendapat, sedangkan wikipedia menjelaskan bahwa referendum adalah jejak pendapat semesta yang menyangkut adobsi atau amandemen konstitusi. Untuk mengakomodir itu, mekanisme modern yang kita kenal adalah pemilihan umum (pemilu) dengan satu orang satu suara (one man obe vote).

Budaya demokrasi, baik berpendapat, memutuskan kebijakan dengan mengikuti suara mayoritas telah dikenal lama dalam setiap suku-suku Papua. Sedangkan di era modern ini, mekanisme pemilihan itu telah diketahui rakyat Papua pada tahun 1954 dalam pemilihan dewan-dewan Papua barat yang dilakukan oleh pemerintah Belanda.

Sehingga referendum, jejak pendapat, atau nama lainnya pemilihan umum adalah suatu yang biasa di Papua. Namun ketika pemerintah menolak referendum kebijakan di daerah, pemerintah dapat dituduh pemeritahan tirani (sewenang-wenang) dan tidak memiliki niat baik. Apalagi Papua sebagai daerah dengan Otsus sangat mungkin dilakukan referendum kebijakan sekelas Otsus Plus. Sebab penting untuk menyalurkan setiap aspirasi rakyat Papua dalam konteks demokrasi serta mekanisme yang teratur, tidak terbatas pada pemilu electoral sebagai representasi demokrasi pasif selama ini.

Gubernur Enembe menyadari mudahnya dilaksanakan pemilihan umum (referendum) di Papua untuk memutuskan masalah politik sekelas self determinations (referendum kemerdekaan), jika pemerintah Pusat berkehendak. Sehingga pada 2013 memasukannya ke dalam draf ke 12 Otsus Plus pasal 299 yang dirancang. Sehingga, referendum Otsus Plus seharusnya tidak perlu alergi, karena itu menyangkut keputusan bersama pemerintah Papua dan rakyatnya, sebelum didorong ke Jakarta.

Tetapi penolakan referendum Otsus Plus yang diaspirasikan sejak 2013, jika tidak dilakukan akan memperkuat dugaan tentang usaha pemerintah Papua untuk memperkaya oligarki kekuasaannya. Sebaliknya, dengan digelarnya referendum Otsus Plus, sebagai draft pengganti Otsus 2001, maka dapat mengetahui langsung penilaian rakyat secara individu tanpa dipengaruhi oleh kepentingan siapapun. Ini bukan saja baik untuk seluruh rakyat, tetapi juga untuk semua kalangan dan semua kepentingan yang ada.

)* Penulis adalah aktivis Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (GempaR)

Minat Belajar Sejarah dan Tantangan Pengembangan Komunitas Sejarah

87e0cbedc2b31bc54c176e233f0870fa-600x400-5bd2b5d76ddcae152364e645
Ilustrasi sejarah (www.idntimes.com)

Kegiatan komunitas sejarah di era kekinian terasa kurang greget dan dibutuhkan sebuah metode alternatif untuk menumbuhkan minat belajar sejarah bagi generasi muda di sekolah sekolah dan di perguruan tinggi. Berikut mencoba mengupas fenomena ini dari kaca mata Reenactor. Bisakah sebuah komunitas mengawalinya? Mari kita bahas bersama!

Metode Pembelajaran Selama ini

Kami memang bukan guru atau dosen sejarah, tapi kami berkecimpung dalam kegiatan pembelajaran sejarah. Agar tidak terlalu luas, yang kami maksud sejarah di sini adalah fokus komunitas kami sendiri. Kisaran tahun 1945-1949 tentang sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia.

Selama ini, pembelajaran sejarah di sekolah terasa sangat membosankan. Kenapa? karena masih bersifat hafalan nama tokoh, peran tokoh dan tahun kejadian. Mungkin penilaian kami ini salah, namun berangkat dari sebuah fakta tentang seorang anak SMP yang bertanya kepada kami, “Siapa londo Pak? Pemain bola ya?” rasanya aneh karena anak anak itu telah memperoleh pembelajaran sejarah di sekolahnya.

Saat kami menggelar sebuah drama teatrikal, bercerita tentang Peran Hamid Rusdi dalam agresi Belanda di Kota Malang, kami ditanya bab kehadiran Belanda dalam kisah sejarah yang kami usung. Mereka mengenali Belanda sebagai negeri “Kincir Angin” yang jago bola. Mungkin ini hanya ketidaktahuan dia yang bisa saja waktu diajar pelajaran tersebut ketiduran atau membolos, namun fenomena ini sangat memprihatinkan. Pertanyaannya, ada apa dengan metode pembelajaran sejarah di sekolah kita.

Peran Komunitas Sejarah dalam menyampaikan Pesan Pendidikan Sejarah

Sebagai komunitas penggiat sejarah, Reenactor Ngalam berusaha memperjuangkan pengenalan sejarah perjuangan kemerdekaan melalui metode kekinian yang sedang kami kembangkan. Komunitas tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini kecuali konsep ini diadopsi secara nasional oleh instansi terkait. Komunitas kami berbasis swadaya, sehingga sangat tidak memungkinkan untuk bertindak lebih dari kuasa kami.

Komunitas hanya mampu merintis sesuai apa yang kami mampu lakukan. Menumbuhkan minat belajar sejarah tidak bisa instan. dibutuhkan proses mengajak seorang partisipan untuk turut gabung belajar sejarah bersama reenactor.

Catatan perjuangan kami merintis komunitas ini tidak begitu saja muncul ke permukaan. Dibutuhkan tidak kurang 11 Tahun, terhitung sejak Tahun 2007 kami berjuang mengangkat metode Historical Reenactment sebagai sebuah metode alternatif. Penjelasan tentang metode yang kami maksud, telah kami tulis di Kompasiana. (antara lain di link berikut: https://www.kompasiana.com/eko67418)

Tantangan Pengembangan Komunitas Sejarah

Tidak mudah mengangkat materi sejarah dalam sebuah event. Komunitas Penggemar Kucing, bisa jadi lebih heboh dikunjungi follower. Inilah tantangan bagi para penggiatnya. Agar komunitas ini tetap eksis, beberapa langkah telah kami lakukan dan sosialisasikan. Secara rutin kami mengikuti event tahunan di beberapa kota, antara lain pada Parade Juang di Surabaya dan Peringatan serangan Umum di Jogjakarta.

Adalah Lucu jika kami bisa berkiprah di kota yang lain, sementara di kota sendiri belum dikenal. Terhitung sejak 2016, kami mulai menggagas Kampung Tematik bertema sejarah dan Jadilah sebuah destinasi bernama “Tawangsari Kampoeng Sedjarah”. Konsep ini berupaya mengangkat potensi sejarah yang ada dengan didukung potensi komunitas, Jadilah Festival Tawangsari Kampoeng Sejarah yang untuk Tahun 2018 telah mencapai gelaran ke-IV.

Komunitas ini telah bertransformasi membuat sebuah konsep destinasi wisata yang pada pelaksanaan september kemarin telah dikunjungi tidak kurang 1500 orang per hari dan dilaksanakan selama 3 hari Festival. Inilah upaya kami mengangkat sejarah sebagai daya tarik destinasi wisata. Mudah mudahan ke depan semakin banyak dikunjungi dan mampu meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat disekitarnya.

Bergerak menuju Tranformasi

Agar minat belajar sejarah bagi generasi muda bisa dibangun dan komunitas sebagai wadahnya. Pada Tahun 2018 ini kami telah melaunching sebuah Konsep terintegrasi Life Historical Reenactmentmenjadi sebuah rintisan museum, bernama museum “Reenactor Ngalam”.

Inilah sebuah perjalanan Transformasi dari Hobby sejarah menjadi komunitas terus bergerak menjadi sebuah kampung bergenre sejarah “Tawangsari Kampoeng Sedjarah” dan yang terbaru kami kembangkan sebuah museum. Bagaimana museum kami bisa anda baca di Link sebagai berikut: https://www.kompasiana.com/eko67418.

Dengan mengusung Konsep “Night Museum”, kami mencoba memberi sumbangsih pada pembelajaran sejarah cara Reenactor. Banyak kendala yang sebenarnya kami hadapi, antara lain, tidak tersedianya sumber dana untuk pengembangan museum dan penataan lingkungan sekitarnya, juga keterbatasan SDM kami mengelola museum tersebut dikarenakan sebagian besar dari Kami harus bekerja, sekolah atau Kuliah.

Namun kami tidak akan surut semangat mensikapi perjuangan ini. Sebuah tantangan dari transformasi ini adalah sumbangsih nyata pada pembelajaran sejarah perjuangan bangsa. Ke depan, dibutuhkan bantuan dari stakeholder terkait dan semua pihak agar perjuangan kami memberi efek maksimal pada perkembangan minat belajar sejarah. Tanpa dukungan kami ibarat hidup enggan, matipun segan. Hanya cita cita yang kami punya.

Semoga artikel ini bermanfaat. Adalah mudah mendirikan komunitas yang penuh tantangan adalah bagaimana sebuah komunitas bisa terus tumbuh mengawal cita citanya. Berhenti adalah mudah, tapi melanjutkannya dibutuhkan kegigihan berjuang. Semangat harus tetap dipupuk dan salah satu alternatifnya adalah Kolaborasi antar komunitas.(*)

Komunitas Rasta Kribo: Saatnya pemerintah berdayakan musik anak Papua

52hengkymusik
Ketua Panitia, Thedy Pekey, pada Papua Reggae Festival

“Kami sayangkan pemerintah di Papua kurang memanfaatkan para seniman anak asli Papua yang sangat berbakat. Kita tidak membutuhkan banyak hal tetapi kita cuma ingin pemerintah memberikan ruang agar kita mengekspresikan seni musik bagi masyarakat kami sendiri sesuai karakter dan budaya kami,” imbuh Tedi.

Jayapura – Pemerintah Provinsi Papua dan kabupaten/kota di provinsi ini, diminta memberdayaan anak-anak Papua yang memilikit talenta di bidang musik.

“Kami melihat kemampuan kami anak-anak Papua dalam seni musik dan bernyanyi sudah sangat maju dan tidak kalah saing dengan mereka yang di nasional. Untuk itu kami harap pemerintah kabupaten/kota untuk memanfaatkan grup band musik yang ada di Papua. Selama ini saya melihat pemerintah tidak membuka ruang bagi musisi anak asli Papua dalam event pemerintah,” kata seniman Papua, yang juga Ketua Komunitas Rasta Kribo (KORK), Teddy Pekei,  di Jayapura, Minggu (28/10/2018).

“Kami sayangkan pemerintah di Papua kurang memanfaatkan para seniman anak asli Papua yang sangat berbakat. Kita tidak membutuhkan banyak hal tetapi kita cuma ingin pemerintah memberikan ruang agar kita mengekspresikan seni musik bagi masyarakat kami sendiri sesuai karakter dan budaya kami,” imbuh Tedi.

Teddy bersama KORK yang telah menyelengarakan iven reggae sebanyak enam kali ini, mengaku dirinya telah menyampaikan hal ini kepada Gubernur Papua untuk memerintahkan kepada seluruh pemerintah kabupaten/kota agar memberi ruang kepada anak-anak Papua dalam bermusik di setiap eventpemerintahan.

“Kami anak Papua punya kualitas sehingga jangan pemerintah menggunakan jasa kami pada event tertentu saja dan tidak menghargai bayaran selayakanya, sementara mereka yang datang dari luar Papua diberikan biaya mahal padahal kualitas mereka tidak beda jauh sama dengan kami, beri bayaran kepada band di Papua dengan harga yang sama, dengan penyani luar,” ujarnya.

Sementara itu, pada penyelenggaraan Papua Reggae Festival yang ke-6, Gubernur Papua Lukas Enembe, memberikan apresiasi kepada seniman musik Papua yang memberikan penampilan dengan talenta musik yang tidak kalah saing dengan dunia luar.

“Anak-anak, kalian hebat, cara bermain musik sudah sangat baik. Saya harap pada opening sdan closing ceremony pada Pekan Olahraga Nasional ke-20 tahun 2020 akan diisi oleh band anak-anak Papua,” katanya.(*)

Sejarah Kelam Penembakan Massal Berlatar Anti-semit di AS Sejak 1999

BBOZKeL
© Disediakan oleh PT. TP Cyber Media

Anggota dan pendukung komunitas Yahudi menyalakan lilin untuk menghormati korban penembakan di sinagoge Tree of Life Synagogue di lingkungan Squirrel Hill di Pittsburgh. Mereka berkumpul di depan Gedung Putih di Washington DC pada Sabtu (27/10/2018). (AFP/Andrew Caballero-Reynolds)

Penembakan di Amerika Serikat memang kerap terjadi. Yang terakhir terjadi pada Sabtu (27/10/2018).

Seorang pria bernama Robert Bowers melepaskan tembakan ke sebuah sinagoge yang sedang ramai. Aksi terornya berlangsung selama 20 menit, menewaskan 11 orang dan melukai enam orang.

Sebelum menyerang, Bowers mengunggah berbagai pesan di media sosial tentang anti-semitisme.

Dalam sejarah AS, setidaknya ada tiga peristiwa penembakan berlatar belakang anti-semitisme dalam 20 tahun terakhir. Berikut selengkapnya:

Agustus 1999

VOA News mencatat, pada 10 Agustus 1999, lima orang terluka di Pusat Komunitas Yahudi Los Angeles. Seorang pria anggota supremasi kulit putih, Buford Furrow, melepaskan 70 tembakan di lobi gedung tersebut.

Furrow kemudian membunuh seorang pengantar surat, lalu melarikan diri dengan menumpang taksi menuju Las Vegas. Di sana, dia menyerahkan diri kepada pohak berwenang.

Dia mengatakan kepada FBI, aksinya merupakan seruan utk membangunkan Amerika agar membunuh orang Yahudi.

Furrow dinyatakan bersalah atas aksi pembunuhan dan pelanggaran hak sipil. Dia dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Juli 2006

Masyarakat Seattle, Washington DC, digegerken oleh aksi penembakan oleh pria bersenjata pada 28 Juli 2006.

Naveed Haq menembaki Federasi Yahudi Seattle hingga menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya.

Haq merupakan warga negara AS yang berasal dari Pakistan. Dia dihukum karena melakukan pembunuhan yang diperberat dalam undang-undang kejahatan karena kebencian.

Di dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, ditambah 120 tahun.

April 2014

Pada 13 April 2014, tiga orang tewas di Overland Park, Kansas dalam teror penembakan di Pusat Komunitas Yahudi di Greater Kansas City dan di Desa Shalom, pusat pensiun Yahudi.

Pria bersenjata, supremasi kulit putih Frazier Glenn Miller Jr dari Carolina menjalani hukuman akibat aksi pembunuhan dan kejahatan lainnya. Kemudian, dia dijatuhi hukuman mati pada 2015.

Dalam audit peristiwa anti-semitisme oleh Anti-Dafamation League pada 2017, ada 1.986 insiden atau meningkat 57 persen dari temuan setahun sebelumnya, termasuk ancaman bom.

Sumber: VOA News

Copyright TOLIPOST.com

Pemkab Tolikara bebaskan lahan 4.750 m2 untuk Polres Tolikara

45photo_20181025_123227
Penyerahan dana pembelian tanah Polres Tolikara dari Pemda ke pemilik hak ulayat, dilakukan oleh Bupati Tolikara, Usman G Wanimbo. Diskominfo Tolikara/TP

Saya berharap kita semua patuh terhadap hukum dan aturan. Sehingga di kemudian hari tidak ada lagi cerita tanah yang digunakan sebagai kantor Polres Tolikara ini masih milik tanah adat.

Karubaga, TOLIPOST.com – Sejumlah bangunan perkantoran pemerintahan dan perumahan di Kota Karubaga dan sekitarnya dibangun hanya dengan kesepakatan pihak pemilik tanah dengan pengguna .

”Karena itu beberapa tanah sudah kami lakukan pelepasan hak ulayatnya, dibayar sesuai aturan yang ada,” kata Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo, saat melakukan pembebasan lahan kantor Polres dan Perumahan Dinas Polres Tolikara di Karubaga Tolikara, Jumat (26/10/2018) kemarin.

Pemkab Tolikara melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan, tercatat telah membebaskan tanah seluas 4.750 m2 , dengan melakukan penandatanganan akta notaris tanah antara pemilik tanah yaitu suku Bogom – Kogoya yang menerima pembayaran Rp 400 juta.

Luasan tanah itu berbatasan dengan pemukiman warga, SMA YPPGI Karubaga dan berhadapan dengan Lapangan Merah Putih. Terletak di kelurahan Karunaga , Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara. Dengan demikian, tanah hibah itu untuk Polres itu sudah resmi jadi milik Pemda Tolikara.

Baca Juga : Pemkab Tolikara beri dana hibah pada 5 Parpol – 1 lembaga pendidikan

Di lahan ini sebelumnya telah berdiri kantor Polsek Karubaga. Adapun status sebelumya masih tanah adat yang dimiliki suku Bogum – Kogoya.

Wanimbo menyatakan penghargaan dan terimakasih kepada pemilik hak ulayat yang selama ini sudah merelakan tanahnya dipakai demi kepentingan umum.

“Kini saya sebagai pihak pemerintah akan membayar tanah ini dan selanjutnya menjadi tanah milik aset pemerintah daerah yang resmi.Saya berharap kita semua patuh terhadap hukum dan aturan. Sehingga di kemudian hari tidak ada lagi cerita tanah yang digunakan sebagai kantor Polres Tolikara ini masih milik tanah adat,” ujarnya. (Diskominfo Tolikara)

Pemkab Tolikara beri dana hibah pada 5 Parpol – 1 lembaga pendidikan

21pemberian-dana-hibah
Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo, menyerahkan surat perjanjian hibah kepada Ketua Partai Gerindra Tolikara, Ikiles Kogoya,di ruang rapat Sekretariat Dewan di Karubaga Rabu,(24/10/2018) lalu. Diskominfo Tolikara/TP

Besaran dana hibah diberikan sesuai jumlah kursi masing – masing parpol. Yang memiliki kursi lebih banyak, maka akan mendapatkan dana hibah lebih besar.

Karubaga, TOLIPOST.com -Bupati Tolikara, Usman G.Wanimbo menandatangani naskah perjanjian hibah (NPH) antara Pemkab Tolikara dengan lima Partai Politik (Parpol) dan satu lembaga swasta yang bergerak di budang pendidikan.

Momentum itu disaksikan Ketua DPRD Tolikara Ikiles Kogoya,Asisten I Sekda Tolikara, Adi Wibowo, dan sejumlah pimpinan OPD. Acara digelar di Aula Rapat Sekretariat Dewan pada Rabu (24/10/2018) lalu .

Baca Juga : Buku Filsafat Terbaru Tentang Manusia

Lima parpol dimaksud yakni Gerindra, PPP, PKPI, Demokrat dan PKS. Kesepakatan ini sebenarnya dijalin bersama 10 Parpol yang memiliki kursi di DPRD Tolikara. Masih ada lima Parpol lagi yang akan menyusul menandatangani naskah hibah itu. Kelimanya sementara ini masih berhalangan.

Wanimbo mengatakan bantuan dana hibah itu dapat digunakan partai politik untuk membina para kadernya, melalui peningkatan Sumber Daya Manusia, pengembangan partai,dan pengembangan serupa lainnya.

“Besaran dana hibah diberikan sesuai jumlah kursi masing – masing parpol. Yang memiliki kursi lebih banyak, maka akan mendapatkan dana hibah lebih besar. Dia mencontohkan partai Demokrat yang memiliki kursi 3 kursi, yang jika dipresentasekan menerima dana hibah lebih dari Rp 42 juta.

Sedangkan bantuan dana hibah untuk lembaga pendidikan, diberikan untuk pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan. Bantuan diberikan kepada Yayasan Sekolah YPPGY Tolikara.

Baca Ini :

1. Tulisan Bacon Novum Organum Scientiarum

2. Ciptakan Kesetaraan Gender baik di rumah maupun Sekolah

“Sejak periode pertama hingga kedua ini, kami memberikan bantuan hibah kepada lembaga pendidikan seperti yayasan pendidikan YPPGY,sekolah Papua Harapan,sekolah Opangen,dan sekolah Maranatha dan lainnya,”katanya.

Pihaknya juga telah memberikan bantuan dana pada lembaga lainnya di wilayah itu. Sebut saja Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA),Palang Merah Indonesia (PMI),Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Gereja Injili di Indonesia (GIDI) dan Musala dan lainnya.

Wanimbo memberikan apresiasi tinggi kepada lembaga – lembaga di atas, karena dinilai telah memberi kontribusi luar biasa. Pelayanan sosial dan kemanusiaan dari lembaga tersebut sudah dirasakan masyarakat luas.

“Kami akan memberikan reward khusus bagi lembaga – lembaga ini, pada peringatan hari-hari besar nasional, ” ujarnya. (Diskominfo Tolikara)*

Buku Filsafat Terbaru Tentang Manusia

cover-1a-page-001-e1536259728130

Tentang Manusia: Dari Pikiran, Pemahaman sampai dengan Perdamaian Dunia

Penulis: Reza A.A Wattimena

ISBN 978-602-08931-5-0

Versi PDF bisa diunduh di link berikut: Tentang_Manusia

Sinopsis:

Satu hal yang tak terbantahkan: manusia adalah mahluk dominan di bumi ini. Buah karyanya telah mengubah wajah dunia. Ini semua menjadi mungkin, karena manusia mampu bekerja sama dengan berpijak pada prinsip-prinsip yang rasional. Kerja sama yang erat ini tidak hanya membuat mereka kuat, tetapi juga berkembang melampaui batas-batas fisik mereka sendiri.

Lima ratus tahun yang lalu, orang hanya bisa hidup sampai dengan usia 30 atau 40 tahun. Namun kini, di usia yang ke 65, orang masih tetap bisa hidup dengan sehat. Bentuk kehidupan sosial manusia pun kini makin kompleks, misalnya dengan keberadaan internet dan jaringan sosial yang mengubah seluruh makna hubungan antar manusia. Patah hati dan revolusi politik kini bisa dipicu hanya dengan satu ketikan di jaringan sosial internet.

Baca Juga : Tulisan Bacon Novum Organum Scientiarum

Dominasi manusia atas bumi ini juga memiliki wajah yang kelam. Ratusan spesies punah setiap harinya, akibat ketidakseimbangan alam. Atmosfer dunia rusak, akibat polusi yang diciptakan oleh asap industri dan aktivitas sehari-hari lebih dari 6 milyar manusia di bumi ini. Perlahan tapi pasti, bumi menjadi tempat yang tidak cocok untuk lahir dan berkembangnya kehidupan.

Buku ini adalah kumpulan pemikiran saya yang tersebar di berbagai media selama tahun 2015, ketika saya sedang belajar di Jerman. Di dalam buku ini, beragam pemahaman tentang manusia ini dikupas secara ringan, mendalam, serta sejalan dengan beragam penelitian terbaru yang berkembang di dalam ilmu pengetahuan modern, seperti neurosains. Buku ini juga dapat dilihat sebagai kelanjutan dari buku yang pernah saya sunting bersama mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, yakni Membongkar Rahasia Manusia, Telaah Lintas Peradaban Filsafat Timur dan Filsafat Barat(Kanisius, 2010). Namun, buku ini tidak hanya bergerak di tataran teoritis, tetapi juga mencoba melihat pergulatan manusia di dalam kehidupan sehari-harinya. Ia juga tidak hanya menggambarkan lika liku kehidupan manusia, tetapi juga menawarkan arah untuk perkembangannya.

Buku ini saya persembahkan kepada orang-orang yang ingin memahami apa artinya menjadi manusia di abad 21 ini. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu manusia kerap kali jatuh pada pemaparan yang jauh dari pergulatan hidup manusia sehari-hari yang penuh dengan keringat dan air mata. Buku ini tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama semacam itu. Harapannya, pembaca bisa menemukan pencerahan pemikiran, serta menemukan, siapa diri mereka sejatinya.

 

Tulisan Bacon Novum Organum Scientiarum

bacon5-5bac84c3677ffb7c8e0d9a99
Francis Bacon: “Novum Organum  Scientiarum” [5]
Pada ringkasan teks Novum Organum Scientiarum” tulisan ke [5] ini, saya membahas tentang  Book (II) dengan tema ada dalam teks I — XX1.

Pada teks Novum Organum Scientiarum” Book (II) teks : I-X, Bacon menyatakan; Tugas kekuatan manusia adalah untuk menghasilkan dan membangkitkan tubuh yang baru.

Tugas ilmu manusia adalah menemukan bentuk dari sifat yang diberikan. Dua tugas lainnya berada di bawah ini. Kekuatan manusia harus mengubah tubuh dari satu benda menjadi benda lain di dalam batas-batas yang mungkin. Sains harus menemukan proses tersembunyi yang terus-menerus dan struktur tubuh yang laten bergerak dan beristirahat.

Menggunakan gagasan empat penyebab Aristotle: (Material, Formal, Efisien dan Final) tidak membantu. Pikiran yang benar dan hasil operasi bebas  yang diketahui. Ketika kita berpikir tentang rangsanan sifat pada tubuh yang diberikan, kita perlu mempertimbangkan apa jenis bimbingan dan instruksi yang ingin kita terima, dan berikan dalam bahasa yang sederhana.

Ini sama dengan penemuan forma yang benar. Bentuk alam selalu hadir dan absen dengan alam itu. Bentuk sejati berasal dari sifat tertentu sumber esensi yang ada dalam beberapa subjek.

Ada dua jenis ajaran transformasi tubuh. Yang pertama melihat tubuh sebagai kombinasi dari sifat yang sederhana. Metode operasi ini berasal dari apa yang bersifat kekal, dan menawarkan peluang besar untuk kekuatan manusia. Jenis aksioma kedua oleh tubuh majemuk. Investigasi ini tidak hanya melihat pada pembentukan tubuh, tetapi pada gerakan dan cara kerja alam lainnya, dan tergantung pada proses laten.

Proses laten tidak mudah terjadi dalam pikiran; itu sebagian besar lolos dari data indra. Pertanyaan tentang apa yang hilang dan apa yang tersisa, apa yang meluas dan kontrak apa, dan sebagainya, harus ditanyakan. Tetapi semua pertanyaan ini tidak diketahui oleh sains. Karena setiap tindakan alami bergantung pada partikel-partikel kecil, seseorang tidak dapat menguasai alam tanpa menggenggam atau memodifikasinya. Penemuan struktur laten dan proses dalam tubuh adalah hal baru.

Pengetahuan tentang modifikasi dan transformasi tubuh diperlukan untuk memahami bagaimana memberkati suatu tubuh dengan sifat baru. Struktur laten tubuh dapat ditemukan oleh aksioma primer. Semakin penyelidikan bergerak menuju sifat-sifat yang sederhana, hal-hal yang lebih jelas akan terjadi.

Penyelidikan setelah bentuk-bentuk kekal adalah metafisika; Penyelidikan setelah penyebab yang efisien dan material, struktur laten dan proses laten, adalah fisika. Mekanika adalah bawahan fisika, dan mitos untuk metafisika. Arahan untuk menafsirkan alam memiliki dua bagian; pertama, petunjuk untuk menggambar aksioma dari pengalaman dan kedua untuk menyimpulkan eksperimen baru dari aksioma. Dasar dari ini adalah kompilasi sejarah alam yang sehat. Tabel harus disusun, dan contoh dikoordinasikan. Induksi adalah kunci untuk interpretasi.

Pada teks Novum Organum Scientiarum” Book (II) teks XI-XXI, Bacon menyatakan; Untuk menyelidiki bentuk-bentuk, seseorang harus mulai dengan menyajikan kepada intelek semua hal yang diketahui bertemu dalam sifat yang sama. Bacon menggunakan contoh panas. Tabel pertamanya adalah contoh bertemu dalam sifat panas. Ini adalah tabel keberadaan dan kehadiran. Kemudian presentasi harus dilakukan pada intelek contoh yang tidak memiliki sifat tertentu (Tabel keduanya).

Penting untuk melampirkan negatif pada afirmasi, dan menyelidiki absen hanya pada subjek yang terkait erat dengan orang lain di mana sifat tertentu muncul. Oleh karena itu pada kondisi ini tabel divergensi terkait erat. Ketiga, perlu menyajikan contoh-contoh di mana sifat yang diteliti ada sampai tingkat tertentu. Ini dapat dilakukan dengan membandingkan peningkatan dan penurunan subjek yang sama, atau dengan membandingkan subjek yang berbeda dengan yang lain.

Alam tidak dapat diterima sebagai bentuk sejati kecuali jika selalu menurun ketika alam itu sendiri menurun, dan meningkat ketika sifat itu meningkat. Ini adalah tabel derajat atau tabel perbandingan. Tugas dan fungsi dari tiga tabel adalah presentasi contoh ke intelek. Setelah presentasi dibuat, induksi harus dilakukan.

Akal manusia hanya dapat melanjutkan melalui hal-hal negatif, dan sampai pada afirmatif hanya setelah membuat segala jenis pengecualian. Tugas pertama dari induksi sejati adalah pengecualian sifat tunggal yang tidak ditemukan dalam contoh di mana sifat yang diberikan hadir. Hanya ketika penolakan dan pengecualian telah dilakukan dengan benar akan bentuk afirmatif tetap.

Bentuk-bentuk yang dibicarakan Bacon bukanlah konsepsi kontemporer (bentuk gabungan atau bentuk abstrak), tetapi adalah hukum dan batasan yang mengatur dan membentuk sifat yang sederhana. Bacon sekarang memberikan contoh pengecualian sifat dari bentuk panas. Setiap contoh kontradiktif menghancurkan dugaan tentang suatu bentuk.(*)

Ciptakan Kesetaraan Gender baik di rumah maupun Sekolah

perbedaan-pertumbuhan-anak-laki-laki-dan-perempuan-869-perbedaan-pertumbuhan-anak-laki-laki-dan-perempuan-5baccafe43322f39082cc792
shutterstock.com

Sebagi orang tua penting bagi kita untuk mengenalkan istilah gender pada anak. Sebelum itu, kita juga harus memahami dengan betul tentang gender. gender merupakan perbedaan peran, fungsi, status, dan tanggung jawab pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari bentukan sosial budaya yang tertanam lewat proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pastinya kita sering mendengar kata-kata dari orang tua “laki-laki itu kewajibannya bekerja sedangkan perempuan kewajibannya itu mengurus rumah”, tapi saya tidak setuju dengan istilah tersebut karna pada zaman sekarang kita sendiri bisa menyaksikan bahwa banyak wanita yang bekerja seperti laki-laki dan mempunyai penghasilan bahka lebih dari penghasilan laki-laki. Menurut saya gender itu bukan berdasarkan bentuk biologis melainkan peran,fungsi dan tanggung jawab.

Dalam bermasyarakat kita mempunyai tiga kesamaan itu dan sifatnya setara. Misalnya laki-laki bisa menjadi gubernur maka perempuanpun juga bisa menjadi gubernur contohnya gubenur surabaya yaitu ibu Tri Rismaharini.

Baca Juga : Cara Mudah Belajar Bahasa Inggris

Orang-orang sering meremehkan perempuan mereka tidak sadar bahwa antara laki-laki dan perempuan itu mempunyai peran,fungsi, dan tanggung jawab yang sama.

Dalam lingkungan keluarga kita sebagai orang tua sering kali melakukan pola asuh yang kurang tepat. Misalnya anak perempuan diperlakukan dengan pengawasan yang lebih tepat, selalu menilai bahwa perempuan itu identik dengan warna pink dan bermain permainan yang bersifat feminim.

Kita sebagai orang tua sering  memaksakan itu tak jarang beberapa anak perempuan juga menyukai permainan-permainan ekstrim seperti yang dilakukan laki-laki dan tanpa kita sadari anak perempuan kita terkadang dengan memainkan permainan anak laki-laki terkadang mereka bisa menemukan bakat mereka seperti sepak bola, mobil-mobilan, dll.

Sedangkan untuk anak laki kita sering menerapkan pola asuh yang longgar, selalu menilai bahwa anak laki-laki identik dengan warna biru, dan bermain permainan yang bersifat maskulin. Tanpa kita sadari banyak sekali anak laki-laki yang suka bermain permainan perempuan, seperti masak-masakan, permainan pertama dan yang sering mereka mainkan adalah masak-masakan karena dengan memainkannya anak lebih sering melakukan interaksi dengan teman lawan jenisnya serta melatih kemampuan kongnif mereka. tak jarang pada zaman sekarang banyak laki-laki yang berprofesi sebagai chef.

Sedangkan di lingkungan sekolah, dalam kegiatan belajar dan mengajar guru sering kali memperlakukan murid laki-laki dan perempuan tidak sama rata. Dan kebanyakan merugikan murid perempuan, karna saat dikelas guru cenderung menaruh harapan dan memberikan perhatian lebih kepada murid laki-laki.

Dengan demikian guru sudah melakukan kesalahan yang nantinya akan berdampak pada sosial emosional anak, anak perempuan akan merasakan kecumburuan terhadap anak laki-laki karna kurang mendapatkan perhatian gurunya.

Sebagai guru yang bijak menurut Astutiningsih (2005) upaya untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam bidang pendidikan dapat dilakukan dengan menetapkan sistem pendidikan yang sensitif gender untuk menjamin persamaan kesempatan pendidikan dan pelatihan, menghapus disparitas gender dalam memperoleh kesempatan pendidikan, memperbaiki mutu pendidikan dan meningkatkan kesempatan bagi perempuan memperoleh pengetahuan.

Menurut Nugroho (2008) upaya kesetaraan gender dapat diterapkan sejak dini baik melalui pendidikan formal di sekolah maupun non formal di rumah dengan menciptakan kondisi belajar yang menghargai kesetaraan gender serta menggunakan media permainan yang bias gender.(*)

Perempuan Tanpa Laki-laki Ibarat Ikan Tanpa Sepeda

perempuan-tanpa-sepeda-5b9ea266bde57573b83b18a3
Dok Pribadi

Saya pernah memposting foto yang bertuliskan kalimat di atas. Di bawahnya tertulis nama orang yang membuat kutipan tersebut; “Gloria Steinem, Penulis Feminist”. Teks aslinya berbunyi ‘A woman needs a man like a fish needs a bicycle’. (Buat yang gak tau penulis ini, silakan googling aja, ya). Postingan tersebut mendapat 616 likes, 312 komen dan lebih dari 1600 shares. Linknya bisa dilihat di sini.

Yang bikin saya merasa aneh, ternyata banyak sekali orang yang gak ngerti kalimat tersebut. Di ruang komen mereka bertanya, “Apa sih maksudnya kalimat ini? Ikan dan sepeda kan gak ada hubungannya?” Tentu saja ada juga yang ngerti tapi yang mempertanyakan kalimat itu jauh lebih banyak. Kira-kira kenapa, ya?

Saya yakin orang-orang yang gak ngerti itu bukannya bodoh. Tapi mereka tidak terlatih untuk menggunakan otaknya. Kalo mereka mau menganalisis kalimat tersebut kata per kata lalu membaca nama penulis tersebut, mudah sekali mencari maknanya.

Tanpa bermaksud menjelekkan pihak tertentu, saya merasa memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Metode pengajarannya kurang memancing murid untuk berpikir. Akibatnya mereka tidak terbiasa untuk menganalisis sesuatu.

Di sekolah kita cenderung disuruh menghapal pelajaran dan menelannya mentah-mentah. Kemudian pas ujian kita diberikan pertanyaan dengan jawaban yang kita hapalkan dari buku.

Untungnya, ada cukup banyak teman-teman saya yang kritis. Mereka sangat pintar dan suka menganalisis dan mencoba mendebat guru yang sedang mengajar. Misalnya pelajaran sejarah, di sekolah menengah. Ada sebagian teman saya yang mempertanyakan sesuatu yang menurut mereka tidak logis. Berikut saya tuliskan beberapa pertanyaan mereka.

“Pak, saya kok belum menemukan alasan kenapa Ibu Kartini bisa menjadi pahlawan. Yang dilakukannya buat saya cuma curhat dengan berkirim surat pada temannya di Belanda. Apakah ada lagi perbuatannya yang lain sehingga dia pantas menyandang gelar pahlawan?” tanya anak itu polos.

“Bu, kalo Pangeran Diponegoro berperang karena tanah miliknya mau diambil oleh Belanda berarti dia cuma membela hak kepemilikannya, dong? Dia berperang bukan untuk negeri ini. Kok bisa jadi pahlawan, sih?” tanya yang lain lagi.

“Pak, Jenderal Soedirman kepahlawanannya di mana, ya? Kalo saya baca bukunya, keliatannya dia cuma seorang pemimpin yang sakit TBC, ditandu ke mana-mana oleh anak buahnya karena dikejar-kejar tentara Belanda. Gak ada satu pun tertulis dia pernah menembak tentara Belanda sampai mati,” tanya yang lain lagi

Ada lagi yang bertanya, “Bu. saya rasa Indonesia dijajah Belanda bukan 350 tahun. Hitungannya dimulai dari Cornelis de Houtman saat mendarat di Pelabuhan Banten, tahun 1596. Waktu itu dia kan baru mendarat, masak udah dihitung kita dijajah sih? Lagi pula Cornelis De Houtman itu kan datangnya tidak mewakili pemerintahan resmi Negara Belanda.”

Dan tau gak apa yang terjadi? Semua guru tanpa terkecuali marah besar mendengar pertanyaan itu. Bahkan yang menanyakan soal Jenderal Soedirman, pipinya digampar lalu kena skors seminggu gak boleh masuk sekolah. Meraka dianggap kurang ajar karena mempertanyakan kepahlawanan seseorang yang sudah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional.

Melihat sikap guru-guru seperti itu, akhirnya murid-murid menyerah. Mereka kembali sibuk menghapal dan menelan mentah-mentah buku wajib yang diberikan pihak sekolah. Sayang banget, ya? Padahal sikap kritis itu kan bagus. Seharusnya guru-guru tersebut bersyukur mempunyai murid yang analitik.

Untuk mengantisipasi sikap kritis tersebut, seharusnya para guru bisa bikin diskusi lalu mencari literatur yang lebih lengkap untuk memuaskan rasa ingin tau para murid. Sayangnya hal itu tidak terjadi.

Saya pribadi pernah mendapat perlakuan sama. Ada seorang guru yang selalu mendiktekan materi pelajaran dan kami harus mencatatnya kata perkata. Karena mulai terganggu, minggu ketiga saya coba kasih usul, “Ibu, gimana kalo buku ibu saya fotokopi aja. Setelah itu, saya bagikan ke semua mahasiswa. Kita bacanya di rumah, jadi setiap mata pelajaran Ibu, kita tinggal diskusi.”

Di luar dugaan, Sang Ibu mengambil penghapus dan melemparkannya ke arah saya. Untung gak kena! Dengan suara sangat murka dia menjerit, “Keluar kamu!! Gak usah ajari cara saya mengajar. Keluar! KELUAR!!!”

Dan saya pun keluar dari kelas dengan penuh kebingungan, ‘Kok dia marah, sih? Apa yang salah dengan usul saya?’ Tapi begitulah nasib generasi kami. Mahasiswa gak punya bargaining power. Gak ada pilihan lain, saya pun menerima keadaan. Mencatat semua pelajaran dan menelannya mentah-mentah.

Sikap kritis dan analitik, saat itu adalah barang mewah. Semoga generasi berikutnya sudah membaik. Insya Allah.

Kembali pada judul di atas. Mungkin itu sebabnya, kalimat itu tidak dimengerti banyak orang. Mereka tidak terbiasa menggunakan otaknya. Mereka cenderung membaca dan menelan mentah-mentah apa yang tertulis tanpa berusaha mencari makna yang tersembunyi di balik setiap kata.

Jadi apa artinya ‘Perempuan Tanpa laki-laki Ibarat Ikan Tanpa Sepeda.’ Ada yang gak tau? Hehehehe.(*)

Cara Mudah Belajar Bahasa Inggris

cara-mudah-belajar-bahasa-inggris-5bac68d0c112fe7b12147267
ilustrasi: nationalgeographic

Language is a matter of habit, bahasa adalah masalah kebiasaan, jadi dengan pembiasaan kita bisa menguasai suatu bahasa. Belajar bahasa apa pun sesungguhnya mudah, apalagi di zaman kemajuan teknologi informasi sekarang ini. Hanya masalahnya apakah kita mau membiasakan penggunaan bahasa yang bersangkutan atau tidak.

Dalam tulisan ini kita akan mengambil contoh cara belajar bahasa Inggris, meskipun sebenarnya cara ini juga berlaku untuk belajar bahasa apa pun. Itulah sebabnya mengapa tajuk tulisan ini kata ‘inggris’ diletakkan di dalam kurung.

Penguasaan bahasa seperti kita ketahui menyangkut 4 aspek, yakni listening (kemampuan mendengarkan), speaking (kemampuan berbicara), reading (kemampuan membaca) dan writing (kemampuan menulis). Penguasaannya memang biasanya dengan urutan seperti tersebut. Berikut ini akan kita bahas cara sederhana untuk meraih kemampuan menguasai 4 aspek tersebut, kali ini contohnya adalah bahasa Inggris.

Listening. Kemampuan mendengarkan ini idealnya memang dengan sering bergaul atauberkomunikasi dengan para native speaker, penutur asli. Namun apabila tidak memungkinkan kita bisa menggunakan kemajuan teknologi informasi yang kita miliki. Membuka situs berita atau TV streaming berbahasa Inggris,YouTube atau situs berbasis audio visual bahasa Inggris yang lain akan memudahkan kita belajar listening. Tidak harus dengan PC yang canggih, dengan gadget kita beserta sarana headset yang memadai kita bahkan seolah belajar di sebuah laboratorium bahasa.

Speaking. Kita akan mampu berbicara dengan bahasa Inggris apabila kita sering bergaul dengan para penggunanya yang aktif. Tetapi dengan kemajuan media sosial saat ini pun kita bisa berlatih speaking lewat voice call atau video call dengan biaya internet yang sudah semakin murah. maka kita pun sudah seolah berbicara langsung dengan para native speaker.

Reading. Kemampuan membaca tulisan atau buku berbahasa Inggris memang akan sangat membantu kita dalam memperkaya ilmu pengetahuan kita. Namun dahulu kendalanya adalah keterbatasan serta mahalnya buku-buku berbahasa Inggris. Namun di era sekarang persoalan itu tidak kita alami lagi. Buku-buku bisa kita peroleh dengan mudah dengan semakin banyaknya toko buku yang lengkap. Selain itu kemampuan reading juga bisa kita peroleh dengan cukup membuka dan membaca situs-situs berbahasa Inggris. Buku-buku dalam bentuk e-book pun mudah kita unduh, baik yang gratis maupun yang berbayar.

Writing. Penguasaan kemampuan menulis ini bisa dengan mudah kita lakukan dengan sering melakukan chatting dengan bahasa Inggris, menulis status dan menanggapinya dalam bahasa Inggris atau bahkan menulis artikel berbahasa Inggris di blog yang banyak bertebaran di dunia maya. Sering menuliskan wisdom words berbahasa Inggris di timeline Facebook kita pun juga bisa menjadi media kita belajar mengungkapkan sesuatu secara tertulis berbahasa Inggris.

Singkatnya, di zaman sekarang sungguh kita berada di era kemudahan belajar bahasa. Kemajuan teknologi digital dan internet seakan membawa kita berada di dunia yang tanpa batas dan sekat, tinggal kita mau memanfaatkannya atau tidak. Selamat belajar.(*)

 

‘salam cerdas penuh cinta’

Puluhan kios di Pasar Skouw terbakar

72kebakaran-pasar-skouwist
Pasar Skouw Kota Jayapura, di perbatasan RI-Papua Nugini (PNG) yang terbakar, Minggu (29/10/2018), sekitar pukul 09.15 WIT

Sekitar 25 kios yang berada di pasar Skouw, Kota Jayapura, yang terletak di perbatasan RI-Papua Nugini (PNG), Minggu (28/10/2018), sekitar pukul 09.15 WIT terbakar. Kebakaran baru dapat dipadamkan sekitar pukul 12.30 WIT setelah mobil pemadam kebakaran tiba di TKP.

Jayapura – Sekitar 25 kios yang berada di pasar Skouw, Kota Jayapura, yang terletak di perbatasan RI-Papua Nugini (PNG), Minggu (28/10/2018), sekitar pukul 09.15 WIT terbakar. Kebakaran baru dapat dipadamkan sekitar pukul 12.30 WIT setelah mobil pemadam kebakaran tiba di TKP.

Penyidik dari Polsek Muara Tami yang dibantu dari Polres Jayapura Kota saat ini menyelidiki kasus kebakaran sekitar 40 kios yang ada di Pasar Skouw.

“Belum dapat dipastikan penyebab kebakaran yang menghanguskan puluhan bangunan yang terbuat dari papan,” kata Kapolsek Muara Tami AKP Peterson Kalahatu.

Dia mengatakan tim penyidik saat ini sedang mengumpulkan keterangan dari para saksi terkait kasus tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut namun berapa besar kerugian juga belum dapat dipastikan.

Baca Juga : Bus terbalik, belasan siswa terluka di Timika

“Memang mobil pemadam kebakaran milik Pemkot Jayapura baru tiba karena jaraknya yang cukup jauh,” kata AKP Kalahatu.

Sementara itu Kepala Biro Perbatasan dan Kerja sama Luar Negeri Pemprov Papua, Suzana Wanggai, secara terpisah mengatakan lokasi yang terbakar itu bukan diperuntukkan pasar karena lokasi pasar berada di sebelah lokasi yang terbakar.

“Kami sudah minta para pedagang untuk tidak berjualan di lokasi tersebut namun tidak diindahkan, karena tidak diperuntukkan sebagai tempat berjualan,” kata Suzanna Wanggai.

Kios milik para pedagang yang berada di pasar perbatasan menjual berbagai aneka barang kebutuhan dikhususkan untuk warga Papua Nugini (PNG) terletak sekitar 300 meter dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw atau sekitar 100 meter dari pos kotis pengamanan perbatasan Yonif 501 Kostrad.

Sedangkan dari zona netral sekitar 500 meter dan dibuka setiap hari Selasa dan Kamis.  (*)

Baca Ini

  1. Suriah dituding sebagai aktor serangan roket ke Israel
  2. Mendarat darurat, lokasi helikopter pengangkut logistik belum diketahui
  3. Menjadi Lelaki Seutuhnya dengan Membaca “Sabtu Bersama Bapak”
  4. Menikmati Secangkir Kopi, Terinspirasi dari Film hingga Menjamur Menjadi Gaya Hidup

 

 

 

Bus terbalik, belasan siswa terluka di Timika

60timika
Bus Asrama Tunas Harapan Timika yang terbalik – TP

Bus yang dikendarai YD dengan kecepatan tinggi. Sekira pukul 10.00 YD sempat melakukan live streaming di akun media sosialnya Facebook.

Timika, TOLIPOST.com – Belasan siswa Asrama Tunas Harapan Kabupaten Mimika luka-luka akibat bus yang ditumpangi mereka terbalik di di jalan Trans Nabire, Papua, Jumat (26/10/2018).

Kejadian bermula ketika siswa dan para pembina Asrama Tunas Harapan memanfaat libur dengan berekreasi ke Sungai Kamoro di jalan Trans Nabire, Papua. Bus yang ditumpanginya terbalik dan belasan siswa terluka.

Pukul 9.00 WIT, 125 anak asrama Taruna Papua berserta 9 orang Pembina berangkat menuju ke Sungai Kamora, di jalan Trans Nabire. Mereka menggunakan 3 bus Damri, 1 Elf (Ds 7507 MC) dan 1 Mobil Hilux.

Bus yang dikendarai YD dengan kecepatan tinggi. Sekira pukul 10.00 YD sempat melakukan live streaming di akun media sosialnya Facebook.Tepat pukul 10.38 di depan Rumah Negara SP3, pada tikungan tajam tersebut sopir mengambil lajur kiri untuk mendahului sebuah sepeda motor yang berada di lajur kanan. Akibatnya roda ban bus sebelah kiri masuk ke dalam parit, dan roda ban kanan melayang di udara. Sehingga bus tersebut terbalik dua kali dan jatuh posisi terbalik.

Baca Juga : Suriah dituding sebagai aktor serangan roket ke Israel

Anak-anak yang berada dalam mobil menyelamatkan diri dengan keluar melalui jendela. Dua anak mengalami kritis, dua anak patah tulang, dan 9 anak terluka akibat terkena pecahan kaca. Mereka dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat Karitas (RSMM) di Timika.

“Anak yang kritis adalahEpin jawame, Devidson Kelabetme,”  kata aktivis lokal Adolfina Kuum melalui sambungan seluler, Sabtu (27/10/2018).

Saat mengunjungi asrama sopir, Kuum menemukan YD berada di asrama dan tidak ditahan. “Padahal aturan hukum jelas, pelaku hampir membunuh 125 anak anak asrama ,” kata Kuum.

Kuum meminta pengelola asrama dan LPMAK khusus  biro pendidikan agar membenahi dan mengontrol penuh aktivitas di asrama.

Pengelola harus membenahi semua aturan, dan kegiatan yang  kurang  bermanfaat diawasi dengan baik pelaksanaannya. (*)

Daftar nama siswa yang mengalami luka-luka dan sudah pulang.

1. Openus Magal             siswa kelas 8  (Tangan kiri patah)

2. Jupinus Anggaibak      siswa kelas (luka ringan tangan dan kaki)

3. Charles Kum               siswa kelas (luka ringan tangan dan kaki)

4. Nerianus Beanal          siswa kelas (luka ringan tangan dan kaki)

5. Jonjois Beanal             siswa kelas (luka ringan tangan dan kaki)

6. Mekyson Natkime      siswa kelas (luka ringan)

7. Melian Magal              siswa kelas (luka ringan tangan dan kaki)

8.  Obey Alom  Niwilingame  siswa kelas (luka ringan tangan dan kaki)

9. Apenus Deikme         siswa kelas (luka ringan tangan dan kaki)

10.Samuel Magal          siswa kelas (bahu kiri luka, tulang retak, belakang telinga kiri dijahit)

11.Warinus Wakerwa     siswa kelas ( Luka di jari tangan )

Suriah dituding sebagai aktor serangan roket ke Israel

90roket
Ilustrasi, pixabay.com

“Roket-roket itu diluncurkan ke Israel. Kami tahu perintah itu diberikan dari Damaskus dengan keterlibatan jelas dari pasukan Revolusi Iran,”

Israel – Tentara Israel menuding pemerintah Suriah memerintahkan kelompok militan Palestina untuk menembakkan serangkaian roket dari Jalur Gaza ke wilayahnya sepanjang Jumat (26/10/2018) malam.

“Roket-roket itu diluncurkan ke Israel. Kami tahu perintah itu diberikan dari Damaskus dengan keterlibatan jelas dari pasukan Revolusi Iran,” ujar juru bicara tentara Israel, Jonathan Conricus, dikutip AFP, Sabtu (27/10/2018).

Baca Juga : Mendarat darurat, lokasi helikopter pengangkut logistik belum diketahui

Militer Israel meyebutkan setidaknya 39 roket ditembakkan dari Jalur Gaza sepanjang Jumat (26/10/2018) malam, 17 di antaranya berhasil diintersepsi, sementara yang lainnya jatuh di area terbuka.

Meski mengklaim serangan ini dilakukan oleh militan atas perintah Suriah dan Iran, tapi militer Israel tetap menyalahkan gempuran ini pada Hamas, kelompok yang menguasai Jalur Gaza.

Israel juga sudah melancarkan serangan udara balasan ke Jalur Gaza. Gempuran tersebut membuat satu rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza mengalami kerusakan.

Aksi saling balas ini terjadi di tengah situasi yang kian panas di perbatasan Israel dan Jalur Gaza setelah warga Palestina menggelar aksi protes rutin sejak 30 Maret lalu.

Setiap Jumat, warga Palestina menggelar aksi besar-besaran agar para pengungsi dapat kembali ke kampung halaman nenek moyang mereka yang kini sudah menjadi daerah kekuasaan Israel.

Baca Ini 

Menjadi Lelaki Seutuhnya dengan Membaca “Sabtu Bersama Bapak”

Menikmati Secangkir Kopi, Terinspirasi dari Film hingga Menjamur Menjadi Gaya Hidup

Demonstran kerap kali membakar ban dan melempari batu ke pagar pembatas, di mana tentara Israel bersiaga. Tentara Israel tak segan melepaskan tembakan jika ada demonstran yang mendekati pagar perbatasan.

Hingga kini, setidaknya 200 warga Palestina tewas akibat bentrokan ini. Dalam periode yang sama, satu prajurit Israel juga tewas di tangan penembak jitu Palestina. (*)

Mendarat darurat, lokasi helikopter pengangkut logistik belum diketahui

15passengertransport
Helikopter milik PT. Derazona Air Service – IST

Akhirnya, helicopter ini bisa terbang untuk kembali ke Wamena. Tapi sekitar pukul 17.04 WP dikabarkan helikopter harus melakukan pendaratan atau pada radial 150 dengan jarak 36 Notikal mile (Nm) dari Wamena.

Wamena – Helikopter milik perusahaan PT. Derazona Air Service dengan register PK-DAP terbang dari Bandara Wamena, Sabtu (27/10/2018) pada ETD: 00:41 UTC atau sekitar pukul 09.41 WP yang menuju lapangan terbang Mapenduma, Kabupaten Nduga, Papua dikabarkan mendarat darurat. Lokasi pendaratan helikopter ini belum diketahui dengan jelas.

Dari laporan pihak Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Klas I Wamena, diketahui helikopter terbang dengan membawa sejumlah logistik ke Mapenduma. Namun, setelah tiba di lapangan terbang Mapenduma dan droping barang,
helikopter dikabarkan belum bisa kembali ke Wamena karena faktor cuaca.

Akhirnya, helicopter ini bisa terbang untuk kembali ke Wamena. Tapi sekitar pukul 17.04 WP dikabarkan helikopter harus melakukan pendaratan atau pada radial 150 dengan jarak 36 Notikal mile (Nm) dari Wamena.
“Bukan lost contact (hilang kontak). Tetapi setelah landing di Mapenduma untuk drop material dari Bandara Wamena, saat heli kembali terbang menuju Wamena terjadi due to weather driver atau alas an cuaca,” kata seorang staf UPBU Wamena, Oto Arianto melalui pesan singkat di WhatsApp, Sabtu (27/10/2018) malam.

Ia mengaku helikopter yang diawaki capten Dony dan seorang kru Fachru ini mendarat dengan aman, namun belum diketahui pasti keberadaan pendaratanya.

General Manager Airnav cabang Wamena, Antariksa Wisnu Widodo juga mengaku ada helikopter yang mendarat darurat. Dan ia pun telah menyampaikan kepada stafnya untuk melaporkan ke pusat.

Ia menjelaskan saat helikopter hendak keluar dari Mapenduma, awaknya sempat menyampaikan ke tower Bandara Wamena akan mendarat. Namun karena ada masalah cuaca dan juga
regulasi yang ada mengharuskan tidak boleh ada aktivitas penerbangan di sore hari, sehingga pilotnya melakukan pendaratan darurat di tempat yang aman.

“Yang pasti pesawat dalam keadaan aman. Dan memang sesuai regulasi penerbangan, sore hari itu sudah tidak bisa dilakukan pendaratan,” kata Antariksa saat dihubungi. (*)

Menjadi Lelaki Seutuhnya dengan Membaca “Sabtu Bersama Bapak”

img-20181027-222612-hht-5bd485c143322f0c282f50e2
dokpri

TOLIPOST.com – Berawal dari rasa penasaran karena melewatkan tayangan filmnya di salah satu stasiun televisi nasional, saya tanpa ragu mengambil satu eksemplar buku raknya. Sabtu Bersama Bapak menjadi satu-satunya buku yang saya pilih malam itu. Saya benar-benar ingin tahu, ayah macam apa yang digambarkan Adhitya Mulya dalam salah satu karya best seller-nya.

Planning is everything. Ini adalah sesuatu yang Bapak pelajari agak terlambat. Bapak tidak ingin kalian terlambat juga”, ujar Gunawan Garnida dalam video yang direkam tanggal 12 Maret 1992.

Sang Bapak ingin kedua anaknya menjadi bapak yang lebih baik untuk anak-anak mereka kelak. Rekaman video ini pula yang mendasari Cakra alias Saka untuk menyiapkan lahir dan batinnya sebelum benar-benar siap mencari pasangan hidup. Meski terkesan menyedihkan, Saka yang masih lajang hingga usia 30 tahun ingin merencanakan segalanya dengan baik.

Sang kakak Satya tengah berada di fase kehidupan berbeda. Tamparan keras Rissa melalui sebuah surel membuatnya berpikir ulang apakah ia sudah menjadi suami dan bapak yang baik.  “They deserve better. You deserve better“.

Ia sadar selama berada di rumah saat week off dari pekerjaa sebagai geophysicist di Norse Oil og Gas dirinya lebih sering mengkritik masakan istrinya yang kurang enak, mempertanyakan kenapa Miku si bungsu masih ngompol, memarahi Dani yang tak kunjung pandai berenang, dan mengkritik si sulung Ryan yang jelek nilai matematikanya. Satya tahu yang paling ia butuhkan saat itu adalah pesan-pesan sang bapak yang tersimpan dalam 3 external hard drivemiliknya.

Baca Juga : Menikmati Secangkir Kopi, Terinspirasi dari Film hingga Menjamur Menjadi Gaya Hidup

Tidak hanya Saka dan Satya, Ibu Itje pun mendapatkan banyak pesan dari Pak Gunawan sebelum meninggal karena kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ibu Itje tidak pernah lupa pesan sang suami tentang bagaimana seharusnya orang tua mempersiapkan kehidupan anak-anaknya kelak. “Waktu dulu kita jadi anak, gak nyusahin orang tua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak”. Itulah sebabnya ia tidak pernah memberitahukan kanker payudara yang ia derita.

Cerita yang berpusat pada kehidupan Saka, Satya, dan Bu Itje ini mengingatkan kita bahwa ikatan keluarga sesungguhnya tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Pak Gunawan dengan waktunya yang sempit berhasil menembus batasan-batasan itu melalui pesan-pesan yang ia sampaikan langsung dan yang terekam dalam video. Penulis melalui karakter Pak Gunawan juga menyadarkan kita bahwa nasehat orang tua adalah obat mujarab bagi permasalah kehidupan yang sedang kita alami.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca remaja hingga dewasa. Secara pribadi, saya sangat menganjurkan kaum lelaki untuk membaca buku ini. Karakter Pak Gunawan, Saka, dan Satya menggambarkan keseluruhan tahapan kehidupan seorang laki-laki mulai dari anak-anak hingga dewasa dan berkeluarga.

Meskipun hanya dijelaskan secara singkat, hal-hal pokok seperti cara memotivasi anak, mengajarkan nilai-nilai kejujuran pada anak, mempersiapkan lahir dan batin untuk berkeluarga, dan cara bersikap sebagai orang tua digambarkan dengan cara yang manis dan elegan sehingga pesan-pesan moral dapat sampai dengan baik kepada pembaca. Bisa dikatakan Sabtu Bersama Bapak mengajarkan kita kaum adam untuk menjadi lelaki seutuhnya.(*)

Menikmati Secangkir Kopi, Terinspirasi dari Film hingga Menjamur Menjadi Gaya Hidup

images-3-5bd269b2677ffb5c5f619ba4
sparkplugcoffee

Tidak perlu berhenti, cukup mengurangi?

Sejatinya, secangkir kopi hampir merupakan pengiring  dari setiap aktifitas. Bahkan akhir-akhir ini secangkir kopi sudah menjadi gaya hidup bagi kaum milenial sehingga menjamurnya kedai-kedai kopi dalam negeri mulai dari kelas bawah hingga coffee shop elite dalam memenuhi pasar kawula muda.

Gaya hidup tersebut tidak hanya digemari oleh pria, bahkan banyak sekali pula anak muda dari kalangan wanita gemar menikmati kopi baik yang disajikan dalam kedai kopi maupun lainnya.

Baca Juga : Cerita Menyusuri Lorong Waktu Menikmati Reruntuhan Kota Kuno di Efesus !

Salah satu alasan meningkatnya kegemeran kawula muda dalam menikmati secangkir kopi dan menjamurnya kedai kopi hingga banyaknya minat kawula muda dalam menggeluti profesi sebagai Barista mungkin terinspirasi oleh film Filosofi Kopi karya sutradara Angga Dwimas Sasongko pada tahun 2015.  Film yang diangkat dan diadaptasi dari cerita pendek Filosofi Kopi karangan Dewi Lestari ini menuai banyak tanggapan positif dari masyarakat dalam memenuhi pengetahuan dalam dunia kopi.

Teringat sebuah diskusi, dimana secangkir kopi menjadi sebuah dorongan lahirnya ide-ide serta gagasan  yang cukup menarik dalam menyikapi persoalan sehari-hari dari hasil pemikiran mahasiswa aktif.

Karenanya, secangkir kopi memang suatu teman yang pas dalam menemani berbagai obrolan bagi semua kalangan dalam negeri. Mungkin, bisa dibilang saya ini pecinta kopi tetapi tidak terlalu candu terhadapnya dan hanya dijadikan sebagai pengiring dalam mengisi kegiatan sehari-hari. Juga, Andrea selaku teman hidup saya memiliki rasa yang sama terhadap kopi. Namun tentunya perlu adanya literasi dalam menikmati kopi itu sendiri demi memahami kesadaran akan pentingnya kesehatan.

Kami pada akhirnya menaruh perhatian terhadap dampak kafein setelah membaca berbagai artikle mengenai manfaat kafein dalam tubuh. Ternyata walaupun kopi memiliki segelintir manfaat yang terkandung didalamnya, banyak pula dampak negatif jika dikonsumsi secara berlebih dalam tubuh manusia.

Untuk itu, setelah bertukar-pikiran dalam sebuah diskusi hangat yang dilaksanakan saat senja dan tentunya di temani secangkir kopi. Kami menghasilkan suatu ide dalam menyikapi permasalah ini yaitu; kami menjadikan hari minggu pagi atau saat senja menjadi satu-satunya waktu untuk menikmati secangkir kopi.

Sebuah ide dan gagasan yang dirasa cukup dalam menyikapi permasalahan dalam menikmati secangkir kopi tanpa harus menghilangkan kebiasaan yang telah melekat dalam diri.

“Loh? Mana bisa menikmatinya hanya pada hari minggu? Bagaimana jika jadwal memaksa kalian menikmatinya saat hari-hari lain? ”

Baca Ini :

Setelah Menulis Saya Merasa Tenang

Kesalahan Fatal Dalam Mengelola Waktu

Menikmati Keindahan Sunyi Danau Sentani

Menyikapi pertanyaannya ini, saya sepakat meminum kopi hanya satu hari dalam seminggu. Walaupun saya khususkan pada hari Minggu, namun bisa diganti pada hari lain dengan catatan; tetap sehari dalam seminggu untuk menikmati secangkor kopi.

Jika kawan-kawan memiliki ide maupun saran yang lebih inspiratif, tuangkan semuanya dalam kolom komentar ya! Semoga bermanfaat.

Terimakasih telah membaca artikle ini.

Cerita Menyusuri Lorong Waktu Menikmati Reruntuhan Kota Kuno di Efesus !

ephesus_20181027_212029
Curetes Street di Ephesus.

Pada abad pertama Masehi, Ephesus (Efesus) yang sekarang wilayah Turki adalah kota terbesar kedua di dunia setelah Roma di Yunani.

Kejayaan Ephesus memang telah berakhir. Namun, sisa-sisa peradaban yang usianya lebih dari 3.000 tahun itu bukan sekadar onggokan puing. Reruntuhan kota kuno. Ephesus ibarat mesin waktu yang mengantar imajinasi kita ke kehidupan masa silam.

Mari kita simak tulisan dari Hairun Fahrudin, Melintasi Lorong Waktu di Ephesus, berikut ini seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Desember 2011.

Baca Juga : Setelah Menulis Saya Merasa Tenang

Sebe­lum menjelajah taman arkeologi sesungguhnya, saya mengunjungi Museum Efes lebih dahulu. Museum yang berada sekitar 200 m dari terminal bus Selcuk ini menyimpan artefak-artefak yang ditemukan di reruntuhanEphesus. Berwisata ke Ephesus tak lengkap tanpa mengunjungi Museum Efes.

Selain Museum Efes di Selcuk, ada lagi sebuah museum yang juga menyimpan artefak bersejarah Ephesus. Museum yang ber­nama Ephesos itu terletak di Wina, Austria. Ephesus di Turki kok museumnya di Austria.(*)

Marxisme untuk Bertatih: Teori Asas dan Kajian di Kolombia

 

maxresdefault

Oleh: Lomalom Jr

Marxisme adalah satu teori yang mendominasi pembincangan intelektual masa kini dari sudut falsafah, ekonomi, politik sehingga menyentuh budaya pop. Teori yang terbentang luas di kalangan tokoh-tokoh marxis ini dilihat sebagai satu pembawakan baru untuk melawan teori liberalisme yang mana teori marxis bukan saja membincangkan politik per se tetapi juga mencuit beberapa bidang lain seperti psikologi seperti yang digagaskan oleh Sigmund Freud dengan teori psikoanalitik beliau yang turut dikembangkan oleh tokoh-tokoh marxisme yang lain ia itu Slavoj Zizek, Jacque Lacan, Jacque- Alain Miller, Jacque Derrida, dan Michel Foucault. Perkembangan falsafah Marx telah meresap sehingga tercetusnya revolusi di Russia dan China justru teori beliau juga banyak digunakan untuk menelaah keadaan ekonomi dan politik di negara-negara dunia ketiga seperti Pakistan, Colombia, dan Indonesia.

Jika dilihat dari sudut perkembangan marxisme, jalur masa boleh diambil pada 1948 usai Marx dan sahabat-nya Engels menulis sebuah manifesto untuk golongan pekerja yaitu Komunis Manifesto. Marx yang lahir di Trier, Rhineland 1818 di mana anak kepada seorang keturunan Yahudi dan beragama Kristen Protestan Ayahnya seorang peguam yang dikenali, dan beliau pula diminta ayahnya untuk meneruskan susur galur keluarga itu tetapi Marx tidak pula mengikutnya. Marx hanya belajar bidang undang-undang di Bonn University tetapi bertukar bidang kepada falsafah selepas itu kerana minatnya. Di sinilah beliau mula berjinak-jinak dengan falsafah dan mengenali kelompok Young Hegelian.

Pada 1842 Marx telah menjadi editor di syarikat akhbar Rheinische Zeitung dan sewaktu itu beliau masih menerima idea liberalisme klasik yang dibawa oleh tokoh-tokoh Enlightenment seperti John Stuart Mill dan Jeremy Bentham. Kelantangan Marx mengakibatkan beliau telah dibuang negeri oleh kerajaan Prussia waktu itu, dan Marx beralih tempat ke Paris pada 1844 dengan menyertai syarikat akhbar Deutsch- Franzosische Jahrbucher. Di samping itu, beliau mula berjinak-jinak dengan pembincangan falsafah politik, sehingga beliau sempat menulis kritikan terhadap Hegel iaitu Critique of Hegel’s Philosophy of Right.
Namun kritikan itu tidak disudahi oleh beliau dan pula pada tahun 1844 Marx menulis satu manuskrip ekonomi di Paris iaitu Economic and Philosophic Manuscript of 1844 juga dipanggil sebagai Manuskrip Paris. Tetapi manuskrip ini tidak diterbitkan pada zaman kehidupan beliau dan terbiar sehinggalah beliau meninggal dan terbitan manuskrip ini dibuat oleh rakan beliau Engels.

Di dalam manuskrip inilah Marx mula-mula menulis satu kritikan terhadap sistem kapitalisme dengan membawa hujah tentang Alienation (keterasingan). Di mana beliau melihat golongan pekerja ini terasing dengan empat perkara yaitu;

(a) Keterasingan pekerja dengan produknya.

(b) Keterasingan pekerja dengan aktiviti produk mereka sendiri.

(c) Keterasingan pekerja dengan pekerja yang lain.

(d) Keterasingan pekerja dengan potensi kemanusian sendiri. Empat keterasingan ini tercatat dalam penulisan manuskrip beliau tetapi kekurangan bukti emperikal dan analitikal. Oleh sebab itu, Marx mula beralih kepada persoalan yang lebih bersifat saintifik dan meninggalkan perbualan tentang falsafah pada akhir tahun 1844.

Selepas itu beliau lebih menekankan kepada pembincangan ekonomi politik dalam banyak tulisan beliau dan sedikit tentang falsafah materialisme dalam buku beliau bersama Engels iaitu The German Ideology tetapi banyak pengolahan tokoh politik marxis terhadap teori beliau adalah berkenaan empat ciri penting iaitu; (a) Pertentangan kelas (baca; Class Struggle), (b) Nilai lebihan (baca; Surplus Value), (c) Revolusi, (d) Historikal materialisme. Teori ini digunakan dalam bidang sains politik dan banyak di bincangkan oleh tokoh-tokoh marxis.

Dalam sistem kapitalisme bahawa semua benda dilihat sebagai komoditi termasuk manusia itu sendiri. Manusia yang mempunyai tenaga kerja dilihat sebagai objek yang boleh digunakan untuk tujuan menambahkan kekayaan. Jika dilihat pada awal perkembangan kapitalisme itu sendiri, golongan pekerja ini ada yang terdiri daripada anak-anak kecil malahan mereka dibayar dengan gaji hamba (baca; Slavery Wages). Bukan itu sahaja, dalam sistem kapitalisme, pekerja dilihat sebagai objek yang hanya bertindak seperti mesin untuk tujuan pekerjaan. Sifat kemanusian dalam diri manusia dicabut dan mereka mula dipandang sebagai satu bentuk komoditi seperti komoditi yang lain yang boleh dimiliki untuk dibeli atau dijual. Oleh sebab itu, Marx mula membuat kesimpulan dalam tulisan beliau tentang empat perkara alienasi pekerja yang terbentuk dalam sistem kapitalisme.

Keterasingan Pekerja dengan Pekerja

Pasca revolusi industri sistem monarki mula dilihat sebagai satu sistem yang lemah dan tidak mempunyai sistem produksi (baca; Mode of Production) berbanding sistem produksi kapitalisme yang mampu menjana produksi berlipat kali ganda. Selain itu, keuntungan yang dibuat oleh sistem kapitalisme adalah lebih baik berbanding sistem monarki. Sistem kapitalisme dilihat sebagai hasil daripada konflik kelas dalam sistem monarki yang mana kelas borjuis menentang kelas bangsawan dan gereja. Penentangan kelas ini telah menghasilkan satu mod produksi yang baru. Perubahan daripada sistem pertanian (baca; serfdom) beralih kepada sistem pasaran.

Oleh sebab itu, wujud-nya banyak kilang-kilang besar, seperti kilang yang menggunakan teknologi stim dan arang batu telah berkembang sehingga memerlukan pekerja yang ramai untuk menguruskan kilang itu. Daripada sinilah ketarasingan pekerja dengan pekerja. Teori pengasingan kerja (baca; Division of labour) diperkenalkan dengan begitu meluas pada perkembangan kapitalisme. Sebelum ini praktikaliti pengasingan kerja telah wujud cuma tidak begitu ketara dalam sistem kapitalisme seperti mana dikonatasi oleh tokoh ekonomi Adam Smith dalam buku beliau The Wealth of Nation.

Keterasingan ini menyebabkan pekerja tidak berkomunikasi dengan pekerja yang lain sewaktu proses produksi dijalankan. Setiap daripada mereka hanya melakukan tugas mengikut apa yang telah ditugaskan, pekerja ini akhirnya akan berbalik kepada majikan mereka untuk tujuan pembayaran gaji manakala hubungan pekerja dengan pekerja tidak lagi dapat dibina atas nama memproduksi barang secara bersama. Walaupun produk yang dihasilkan itu memerlukan tenaga kerja yang banyak tetapi pemisahan kerja ini menyebabkan mereka tidak berinteraksi dengan manusia lain. Marx melihat sistem kapitalisme telah menghalang kapasiti hubungan manusia sesama manusia dalam kerangka pekerja dengan pekerja.

Keterasingan Pekerja dengan Produk

Pekerja adalah mereka yang menghasilkan produk. Mereka adalah orang yang mempunyai sifat yang kreaktif dalam menghasilkan apa jua produk. Dalam gerak kerja menghasilkan sesuatu, pekerja ini meletakkan satu perkara yang tidak ternilai dalam produk yang mereka hasilkan. Iaitu Nilai. Pembincangan Marx pada konsepsi ini adalah, pekerja tidak lagi memiliki hak terhadap produk yang mereka hasilkan. Walaupun mereka telah mencurahkan waktu bekerja yang sangat lama terhadap penghasilan produk tersebut tetapi pekerja hanya dibayar gaji oleh majikan.

Selain itu, produk yang dihasilkan pekerja itu kian lama terpisah dalam bentuk-bentuk yang kecil tanpa melihat penghasilan penuh produk. Dari sinilah berlakunya keterasingan pekerja dengan produk yang mereka hasilkan. Dari sudut ini, pekerja tidak lagi berasa gembira dengan hasil yang mereka lakukan sehingga hari ini pekerja itu dilihat sama tarafnya seperti sebuah mesin yang mengeluarkan beribu-ribu produk setiap hari.

Keterasingan Pekerja dengan Aktiviti Produk

Pekerja yang sepatutnya memiliki hak terhadap produk yang mereka hasilkan telah dirampas hak itu atas nama pembayaran gaji masakan gaji yang dibayarkan pula tidak setimpal seperti yang sewajarnya. Dalam kosep yang ketiga ini, Marx melihat pekerja juga terasing dengan aktiviti produk yang mereka hasilkan. Ini kerana pekerja yang diasingkan tugas-tugas mereka hanya melakukan kerja yang diminta, hasil keseluruhan produk itu tidak lagi dapat ditelaah oleh pekerja seperti mana produk yang dihasilkan sebelum wujudnya sistem kapitalisme. Ambil contoh pembuatan keris. Dalam kerja pembuatan keris, seorang pekerja itu mempunyai kemahiran dalam membuat sebuah keris, malahan bukan itu sahaja, seorang pekerja itu mengetahui setiap proses awal hingga akhir pembuatan keris.

Tetapi dalam perkembangan teknologi hari ini, pekerja tidak lagi ‘dipaksa’ mengetahui kesemua proses pembuatan produk. Contohnya proses pembuatan sebuah kereta. Kilang A bertindak sebagai tempat pembuatan enjin, manakala kilang B diminta untuk membuat bahagian luar kereta, kilang C betindak membuat bahagian dalam kereta manakala kilang yang terakhir iaitu kilang D diminta untuk membuat pemasangan kereta. Pemisahan ini menyebabkan pekerja-pekerja tidak lagi berinteraksi secara penuh dengan produk yang mereka hasilkan.

Keterasingan Pekerja dengan Potensi Kemanusian

Keterasingan pekerja dengan potensi kemanusian ini mengakibatkan pekerja itu dilihat sebagai satu objek komoditi yang boleh dijual beli dan dimiliki. Pekerja tidak lagi dilihat sebagai sebuah esensi yang mempunyai nilai kemanusian tetapi satu bentuk objek komoditi baru di zaman kapitalisme. Kapitalisme telah menyebabkan pekerja ini tidak bersikap kreaktif. Sejak zaman berzaman manusia hidup dengan berinteraksi dengan alam dan melahirkan idea baharu saban zaman tetapi kerana penyekatan ini manusia tidak lebih sebagai satu bentuk objek untuk keuntungan kapitalis.

Teori Asas dalam Marxisme

Marx cuba memahami sejarah dengan meletakkan perubahan sejarah itu bermula oleh pergerakkan perubahan material. Teori ini dipecahkan kepada pembincangan base dan superstructure. Base atau sub-struktur ini dilihat sebagai yang dominan dalam proses perubahan sistem masyarakat. Sistem masyarakat itu boleh dipanggil sebagai superstruktur. Dalam sub-struktur ini Marx membincangkan tentang mod produksi iaitu sistem produksi setiap sistem pemerintahan. Contoh pada zaman pemerintahn monarki, mod produksi bersifat pertanian dan pengutipan cukai oleh bangsawan. Rakyat diberikan tanah untuk bercucuk tanam dan mereka akan mengusahakan tanah mereka sehingga cukup tempoh-nya pihak kerajaan akan mengutip cukai. Selain itu ekonomi negara juga diambil daripada cukai perdagangan. Oleh sebab itu di dalam sistem monarki, wujud dua sistem ekonomi klasik iaitu golongan fisiokrat dan perdagangan.

Pada akhir hidup nya, Marx mula mengkaji sistem ekonomi politik kapitalisme secara lebih sistematik dan membawa satu teori nilai lebihan yang mana sehingga kini ahli ekonomi masih membahaskan berkenaan teori nilai lebihan ini dalam kerangka marxisme. Walaupun begitu, neo-klasikal ekonomi sudah tidak lagi mengendahkan tentang teori nilai yang dibangunkan oleh Adam Smith pada awalnya diteruskan oleh David Ricardo dan akhirnya dibina teori nilai yang baharu oleh Karl Marx. Beliau mengatakan bahawa kapitalis yang memiliki sumber produksi (baca; mean of production) telah merampas nilai lebihan kaum pekerja. Nilai lebihan ini dalam bahasa mudahnya adalah keuntungan, menurut kiraan formula Marx, pekerja yang bekerja menyumbang sesuatu nilai dalam produk yang mereka hasilkan. Sewajarnya nilai lebihan perlu diberikan kepada pekerja kerana itu adalah milik mereka tetapi dirampas oleh golongan kapitalis menggunakan sistem kapitalisme.

Marx melihat dengan teori ekonomi dan teori kelas sosial beliau akan menjelaskan perkembangan sejarah. Eksploitasi yang dilakukan oleh golongan kapitalis itu akan menyebabkan golongan proletariat bangkit dan tercetusnya revolusi yang tidak terelakkan. Kapitalis tidak mampu menahan revolusi ini daripada tercetus, kerana perkembangan sistem kapitalisme itu menurut Marx jualah yang membangkitkan revolusi seperti dalam sistem-sistem yang sebelumnya. Revolusi ini kata Marx akan dibangkitkan oleh kelas yang ditindas iaitu golongan pekerja, di mana kebangkitan revolusi itu berlaku kerana kesedaran kelas pekerja dengan kondisi ekonomi yang terus menerus menindas mereka.

Dalam buku beliau Manifesto Komunis, Marx membuat teori yang meletakkan setiap sistem masyarakat pada perkembangan sejarah itu akan mempunyai dua kelas yang paling besar iaitu kelas pemerintah dan kelas yang diperintah di mana kelas penindas dan kelas yang ditindas. Pada zaman monarki/feudalisme kelas pemerintah adalah golongan bangsawan yang menguasai sumber produksi (baca; mean of production) dan kelas borjuis adalah kelas yang ditindas tetapi setelah berlakunya revolusi maka dalam sistem masyarakat kapitalisme kelas penindas adalah kapitalis atau borjuis yang mengawal sumber produksi manakala kelas proletariat pula ditindas oleh golongan borjuis ini. Maka kebangkitan kelas pekerja akan tidak terelakkan seperti kebangkitan kelas borjuis seketika dahulu.

Pengaplikasian Teoritikal

Teori Marx ini telah menjadi satu teori yang digunakan untuk memahami kondisi sosial, ekonomi dan politik di Kolombia. Teori Marx tentang mod produksi, historikal materialisme tentang teori formasi sosial juga digunakan untuk menilai perkembangan masyarakat di Kolombia mentelah teori tentang teori dan praktik yang dipanggil sebagai praxis turut dipakai untuk mengkaji tentang praktikaliti teori di perubahan masyarakat Kolombia. Ketiga-tiga teori ini digunakan untuk menilai keberkesanan teori marxisme yang diaplikasikan di dunia ketiga. Ini kerana, dunia ketiga dilihat sebagai sebuah dunia yang berbeza dengan dunia pertama, dari sudut perkembangan sejarah material dan juga tatanan politik mereka.

Mod produksi di Kolombia tidak melalui masyarakat Asiatik dan juga feudal, tetapi lebih kepada masyarakat primitif. Masyarkat Kolombia dilihat sebagai sebuah negara yang tidak sangat seperti primitif, ini kerana mod produksi di Kolombia sudah maju sebelum datangnya penjajah. Oleh sebab itu tokoh marxis Kolombian melihat: mod produksi di Kolombia tidak lah sepenuhnya berdasarkan primitif kerana mereka sudah mempunyai pembahagian kerja yang kompleks. Mereka juga punya kesenian yang tertentu sebelum diletakkan sebagai sebuah negara yang feudalistik.

Amerika Latin sebelum menjengah kondisi masyarakat feudal telah diserang oleh penjajah. Ini menyebabkan keadaan kondisi masyarakat feudal di Amerika Latin tidak begitu jelas seperti yang berlaku di feudal eropah. Akibat daripada penjajahan itu berlaku transisi budaya, ekonomi, politik dan sosial daripada pihak penjajah dan menggangu perkembangan sejarah material Kolombia. Penjajah telah megenalkan hacienda iaitu perternakan lembu dalam kuantiti yang besar. Selain itu mengenalkan institusi yang baru di mana menggangu perkembangan politik feudal Kolombia pada waktu itu.

Dalam tulisan magnus opus Marx, Das Kapital, beliau menunjukkan setiap masyarakat itu mempunyai formasi sosial mereka yang tersendiri. Sebuah masyarakat itu akan difahami dengan melihat artikulasi mod produksi yang pelbagai. Formasi sosial adalah hubungan ideologi, politik, dan ekonomi yang wujud dalam sistem masyarakat seperti kapitalisme, feudalisme, primitif, atau asiatik. Teori ini dikembangkan oleh Louis Althusser yang melihat keterkaitan tiga perkara asas ini dalam menilai perkembangan sejarah kapitalisme.

Di Kolombia, keadaan formasi sosial mereka seakan sama dengan formasi sosial di Rusia pada waktu sebelum revolusi. Teori ni digunakan di Kolombia untuk melihat keterkaitan antara daerah di Kolombia dengan komuniti penduduk setempat. Dengan teori ini, analisis terhadap daerah serantau di Kolombia dapat dipecahkan kepada beberapa bahagian bertujuan untuk mengkaji proses perubahan mod produksi yang baru. Ternyata analisa formasi sosial ini membantu pengaturan mekanisme produksi di Kolombia berkembang dengan lebih baik.

Selain itu, Orlando Fals-Borda adalah seorang tokoh Amerika Latin yang membangunkan teori Participatory Action Research dengan mengaplikasi praksis sebagai teori dasarnya. Praksis dilihat sebagai satu teori yang meletakkan teori dan praktikal itu seiring. Dalam melihat sesebuah masyarakat, satu-satu teori itu hendaklah praktikal untuk sesebuah masyarakat dan juga keadaan waktu itu. Tokoh sosiologi Amerika Latin itu melihat masyarakat Kolombia dengan menggunakan teori PAR ini dan membongkar tatanan hidup masyarakat Kolombia mengikut perkembangan sejarah material. Bagi beliau Marx telah membuka satu jalan yang baru kepada kajian sesebuah masyarakat.

Kesimpulannya, teori marxisme telah digunakan dengan begitu meluas oleh ramai tokoh sains politik, sosiologis, filasuf, psikologis, dan juga ahli ekonomis. Perkembangan ilmu marxisme bukan sahaja membawa dunia intelektual berkembang tetapi cara memandang sesebuah sistem sosial itu turut berubah. Kajian Marx terhadap sistem kapitalisme dengan cara yang lebih sistematik membongkar banyak perkara yang buruk terhadap sistem kapitalisme. Sehingga kini sistem kapitalisme ini masih dilihat tidak mampu membawa konsep keadilan kepada manusia sejagat. Tidak dapat untuk kita membungkam idea marxisme walaupun ada beberapa andaian Marx yang tersasar seperti akan berlaku revolusi di dunia pertama kerana perkembangan teknologi yang pesat.

Walaupun begitu, tokoh-tokoh ekonomi dan sains politik Demokrasi Sosial seperti Eduard Benstein juga menerapkan beberapa teori Marx ke dalam analisa politik dan ekonomi. Jelaslah teori marxisme tentang mod produksi, keterasingan pekerja, nilai lebihan dan juga historikal materialisme membawa satu paradigma yang baru dalam dunia akademik sains sosial.

Bahkan kerana teori marxisme jugalah revolusi di Rusia dan China menjadi satu revolusi yang berjaya mengubah sistem feudalisme yang sudah korup kepada sistem yang lebih baik. Kegagalan sistem sosialisme di Rusia, China, Chile, Cuba dan beberapa negara lain tidak menandakan bahawa marxisme itu gagal dan tidak terpakai. Tetapi menunjukkan wujudnya perlawanan kelas yang terus menerus dalam sistem masyarakat itu. Tuntasnya teori politik marxisme membawa satu sudut pandang yang baru untuk ditelaah oleh ahli akademik. *(

Isack Samuel Kijne: Cinta dan Pengorbanannya untuk Bangsa Kulit Hitam Di Timur Lautan Teduh

41215961_2043700245680615_491225919428493312_n
Foto : Koleksi Pdt.Hanz Wanma dalam Buku Domine I.S.Kijne

Kemewahan serta jabatan yang tinggi dengan gaji berlipat ganda yang ditawarkan Pemerintah Belanda untuk bertugas di Hindia Belanda, Suriname, Afrika dan Australia, semua ditolaknya. Kijne lebih memilih mengabdi dalam keadaan serba terbatas di Negeri Orang Hitam Kulit Keriting Di Timur Jauh Lautan Teduh Nieuw Guinea, sebuah negeri yang masih hidup dalam kegelapan, perang suku, pengayauan dan pembunuhan. Dia dan istrinya yang dalam keadaan hamil bahkan ditangkap Tentara Jepang dan diasingkan serta terpisah selama 3 tahun di pengasingan di Belige dimana anaknya Maria Caroline lahir dalam tahanan.

41378804_2043700155680624_564049465049088000_n

Biografi Isack Samuel Kijne

Zendeling Domine Isack Samuel Kijne lahir dari sebuah keluarga Tukang Kayu di Vlaardingen, sebuah kota kecil di negeri Belanda, dari Ayah bernama Hugorinus Kijne dan Maria Fige’e, perempuan Belanda berdarah Yahudi yang sehari-hari bekerja sebagai guru. Mereka adalah anggota Jemaat setia di gereja Hervormd Belanda.

Kijne kecil menyelesaikan pendidikan menengah tahun 1914 kemudian melanjutkan pendidikan guru di Klokkenburg Nijmegen dan tamat tahun 1918. Setelah menamatkan sekolah guru, Kijne harus mengajar di tempat kelahirannya Vlaardingen, namun ketertarikan dan kesempatan terbuka untuk mengabdi di Tanah Papua, Kijne melanjutkan studi mengambil Akta Kepala Sekolah ( Acte Hoofdonderwijzer) selama 2 tahun ( 1918-1920,) dan Kursus Bahasa Melayu (1921) dengan memperoleh Akta Pengetahuan Berbahasa Melayu ( ( Acte Maleis-Lan En Volkenkunde )

I.S.Kijne merupakan lulusan terbaik sekolah guru di kotanya, untuk itu dia juga diremokemendasikan sekolahnya untuk belajar ke Tubingen Jerman guna menguasai bidang music, seni suara dan melukis serta kebudayaan. Sebelum berangkat ke Papua tahun 1923, I.S.Kijne ditempa lagi di Pusat Zending di Oegstgeest selama setahun dari tahun 1921-1922 bersama kedua rekannya F.Slumpt dan Johanes Eygendaal.

Keputusan Untuk Mengabdi Ke Negeri Bangsa Kulit Hitam di Timur Jauh Lautan Teduh

Januari 1923, I.S.Kijne bersama kedua rekannya F.Slumpt dan Johanes Eygendaal melakukan perjalanan dari Roterdam menuju Mansinam selama 5 bulan lamanya melalui Guinea di Afrika Barat, Batavia dan akhirnya tiba di Mansinam. Perjalanan Roterdam-Guinea ditempuh selama sebulan. Akibat cuaca yang tidak bersahabat memaksa mereka terpaksa harus menunggu beberapa hari di Guinea, kemudian pada pertengahan Pebruary 1923, mereka meneruskan perjalanan dan tiba di Batavia April 1923, setelah melapor di Batavia, mereka kemudian melanjutkan pelayaran selama 2 bulan melalui Makasar, Ternate dan tiba di Mansinam pada tanggal 23 Juni 1923.

Kijne remaja tertarik dan akhirnya jatuh cinta pada Papua terbit sendiri dari hatinya, setelah mendengar kisah-kisah Heroik dan Menantang dari temannya Willem Van Hasselt, anak dan cucu dari Ketua Zending F.J.F.Van Hasselt dan J.L. Van Hasselt, Willem Van Hasselt yang merupakan teman sekolahnya di sekolah guru ( Kweek School ) di Klokkenburg Nijmegen. Temannya, berkisah tentang Ayah dan Kakeknya yang bertugas selama 67 tahun di Papua. Kakeknya J.L.Van Hasselt menjadi Ketua Zending pertama 1863-1894 dan dilanjutkan oleh Ayahnya F.JF.Van Hasselt pada tahun 1894-1931.

41371629_2043700192347287_3988334522583220224_n

Temannya menceritakan keadaan pelayanan orang tua dan kakeknya serta keadaan masyarakatnya di sebuah negeri orang berkulit hitam dan rambut keriting di Timur Jauh Nieuw Guniea. Kakeknya sudah pensiun dan pekerjaan Zending dilanjutkan ayahnya, namun disana masih sangat membutuhkan guru dan pendeta untuk bekerja bersama mereka, jika Kijne merasa tertarik untuk melayani disana, dia akan menyampaikan berita ini kepada Ayahnya di Nieuw Guinea untuk menyurati Badan Zending USV untuk merekomendasikan I.S.Kijne datang ke Papua.

Ottow dan Geissler telah menabur Injil Di Mansinam sejak tahun 1855 hanya mampu bertahan hingga tahun 1859, pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh J.L.Van Hasselt, ( ayah dari J.F.Van Hasselt ), W.Otterspoor dan Th.F.klaasen yang tiba pada 8 April 1863, namun pada perayaan 25 Tahun Pekabaran Injil pada tanggal 05 Pebruary 1880 di Mansinam, baru tercatat 20 orang yang dibaptis menjadi Kristen termasuk para budak yang ditebus oleh Zendeling.

Dikisahkan, pekerjaan Zendeling di Mansinam sangatlah berat karena alamnya namun juga watak manusianya yang keras kepala sehingga Kerajaan Belanda bahkan hendak menutup kegiatan Zending disana. Banyak diantara para Zendeling dan keluarga yang meninggal dan harus kembali ke Belanda karena sakit. 10 orang Zendeling dan isteri meninggal, sementara, 7 orang anak dan 7 orang istri meninggalkan Papua kembali ke Belanda karena sakit, sementara J.L.Van Hasselt sudah berusia tua.

Beruntunglah Badan Zending USV menemukan J.F.J.Van Hasselt, anak dari J.L. Van Hasselt tahun 1894 untuk dikirim ke Papua menggantikan Ayahnya. Van Hasselt junior ini tiba dan bertugas di Mansinam pada tanggal 10 November 1896. Kondisi alam dan watak manusia Papua yang keras yang membuat pekerjaan Pekabaran Injil tersendat membuat Van Hasselt junior ini kemudian mengembangkan pendidikan guru bagi putra-putri Papua untuk dapat meneruskan pekerjaan Zendeling di Papua.

Pengembangan pendidikan guru ini tentu membutuhkan guru-guru baru yang mau bertugas di Papua yang medannya sangat berat dan penuh tantangan, disaat inilah, anaknya F.J.F. Van Hasselt yang merupakan teman sekolah Kijne di sekolah guru ( Kweek School ) mengisahkannya kepada Kijne saat sejak masih duduk di Kelas pertama. Setelah menamatkan sekolah guru 1918, Kijne membulatkan niatnya untuk mengabdi di Tanah Papua sebagai Kepala Sekolah, Guru dan Pendeta di Papua yang dimulai dari Mansinam 23 Juni 1923.

F.J.F. Van Hasselt ayah dari teman Kijne menuturkan, Kijne seharusnya ditugaskan di Suriname, Guinea, Pakistan atau Hindia Belanda ( Indonesia ) namun atas tuntunan Tuhan, ia memilih Nieuw Guinea. Setelah menamatkan sekolah guru, saya sendiri harus ke Suriname, Afrika atau Australia tetapi mengapa saya ke Nieuw Guinea ? itu karena maksud Tuhan supaya saya berada disana, kata Kijne ketika diwawancarai Holvast, seorang wartawan sebuah Harian di Kota Leiden ketika menghadiri acara perpisahan Kijne untuk mengakhiri seluruh pekerjaannya dengan Zending tahun 1969.

Pergumulan dan Observasi Pendidikan Karakter Manusia Papua Di Mansinam (1923-1925 )

Memulai aktifitasnya di Mansinam, Kijne melakukan pengamatan terhadap perilaku anak-anak didiknya disana baik watak dan karakter, budaya dan adat istiadat, kemampuan bermusik,bernyanyi, bekerja dan status social mereka. Kijne telah mempelajari laporan pemuda-pemuda Papua yang dikirim untuk dididik Ambon, Sangihe dan Tobelo namun mereka tidak betah dan kembali dengan kapal yang ditumpanginya.

Sebaliknya, di Mansinam, anak-anak Sangihe, Ambon dan Tobelo juga dididik disana bersama-sama anak-anak Papua sehingga muncul image anak-anak Papua tidak mampu bersaing dengan mereka. Sehingga Kijne ingin membuktikan bahwa anak-anak Papua juga mampu bersaing dengan anak-anak dari Ambon, Sangihe dan Tobelo ( Amber ) . Bila perlu anak-anak Amber dikirim kembali ke daerahnya dan anak-anak Papua bersekolah sendiri di Mansinam,supaya suatu saat nanti mereka akan melihat apakah orang Papua bisa bersaing dengan saudaranya dari Ambon,Sangihe dan Tobelo ?

Kita harus memberikan kesempatan kepada anak-anak Papua untuk membangun dirinya sendiri dengan bentuk pendidikan yang dimengerti menurut pikiran, budaya dan kepercayaannya sehingga mereka menurut mereka pendidikan bukanlah sekedar tiruan saja melainkan sesuatu yang sangat mahal harganya untuk itu harus dijaga dan dikembangkan sepanjang peradaban manusia Papua dahulu, kini dan nanti.

“ Saya berpendirian bahwa khusus anak-anak Papua lebih di didik untuk hidup secara mandiri, sehingga mereka sendiri dapat berprestasi. Untuk itu, sesungguhnya mereka mesti mempunyai satu sekolah dalam arti sebenarnya dimana mereka tidak menerima kesan seolah-olah bahwa sekolah hanya sekedar tiruan saja untuk anak-anak Papua “

Kijne berkesimpulan pemuda Papua tidak bisa dididik bersama-sama dengan pemuda Ambon,Tobelo dan Sangihe di Mansinam. Mereka harus dididik sendiri sehingga Kijne membatasi anak-anak Sangihe dan Ambon serta memutuskan anak-anak negeri Papua harus dididik sendiri secara alami menurut tata cara hidupnya yang alami dan terpusat di suatu tempat, sehingga kosentrasi belajar dan pembentukan karakter dapat berjalan serta tidak banyak waktu yang terbuang.

Ada sebuah tempat yang cocok untuk pertanian, dan atas usul Zendeling D.B.Starrenburg dan D.C.A.Bout yang telah bertugas di Teluk Wondama, Kijne melakukan perjalanan awal Januari 1925, ke Miei dan beberapa kampung di Teluk Wondama. Setelah menilai kelayakan tempatnya dari semua aspek, Kijne berketetapan menutup sekolah di Mansinam dan membuka sekolah baru sebagai pusat produksi guru-guru di Tanah Papua di Bukit Aitumeri. Bukit Aitumeri Miei dipilih I.S.Kijne sebagai tempat yang menjanjikan bagi masa depan pendidikan di Tanah Papua.

Lanscape Teluk Wondama dengan panorama yang indah, tanahnya yang subur untuk pertanian, kampun-kampungnya yang berdekatan memudahkan siswa berpraktek, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk, disinilah tempat yang tepat untuk dikembangkan sekolah berpola asrama dimana anak-anaknya dididik untuk bekerja dan mandiri dalam segala hal demi masa depan tanah dan bangsanya.

Aitumeri Bukit Peradaban Orang Papua ( 1925-1941)

Yakin dengan keputusannya atas ilham dari Sang Khalik, I.S.Kijne tiba di Miei pada tanggal 25 Oktober 1925 bersama 35 muridnya dari Mansinam untuk memulai misinya mendidik orang Papua secara khusus. Keesokan harinya, pada sore hari I.S.Kijne berjalan dan mengamati sebuah batu di Bukit Aitumeri tempat dia mulai mengajar dan tempat berdiri untuk melatih paduan suara. Ketika malam tiba, Domine I.S.Kijne mendatangi batu tersebut untuk bergumul dan berdoa kepada Tuhan sebelum memulai misi pendidikannya. Setelah bergumul dan berdoa, Kijne kemudian meletakkan dasar peradaban Bangsa Papua diatas batu tersebut. Kijne berkata demikian.

“Diatas Batu ini, saya meletakkan perdaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi,akal budi dan marifat untuk memimpin bangsa ini, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri.”

Setelah berdoa dan meletakkan peradaban Bangsa Papua diatas batu tersebut, Kijne memulai aktivitas pengajaran dengan sekolah sambungan, setelah itu dilanjutkan dengan kelas kursus hingga menjadi sekolah normal pada tahun 1931 menjadi sekolah Guru Jemaat dengan jenjang pendidikan 2 tahun. Karena dianggap layak, sekolah ini berhak mendapat bantuan Guberneman.

Bekerja sejak tahun 1925-1941, I.S.Kijne telah berhasil meluluskan 780 siswa anak Papua yang kemudian kembali ke kampung halamannya menjadi guru dan pelayan dalam jemaat di seluruh Tanah Papua. Sejak tiba di Mansinam tahun 1923, di Tanah Papua sudah ada 110 sekolah yang tersebar di Teluk Wondama, Manokwari, Yapen,Biak,Raja Ampat,Bintuni,Fak-Fak,Sorong Selatan hingga ke Tanah Tabi ( Jayapura ). Namun ketika I.S.Kijne membuka sekolah di Miei, sudah tumbuh 1100 sekolah yang kemudian mengirim murid-muridnya untuk melanjutkan pendidikan di Bukit Aitumeri Miei.

Bekerja selama 9 tahun sejak dari Mansinam tahun 1923 hingga tahun 1932, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke kampung halamannya di Vlaardingen dan meminang gadis pujaannya Johanna Regina Uitenbogaard dan diboyong ke Bukit Aitumeri dan hidup bersamanya dalam pekerjaan pekabaran Injil hingga tahun 1941. Johanna Regina Uitenbogaard biasa dipanggil Jopie. ( Pengabdian Mama Jopie akan dikisahkan secara terpisah dengan judul I.S.Kijne Cinta dan Pengorbanannya Untuk Bangsa Kulit Hitam Di Timur Lautan Teduh bagian 2 )

Ditangkap dan Menjadi Tawanan Perang Dunia II

41440941_2043700212347285_4182162153224011776_n

I.S.Kijne dan Mama Jopie melayani di bukit Aitumeri sejak tahun 1933 hingga 1941, mereka mengambil cuti pendek berlibur ke Malang Jawa Timur Agustus 1941 – Maret 1942, namun nasib naas menimpa mereka, pecah Perang Dunia II tahun 1942 dan Tentara Jepang sudah menguasai Hindia Belanda dan menangkap para pekerja Zending, F.C.Kamma ditangkap di Raja Ampat sementara I.Kijne dan Mama Jopie ditangkap di Malang April –Mei 1942 dan di asingkan ke Balige Sumatera Utara selama 3 tahun.

Diasingkan selama 3 tahun ( 1942-1945 ), I.S.Kijne dan Mama Jopie ditawan terpisah dan keadaan ini membuat mereka harus berpisah selama 3 tahun. Dikisahkan, pada saat diasingkan secara terpisah ini, Mama Jopie Kijne melahirkan anaknya yang pertama Maria Caroline Kijne dalam tahanan. Diperkirakan, waktu ditahan, Mama Kijne sedang hamil, mungkin kehamilan ini juga yang menjadi alasan mereka mengambil cuti pendek dan berlibur ke Malang.

Undangan Ratu Juliana dan Tawaran Yang Menggiurkan Setelah Perang Dunia II berakhir tahun 1945, Ratu Belanda Juliana memerintahkan orang-orang di Kerajaan Belanda untuk mencari tahu berapa pekerja Zending Belanda di Nieuw Guinea ( Tanah Papua ) yang masih hidup dan ditawan Jepang dan berapa yang sudah meninggal ? Ada yang dibunuh ada ada yang masih hidup, salah satunya adalah I.S.Kijne.

Ratu Juliana kemudian memerintahkan I.S.Kijne untuk menemuinya di Istana Kerajaan Belanda pada tahun 1946, namun karena kecintaannya terhadap Bangsa Papua, Kijne lebih memilih kembali ke Papua untuk melihat perkembangan Papua akibat Perang Dunia II namun dia harus melayani sebagai pendeta di Medan Sumatera Utara ( Oktober 1945- Mei 1946 ), barulah I.S.Kijne berkesempatan mengunjungi Papua dan memulai membangun misi barunya.

Setelah bebas dari tawanan dalam pengasingan di Belige Sumatera Utara, Kijne juga kembali ditawarkan untuk bekerja di Malang Jawa Timur dan Medan Sumatera Utara dengan tawaran gaji tiga kali lipat seperti dengan jaminan dan fasilitas memuaskan lainnya tetapi Kijne menolak tawaran tersebut dan memilih tetap pulang untuk membangun kembali puing-puing sekolah dan gereja yang rusak akibat PD II sekaligus membangun kembali peradaban Papua.

Cornelis Mesakh Gossal mengisahkan pada tahun 1930 Kijne ditawari oleh Departemen Kebudayaan Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi Direktur Kweek School di Jawa dengan gaji tiga kali lipat dengan jaminan pension dan segala fasilitas yang menjanjikan dan sangat memuaskan, tetapi Kijne menolakanya. Kijne lebih menjunjung tinggi panggilan Tuhan untuk mendidik pemuda-pemuda Papua yang masih terbelakang untuk dipsersiapkan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan.

Januari 1947, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke negeri Belanda sekaligus bertemu dengan Ratu Juliana, pada kesempatan ini, Ratu Juliana menganugerahkan penghargaan sebagai “ Bapak Orang Nieuw Guinea “ Orange

Cinta Membawanya Kembali Membangun Puing-Puing Peradaban Baru Bangsa Papua

Ketika diwawancarai wartawan Harian Leiden, tentang pekerjaannya di Papua yang sudah rusak berat, telah menderita ditawan, dan tawaran menggiurkan yang datang kepadanya untuk mengabdi di tempat lain dengan gaji 3 kali lipat namun dia lebih memilih kembali ke Papua, I.S.Kijne mengatakan bahwa Tanah dan Bangsa Papua adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup dan keluarga saya.

Kecintaan Kijne yang begitu besar terhadap Papua telah ditunjukkannya melalui Mansinam dan Miei dalam membimbing dan mengasuh anak-anak Papua, tak pernah sekalipun I.S.Kijne maupun Mama Jopie memarahi anak didiknya, apalagi mengatakan mereka bodoh, yang dilakukannya adalah berdoa dengan mereka.

Karena kecintaannya juga, ketika kembali dari pengasingan di Sumatera Utara, Kijne membangun kembali puing-puing sekolah dan gereja yang hancur akibat Perang Dunia II. Terinspirasi dengan kehadiran Pasukan Sekutu Hitam pada PD II, anak-anak Papua ingin berkarir di segala bidang maka Kijne seperti mereka maka dibukalah Institute Joka yang akan mendidik anak-anak Papua untuk dapat melanjutkan pendidikan ke bidang-bidang lain seperti Pamong Praja, Polisi, Pertukangan, Guru, Perawat dan lain-lain.

Menjadi Direktur di Institute Joka ( 1949-1951 ), sekolah di Miei pun ditutup karena Kijne lebih berkosentrasi di Joka sekaligus menjabat sebagai Ketua Zending Keempat dan Ketua Zending Keempat ( 1949-1953). Melepaskan jabatan Direktur Joka Institute dan Ketua Zending kepada F.C.Kamma, I.S.Kijne pergi ke Serui mendirikan Sekolah Theologi RAZ di Serui untuk memproduksi para pendeta dan guru jemaat ketika nanti GKI DI Irian Barat sudah menjadi gereja Mandiri.

Di Serui, I.S.Kijne bersama teman-teman Zendelingnya, terutama F.C.Kamma mempersiapkan berdirinya GKI Di Irian Barat secara resmi pada 26 Oktober 1956. Usianya yang makin senja serta Kondisi politik yang makin tidak menentu membuat Kijne mengambil keputusan untuk kembali ke kota kelahirannya.

Perpisahan Yang Mengharukan

Sebelum pulang ke Belanda setelah bertugas di Serui 1958, I.S.Kijne mengunjungi seluruh murid-murid dan rekan kerjanya baik di Jayapura, Teluk Wondama dan Kepala Burung Tanah Papua, dan berangkat dari Biak dengan pesawat KLM. Disalaminya mereka satu per satu disertai pesan-pesan serta melaksanakan perjamuan dengan mereka.

Di Wondama murid-muridnya berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pelabuhan sambil berucap..masa pandita,tabea au so, sjen Jesus be berkat au ( Tuan Pendeta, selamat jalan, Tuhan Jesus memberkati mu). Kijne berjalan sambil melambaikan tangan kepada semua orang yang mengantarnya diiringi music suling tambur.

Sesekali jalannya harus terhenti karena murid-muridnya menyanyikan lagu Seruling Emas 33 “ Kami Dengar Bapa Mau Berangkat “ dan Mulialah bentangan langit bersandar pada “ Wondiwoi”. Kakinya terasa berat untuk melangkah menaiki kapal yang akan membawanya pergi, bibir tersenyum namun hatinya sedih karena harus meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Kapal Zen yang membawanya berputar mengelilingi Wasior Ke Miei sebanyak tiga kali kemudian membelah samudera menghilang meninggalkan Teluk Wondama.

Penentuan Pendapat Rakyat dan Serangan Jantung

Pulang ke negerinya tidak berarti I.S.Kijne memutus hubungan dengan Tanah dan Bangsa Papua. I.S.Kijne tetap bekerja di pusat Zending dan menjadi dosen yang mengajarkan mata kuliah Etno Sosiology dan Antropology Budaya Gereja-Gereja di Indonesia hingga 1959 dan menjadi penulis dan kepala perpustakaan sejak tahun 1964-1969.

Karena kecintaan Kijne memiliki harapan sangat besar untuk Bangsa Papua dapat memimpin dirinya sendiri, setiap perkembangan pekerjaan Zending maupun politik di Tanah Papua diikutinya dengan baik. Ketika mendengar hasil Penentuan Pendapat Rakyat dimana Rakyat Papua memilih bergabung dengan Indonesia, Kijne merasa terpukul dan sangat kecewa sekali, kesehatannya mulai menurun drastic.

Setelah pelaksanaan Pepera tahun 1969, I.S.Kijne berkata kepada istrinya Mama Jopie di Vlaardingen ( Pebruary 1970 ) bahwa orang Papua memilih bergabung dengan Indonesia dibawah intimidasi dan manipulasi politik sebab Utusan PPB Ortizan pun dibawah tekanan militer Indonesia, hal ini membuat Kijne prihatin dan menyesal hal yang sangat buruk akan menimpa Bangsa dan Tanah Papua.

” Hal yang buruk dalam sejarah peradaban manusia Papua dan dikemudian hari membuat Tanah dan Orang Papua akan menyesal seumur hidupnya di Tanah yang diberkati namun tidak dihargai oleh Bangsa Papua sendiri. “

Ketika dinyatakan oleh Holvast wartawan Harian Leiden kenapa anda pulang Ke Belanda padahal tenaga dan pikiran mu masih dibutuhkan disana.

I.S.Kijne mengatakan,

” Sebenarnya saya tidak mau pulang karena pasti disana saya akan diberikan tempat oleh Bangsa Papua untuk seluruh keluarga dan anak cucu namun saya harus pulang ke negeri Belanda dengan terpaksa karena situasi politik yang tidak baik antara Belanda, Indonesia dan Penguasa Dunia “ ( Amerika dan sekutunya,Rusia, China dan sekutunya).

Saya pulang dengan keyakinan bahwa Tanah dan Bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang mempunyai kepentingan politik atas segala kekayaan dari hasil tanah itu tetapi mereka tidak akan membangun manusia Papua dengan kasih sayang, sebab kebenaran dan keadilan akan diputar balikkan serta banyak hal baru yang akan membuat orang Papua menyesal, tetapi itu bukan maksud Tuhan, karena itu keinginan manusia.

Sebab, pasti suatu saat Orang Papua akan melihat maksud Tuhan untuk Tanah dan Alamnya yang masih penuh misteri, rahasia dan kepastian untuk sebuah masa depan yang pasti.

Sabtu, 14 Maret 1970, sebuah telegram yang mengejutkan diterima oleh Pimpinan Sinode GKI Di Irian Barat yang dikirim oleh Sekretaris Umum Dewan Pekabaran Injil Gereja Hervormd Nederland. Bapak Orang Nieuw Guinea ISack Samuel Kijne telah menghadap Sang Penciptanya pada tanggal 11 Maret 1970 karena Serangan Jantung.        ( Joe Stefano Anak Guru Jemaat GKI Di Tanah Papua )

Sumber :

– Hanz Wanma, Domine Izak Samuel Kijne, Mengenang Hidup dan Karyanya Untuk Tanah dan Bangsa Papua, JW Press, 2016.
– Decky Wamea, Peranan Zending dalam Bidang Pendidikan, Sasako Papua Publisher, Manokwari, Agustus 2010.

Anak anak Tolikara Apatis Pemberian Imunisasi Faksin Campak Murbila Dan Rubela

tolipost2
Petugas Kesehatan sedang suntik di SD YPPGI Karubaga ( Dok. Diskominfo Tolikara)

Karubaga, Tolipost — Program Nasional Imunisasi Campak, Morbila dan Rubela se Indonesia yang di jadwalkan untuk Papua mulai dari bulan Agustus dan September 2018 , telah di lakukan di setiap kabupaten kota se- Papua . untuk Kabupaten Tolikara sendiri terjadwal pada Bulan September 2018.

Dinas kesehatan Tolikara melalui Puskesmas Karubaga telah memulai kegiatan imunisasi Campak , Morbila dan Rubela sejak, 3 september 2018, di lakukan dengan sistim jemput bola untuk anak usia sekolah, dengan turun langsung ke sekolah – sekolah yang tersebar di kota Karubaga mulai dari tingkat Paud , SD,SMP.

Dokter Herdika Pareang menjelaskan tentang program ini sangat baik . karena Imunisasi ini merupakan pemberian Faksin untuk menjaga kekebalan tubuh terhadap penyakit campak Morbila, dan Rubela yang kapan saja dapat menyerang anak anak mulai dari usia Sembilan bulan sampai lima belas tahun, dan ini adalah salah satu program Pemerintah untuk mencegah penyakit tersebut di seluruh Indonesia.

program ini sangat baik untuk anak anak karena dengan program ini kita bisa meningkatkan kesehatan anak anak di seluruh Indonesia khususnya di kabupaten Tolikara-Papua. Kata Dokter Herdika Kepada Media, saat memberikan faksin kepada ana-anak SD YPPI Karubaga, Karubaga Senin 10/09/2018.

dokter Herdika mengatakan kendala yang kami temui di lapangan khusus untuk kota Karubaga , kurang nya pemahaman orang tua terhadap imunisasi dan pemberian faksin Campak, murbila dan Rubela , kurang nya pemahaman ini karena kurang sosialisasi terhadap masyarakat , sehingga kalau mau di akumulasi sekitar 40% masyarakat kususnya para orang tua murid tidak memberikan ijin anaknya di berikan faksin.

saya melihat kendala yang selama ini kami hadapi saat melakukan program ini terutama di sekolah sekolah itu banyak anak murid yang tidak bersedia untuk di imunisasi , ketika di Tanya mengapa , anak tersebut mengatakan kalau orang tuanya tidak memberikan ijin untuk di suntik karena takut akibat fatal seperti cacat atau sakit lainnya , “

hal ini bukan salah orang tua dan anak tetapi karena sosialisasi yang kurang untuk masyarakat , di katakana lebih lanjut oleh dokter Herdika, sosialisasi ini di lakukan oleh dinas kesehatan , sedangkan saya hanya menjalankan tugas eksekusi pemberian faksin dan imunisasi tegasnya .

Sementara itu Kabid P2 Dinas Kesehatan, Kostan Jikwa ketika dikonfirmasi mengenai penolakan yang terjadi pada saat pemberian faksin kepada anak anak di kota karubaga, sebenarnya sudah di lakukan sosialisasi dengan baik, namun beberapa waktu lalu terjadi insiden ketika pemberian faksin yang di lakukan pada anak epilepsi mengakibatkan cacat sehingga ada penolakan dari para guru dan orang tua.

” kami sudah melakukan sosialisasi dan sedang terus melakukan kampanye sosialisai ke distrik distrik dan terutama di dalam kota karubaga, tetapi pemahaman orang tua dan guru ini melihat kejadian yang lalu tentang pemberian faksin terhadap anak yang epilepsi mengakibatkan kefatalan, tetapi insiden ini bukan terjadi di Tolikara, insiden ini terjadi di distrik kurulu kab Jayawijaya beberapa waktu lalu, tegas kostan dalam wawancara fia telpon.

Sementara di waktu dan tempat yang sama wakil kepala sekolah SD YPPGI Karubaga , Kristian Adi ketika di konfirmasi mengenai jumlah anak yang menerima faksin , beliau menjawab kami dari pihak sekolah sudah memberikan arahan kepada anak anak untuk pemberian faksin ini, namun banyak juga dari anak anak murid yang menolak untuk di suntik faksin , ini karena orang tua mereka yang melarang ,

kami dari sekolah beberapa hari sebelum petugas kesehatan dari puskesmas datang kami sudah memberikan informasi dan pengarahan kepada murid kami , namun semestinya sosialisasi ini harus lebih aktif dari dinas terkait sehingga ada pemahaman yang baik dari orang tua, ucapnya.

Adi menambahkan untuk murid kami khusus di SD YPGI bisa di katakan 60% yang bersedia di berikan faksin , meskipun hanya 60% namun antusias dari murid cukup baik, dan ini merupakan program yang bagus tegas Adi. Kominfo Tolikara(*)

 

Posted by: Admin

Copyright ©tolikarakab.go.id“sumber”

Hubungi kami di E-Mailredaksi.tolipost@gmail.com

Buruh Tani di Selubung Mitos Agraria

Gambar-situs web-buruh-tani-dan-mitos-agraria

Surti, perempuan 42 tahun, terlihat tak henti-hentinya menghalau peluh dari dahinya. Siang itu terik matahari memang menghujam tanpa ampun, menerima musim panen padi kemarau di desa Njomplang. Masih berbalut pakaian lengan panjang, caping yang masih diproses tetapi sudah rombengan, dan syal tutup leher, tetap saja Surti puas kepanasan sambil terus mengayunkan sabitnya ke hamparan padi yang menguning. Di hiasi deretan sungai sebagai latar belakang, gemericik air sungai kecil yang mengaliri sawah dan di kelilingi rerimbunan pohon kelapa yang hijau, kawasan persawahan padi di Jawa memang akan memikat orang-orang kota yang dibiarkan dengan bantuan. Tapi keindahan macam ini rasanya tak terlalu guna untuk Surti. Kerutan di sekujur tubuh dan ternyata kelam menampakkan dirinya dua puluh tahun lebih tua dari tua sebenarnya.

Bersama Berbagi, Juki, Surti bekerja dalam satu tim memanen padi milik juragan yang memiliki tanah luas beberapa hektar. Meski terik panas, tapi musim panen hanya ditunggu tidak hanya oleh Surti dan Juki, tapi juga buruh-buruh tani lainnya. Maklum saja, upah dari memanen padi menjanjikan lebih tinggi daripada pekerjaan tani lainnya, mereka dapat bagian sepertujuh  (moropitu)  dari total hasil panen. Jika tidak lagi musim panen, Surti dan kerja berhasil jadi tanam, menyiangi, menyemprot dan memupuk padi. Karena tak punya tanah sendiri, mereka harus menerima penyakap tanah milik orang lain seluas sekitar 3600 m2 (0,3 ha). Hasil panen dari penyampaian dibagi dua dengan pemilik tanah  (maro) Dimana Surti dan harus ada sendiri biaya produksi (pupuk, pestisida, dll). Penghasilan sebagai petani penyakap sama sekali tak mencukupi kebutuhan mereka berdua dan satu lagi yang tengah duduk di bangku SMK. Tidak hanya pekerja tani, untuk menutup kebutuhan harian, suami Surti juga bekerja sebagai buruh bangunan kompilasi tidak bekerja musim panas (Agustus – Oktober) sementara Surti kerja serabutan di setiap ada tawaran pekerjaan.

Nasib petani seperti Surti dan hasil (petani dalam arti menanam dan menghasilkan hasil pertanian) berkebalikan dengan nasib petani lain seperti Cokro. Tanahnya sekitar lima hektar yang membuat tetanggnya seperti Surti, menjulukinya sebagai “Tuan Takur”. Traktornya sebanyak dua buah dengan dua sopir sebagai tenaga tetap. Di musim panen, lima ribu buruh tani mesti dikerahkan untuk memangkas batang padi miliknya. Lebih banyak buruh didatangkan dari luar desa, yaitu perdesaan di perbatasan yang sangat jarang sawah dengan luasnya kemiskinan yang membuat mereka siap bekerja terlepas dari upah murah. Buruh-buruh tani di desa Njomplang seperti Surti sudah tak mau bekerja untuk Cokro yang dikenal luas sebagai “Juragan Pelit”. Tapi kepelitan-nya ini barangkali jadi rahasia Cokro untuk kian kaya raya. Tanahnya terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Bebas dengan kelakar bangga, pria 56 tahun ini berujar “sampai tidak boleh lagi beli tanah di sini”. Menantunya dikenal sebagai pengusaha sukses di kota sementara putrinya yang paling muda masih kuliah di Kampus ternama Jakarta.

Mitos Agraria

Sekelumit cerita Surti dan Cokro dalam latar pertanian padi di perdesaan Jawa sepertinya amat jarang kita jumpai dalam narasi soal petani belakangan ini. Akademisi, pegiat NGO maupun aktivis politik yang kebanyakan dari kota, lebih sering menggambarkan perdesaan sebagai kawasan hijau nan asri, dengan segala keindahan alam dan keunggulan “kebijaksanaan lokal”-nya. Di desa yang seperti ini, dibayangkan petani-petani memiliki penguasaan sumberdaya-sumberdaya penting penghidupan (tanah, teknologi, modal, tenaga) yang relatif setara dan hidup dengan semangat “gotong royong” dan “guyup rukun” untuk kebaikan bersama. Tetapi sebagaimana nukilan cerita Surti-Cokro dari riset saya di Jawa Tengah dan berlimpah studi agraria kritis di Jawa (Stoler, 1977; Husken, 1988; White & Wiradi, 1989; Pincus, 1996; Breman & Wiradi, 2002) sudah tunjukkan, bayangan petani sebagai komunitas homogen seperti itu hanyalah mitos yang tak punya dasar.

Tetap meluasnya mitos agraria sebagian karena simpati intelektual yang kadang-kadang naif terhadap nasib petani keseluruhan. Dengan menyamaratakan petani dalam satu analisis sapuan, seorang intelektual mampu membuat  tagline yang menggetarkan: “Petani” vs “Penguasa” (Rachman, 1999). Alasan yang sering dianggap sebagai masalah “kemendesakan”. Ini biasanya disampaikan oleh aktivis agraria yang tengah mendampingi dan mengadvokasi petani dalam menghadapi ancaman penggusuran baik oleh negara maupun korporasi. Aktivis ini mungkin membuat petani terbagi dalam kategori sosio-ekonomi yang berbeda dan berbeda menerima negara / perusahaan juga memiliki perbedaan yang berbeda untuk masing-masing petani yang berbeda. Tapi karena ada masalah darurat berupa penggusuran, kampanye yang dipakai kemudian juga mengalokasikan “Petani” vs “Negara-Korporasi”. Bagi serikat tani tertentu, kampanye “Petani” di satu sisi melawan “Penguasa / Negara” dan “Korporasi” biasanya mencerminkan karakter dari serikat tani yang diperuntukkan bagi petani pemilik tanah.

Di samping alasan praktis-politis di antara para intelektual-aktivis dalam membantu membela mitos petani homogen, mitos ini juga punya dasar teoretiknya sendiri. AV Chayanov, tokoh utama populisme agraria, Rusia sudah sejak awal dua puluh menegaskan watak utama petani yang berorientasi pada subsistensi. Dengan mengabstraksikan pengalaman petani di Rusia, Chayanov melihat bahwa petani tidak mendasarkan proses produksi mereka dengan kalkulasi untung-untung menghasilkan uang dalam ekonomi kapitalis. Kalkulasi yang mereka pakai adalah ‘rasio pekerja-konsumen’ ( rasio pekerja-konsumen  )  (Chayanov, [1966] 1986: 48) Di sini, rumah tangga petani akan menghitung produksi pertanian mereka berdasarkan jumlah pekerja (orang dewasa usia kerja) yang tersedia di rumah tangga dan kebutuhan pelanggan (pekerja ditambah tanggungannya: anak-anak dan orang tua yang telah tidak bekerja) di unit rumah tangganya.

Dari anggapan ini, rumah tangga petani dalam kondisi normal tidak akan memiliki insentif untuk memproduksi lebih besar dari kebutuhan pertanggungan (akuisisi), karena untuk menghasilkan lebih besar, akan berarti setiap pekerja di rumah itu mesti menambah beban kerja lebih banyak lagi. Sebaliknya, dalam kondisi krisis (alam maupun sosial) petani akan melepaskan diri sendiri dengan ‘eksploitasi diri sendiri’ (mengurangi konsumsi konsumsi atau menambah beban kerja per pekerja dalam rumah tangga) untuk menghindari pelepasan tanah yang mereka inginkan. Dari sinilah, petani menggambarkan sebagai komunitas homogen yang menuntut etika subsistensi mereka sepanjang waktu. Karena sifatnya yang relatif homogen pula, petani dibayangkan menjunjung tinggi nilai solidaritas atau budaya egalitarianisme seperti disebut Theodor Shanin (1973),

Diferensiasi Kelas Petani

Keterbatasan pandangan Chayanov yang terlihat jelas ketidakmampuannya untuk mengikutsertakan dengan aspek serius relasi sosial dengan sistem ekonomi, politik dan sosial yang lebih luas dari pertanian dalam lintasan historis tertentu. Dengan fokus pada siklus demografi internal rumah tangga petani, Chayanov mempertimbangkan kondisi sosial di luar rumah tangga yang sebatas ‘eksternal’, faktor luar yang-olah hanya menyediakan sesekali memberikan keuntungan baik untuk membeli rumah tangga petani. Ia memang memberi penjelasan soal tanggapan ‘petani’ terhadap faktor ‘eksternal’ ini, tetapi hanya mempertimbangkannya saja pada strategi ‘adaptasi’ dari ‘petani’ yang wataknya dibayangkan tidak berubah sepanjang waktu (tetap subsistensi) (Bernstein, 2009: 65). Jadi dalam kondisi normal atau surplus, Petani akan ‘beradaptasi’ dengan perubahan tertentu tanpa mengubah ‘watak subsistensinya’. Begitu pula dalam krisis, strategi ‘adaptasi’ dengan ‘eksploitasi diri’ akan dilakukan tanpa mentransformasi ‘watak subsistensi’ itu sendiri. Katakanlah, dalam penilaian ini maka petani baik di jaman feodal maupun kapitalisme (dan jaman setelah kapitalisme) wataknya tetap sama: subsistensi. Sulit membayangkan konsep ini tidak akan jatuh pada pengamatan ahistoris.

Pengamatan tentang petani dalam posisinya di tengah arus perubahan sosio-ekonomi yang lebih luas mensyaratkan perhatian terhadap perubahan proses relasi produksi pertanian dan non-pertanian dalam masa tertentu.Tidak ada jalan lain yang kita perlukan Terkait dengan pembahasan mengenai kemunculan kapitalisme yang tidak perlu diulang panjang lebar (Brenner, 1976, 1982; Wood, 2002), proses komodifikasi penghidupan yang memerlukan kemunculan kapitalisme agraria di Inggris menggunakan watak petani pra-kapitalis menggunakan fundamental. Komodifikasi membuat produksi dan reproduksi sosial petani hanya dapat dilakukan melalui produksi komoditas. Dalam produksi untuk pasar ini, Sebagian besar petani dapat lebih produktif dan dengan demikian mereka memperoleh lebih banyak dan memperoleh lebih dari mereka sebagai petani kapitalis sedangkan petani lain gagal melakukan dan oleh karena itu diperlukan untuk bergabung dengan buruh upahan. Di kawasan pinggiran kapitalis yang memindahkan komodifikasi lebih lanjut, proses komodifikasi tidak selalu bertentangan dengan hasil transformasi di Inggris yang menyisakan kapitalis dan tenaga kerja dalam posisi “pertentangan kelas yang tipikal”. Di sini, sebagian besar petani gurem masih punya tanah sementara mereka bergantung pada kerja upahan untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Di kawasan pinggiran kapitalis yang memindahkan komodifikasi lebih lanjut, proses komodifikasi tidak selalu bertentangan dengan hasil transformasi di Inggris yang menyisakan kapitalis dan tenaga kerja dalam posisi “pertentangan kelas yang tipikal”. Di sini, sebagian besar petani gurem masih punya tanah sementara mereka bergantung pada kerja upahan untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Di kawasan pinggiran kapitalis yang memindahkan komodifikasi lebih lanjut, proses komodifikasi tidak selalu bertentangan dengan hasil transformasi di Inggris yang menyisakan kapitalis dan tenaga kerja dalam posisi “pertentangan kelas yang tipikal”. Di sini, sebagian besar petani gurem masih punya tanah sementara mereka bergantung pada kerja upahan untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Meskipun begitu, komodifikasi sudah pasti mengubah watak petani  (petani)  di era pra-kapitalis yang mengantarkannya pada karakter baru di masa kapitalisme. Mereka tidak lagi bisa disebut  petani  yang selalu berorientasi untuk selalu mendengarkan. Akibat komodifikasi, mereka menjadi apa yang disebut sebagai produsen kecil komoditas  (produsen komoditas kecil)  yang dalam klasifikasi deskriptif cukup sering disebut  petani  (Habibi, 2018). Sebagai produsen kecil, perdagangan yang dikondisikan dengan logika pasar, sebagian besar petani  (petani)  dapat menjadi akumulator (kapitalis) yang terlibat dalam ekspansi reproduksi  (perluasan reproduksi), sebagian besar yang lain jadi ‘borjuis kecil’ untuk reproduksi sederhana, mereka  reproduksi sederhana  yang disebut subsistensi. Banyak yang berbaring namun masih memiliki tanah, kadang berhasil dan kadang-kadang gagal memenuhi kebutuhan, meningkatkan ‘tekanan subsistensi’  ( menjadi tekanan)  dan menjadi petani ‘semi-proletariat’ (Gibbon & Neocosmos, 1985; Kay, 1989) atau ‘ Petani marjinal ‘(Bernstein, 2010). SEMENTARA sebagian Produsen lain Yang Yang Kalah bersaing Dipaksa Kehilangan sarana produksinya sama Sekali Dan Bergabung Jadi buruh upahan untuk review Berjuang tiap hari Sekedar Bertahan Hidup  (survival) .

Nasib Surti menggambarkan petani-pekerja yang mesti berjuang harian untuk bertahan hidup dengan mencari setiap pekerjaan upahan yang tersedia. Surti masih lebih sedikit beruntung punya hak garap tanah, karena banyak buruh tani lain sama sekali tidak memperoleh hak penyakapan tanah. Sebaliknya, kemampuan Cokro untuk mempekerjakan buruh-buruh tani sepanjang tahun, terus menambah tanah dan traktor memperlihatkan aktivitasnya mengakumulasi sebagai petani kapitalis.

Pengaturan Buruh Tani

Buruh tani seperti Surti di Indonesia memang sering tidak tampak oleh banyak orang perkotaan, meskipun mereka-lah penggerak utama roda produksi pertanian. Jumlahnya juga masih jutaan dan menjadi salah satu penyumbang terbesar kemelaratan di perdesaan. Sialnya, mereka seperti hilang dari pandangan negara. Berbeda dengan buruh pabrik manufaktur yang umumnya diatur oleh negara (formal), buruh tani seperti Surti bekerja tanpa campur tangan negara (informal). Jika buruh pabrik dilindungi aturan normatif berupa upah minimum, Surti menuntut upah minimum pun tidak bisa karena tidak ada payung aturannya. Ini makin mengenaskan mengingat upah buruh tani seperti Surti rata-rata lebih rendah dari upah buruh pabrik (The Economist Intelligence Unit, 2015).Kewajiban menyediakan jaminan sosial juga terbatas untuk buruh formal. Membayangkan Surti memperoleh hak cuti melahirkan atau pensiun di usia senjanya, nampak masih terlalu jauh. Terlebih, sarana berserikat untuk meningkatkan posisi tawar berhadapan dengan majikan dalam relasi industrial sebagaimana dijamin undang-undang, masih terbatas untuk buruh formal.

Himpitan terhadap buruh tani memaksa mereka bolak-balik mencari pekerjaan dengan upah lebih tinggi antara desa-kota. Sebagian akhirnya menetap di perkotaan jadi buruh bangunan atau pekerjaan informal lain. Bagi mereka yang tetap tinggal di desa, mereka kian menggantungkan reproduksinya dari kiriman uang sanak keluarga di perkotaan atau luar negeri. Mereka semua menjadi bagian dari ‘surplus populasi relatif’ yang tak terserap oleh lapangan pekerjaan layak di Indonesia, terombang-ambing dalam pekerjaan rentan sekaligus menjadi alat pendisiplinan pekerja di sektor inti produktif kapital (formal) agar tidak menuntut upah lebih tinggi maupun kondisi kerja lebih baik (Habibi & Juliawan, 2018).

Negara memang tidak sama sekali absen dari perdesaan. Salah satu intervensi negara yang paling populer ialah program ‘Dana Desa’. Tapi langkah itu bersandar kembali pada mitos agraria di depan: masyarakat desa yang relatif setara dan hidup gotong royong untuk kemakmuran bersama. Akibatnya jelas: alih-alih mengubah tatanan timpang di perdesaan, Dana Desa sekedar memberi uang untuk seluruh segmen sosio-ekonomi di desa tanpa bobot bantuan lebih bagi mereka yang paling lemah seperti Surti. Tidak jarang bahkan Dana Desa itu di korupsi oleh elite desa yang biasanya juga adalah petani kapitalis, atau dana digunakan untuk menambah kenyamanan para elite, seperti misalnya untuk membangun kantor desa yang megah.

Program Dana Desa juga bahkan dirayakan oleh banyak pegiat NGO dengan melihatnya sebagai bentuk perhatian pemerintah yang telah lama mengabaikan pembangunan di desa. Meski Dana Desa memang menyediakan lapangan kerja non-pertanian saat masa non-tanam yang memberi pendapatan tambahan bagi buruh-buruh di desa, tapi langkah semacam itu hanya bersifat sementara dan sama sekali tidak menyentuh akar persoalan terbatasnya kesempatan kerja di perdesaan. Retorika pemerintah mengenai ‘reforma agraria’ juga hanya berujung pada sertifikasi tanah yang bukannya menghantam ketimpangan penguasaan tanah di perdesaan, tapi jaminan hak milik pribadi seperti itu sekedar memfasilitasi petani kapitalis untuk mengakumulasi lebih lanjut. Cukup suram memang, nasib buruh tani seperti Surti dan suaminya tak akan membaik selama mitos agraria yang menjadi dasar berbagai intervensi sosial di perdesaan itu tidak dikubur sekarang juga.

Referensi

Bernstein, H. (2009). “V.I. Lenin and A.V. Chayanov: looking back, looking Forward”, The Journal of Peasant Studies, 36L1), 55-81

___________, (2010). Class dynamics of Agrarian change. Sterling, VA: Kumarian Press.

Breman, J and Wiradi, G (2002), Good Times and Bad Times in Rural Java: Case Study of Socio-economic Dynamics in Two Villages towards the End of the Twentieth Century, Leiden: KITLV Press

Brenner, R. (1976). “Agrarian Class Structure and Economic Development in Pre-Industrial Europe”. Past & Present, (70): 30-75

_________, (1982). “The Agrarian Roots of European Capitalism”. Past & Present, (97). 16-113

Chayanov, A.V. ([1966] 1986). A.V. Chayanov on the Theory of Peasant Economy. Eds. D. Thorner, B. Kerblay and R.E.F. Smith, second edition. Madison, WI: Universityof Wisconsin Press

Gibbon, P. And M. Neocosmos, (1985), ‘Some Problems in the Political Economy of “African Socialism”’, in H. Bernstein and B.K. Campbell (ed.), Contradictionsof Accumulation in Africa. Studies in Economy and State, Beverley Hills: Sage.

Habibi, M (2018), “‘Petani’ dalam Lintasan Kapitalisme”, Indoprogresshttps://indoprogress.com/2018/04/petani-dalam-lintasan-kapitalisme/

Habibi, M & Juliawan, BH (2018), “Menciptakan Tenaga Kerja Surplus: Transformasi Neo-Liberal dan Pengembangan Populasi Surplus Relatif di Indonesia”,  Jurnal Kontemporer Asia,  48 (4): 649-670

Husken, F (1988),  Masyarakat Desa dalam Perubahan Jaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980,  Jakarta: Grasindo.

Pincus, J (1996),  Kekuatan Kelas dan Perubahan Agraria: Tanah dan tenaga kerja di Pedesaan Jawa Barat,  London: MacMillan Press.

Rachman, NF (1999),  Petani dan Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria di Indonesia,  Yogyakarta: KPA dan Insist

Shanin, T. (1973). “Sifat dan Logika Ekonomi Petani: Generalisasi.”  Jurnal Studi Petani  1 (1): 63–80.

Stoller, AL (1977), “Panen Padi di Kali Loro: Studi Kelas dan Hubungan Perburuhan di Pedesaan Jawa”,  American Ethnologist,  4 (4): 678-698.

White, B & Wiradi, G (1989), “Basis Ketimpangan Agraria dan Nonagrarian di Sembilan Desa Jawa”, Dalam  Transformasi Agraria: Proses Lokal dan Negara di Asia Tenggara,  (Eds) G Hart A. Turton dan B. White, Barkeley: University of California Press

Wood, EM, (2002). Asal usul kapitalisme: Pandangan yang lebih panjang . London; New York: Verso.

_____________________
Tulisan ini 
sebelumnya dimuat di Majalah Basis edisi  No. 11-12, Tahun ke-67, 2018
Dimuat ulang untuk tujuan mengaksesnya.

Selamat jalan Kebadabi, pejuang dan pembela rakyat Papua

Jenazah Dr Neles Kebadabi Tebay, Pr saat disemayamkan di rumah duka RS Santo Carolus Jakarta
Jenazah Dr Neles Kebadabi Tebay, Pr saat disemayamkan di rumah duka RS Santo Carolus Jakarta

 

Portal Berita Tolikara No. 1 | Tolipos 

Jayapura –  Awan duka menyelubungi Tanah Papua. Salah satu tokoh pejuang dan pembela rakyat Papua, Pastor Dr Neles Kebadabi Tebay, Pr berpulang ke rumah bapa di surga.

Pastor Neles Kebadabi Tebay, Pr, menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit (RS) Santo Carolus Jakarta, Minggu, 14 April 2019, di usia 55 tahun. Almarhum sebelumnya diintensifkan karena didiagnosis penyakit kanker tulang.

Almarhum menghabiskan waktu sebagai pendidik dan pengajar di kampus selama 26 tahun. Hingga wafat Pater Neles masih aktif sebagai Ketua STFT Fajar Timur.

Neles Tebay juga adalah mantan wartawan dan penulis artikel-artikel di surat kabar berbicara Inggris, The Jakarta Post, dan sejumlah media lokal dan nasional.

Neles Tebay, Pr menerima sakramen imamat pada tanggal 28 Juni 1992, di Gereja Paroki Waghete, Kabupaten Deiyai. Ayah Neles Tebay diurapi oleh Uskup Keuskupan Jayapura Alm. Mgr. Herman Muninghof, OFM. Nama adat yang diberikan kompilasi menerima sakramen pentahbisan yaitu “Kebadabi” (sang pembuka jalan).

Peter Neles Tebay aktif di berbagai kegiatan kesejahteraan dan fokus pada isu-isu perdamaian. Tahun 2013 Beliau mendapatkan penghargaan Tji Haksoon ( The Tji Haksoon Justice & Peace ).

Pembantu Ketua Dua Sekolah Tinggi Teologi Filsafat Fajar Timur, Konstantinus Bahang, OFM mengatakan pihaknya berbelasungkawa atas kepergian Pastor Neles Kebadabi Tebay, Pr. Dia meninggal pukul 12.40 Waktu Indonesia Barat atau pukul 02.00 Waktu Papua di Rumah Sakit, St. Carolus Jakarta.

Konstantinus Bahang menyampaikan kesannya sakit Pater ini berkembang. Dia sakit sejak tahun 2016 dan sempat dioperasi, karena pelapukan tulang belakang dan diganti dengan pena. Setelah itu Pater Neles melakukan terapi yang cukup lama. Menerima dia kembali pulang ke Jakarta untuk teruskan visum terapi.

Konstantinus Bahang mengatakan, sejak Desember tahun lalu Pater Neles sudah berangkat ke Jakarta untuk melakukan perawatan. Sejak itu Dia sudah gawat dan inap di Rumah Sakit Carolus Jakarta. Sejak itu dia tidak pulang ke Jayapura dan meminta kembali mata kuliahnya.

“Dia layak mengatakan bahwa sampai akhir bulan April dia tidak bisa pulang. Dari sekian banyak pembezuk juga mengatakan demikian, ”katanya.

“Kemarin kami baru mendengar dari Ayah Yan bahwa Ayah Neles Tebay sudah keluar dari ICU, mungkin karena Ayah Ayah Anda kembali ke Papua. Setelah Pater Yan Kamu tiba lalu Pater Neles Tebay menghembuskan nafas terakhir, ”sambungnya.

“Civitas akademika sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Fajar Timur Jayapura, melaksanakan ibadah arwah keselamatan jiwa Pater Neles Tebay ke surga. Minggu 14 April 2018, pada pukul 18.30. WIT, ”katanya usai ibadah di aula St. Yosep, Minggu (14/4/2019).

Konstantinus Bahang mengatakan Wakil Uskup sudah berangkat ke Jakarta untuk menjemput jenazah Peter Neles Tebay.

“Jenazahnya akan pindah ke Jayapura, pada hari Senin malam dan tiba hari Senin pagi. Dia akan dimakamkann pada hari Kamis, di Timika setelah melakukan misa arwah, ”katanya.

Selanjutnya Konstantinus, selama dua hari (Selasa dan Rabu) jenazahnya almarhum disemayamkan di STFT Fajar Timur. Rencana Kamis (18/4/2019) dikirim ke Timika, Mimika untuk dimakamkan.

“Semua proses pemakaman akan ditanggung oleh pihak STFT. Setelah kami berkoordinasi dengan Bapak Uskup Jayapura. Lalu kami meminta untuk STFT yang meminta.

Sebab sepanjang hidup, ia menghabiskan di kampus. Dia masih ketua yang sebenarnya sampai mati masih sebagai Ketua STFT. Untuk mengenangnya kami akan menyemayamkan jenazahnya di kampus, sehingga pelayat bisa mengunjunginya. Sementara teknis penjemputan sementara kami akan diterbitkan dengan pihak kampus dan keuskupan, ”katanya.

Konstantinus mengatakan pihaknya penting, Pastor Neles Tebay karena beliau sangat penting bagi STFT dan masyarakat Papua dan Gereja Katolik di Papua.

“Peter Neles orang yang bisa menjembatani banyak pihak. Kami dengan pemerintah kami dengan masyarakat, ”katanya.

Konstantinus mengatakan Pater Tebay juga terlibat dalam kegiatan masyarakat, Ia juga ikut sosial.

“Kami sangat mendambakan Pater Neles Tebay. Almarhum juga selalu terkait hubungan baik antara pihak kampus baik masyarakat pemerintah dan masyarakat mahasiswa dan dosen. Dia sosok yang baik hati, selain itu Dia juga sosok yang humoris, begitu pula ada pertemuan, Dia juga memberikan suasana hangat, suasana yang berbeda dalam pertemuan-pertemuan itu, hal inilah yang membuat kami akan selalu mengingat Pater Neles, ”katanya.

Rekan seangkatan almarhum, Yan Christian Warinussy, Ketua Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Badan Hukum (LP3BH) Manokwari, Papua Barat meminta penggantian dan ikut berbelasungkawa.

“Saya dan almarhum kami memulai meniti karir dan hobi sebagai penulis dan wartawan saat latihan dalam Latihan Jurnalistik Kampungan (Lajurkam) pada tahun 1987 di Pusat Pendidikan Kristen (Puspenka) GKI Di Tanah Papua, Hawaii-Sentani, Jayapura,” katanya kepada Jubi.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa Irian Jaya (YPMD Irja) dilaksanakan dengan Surat Kabar Mingguan (SKM) Tifa Irian dan ajalah ilmiah Prisma Jakarta.

Para pelatih kami antara lain di wawancara senior Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Masmimar Mangiang (Prisma), almarhum Bill Rettob (Tifa Irian), Drs. Lukas Degey (Tifa Irian), Alm. Dr.George Junus Aditjondro (Kabar dari Kampung / KdK YPMD Irja), dan Cliff J. Marlessy (YPMD Irja).

Di mata Yan Christian Warinussy, almarhum Pater Dr Neles Kebadabi Tebay adalah seorang tokoh pemimpin yang mengendalikan senantiasa mencita-citakan Tanah Papua sebagai zona damai melalui dialog yang berhubungan Jakarta-Papua yang membutuhkan lebih banyak untuk mencari solusi yang aman karena konflik sosial-politik yg berkepanjangan sepanjang lebih dari 50 tahun semenjak 1 Mei 1963 hingga saat ini.

Pater Neles nyata telah ditunjuk sebagai tokoh kunci dialog Papua-Jakarta oleh Presiden RI Joko Widodo pada 15 Agustus 2017 lalu di Istana Merdeka-Jakarta.

“Dia ditunjuk dan diundang oleh Wiranto (Menko Polhukam) dan Teten Masduki (Kepala Kantor Staf Presiden / KSP). Itu terjadi saat Presiden bertemu 14 tokoh Papua yang dipimpin Ondoafi Nafri, George Awi termasuk Pater Neles Tebay dan saya sendiri, ”ucapnya.

Pater Dr Neles Kebadabi Tebay, Prentukan di Godide, Kamu Utara, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, pada 13 Februari 1964. Almarhum, menyelesaikan SD dan SMP di kampung halamannya.

Lalu melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) YPK Gabungan. Dia menghabiskan studinya di seminari menengah. Setelah seminari Dia melanjutkankan studio sebagai calon imam di STFT Fajar Timur.

Setelah tamat Pater Neles melanjutkan magisternya di Filipina. Setelah itu kembali dan melanjutkan studinya doktoralnya di Universitas Kepausan Urbania, Roma.

Dia menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur tahun 1990 di Abepura, Papua. Selanjutnya dia ditahbiskan menjadi imam Projo pada Keuskupan Jayapura, 28 Juli 1992, di Waghete, Kabupaten Deiyai.

Dalam perayaan pentahbisan imamatnya, dia diberikan nama adat, Kebadabi, yang dalam bahasa Mee, artinya “orang yang membuka pintu atau jalan”. Dia menyelesaikan program Master dalam bidang Pelayanan Pastoral di Universitas Ateneo de Manila, Philipina, tahun 1997 dengan tesisnya berjudul Ekarian Christian Images of Jesus.

Setelah mengajar teologi di STFT Fajar Timur selama dua setengah tahun (Januari 1998 hingga Juni 2000), dia dikirim ke Roma, Italia, untuk belajar misiologi. Pada bulan Maret 2006, dia menyelesaikan program doktoral di bidang Misiologi di Universitas Kepausan Urbaniana, di Roma. Desertasi doktoralnya berjudul Misi Rekonsiliasi Gereja di Papua Barat dalam Terang Reconciliatio et Paenitentia.

Sejak Januari 2007 hingga wafat, dia mengajar misiologi di STFT Fajar Timur Abepura, Papua. Selain mengajar, dia adalah anggota Forum Konsultasi Para Pimpinan Agama (FKPPA) di Tanah Papua, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua, dan aktif di Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP).

Sejak 2010 hingga sekarang, dia diangkat sebagai anggota Komisi Teologi pada Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Sejak tahun 2013 hingga 2016, dia terpilih menjadi anggota Komisi Karya Misioner di KWI.

Sejak Januari 2010, dia aktif sebagai Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) yang aktif mendorong dialog Jakarta-Papua sebagai sarana yang bermartabat untuk mencari solusi terbaik atas konflik Papua. Dia pernah bekerja sebagai jurnalis untuk Surat Kabar Harian The Jakarta Post, tahun 1998-2000.

Artikel-artikel Opini tentang Tama Papua dapat ditemukan dalam Surat Kabar Harian Jakarta Post, Kompas, Suara Pembaruan, dan Sinar Harapan yang diterbitkan di Jakarta. Artikel yang diterbitkan diterbitkan oleh The Jakarta Post telah dikumpulkan dan diterbitkan sebagai buku dengan judul Papua: Masalah dan Kemungkinannya untuk Solusi yang Damai, oleh Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP), Keuskupan Jayapura, September 2008.

Karya-karyanya yang terdiri dari artikel ilmiah dapat ditemukan dalam jumlah yang banyak, antara lain, Jurnal Ilmiah, Inggris, seperti The Exchange, Journal of Missiological and Ecumenical Research yang diterbitkan oleh Brill. Penerbit Akademik dalam kerjasama dengan Institut Antar-Lembaga Penelitian Missiologis dan Ekumenis (IIMO) di Belanda, East Asian Pastoral Review di Manila, Euntes Docete di Roma, dan The Round Table, The Commonwealth Journal of International Affairs di London.

Dia juga adalah penulis dari beberapa buku, seperti: Papua Barat: Perjuangan untuk Perdamaian dengan Keadilan, diterbitkan oleh Catholic Institute for International Relations / CIIR, London, 2005; Upaya Antaragama untuk Perdamaian di Papua Barat, oleh Missio, Aachen, 2006; Dialog Jakarta-Papua: sebuah Perspektif Papua, oleh Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP), Keuskupan Jayapura, 2009; Angkat Pena demi Dialog Papua, Interfidei, Jogyakarta, 2012; Rekonsiliasi dan Perdamaian: Upaya Antaragama untuk Perdamaian di Papua Barat, diterbitkan di Goroka, PNG oleh The Melanesian Institute, 2012.

Selain itu, dikumpulkan dalam pekerjaan di bidang peragaan yang didukung oleh pelatihan yang diperoleh melalui  pelatihan dan kursus internasional. Dia pernah mengikuti pelatihan tentang Perdamaian dan Rekonsiliasi selama sepuluh minggu, Agustus-Oktober 2005, di Universitas Coventry di Inggris.

Dia menjadi peserta pelatihan Strategi Non-kekerasan dan Pembangunan Perdamaian selama dua bulan (Mei dan Juni), 2006, pada Pusat Keadilan dan Pembangunan Perdamaian, Universitas Mennonite Timur, di Virginia, Amerika Serikat.

Neles Tebay juga mengikuti Kursus Mediasi Perdamaian selama 10 hari, Maret 2010 yang diselenggarakan oleh SwissPeace di Bern, Swiss. * (

Papua Barat – Ketidakadilan yang Terlupakan di Dunia

Foto melalui kampanye Papua Barat Gratis
Foto melalui kampanye Papua Barat Gratis

Oleh: Alex Sobel  menulis tentang pendudukan militer yang sedang berlangsung dan dipindahkan HAM beratnya.

Kami pikir kami tahu semua tentang ketidakadilan dunia besar. Orang-orang yang terbunuh, yang hak asasinya dilanggar, yang dipenjara ilegal, dan melihat seruan mereka untuk hak Penentuan Nasib Sendiri tidak dijawab. Orang-orang Kurdi, Sahara Barat, Kashmir, Tibet dan Palestina. Namun jauh lebih sedikit berbicara tentang Papua Barat, sementara Markas Besar Internasional Kampanye untuk memperjuangkan penyelesaian HAM dan menentukan nasib sendiri berbasis di sini di Inggris.

Papua Barat adalah bagian barat Pulau New Guinea di lepas pantai Utara Australia yang berbagi Pulau dengan Papua Nugini yang mencapai Kemerdekaannya dari Australia pada tahun 1975. Namun bagian barat Pulau yang merupakan Koloni Belanda berada di bawah pendudukan Negara Indonesia. Penduduk asli Pulau New Guinea adalah orang Papua yang berasal dari Melanesia, cukup berbeda dari yang orang Indonesia.  

Sejarah Perjuangan untuk Papua Barat

Ada peluang untuk Kemerdekaan kompilasi Belanda siap untuk de-kolonisasi setelah Perang Dunia Kedua, mereka memasukkan Papua Barat ke dalam rencana-rencana ini. Papua Barat mengadakan Kongres di mana rakyatnya mengumumkan kemerdekaan, dan mengangkat bendera baru mereka – Bintang Fajar pada tahun 1961.

Namun Indonesia yang telah merdeka sejak 1950 meminta semua bekas jajahan Belanda di kawasan Asia-Pasifik dan militer Indonesia menyerbu Papua Barat. Karena itu adalah Perang Dingin, orang Indonesia tidak dapat memperoleh dukungan yang cukup untuk invasi ke Papua Barat pergi ke Uni Soviet untuk bantuan. Pemerintah AS khawatirkan Indonesia yang mencari dukungan Soviet dapat meningkatkan penyebaran komunisme di Pasifik. 

Dalam surat dari John F Kennedy kepada Perdana Menteri Belanda, pemerintah AS sangat meminta pemerintah Belanda untuk menyerahkan Papua Barat ke Indonesia, dalam upaya untuk meminta pemerintah Sukarno. Pemerintah AS berhasil merekayasa pertemuan antara Indonesia dan Belanda yang menghasilkan Perjanjian New York, yang pada tahun 1962 memberikan kontrol Papua Barat ke PBB dan satu tahun kemudian mentransfer kontrol administrasi ke Indonesia. Orang Papua tidak pernah diajak setuju tentang keputusan ini. Namun, perjanjian itu memang menjanjikan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri – hak yang disetujui oleh PBB untuk semua orang di dunia. Orang Indonesia menggunakan 7 tahun ke depan untuk mendapatkan izin atas semua aspek kehidupan Papua Barat dan pada tahun 1969 plebisit yang dijanjikan tentang Kemerdekaan datang. 

Perjanjian itu memang menjanjikan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri – hak yang disetujui oleh PBB untuk semua orang di dunia. Orang Indonesia menggunakan 7 tahun ke depan untuk mendapatkan izin atas semua aspek kehidupan Papua Barat dan pada tahun 1969 plebisit yang dijanjikan tentang Kemerdekaan datang. Namun alih-alih memilih semua orang di Papua Barat, militer Indonesia hanya memilih 1.026 orang ‘memilih’ yang memberikan suara di bawah tekanan dan Papua Barat menjadi provinsi Indonesia. Perjanjian itu memang menjanjikan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri – hak yang disetujui oleh PBB untuk semua orang di dunia. 

Orang Indonesia menggunakan 7 tahun ke depan untuk mendapatkan izin atas semua aspek kehidupan Papua Barat dan pada tahun 1969 plebisit yang dijanjikan tentang Kemerdekaan datang. Namun alih-alih memilih semua orang di Papua Barat, militer Indonesia hanya memilih 1.026 orang ‘memilih’ yang memberikan suara di bawah tekanan dan Papua Barat menjadi provinsi Indonesia.

Pendudukan Militer dan Hak Asasi Manusia

Dalam 50 tahun Kontrol Indonesia ada bukti signifikan Genosida dan Sekolah Hukum Yale dalam laporan untuk Kampanye Hak Asasi Manusia Indonesia pada tahun 2004 menemukan “dalam bukti yang tersedia menunjukkan kekuatan pemerintah Indonesia telah membuat genosida untuk orang Papua Barat”. Militer Indonesia juga telah melakukan berbagai tindakan Penyiksaan dan Pelecehan Seksual terhadap penduduk asli Papua. Setiap minggu mereka memprotes hak-hak mereka dipenjara oleh Militer. Anda sekarang bertanya pada diri sendiri Mengapa saya tidak membicarakan tentang ini, Mengapa ini tidak ada di berita? 

Pelaporan yang baik dikeluarkan, Jurnalis tidak dapat melakukan perjalanan ke Papua Barat dan Jurnalis yang telah berusaha telah dilakukan. Pada bulan Februari 2018, BBC mengirim jurnalis untuk meliput Krisis Campak dan Malnutrisi yang melanda Papua Barat dikeluarkan oleh Militer sebelum dia dapat meminta laporan. Tanpa mengeluarkan apa pun, nasib orang-orang Papua Barat perlu dilakukan dari mulut ke mulut dan Media Sosial.

Ekonomi dan Lingkungan

Papua Barat kaya dengan sumber daya alam. Ia memiliki Tambang Emas terbesar di dunia dan Tambang Tembaga terbesar kedua. Papua Barat juga telah melihat deforestasi massal dengan pohon-pohon asli digantikan oleh Palms untuk produksi Minyak Sawit. Orang Papua Barat dieksploitasi untuk pekerjaan mereka, tanah dan pulau mereka dihancurkan oleh perusakan tanah dan sungai.

Namun orang-orang Papua Barat yang duduk di tengah-tengah semua sumber daya ini adalah beberapa orang termiskin di Asia.

Bagaimana kampanye orang Papua Barat untuk Penentuan Nasib Sendiri

Orang-orang Papua Barat telah berkampanye sejak 1969 dan banyak yang harus kutu dan berkampanye dari rumah baru mereka. Kampanye Bersatu yang mewakili semua yang ada di diaspora Papua Barat dan di Papua Barat. Gerakan Serikat Pembebasan untuk Papua Barat tahun 2014 menyatukan semua Organisasi Pembebasan bersama. Kampanye Papua Barat Gratis berbasis di Inggris dan mendukung Kelompok Semua Parlemen Partai di Papua Barat yang saya pimpin. Benny Wenda yang tinggal di Oxford adalah Ketua Kampanye Papua Merdeka Barat dan juga Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat. 

Penyatuan organisasi telah menyebabkan dua langkah besar ke depan baru-baru ini, yang pertama adalah penandatanganan  Deklarasi Westminster yang menyerukan Pemungutan Suara untuk Pengawasan yang Diawasi secara internasional dan ditandatangani pada tahun 2016 oleh pemerintah pemerintah termasuk anggota saya telah menyetujui Deklarasi. Orang-orang Papua Barat diam-diam dan sering dalam kesulitan akan ditemukan mengumpulkan petisi di Papua Barat menyeret suara pengawasan internasional untuk kemerdekaan ditandatangani oleh 1,8 juta, Benny Wenda telah  mengaktifkan petisiUntuk PBB tetapi ditolak setelah tekanan dari Pemerintah Indonesia yang duduk di Komite Dekolonisasi PBB, bagaimana Bangsa Kolonisasi dapat menjadi Komite Dekolonisasi adalah sebuah parodi khusus.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut dan mengambil tindakan untuk Papua Barat,  silakan kunjungi https://www.freewestpapua.org/take-action/

Alex Sobel adalah MP Buruh dan Koperasi untuk Leeds North West dan Ketua Parlemen Internasional untuk Papua Barat dan Grup Semua Pihak di Papua Barat * (

 

Posted by: Admin

Copyright ©Redpepper“sumber”

Hubungi kami di E-Mail: redaksi.tolipost@gmail.com

Agama dan Empati

René Magritte
René Magritte

Oleh Reza A.A Wattimena

Pakaiannya berlebihan. Ia seperti orang dari masa lalu dan dari dunia lain yang berkunjung ke bumi. Jalannya sangat percaya diri. Tak sadar, ia menjadi pusat perhatian sekitarnya.

Imannya tebal, namun dangkal. Ia percaya buta pada ajaran agama warisannya. Semua kata ditelan mentah-mentah. Jika disuruh membakar diri pun ia rela melakukannya.

Ia juga senang bergerombol. Jika sendirian, ia takut, dan tak percaya diri. Dengan bergerombol, ia bisa bersikap sombong dan seenaknya. Dengan bersembunyi di balik jubah agama, dan gemar bergerombol dengan teman-temannya, ia suka menindas orang-orang yang lebih lemah.

Ironinya, orang-orang semacam ini hanya “pasukan rendahan”. Mereka dipergunakan oleh kekuasaan yang sempit dan korup. Mereka menjadi alat penguasa yang busuk. Tak heran, mereka kerap kali mendapat banyak sponsor, baik dalam bentuk uang maupun nasi bungkus, hanya ketika peristiwa politik besar tiba.

Mereka juga menjadi mesin pendulang uang bagi penguasa busuk. Mereka rela memberikan uang mereka, kerap kali tanpa kejelasan, bagaimana uang itu dipergunakan. Akibatnya, segelintir elit politik, termasuk pemuka agama, hidup kaya raya. Sementara, pengikutnya hidup dalam kemiskinan yang mencekik.

Agama Tanpa Empati

Ini semua terjadi, karena agama kehilangan empati. Agama menjadi sistem yang mandiri, terlepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Agama juga hanya menjadi pelarian, karena sistem politik dan ekonomi yang bobrok. Agama tanpa empati berarti agama itu sudah kehilangan inti utamanya.

Empati adalah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Empati berarti, orang menunda sudut pandangnya sendiri, dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Empati adalah inti dari dialog yang sehat. Di dalam masyarakat demokratis, seperti Indonesia, empati adalah dasar dari kehidupan bersama yang sehat.

Mengapa di Indonesia, agama bisa kehilangan empati? Padahal, inti dari semua agama adalah sikap welas asih. Sikap ini lahir dari kesadaran mendalam, bahwa segala sesuatu adalah satu, yakni bagian dari alam semesta yang nyaris tak berhingga ini. Bentuk nyata dari ini adalah empati.

Ada empat sebab dari krisis empati. Pertama, pemahaman agama di Indonesia masih amat dangkal. Ajaran asing diambil begitu saja, tanpa pengolahan lebih jauh. Kedalaman dimiliki beberapa pihak, namun ia kurang tersebar di masyarakat luas, karena memang butuh usaha lebih besar untuk dipahami. Budaya berpikir instan jaman ini juga turut menyumbang dari kedangkalan pemahaman agama yang terjadi.

Dua, kedangkalan beragama juga lahir dari matinya sikap kritis. Sikap kritis adalah sikap tidak gampang percaya. Orang lalu mencari lebih dalam dari apa yang didengar atau dibacanya. Sikap kritis merupakan bagian penting dari pendidikan bermutu tinggi. Tanpa sikap kritis, empati juga akan tergilas oleh prasangka buta.

Tiga, krisis empati juga berakar pada krisis berpikir. Dunia pendidikan Indonesia memang tidak mendidik untuk berpikir, melainkan sekedar berhitung dan menghafal. Pola ini hanya menghasilkan kedangkalan, tidak hanya di dalam hidup beragama, tetapi juga di bidang-bidang kehidupan lainnya, seperti politik maupun ekonomi. Ini bisa dilihat dengan mudah dari bagaimana kita di Indonesia mengelola kota-kota besar yang kita punya.

Empat, agama kehilangan empati, ketika ia hanya menjadi kendaraan politik dan ekonomi kelompok-kelompok busuk semata. Ajaran agama tidak diperhatikan. Moral tak diperhatikan. Empati lenyap ditelan udara. Yang tampak hanya kerumunan tak berpikir dan tanpa arah saja, siap untuk diperas oleh penguasa politik dan ekonomi busuk.

Lima, empati juga lenyap, ketika ketakutan berkuasa. Ketakutan membuat orang, atau kelompok, menjadi agresif. Ini terjadi, karena identitas dan ilmu pengetahuan mereka amat lemah serta dangkal. Kedalaman dan kokohnya identitas akan membawa pada sikap hening dan bersahaja.

Mengembalikan Empati

Empati tidak akan pernah hilang. Ia adalah kemampuan alamiah manusia. Namun, ia harus dilatih. Ada empat hal yang kiranya bisa ditawarkan.

Pertama, kita harus mendalami agama sampai ke akarnya. Jangan hanya berhenti soal aturan, cara berpakaian atau penampilan luar semata. Inti dari semua agama adalah meleburnya jati diri kita dengan semesta, sehingga semua perbedaan hilang. Di titik ini, empati akan muncul secara alami.

Dua, Indonesia harus melakukan revolusi secara mendasar. Mutu pendidikan kita amat sangat rendah. Mendidik nurani, empati dan akal budi harus dilakukan. Pola hafalan dan patuh buta harus disingkirkan.

Tiga, di ranah hukum, kita perlu untuk membuat aturan tegas pelarangan penggunaan agama untuk politik kekuasaan. Ajaran-ajaran agama bisa menjadi terang moralitas bagi arah politik. Tapi, ia tidak boleh digunakan di ruang publik untuk kepentingan politik sempit dan busuk. Aturan ini harus dibuat dasar hukumnya, dan diterapkan dengan tegas.

Empat, langkah terpenting adalah dengan mengembalikan spiritualitas ke dalam kehidupan. Agama adalah organisasi ciptaan manusia yang tak lepas dari korupsi, kolusi, nepotisme dan kepentingan-kepentingan sempit lainnya. Sementara, spiritualitas adalah soal jalan hidup, supaya orang bisa menemukan dirinya yang sejati, dan menjadi tercerahkan. Di titik ini, empati akan muncul secara alami, karena empati adalah bagian penting dari spiritualitas.

Jalan Zen bisa menjadi satu kemungkinan, dari banyak kemungkinan lainnya. Zen adalah jalan hidup untuk menyentuh inti terdalam dari diri manusia. Inti ini bersifat abadi, jernih dan penuh kebijaksanaan. Hanya dengan ini, empati bisa muncul secara alami, dan mewarnai langsung kehidupan manusia. Agama, yang dipeluk dalam spiritualitas, akan membawa kedamaian, tidak hanya di dalam hubungan antar manusia, tetapi juga di dalam diri pribadi. *(

 

Ilustrasi Singkat Arti Kata “LANI” dan “BAHASA LANI”

20140113_083112_7276_la

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

Sebelum saya menjelaskan secara singkat suku Lani dan bahasa Lani, penulis perlu menyampaikan bahwa suku Lani yang menggunakan bahasa Lani adalah suku terbesar di Papua, yang hidup, tinggal/mendiami dan bermukim bertahun-tahun bagian Barat dari Lembah Balim. Wilayah yang didiami pemilik dan pengguna bahasa Lani meliputi: Piramit, Makki, Tiom, Kelila, Bokondini, Karubaga, Mamit, Kanggime, Mulia, Nduga, Kuyawagi, Sinak dan Ilaga.

1. Arti kata “Lani”

Kata “Lani” mempunyai tiga pengertian atau tiga makna yang berbeda.

1.1. Kata Lani yang artinya “pergi atau diutus pergi”.

Kata Lani yang artinya “pergi atau diutus pergi” ini digunakan oleh suku yang bermukim di Lembah Parim yang lebih populer dengan nama Lembah Balim.

Lembah ini sesungguhnya lebih tepat Lembah Parim. Suku Mokoko artinya burung bangau. Agamua adalah nama tempat yg saat ini kota Wamena. Wamena mempunyai dua kata, yaitu “wam” artinya babi dan “ena” artinya piaraan, jadi Wamena artinya babi yang dipelihara dan selalu ikut tuanya kemana saja. Suku Hubula menggambarkan keadaan tanah yang subur karena ada kompos dari luapan sungai Parim. Suku Hubula juga tidak terwakili semua suku dan sub suku di lembah Parim. Suku Hubula ialah penyebutan untuk warga yang hidup di sepanjang Daerah Aliran Sungai Parim. Sementara yang di pinggiran Lembah/kaki gunung dan Pegunungan di sebut Sorimo. Tetapi dunia luar mengenal dengan sebutan Suku Hubula walau tidak mewakili semua suku yang bermukim di wilayah Lembah Parim.

Parim artinya sungai/air yang membelah lembah besar yang memisahkan Timur dan Barat. Kata Balim itu digunakan oleh orang luar yang sulit melafalkan atau menyebutkan kata Parim. Maka lebih populer dan dikenal secara luas sekarang dengan nama Lembah Balim. Tapi nama asli dan sebutan yang sebenarnya ialah Lembah Parim.

Kembali pada kata “Lani”. Kata “Lani” artinya pergi atau diutus pergi ini juga tidak terlepas dari kata “Kurima” yang artinya tempat perjumpaan dan perpisahan manusia pertama. Sedangkan kata Kurima itu terdiri dari dua kata, yaitu “Kur” artinya putih dan “ima” artinya air.

Suku yang hidup dan tinggal di wilayah Kurima menyebut nama Kurima artinya air putih. Tetapi bagi suku yang telah terpencar pergi ke Barat, yaitu: suku Lani, Moni, Mee menyebut Kurima itu tempat perjumpaan dan perpisahan manusia pertama. Dari sinilah terlihat jelas artinya kata Lani yaitu pergi atau diutus pergi.

1.2. Kata Lani juga memiliki arti seseorang yang hidup sendiri.

Bagian ini, kita tambah kata “Ap Lani” artinya setiap laki-laki yang selalu hidup menyendiri atau hidup sendiri dan yang berkebun sendiri, memasak sendiri dan mengurus diri sendiri disebut Ap Lani. Ap Lani biasanya tidak disukai dan dijauhi semua wanita. Ap Lani mengurus dirinya sendiri dan ia hidup tanpa isteri.

1.3. Kata “Lani” memiliki arti yang lebih dalam, yaitu Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh.

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010, hal. 92) penulis menjelaskan sebagai berikut:

Kata Lani itu artinya: ” orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.”

Contoh: Orang Lani mampu dan sanggup membangun rumah (honai) dengan kualitas bahan bangunan yang baik dan bertahan lama untuk jangka waktu bertahun-tahun. Rumah/honai itu dibangun di tempat yang aman dan di atas tanah yang kuat. Sebelum membangun honai, lebih dulu dicermati dan diteliti oleh orang Lani ialah mereka melakukan studi dampak lingkungan. Itu sudah terbukti bahwa rumah-rumah orang-orang Lani di pegunungan jarang bahkan tidak pernah longsor dan tertimbun tanah.

Contoh lain ialah orang Lani membangun dan membuat pagar kebun dan honai/rumah dengan bahan-bahan bangunan yang berkualitas baik. Kayu dan tali biasanya bahan-bahan khusus yang kuat supaya pagar itu berdiri kokoh untuk melindungi rumah dan juga kebun.

Orang Lani juga berkebun secara teratur di tanah yang baik dan subur untuk menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran.

Dr. George Junus Aditjondro mengakui: “…para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” (Cahaya Bintang Kejora, 2000, hal. 50).

Suku Lani juga dengan kreatif menciptakan api. Suku Lani dengan cerdas dan inovatif membuat jembatan gantung permanen. Para wanita Lani juga dengan keahlian dan kepandaian membuat noken untuk membesarkan anak-anak dan juga mengisi bahan makanan dan kebutuhan lain.

Yang jelas dan pasti, suku Lani ialah bangsa yang bedaulat penuh dari turun-temurun dan tidak pernah diduduki dan diatur oleh suku lain. Tidak ada orang asing yang mengajarkan untuk melakukan dan mengerjakan yang sudah disebutkan tadi. Suku Lani adalah bangsa mempunyai kehidupan dan mempunyai segala-galanya.

Dari uraian singkat ini memberikan gambaran yang jelas bahwa pada prinsipnya orang Lani itu memiliki identitas yang jelas dan memelihara warisan leluhur dengan berkuasa dan berdaulat penuh sejak turun-temurun.

2. Bahasa Lani

Saya tidak menjelaskan lebih detail tentang bahasa Lani karena saya bukan ahli bahasa. Walau demikian, saya ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa dalam bahasa Lani terdiri dari lima bentuk waktu. Dan dalam lima bentuk waktu itu digunakan bahasa bentuk tunggal dan jamak.

Contohnya sebagai berikut:

a. Bentuk Tunggal

2.1. Bentuk lampau lama (waktu abad/tahun)

Yalinggawiya Wakur wagagerak:

YW sudah datang lama atau sudah lama datang.

2.2. Bentuk lampau dekat ( bulan/minggu/jam)

YW Wagarak: YW Sudah datang.

2.3. Bentuk lampau sangat dekat (lewat menit)

YW Waga: Baru saja datang/baru saja tiba.

2.4. Bentuk sedang berlangsung (sekarang)

YW Wage: sedang dalam perjalanan.

2.5. Bentuk akan datang

YW Weragin: YW akan datang

B. Bentuk jamak sebagai berikut:

2.1. Yalinggawiya Wakur dan Kilunggawiya Weya wogogwarak (abad/tahun).

YW dan KW sudah lama datang.

2.2. YW dan KW muk wagarak (bulan/minggu).

YW dan KW sudah datang.

2.3. YW dan KW awo aret waga (jam/menit)

YW dan KW baru saja tiba.

2.4. YW dan KW awo wogwe ( sdg aktif).

YW dan KW sedang dalam perjalanan.

2.5. YW dan KW weragun (akan)

YW dan KW akan datang.
3. Bahasa Lani Kaya Dengan Istilah

Contoh:

3.1. Pergi timba air. Artinya pergi petik tebu.

3.2. Kita pergi masak daun ubi. Artinya kita pergi potong/sembelih babi.

3.3. Kami tidur tanpa api. Artinya kami tidur kelaparan.

3.4. Pergi ambil kayu dikebun/ dibelakang rumah. Artinya potong pisang yang ada di kebun atau di belakang honai.

Masih banyak lagi.

4. Bahasa Lani ada tingkatan dalam penggunaan dan pemanggilan nama orang.

Contoh:

4.1. Panggilan terhormat bagi orang berbadan tinggi ialah Owakelu. Owakelu ada dua kata: Owak dan Elu. Owak artinya tulang dan Elu artinya tinggi. Jadi tidak bisa disebut orang tulang tinggi.

4.2. Panggilan terhormat bagi orang badan besar ialah anugun nggok. Anugun artinya perut. Nggok artinya besar. Jadi bukan orang perut besar.
Masih banyak lain lagi.

5. Bahasa Lani ada panggilan orang-orang terpandang dan pemimpin yang dihormati dan didengarkan.

5.1. Ndumma artinya pemimpin pembawa damai, pembawa kesejukan dan ketenangan, pelindung dan penjaga rakyat. Ndumma itu gelar tertinggi dan terhormat dalam suku Lani. Suara Ndumma tidak biasa dilawan oleh rakyat karena ada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih, kedamaian dan pengharapan.

5.2. Ap Nagawan, Ap Wakangger, Ap Nggok, Ap Nggain, Ap Akumi Inogoba. Ini semua pangkat dan sebutan orang-orang besar dan pemimpin yang digunakan dalam bahasa Lani. Semua pemimpin ini suara dan perintahnya selalu dipatuhi dan dilaksanakan karena ada wibawa dalam kata-kata. Mereks semua pelindung dan penjaga rakyat.

Uraian singkat ini sebagai pengantar atau gambaran saja. Penulis meminta kepada seluruh untuk masukan, kritik, saran supaya kita sama-sama mempertajam, melengkapi dan penyempurnakan tulisan pengantar ini.

Harapan dan doa saya bahwa sudah saatnya kita sadar dan bangkit untuk menulis tentang siapa diri kita ini. Orang asing sudah banyak menulis dengan cara pandang mereka tentang kita untuk mereka mendapat gelar, polularitas, dan uang. Kita harga karya mereka tapi sekarang sudah waktunya kita menulis. Salah satunya upaya penyelamatan bahwa yang sudah dirintis oleh anak muda Mis Kogoya yang telah berkontrubusi Kamus Bahasa Lani-Indonesia. Ini karya yang luar biasa. Motonya: “Saya Datang Dari Bangsa Lani Untuk Selamatkan Bangsa Lani.” Warisan Otonomi dan kedaulatan harus diselamatkan dan dipertahankan.

Bahasa ialah roh suatu bangsa. Bahasa ialah jatidiri sebuah bangsa. Bahasa ialah pencerminan sebuah bangsa. Bahasa membuat sebuah bangsa berharga . Bahasa membentuk suatu bangsa yang tertib. Bahasa membuat bangsa itu tahu diri. Bahasa ialah kekuatan sebuah bangsa. Bahasa ialah untuk segala-galanya. Bahasa menjadi media atau alat komunikasi sangat esensial antar sesama manusia. Bahasa membuat peradaban sebuah bangsa, masyarakat dan keluarga.
Terima kasih.

Ita Wakhu Purom, 6 April 2019

Menyuarakan Kaum Yang Terabaikan

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai