Arsip Kategori: Sejarah Papua

Salam Pembebasan Nasional Bangsa West Papua!

FB_IMG_1543561788559

Salam Pembebasan Nasional Bangsa West Papua. Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak. Waaa-waaa.

Pada tanggal 1 Desember 1961, rakyat West Papua telah mendeklarasikan kemerdekaannya. Akan tetapi, deklarasi tersebut tak diakui oleh pemerintahan Indonesia, dan menganggapnya sebagai Negara Boneka buatan Belanda. Pemerintah Indonesia di bawah Soekarno saat itu lantas melakukan aneksasi melalui Trikora yang kemudian mengejawantah menjadi serangkaian operasi militer.

Pada 27 Desember 1949, saat pengakuan kedaulatan Negara Republik Indonesia oleh Belanda, West Papua merupakan koloni tak berpemerintahan sendiri dan diakui demikian oleh PBB dan Belanda, yang pada waktu itu menjadi penguasa administratif kolonialnya.

Belanda yang semestinya bertanggung jawab untuk melakukan dekolonisasi malah menandatangani New York Agreement bersama Indonesia dan Amerika (penengah) terkait sengketa wilayah Papua Barat pada 15 Agustus 1962 tanpa melibatkan Rakyat West Papua.

Perjanjian ini mengatur masa depan wilayah Papua Barat yang terdiri dari 29 Pasal yang mengatur 3 hal, di mana pasal 14-21 tentang Penentuan Nasib Sendiri yang didasarkan pada praktek Internasional (One Person One Vote), serta pasal 12-13 tentang transfer administrasi dari UNTEA kepada Indonesia.

Satu-satunya penentuan nasib sendiri yang dilakukan adalah PEPERA yang TIDAK SAH (1969). TIDAK SAH, karena hanya 1022 orang yang terlibat dalam pemungutan atau kurang dari 0,2% dari populasi Papua. Setelah serangkaian terror dan intimidasi.

Pelaksanaan PEPERA tersebut hanya dicatat di Sidang Umum PBB lewat Resolusi 2504 yang mana tidak disebutkan bahwa PEPERA telah dilaksanakan sesuai dengan New York Agreement maupun prosesnya memenuhi standar “penentuan nasib sendiri” seperti yang diamanatkan oleh Resolusi PBB 1514 dan 1541.

Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa West Papua, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua bersama Aliansi Mahasiswa Papua dan beberapa organisasi lain mengajak semua kalangan pro-demokrasi untuk turut bersolidaritas dalam aksi yang akan digelar di 11 kota yang tertera dalam poster. *(

Hai tanahku Papu ‘O negaraku Papua Isaak Samuel Kijne, 1899-1970: Guru misionaris di New Guinea

12-02-540x336

Misi dan misi telah memainkan peran penting dalam perluasan kekuatan Eropa di luar negeri dan dalam pengembangan gagasan tentang Inggris Raya, Perancis Raya dan Belanda Raya. Namun, apa peran misi dan misi yang dimainkan selama dekolonisasi adalah pertanyaan yang kurang mendapat perhatian. Proyek ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara agama dan kolonialisme dan dekolonisasi dengan menggunakan biografi tentang Isaac Samuel Kijne. Dalam kerangka ini, biografi ini berusaha untuk menyelidiki secara khusus hubungan di mana misi itu untuk etnis, bahasa dan budaya Papua, pendidikan, misi dewan, administrasi kolonial, misi, dekolonisasi dan nasionalisme.

Biografi ini ingin menjawab pertanyaan tentang peran apa yang dimainkan Kijne dalam hubungan ini dan apa yang ia maksud untuk Papua. Pada tahun 1925, guru misionaris Kijne, setelah tur pertamanya di New Guinea, menyusun ‘Hai tanahkoe Papua’ (O negaraku Papua). Dia telah mengambil alih melodi dari lagu rakyat Belanda ‘Aan het vaderland’ oleh komposer Marius A. Brandts Buys. Hymne ini, yang ditulis oleh Kijne dalam bahasa Indonesia, diangkat ke lagu kebangsaan pada tahun 1961 oleh Dewan Guinea Baru – parlemen dari Nieuw Guinea Belanda. Dua tahun kemudian ketika Republik Indonesia diberi kontrol administratif penuh atas daerah itu, nyanyian itu dilarang, tetapi ‘Hai tanahkoe Papua’ masih diakui sebagai lagu kebangsaan oleh aktivis untuk Papua merdeka.

PROYEK

Klik di sini untuk kembali ke daftar lengkap proyek penelitian yang saat ini sedang dilakukan di KITLV / Institut Belanda Kerajaan Studi Asia Tenggara dan Karibia dan bekerja sama dengan departemen dan institut lain.

Isack Samuel Kijne: Cinta dan Pengorbanannya untuk Bangsa Kulit Hitam Di Timur Lautan Teduh

41215961_2043700245680615_491225919428493312_n
Foto : Koleksi Pdt.Hanz Wanma dalam Buku Domine I.S.Kijne

Kemewahan serta jabatan yang tinggi dengan gaji berlipat ganda yang ditawarkan Pemerintah Belanda untuk bertugas di Hindia Belanda, Suriname, Afrika dan Australia, semua ditolaknya. Kijne lebih memilih mengabdi dalam keadaan serba terbatas di Negeri Orang Hitam Kulit Keriting Di Timur Jauh Lautan Teduh Nieuw Guinea, sebuah negeri yang masih hidup dalam kegelapan, perang suku, pengayauan dan pembunuhan. Dia dan istrinya yang dalam keadaan hamil bahkan ditangkap Tentara Jepang dan diasingkan serta terpisah selama 3 tahun di pengasingan di Belige dimana anaknya Maria Caroline lahir dalam tahanan.

41378804_2043700155680624_564049465049088000_n

Biografi Isack Samuel Kijne

Zendeling Domine Isack Samuel Kijne lahir dari sebuah keluarga Tukang Kayu di Vlaardingen, sebuah kota kecil di negeri Belanda, dari Ayah bernama Hugorinus Kijne dan Maria Fige’e, perempuan Belanda berdarah Yahudi yang sehari-hari bekerja sebagai guru. Mereka adalah anggota Jemaat setia di gereja Hervormd Belanda.

Kijne kecil menyelesaikan pendidikan menengah tahun 1914 kemudian melanjutkan pendidikan guru di Klokkenburg Nijmegen dan tamat tahun 1918. Setelah menamatkan sekolah guru, Kijne harus mengajar di tempat kelahirannya Vlaardingen, namun ketertarikan dan kesempatan terbuka untuk mengabdi di Tanah Papua, Kijne melanjutkan studi mengambil Akta Kepala Sekolah ( Acte Hoofdonderwijzer) selama 2 tahun ( 1918-1920,) dan Kursus Bahasa Melayu (1921) dengan memperoleh Akta Pengetahuan Berbahasa Melayu ( ( Acte Maleis-Lan En Volkenkunde )

I.S.Kijne merupakan lulusan terbaik sekolah guru di kotanya, untuk itu dia juga diremokemendasikan sekolahnya untuk belajar ke Tubingen Jerman guna menguasai bidang music, seni suara dan melukis serta kebudayaan. Sebelum berangkat ke Papua tahun 1923, I.S.Kijne ditempa lagi di Pusat Zending di Oegstgeest selama setahun dari tahun 1921-1922 bersama kedua rekannya F.Slumpt dan Johanes Eygendaal.

Keputusan Untuk Mengabdi Ke Negeri Bangsa Kulit Hitam di Timur Jauh Lautan Teduh

Januari 1923, I.S.Kijne bersama kedua rekannya F.Slumpt dan Johanes Eygendaal melakukan perjalanan dari Roterdam menuju Mansinam selama 5 bulan lamanya melalui Guinea di Afrika Barat, Batavia dan akhirnya tiba di Mansinam. Perjalanan Roterdam-Guinea ditempuh selama sebulan. Akibat cuaca yang tidak bersahabat memaksa mereka terpaksa harus menunggu beberapa hari di Guinea, kemudian pada pertengahan Pebruary 1923, mereka meneruskan perjalanan dan tiba di Batavia April 1923, setelah melapor di Batavia, mereka kemudian melanjutkan pelayaran selama 2 bulan melalui Makasar, Ternate dan tiba di Mansinam pada tanggal 23 Juni 1923.

Kijne remaja tertarik dan akhirnya jatuh cinta pada Papua terbit sendiri dari hatinya, setelah mendengar kisah-kisah Heroik dan Menantang dari temannya Willem Van Hasselt, anak dan cucu dari Ketua Zending F.J.F.Van Hasselt dan J.L. Van Hasselt, Willem Van Hasselt yang merupakan teman sekolahnya di sekolah guru ( Kweek School ) di Klokkenburg Nijmegen. Temannya, berkisah tentang Ayah dan Kakeknya yang bertugas selama 67 tahun di Papua. Kakeknya J.L.Van Hasselt menjadi Ketua Zending pertama 1863-1894 dan dilanjutkan oleh Ayahnya F.JF.Van Hasselt pada tahun 1894-1931.

41371629_2043700192347287_3988334522583220224_n

Temannya menceritakan keadaan pelayanan orang tua dan kakeknya serta keadaan masyarakatnya di sebuah negeri orang berkulit hitam dan rambut keriting di Timur Jauh Nieuw Guniea. Kakeknya sudah pensiun dan pekerjaan Zending dilanjutkan ayahnya, namun disana masih sangat membutuhkan guru dan pendeta untuk bekerja bersama mereka, jika Kijne merasa tertarik untuk melayani disana, dia akan menyampaikan berita ini kepada Ayahnya di Nieuw Guinea untuk menyurati Badan Zending USV untuk merekomendasikan I.S.Kijne datang ke Papua.

Ottow dan Geissler telah menabur Injil Di Mansinam sejak tahun 1855 hanya mampu bertahan hingga tahun 1859, pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh J.L.Van Hasselt, ( ayah dari J.F.Van Hasselt ), W.Otterspoor dan Th.F.klaasen yang tiba pada 8 April 1863, namun pada perayaan 25 Tahun Pekabaran Injil pada tanggal 05 Pebruary 1880 di Mansinam, baru tercatat 20 orang yang dibaptis menjadi Kristen termasuk para budak yang ditebus oleh Zendeling.

Dikisahkan, pekerjaan Zendeling di Mansinam sangatlah berat karena alamnya namun juga watak manusianya yang keras kepala sehingga Kerajaan Belanda bahkan hendak menutup kegiatan Zending disana. Banyak diantara para Zendeling dan keluarga yang meninggal dan harus kembali ke Belanda karena sakit. 10 orang Zendeling dan isteri meninggal, sementara, 7 orang anak dan 7 orang istri meninggalkan Papua kembali ke Belanda karena sakit, sementara J.L.Van Hasselt sudah berusia tua.

Beruntunglah Badan Zending USV menemukan J.F.J.Van Hasselt, anak dari J.L. Van Hasselt tahun 1894 untuk dikirim ke Papua menggantikan Ayahnya. Van Hasselt junior ini tiba dan bertugas di Mansinam pada tanggal 10 November 1896. Kondisi alam dan watak manusia Papua yang keras yang membuat pekerjaan Pekabaran Injil tersendat membuat Van Hasselt junior ini kemudian mengembangkan pendidikan guru bagi putra-putri Papua untuk dapat meneruskan pekerjaan Zendeling di Papua.

Pengembangan pendidikan guru ini tentu membutuhkan guru-guru baru yang mau bertugas di Papua yang medannya sangat berat dan penuh tantangan, disaat inilah, anaknya F.J.F. Van Hasselt yang merupakan teman sekolah Kijne di sekolah guru ( Kweek School ) mengisahkannya kepada Kijne saat sejak masih duduk di Kelas pertama. Setelah menamatkan sekolah guru 1918, Kijne membulatkan niatnya untuk mengabdi di Tanah Papua sebagai Kepala Sekolah, Guru dan Pendeta di Papua yang dimulai dari Mansinam 23 Juni 1923.

F.J.F. Van Hasselt ayah dari teman Kijne menuturkan, Kijne seharusnya ditugaskan di Suriname, Guinea, Pakistan atau Hindia Belanda ( Indonesia ) namun atas tuntunan Tuhan, ia memilih Nieuw Guinea. Setelah menamatkan sekolah guru, saya sendiri harus ke Suriname, Afrika atau Australia tetapi mengapa saya ke Nieuw Guinea ? itu karena maksud Tuhan supaya saya berada disana, kata Kijne ketika diwawancarai Holvast, seorang wartawan sebuah Harian di Kota Leiden ketika menghadiri acara perpisahan Kijne untuk mengakhiri seluruh pekerjaannya dengan Zending tahun 1969.

Pergumulan dan Observasi Pendidikan Karakter Manusia Papua Di Mansinam (1923-1925 )

Memulai aktifitasnya di Mansinam, Kijne melakukan pengamatan terhadap perilaku anak-anak didiknya disana baik watak dan karakter, budaya dan adat istiadat, kemampuan bermusik,bernyanyi, bekerja dan status social mereka. Kijne telah mempelajari laporan pemuda-pemuda Papua yang dikirim untuk dididik Ambon, Sangihe dan Tobelo namun mereka tidak betah dan kembali dengan kapal yang ditumpanginya.

Sebaliknya, di Mansinam, anak-anak Sangihe, Ambon dan Tobelo juga dididik disana bersama-sama anak-anak Papua sehingga muncul image anak-anak Papua tidak mampu bersaing dengan mereka. Sehingga Kijne ingin membuktikan bahwa anak-anak Papua juga mampu bersaing dengan anak-anak dari Ambon, Sangihe dan Tobelo ( Amber ) . Bila perlu anak-anak Amber dikirim kembali ke daerahnya dan anak-anak Papua bersekolah sendiri di Mansinam,supaya suatu saat nanti mereka akan melihat apakah orang Papua bisa bersaing dengan saudaranya dari Ambon,Sangihe dan Tobelo ?

Kita harus memberikan kesempatan kepada anak-anak Papua untuk membangun dirinya sendiri dengan bentuk pendidikan yang dimengerti menurut pikiran, budaya dan kepercayaannya sehingga mereka menurut mereka pendidikan bukanlah sekedar tiruan saja melainkan sesuatu yang sangat mahal harganya untuk itu harus dijaga dan dikembangkan sepanjang peradaban manusia Papua dahulu, kini dan nanti.

“ Saya berpendirian bahwa khusus anak-anak Papua lebih di didik untuk hidup secara mandiri, sehingga mereka sendiri dapat berprestasi. Untuk itu, sesungguhnya mereka mesti mempunyai satu sekolah dalam arti sebenarnya dimana mereka tidak menerima kesan seolah-olah bahwa sekolah hanya sekedar tiruan saja untuk anak-anak Papua “

Kijne berkesimpulan pemuda Papua tidak bisa dididik bersama-sama dengan pemuda Ambon,Tobelo dan Sangihe di Mansinam. Mereka harus dididik sendiri sehingga Kijne membatasi anak-anak Sangihe dan Ambon serta memutuskan anak-anak negeri Papua harus dididik sendiri secara alami menurut tata cara hidupnya yang alami dan terpusat di suatu tempat, sehingga kosentrasi belajar dan pembentukan karakter dapat berjalan serta tidak banyak waktu yang terbuang.

Ada sebuah tempat yang cocok untuk pertanian, dan atas usul Zendeling D.B.Starrenburg dan D.C.A.Bout yang telah bertugas di Teluk Wondama, Kijne melakukan perjalanan awal Januari 1925, ke Miei dan beberapa kampung di Teluk Wondama. Setelah menilai kelayakan tempatnya dari semua aspek, Kijne berketetapan menutup sekolah di Mansinam dan membuka sekolah baru sebagai pusat produksi guru-guru di Tanah Papua di Bukit Aitumeri. Bukit Aitumeri Miei dipilih I.S.Kijne sebagai tempat yang menjanjikan bagi masa depan pendidikan di Tanah Papua.

Lanscape Teluk Wondama dengan panorama yang indah, tanahnya yang subur untuk pertanian, kampun-kampungnya yang berdekatan memudahkan siswa berpraktek, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk, disinilah tempat yang tepat untuk dikembangkan sekolah berpola asrama dimana anak-anaknya dididik untuk bekerja dan mandiri dalam segala hal demi masa depan tanah dan bangsanya.

Aitumeri Bukit Peradaban Orang Papua ( 1925-1941)

Yakin dengan keputusannya atas ilham dari Sang Khalik, I.S.Kijne tiba di Miei pada tanggal 25 Oktober 1925 bersama 35 muridnya dari Mansinam untuk memulai misinya mendidik orang Papua secara khusus. Keesokan harinya, pada sore hari I.S.Kijne berjalan dan mengamati sebuah batu di Bukit Aitumeri tempat dia mulai mengajar dan tempat berdiri untuk melatih paduan suara. Ketika malam tiba, Domine I.S.Kijne mendatangi batu tersebut untuk bergumul dan berdoa kepada Tuhan sebelum memulai misi pendidikannya. Setelah bergumul dan berdoa, Kijne kemudian meletakkan dasar peradaban Bangsa Papua diatas batu tersebut. Kijne berkata demikian.

“Diatas Batu ini, saya meletakkan perdaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi,akal budi dan marifat untuk memimpin bangsa ini, tetapi bangsa ini akan bangkit dan memimpin bangsanya sendiri.”

Setelah berdoa dan meletakkan peradaban Bangsa Papua diatas batu tersebut, Kijne memulai aktivitas pengajaran dengan sekolah sambungan, setelah itu dilanjutkan dengan kelas kursus hingga menjadi sekolah normal pada tahun 1931 menjadi sekolah Guru Jemaat dengan jenjang pendidikan 2 tahun. Karena dianggap layak, sekolah ini berhak mendapat bantuan Guberneman.

Bekerja sejak tahun 1925-1941, I.S.Kijne telah berhasil meluluskan 780 siswa anak Papua yang kemudian kembali ke kampung halamannya menjadi guru dan pelayan dalam jemaat di seluruh Tanah Papua. Sejak tiba di Mansinam tahun 1923, di Tanah Papua sudah ada 110 sekolah yang tersebar di Teluk Wondama, Manokwari, Yapen,Biak,Raja Ampat,Bintuni,Fak-Fak,Sorong Selatan hingga ke Tanah Tabi ( Jayapura ). Namun ketika I.S.Kijne membuka sekolah di Miei, sudah tumbuh 1100 sekolah yang kemudian mengirim murid-muridnya untuk melanjutkan pendidikan di Bukit Aitumeri Miei.

Bekerja selama 9 tahun sejak dari Mansinam tahun 1923 hingga tahun 1932, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke kampung halamannya di Vlaardingen dan meminang gadis pujaannya Johanna Regina Uitenbogaard dan diboyong ke Bukit Aitumeri dan hidup bersamanya dalam pekerjaan pekabaran Injil hingga tahun 1941. Johanna Regina Uitenbogaard biasa dipanggil Jopie. ( Pengabdian Mama Jopie akan dikisahkan secara terpisah dengan judul I.S.Kijne Cinta dan Pengorbanannya Untuk Bangsa Kulit Hitam Di Timur Lautan Teduh bagian 2 )

Ditangkap dan Menjadi Tawanan Perang Dunia II

41440941_2043700212347285_4182162153224011776_n

I.S.Kijne dan Mama Jopie melayani di bukit Aitumeri sejak tahun 1933 hingga 1941, mereka mengambil cuti pendek berlibur ke Malang Jawa Timur Agustus 1941 – Maret 1942, namun nasib naas menimpa mereka, pecah Perang Dunia II tahun 1942 dan Tentara Jepang sudah menguasai Hindia Belanda dan menangkap para pekerja Zending, F.C.Kamma ditangkap di Raja Ampat sementara I.Kijne dan Mama Jopie ditangkap di Malang April –Mei 1942 dan di asingkan ke Balige Sumatera Utara selama 3 tahun.

Diasingkan selama 3 tahun ( 1942-1945 ), I.S.Kijne dan Mama Jopie ditawan terpisah dan keadaan ini membuat mereka harus berpisah selama 3 tahun. Dikisahkan, pada saat diasingkan secara terpisah ini, Mama Jopie Kijne melahirkan anaknya yang pertama Maria Caroline Kijne dalam tahanan. Diperkirakan, waktu ditahan, Mama Kijne sedang hamil, mungkin kehamilan ini juga yang menjadi alasan mereka mengambil cuti pendek dan berlibur ke Malang.

Undangan Ratu Juliana dan Tawaran Yang Menggiurkan Setelah Perang Dunia II berakhir tahun 1945, Ratu Belanda Juliana memerintahkan orang-orang di Kerajaan Belanda untuk mencari tahu berapa pekerja Zending Belanda di Nieuw Guinea ( Tanah Papua ) yang masih hidup dan ditawan Jepang dan berapa yang sudah meninggal ? Ada yang dibunuh ada ada yang masih hidup, salah satunya adalah I.S.Kijne.

Ratu Juliana kemudian memerintahkan I.S.Kijne untuk menemuinya di Istana Kerajaan Belanda pada tahun 1946, namun karena kecintaannya terhadap Bangsa Papua, Kijne lebih memilih kembali ke Papua untuk melihat perkembangan Papua akibat Perang Dunia II namun dia harus melayani sebagai pendeta di Medan Sumatera Utara ( Oktober 1945- Mei 1946 ), barulah I.S.Kijne berkesempatan mengunjungi Papua dan memulai membangun misi barunya.

Setelah bebas dari tawanan dalam pengasingan di Belige Sumatera Utara, Kijne juga kembali ditawarkan untuk bekerja di Malang Jawa Timur dan Medan Sumatera Utara dengan tawaran gaji tiga kali lipat seperti dengan jaminan dan fasilitas memuaskan lainnya tetapi Kijne menolak tawaran tersebut dan memilih tetap pulang untuk membangun kembali puing-puing sekolah dan gereja yang rusak akibat PD II sekaligus membangun kembali peradaban Papua.

Cornelis Mesakh Gossal mengisahkan pada tahun 1930 Kijne ditawari oleh Departemen Kebudayaan Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi Direktur Kweek School di Jawa dengan gaji tiga kali lipat dengan jaminan pension dan segala fasilitas yang menjanjikan dan sangat memuaskan, tetapi Kijne menolakanya. Kijne lebih menjunjung tinggi panggilan Tuhan untuk mendidik pemuda-pemuda Papua yang masih terbelakang untuk dipsersiapkan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan.

Januari 1947, I.S.Kijne mengambil cuti kembali ke negeri Belanda sekaligus bertemu dengan Ratu Juliana, pada kesempatan ini, Ratu Juliana menganugerahkan penghargaan sebagai “ Bapak Orang Nieuw Guinea “ Orange

Cinta Membawanya Kembali Membangun Puing-Puing Peradaban Baru Bangsa Papua

Ketika diwawancarai wartawan Harian Leiden, tentang pekerjaannya di Papua yang sudah rusak berat, telah menderita ditawan, dan tawaran menggiurkan yang datang kepadanya untuk mengabdi di tempat lain dengan gaji 3 kali lipat namun dia lebih memilih kembali ke Papua, I.S.Kijne mengatakan bahwa Tanah dan Bangsa Papua adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup dan keluarga saya.

Kecintaan Kijne yang begitu besar terhadap Papua telah ditunjukkannya melalui Mansinam dan Miei dalam membimbing dan mengasuh anak-anak Papua, tak pernah sekalipun I.S.Kijne maupun Mama Jopie memarahi anak didiknya, apalagi mengatakan mereka bodoh, yang dilakukannya adalah berdoa dengan mereka.

Karena kecintaannya juga, ketika kembali dari pengasingan di Sumatera Utara, Kijne membangun kembali puing-puing sekolah dan gereja yang hancur akibat Perang Dunia II. Terinspirasi dengan kehadiran Pasukan Sekutu Hitam pada PD II, anak-anak Papua ingin berkarir di segala bidang maka Kijne seperti mereka maka dibukalah Institute Joka yang akan mendidik anak-anak Papua untuk dapat melanjutkan pendidikan ke bidang-bidang lain seperti Pamong Praja, Polisi, Pertukangan, Guru, Perawat dan lain-lain.

Menjadi Direktur di Institute Joka ( 1949-1951 ), sekolah di Miei pun ditutup karena Kijne lebih berkosentrasi di Joka sekaligus menjabat sebagai Ketua Zending Keempat dan Ketua Zending Keempat ( 1949-1953). Melepaskan jabatan Direktur Joka Institute dan Ketua Zending kepada F.C.Kamma, I.S.Kijne pergi ke Serui mendirikan Sekolah Theologi RAZ di Serui untuk memproduksi para pendeta dan guru jemaat ketika nanti GKI DI Irian Barat sudah menjadi gereja Mandiri.

Di Serui, I.S.Kijne bersama teman-teman Zendelingnya, terutama F.C.Kamma mempersiapkan berdirinya GKI Di Irian Barat secara resmi pada 26 Oktober 1956. Usianya yang makin senja serta Kondisi politik yang makin tidak menentu membuat Kijne mengambil keputusan untuk kembali ke kota kelahirannya.

Perpisahan Yang Mengharukan

Sebelum pulang ke Belanda setelah bertugas di Serui 1958, I.S.Kijne mengunjungi seluruh murid-murid dan rekan kerjanya baik di Jayapura, Teluk Wondama dan Kepala Burung Tanah Papua, dan berangkat dari Biak dengan pesawat KLM. Disalaminya mereka satu per satu disertai pesan-pesan serta melaksanakan perjamuan dengan mereka.

Di Wondama murid-muridnya berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pelabuhan sambil berucap..masa pandita,tabea au so, sjen Jesus be berkat au ( Tuan Pendeta, selamat jalan, Tuhan Jesus memberkati mu). Kijne berjalan sambil melambaikan tangan kepada semua orang yang mengantarnya diiringi music suling tambur.

Sesekali jalannya harus terhenti karena murid-muridnya menyanyikan lagu Seruling Emas 33 “ Kami Dengar Bapa Mau Berangkat “ dan Mulialah bentangan langit bersandar pada “ Wondiwoi”. Kakinya terasa berat untuk melangkah menaiki kapal yang akan membawanya pergi, bibir tersenyum namun hatinya sedih karena harus meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Kapal Zen yang membawanya berputar mengelilingi Wasior Ke Miei sebanyak tiga kali kemudian membelah samudera menghilang meninggalkan Teluk Wondama.

Penentuan Pendapat Rakyat dan Serangan Jantung

Pulang ke negerinya tidak berarti I.S.Kijne memutus hubungan dengan Tanah dan Bangsa Papua. I.S.Kijne tetap bekerja di pusat Zending dan menjadi dosen yang mengajarkan mata kuliah Etno Sosiology dan Antropology Budaya Gereja-Gereja di Indonesia hingga 1959 dan menjadi penulis dan kepala perpustakaan sejak tahun 1964-1969.

Karena kecintaan Kijne memiliki harapan sangat besar untuk Bangsa Papua dapat memimpin dirinya sendiri, setiap perkembangan pekerjaan Zending maupun politik di Tanah Papua diikutinya dengan baik. Ketika mendengar hasil Penentuan Pendapat Rakyat dimana Rakyat Papua memilih bergabung dengan Indonesia, Kijne merasa terpukul dan sangat kecewa sekali, kesehatannya mulai menurun drastic.

Setelah pelaksanaan Pepera tahun 1969, I.S.Kijne berkata kepada istrinya Mama Jopie di Vlaardingen ( Pebruary 1970 ) bahwa orang Papua memilih bergabung dengan Indonesia dibawah intimidasi dan manipulasi politik sebab Utusan PPB Ortizan pun dibawah tekanan militer Indonesia, hal ini membuat Kijne prihatin dan menyesal hal yang sangat buruk akan menimpa Bangsa dan Tanah Papua.

” Hal yang buruk dalam sejarah peradaban manusia Papua dan dikemudian hari membuat Tanah dan Orang Papua akan menyesal seumur hidupnya di Tanah yang diberkati namun tidak dihargai oleh Bangsa Papua sendiri. “

Ketika dinyatakan oleh Holvast wartawan Harian Leiden kenapa anda pulang Ke Belanda padahal tenaga dan pikiran mu masih dibutuhkan disana.

I.S.Kijne mengatakan,

” Sebenarnya saya tidak mau pulang karena pasti disana saya akan diberikan tempat oleh Bangsa Papua untuk seluruh keluarga dan anak cucu namun saya harus pulang ke negeri Belanda dengan terpaksa karena situasi politik yang tidak baik antara Belanda, Indonesia dan Penguasa Dunia “ ( Amerika dan sekutunya,Rusia, China dan sekutunya).

Saya pulang dengan keyakinan bahwa Tanah dan Bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang mempunyai kepentingan politik atas segala kekayaan dari hasil tanah itu tetapi mereka tidak akan membangun manusia Papua dengan kasih sayang, sebab kebenaran dan keadilan akan diputar balikkan serta banyak hal baru yang akan membuat orang Papua menyesal, tetapi itu bukan maksud Tuhan, karena itu keinginan manusia.

Sebab, pasti suatu saat Orang Papua akan melihat maksud Tuhan untuk Tanah dan Alamnya yang masih penuh misteri, rahasia dan kepastian untuk sebuah masa depan yang pasti.

Sabtu, 14 Maret 1970, sebuah telegram yang mengejutkan diterima oleh Pimpinan Sinode GKI Di Irian Barat yang dikirim oleh Sekretaris Umum Dewan Pekabaran Injil Gereja Hervormd Nederland. Bapak Orang Nieuw Guinea ISack Samuel Kijne telah menghadap Sang Penciptanya pada tanggal 11 Maret 1970 karena Serangan Jantung.        ( Joe Stefano Anak Guru Jemaat GKI Di Tanah Papua )

Sumber :

– Hanz Wanma, Domine Izak Samuel Kijne, Mengenang Hidup dan Karyanya Untuk Tanah dan Bangsa Papua, JW Press, 2016.
– Decky Wamea, Peranan Zending dalam Bidang Pendidikan, Sasako Papua Publisher, Manokwari, Agustus 2010.

Papua dan Ambisi Presiden Pertama

Papua dan Ambisi Presiden Pertama
Sukarno membebaskan Irian Barat (kini Papua). Ilustrasi: Gun Gun/Historia.

Bagi Sukarno, Indonesia tanpa Papua sama seperti tubuh tanpa ujung jemari.

Hanya selebar daun kelor. Begitulah Bung Karno memandang wilayah Papua bila dibandingkan dengan kepulauan Indonesia yang lain. Meski demikian, presiden pertama RI itu tetap berkeyakinan bahwa setengah dari kepulauan ujung timur Nusantara tersebut adalah bagian dari negeri Indonesia. Saat itu, di kalangan Indonesia, Papua masih bernama Irian Barat. Di Belanda disebut Nederland Nieuw Guinea.

“Akan tetapi Irian Barat adalah sebagian dari tubuh kami,” kata Sukarno kepada penulis Cindy Adams dalam otobiografi Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Apakah seseorang akan membiarkan salah satu anggota tubuhnya dipotong begitu saja tanpa membalas sedikitpun? Apakah orang tidak akan berteriak kesakitan, apabila dipotong ujung jarinya sekalipun hanya sedikit?”

Klaim Sukarno bukannya tanpa dasar. Sejak zaman kolonial, Papua merupakan bagian dari Hindia Belanda yang dalam pengakuan kedaulatan akan menjadi bagian Republik Indonesia Serikat. Tapi Belanda bersikap bengal. Dalam perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) akhir 1949, Pemerintah Belanda menolak menyerahkan wilayah itu. Alasannya, secara etnis dan kebudayaan, rakyat Irian Barat berbeda dari Indonesia. Sehingga tak ada alasan bagi Indonesia mengklaim Papua.

“Mengapa tidak?” tanya Sukarno. “Apakah mereka (rakyat Papua) lebih mirip dengan orang Belanda yang berpipi merah, berambut jagung dan dengan muka berbintik-bintik itu?”

Pusat Sengketa

Dalam amatan Sukarno, Papua adalah daerah yang sangat terbelakang. Alamnya berupa hutan lebat dengan gunung-gunung pencakar langit dan rawa yang luas. Menurut Sukarno, Papua tak banyak faedahnya bagi Belanda.

Keuntungan yang diperoleh Belanda dari tambang minyak bumi belum sebanding dengan biaya untuk mengolahnya. Pengeluaran khusus juga harus dialokasikan untuk membangun kesejahteraan rakyat Papua. Belanda menginginkan Papua hanya karena alasan psikologis sebagai salah satu negara imperialis yang masih ingin berkuasa. “Di samping itu orang Belanda kepala batu,” kata Sukarno.

Belanda ternyata tak senaif seperti yang dikatakan Sukarno. Dari sudut keuntungan, Belanda telah bermain hitung-hitungan. Sejak masa kolonial, selain minyak bumi – Belanda telah menyadari kandungan mineral berupa yang cukup besar tersimpan di bumi Papua. Telaah atas kekayaan alam Papua ini tercatat dalam laporan kepala residen Jan van Echoud berjudul ‘Nota inzake de economische toekomst van Nieuw-Guinea’ (nota mengenai masa depan ekonomi Nieuw-Guinea).

“Perembukan mengenai menambang mineral hampir seluruhnya melalui Den Haag (Pemerintah Belanda di negeri induk), sedangkan diskusi-diskusi tentang pengambilan kayu dan perikanan pada umumnya mengikutsertakan juga gubernemen di Hollandia (pusat pemerintahan Belanda di Papua),” ungkap sejawan cum arsiparis Belanda Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas!: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri.

Pemerintah Belanda menurut Drooglever, memang bertekad memperkuat basis ekonominya di Papua. Pada saat yang sama, Indonesia memperjuangkan wilayah itu terintegrasi dalam kekuasaan Republik. Selama tiga belas tahun lamanya Papua menjadi pusat sengketa antara Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda.

Ibarat Pisau Belati

Sukarno sendiri tak pernah beranjak dari seruan “Sabang sampai Merauke” sebagai wujud keutuhan kedaulatan Indonesia. Maka soal Papua adalah harga mati. Seberapa besar arti Papua di mata Sukarno? Sukarno menguraikannya saat berpidato di Lapangan Banteng pada 18 November 1957.

Dalam pidatonya berjudul “Djangan Ragu-ragu Lagi!”, Sukarno mengatakan dalam Undang-Undang Dasar tertulis wilayah Republik Indonesia adalah Indonesia. “Nah, Indonesia itu apa? Indonesia ialah segenap kepulauan antara Sabang dan Merauke,” ujar Sukarno. Ini merupakan dasar legal tuntutan Indonesia atas Papua. Legal berlandaskan hukum melalui perundingan dan perjanjian antara Indonesia dengan Belanda.

Lantas, apakah Sukarno benar-benar tak mengetahui betapa kayanya sumber daya alam Papua? “Lha kalau betul-betul Irian Barat itu ndak ada apa-apa, lha kok sampeyan (Belanda) itu nongkrong di Irian Barat itu buat apa?” ujar Sukarno.

Nyatanya, Sukarno sangat menyadari potensi Papua secara ekonomi. Menyitir laporan tim geologinya, Sukarno mengatakan Irian Barat kaya akan minyak bumi. Penyelidikan mutakhir saat itu bahkan menyebutkan adanya kandungan uranium.

“Demikian pula menurut keterangan-keterangan yang terakhir, di Irian Barat ini kaya dengan uranium. Uranium yang sekarang berharga tinggi di abad atom,” kata Sukarno. “Jadi saudara-saudara, sudah nyata sekali pihak Belanda di Irian Barat ialah untuk mengambil kekayaan kita. Dan kita pun mempunyai alasan-alasan ekonomis untuk menuntut kembalinya Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik.”

Selain itu Sukarno menyebutkan dua alasan lain, yaitu keamanan dan prinsip antikolonialisme. Dari segi keamanan, keberadaan Belanda di Papua ibarat pisau belati yang mengarah kepada Indonesia. Keberadaan Belanda disana juga melambangkan kekuasaan kolonial yang masih gentayangan. Kata Sukarno, “Jikalau imperialisme Belanda masih nongkrong disitu, kita merasa seperti ada pisau dibelakang kita ini. Ada pisau belati dibelakang kita ini, saudara-saudara.”

Itulah sebabnya, ketika konflik Irian Barat kian memuncak, Sukarno bertekad untuk membebaskan Papua dengan jalan apapun. Seruan itu dinyatakan Sukarno saat berpidato di Palembang, 10 April 1962.

“Tidak perduli PBB bahkan meskipun meminjam tangannya setan, aku tidak perduli. Ya, meskipun tangannya setan. I do not careI do not mind, asal Irian Barat pada tahun ’62 ini juga kembali kepada kita, kepada Indonesia,”  kata Sukarno dalam pidatonya yang berjudul “Seluruh Rakyat dari Sabang sampai Merauke Bertekad Membebaskan Irian Barat dalam Tahun ini juga”.

Menurut Asvi Warman Adam sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan atau tanpa daya pikat kekayaan alamnya, Sukarno tetap akan memperjuangkan Papua. Pasalnya, wilayah itu berada dalam lingkup kedaulatan nasional.

“Sukarno memperjuangkan Irian Barat dengan atau tanpa mengetahui kekayaan SDA (sumber daya alam) nya,” kata Asvi kepada Historia. “Sejak KMB ditandatangani akhir Desember 1949 Bung Karno merasa bahwa kemerdekaan RI itu belum utuh secara teritorial. Itulah yang diperjuangkannya sampai tahun 1963.”

 

Posted by: Admin

Copyright ©Historia“sumber”

Hubungi kami di E-Mail: redaksi.tolipost@gmail.com

Papua di Tangan Soeharto

Papua di Tangan Soeharto
Soeharto dan peta Papua. Di masa Orde Baru disebut Irian Jaya. Ilustrasi: Gun Gun/Historia.

Dijadikan lahan pendulang devisa, rakyat Papua menjadi sengsara di tangan Orba.

SABTU, 3 Maret 1973. Sejarah mencatat Presiden Soeharto meresmikan tambang tembaga milik Freeport Sulphur, (sebuah perusahaan tambang terkemuka asal Amerika Serikat) sekaligus meresmikan berdirinya kota Tembagapura. Saat memberikan pidato sambutan, Soeharto begitu sumringah.

“Perusahaan ini adalah pelopor penanaman modal asing di Indonesia; dan lebih istimewa lagi dalam modal yang sangat besar. Tuan-tuan datang ke Indonesia dalam keadaan kami yang masih sulit pada tahun 1966,” ujarnya.

Bagi Soeharto, gelontoran uang yang diinvestasikan Freeport ke bumi Papua merupakan bentuk kepercayaan kepada Indonesia untuk membangun masa depan. Kepercayaan itu juga telah mendorong penanam-penanam modal asing lain untuk datang ke Indonesia. Selain itu, Soeharto juga menyatakan kepercayaannya bahwa kegiatan pertambangan akan membantu memajukan masyarakat lokal disitu.

“Karena itu, saya sangat gembira dapat meresmikan pembukaan tambang ini. Saya ucapkan selamat kepada Freeport Indonesia, kepada pimpinannya dan kepada seluruh karyawannya,” kata Soeharto yang lantas menutup pidatonya dengan ucapan terimakasih.

Petaka Rakyat Papua

Pegunungan Erstberg tak hanya menyimpan tembaga. Salah satu gunung bernama Grasberg juga mengandung cadangan emas yang melimpah. Grasberg disebut-sebut sebagai tambang emas terbesar di dunia. Lewat kontrak karya berdasarkan UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang diizinkan pemerintah Soeharto, Freeport memiliki hak istimewa untuk merambahnya.

Kehadiran Freeport langsung mengancam penduduk asli dari suku Amungme yang berdiam di dataran tinggi sekitar proyek tambang. Suku Amungme sangat terikat dengan tanah leluhur. Bagi mereka, Gunung Grasberg dianggap suci. Puncak Grasberg dikiaskan sebagai kepala ibu. Orang Amungme sangat menghormati kawasan keramat itu.

Ketika beroperasi, aktivitas penambangan Freeport telah mengubah bentang alam Gunung Grasberg menjadi lubang raksasa sedalam 700 meter. Danau Wanagon sebagai danau suci orang Amungme ikut hancur karena dijadikan pembuangan batuan limbah yang sangat asam dan beracun. Freeport juga mencemari tiga badan sungai utama di wilayah Mimika: Aghawagon, Otomona, dan Ajkwa. Ketiga sungai dijadikan tempat pembuangan limbah sisa produksi yang disebut tailing.

“Lebih dari 200.000 ton tailing dibuang setiap harinya ke Sungai Aghwagon, yang kemudian mengalir ke Sungai Otomona dan Sungai Ajkwa,” ungkap Harsutejo dalam Kamus Kejahatan Orba.  Sungai-sungai di sekitar Tembagapura, sebagaimana disaksikan Harsutedjo tampak berwarna coklat tua pekat bagaikan adonan jenang gosong.

Tak hanya invasi modal asing. Suku Amungme dan suku-suku lainnya juga terjepit oleh migrasi pendatang dari luar Papua. Sekira sejuta hektare lahan mukim suku Amungme berpindah tangan ke tangan para pendatang. Inilah imbas dari program transmigrasi yang digalakkan pemerintah Orde Baru.

Menurut antropolog Austria Christian Warta, ideologi Soeharto tentang “pemindahan penduduk” tersebut didasarkan pada asumsi tentang keunggulan pendatang baru. Soeharto melihat para pendatang membawa modernitas ke daerah-daerah terpencil Papua. Di sisi lain, rakyat Papua dipandang sebagai masyarakat tertinggal yang harus dijadikan berbudaya dan beradab.

“Akibatnya, banyak masyarakat Papua merasa terpinggirkan oleh meningkatnya jumlah pendatang tersebut,” tulis Warta dalam “Perkembangan Masalah Agama di Papua: Sengketa Antaragama dan Pencegahan Konflik” termuat di kumpulan tulisan Kegalauan Identitas: Agama, Etnisitas dan Kewarganegaraan pada masa Pasca Orde Baru suntingan Martin Ramsted. “Ketakutan menjadi minoritas di tanah sendiri ini lah yang secara wajar memicu nasionalisme Papua.”

Harga yang Dibayar

Keberadaan Freeport memantik konflik dengan masyarakat setempat. Bagi orang Amungme, Freeport seperti pencuri yang menjarah kediaman orang lain tanpa izin. Freeport sendiri sempat menjanjikan kompensasi fasilitas sosial kepada suku Amungme berupa sekolah, pasar, hingga perumahan. Namun kesepakatan tak pernah terjadi karena salah urus dari pemerintah daerah.

Pada 1977, protes suku Amungme dan enam suku lainnya memuncak jadi perlawanan terbuka. Mereka memotong pipa penyalur bijih tembaga, membakar gudang, dan melepaskan kran tangki persediaan bahan bakar milik Freeport. Insiden ini terdengar sampai Jakarta. Soeharto kemudian menerapkan kebijakan keras lewat pendekatan keamanan. ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) pun diturunkan.

“Kebun dan rumah-rumah dihancurkan, sejumlah orang dibantai. Pemerintah mengumumkan jumlah orang yang meninggal di Tembagapura sebanyak 900 orang. Para saksi lapangan memperkirakan dua kali lipatnya,” tulis Harsutejo. Sebagian besar warga Amungme ditangkap dan dinterogasi tentara. Yang melarikan diri memilih tinggal di hutan sekitar Lembah Tsinga selama tiga tahun. Mereka dipandang sebagai pengacau macam Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Represi lanjutan dilakukan dengan menetapkan Irian Jaya sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) selama dua puluh tahun (1978-1998). Pemerintah juga memindahkan warga Amungme ke dataran rendah untuk dijadikan petani. Karena lingkungan yang tak cocok, sebanyak 20 persen anak-anak Amungme meninggal karena malaria. Bisnis Freeport jalan terus.

Menurut penelitian Amiruddin Al Rahab dan Aderito Jesus de Soares dalam Perjuangan Amungme: Antara Freeport dan dan Militer, selama 14 tahun pertama beroperasi Freeport meraup keuntungan sebesar 14,9 milyar dolar AS. Sedangkan penerimaan negara dari pajak dan royalti berjumlah 5,4 milyar dolar AS.

Bagaimana dengan aliran dana di jalur yang lain? Sejak 1980, Presiden Soeharto menerima upeti setiap tahunnya sebesar 5 sampai 7 juta dolar AS tiap tahun. Selain itu, menurut Prospek 13 Juli 1998 sebagaimana dikutip Amiruddin dan Aderito, Freeport telah menyerahkan uang kepada Yayasan Dana Sejahtera yang didirikan oleh Soeharto sebesar 20,3 juta dolar AS berdasarkan Kepres No. 92/1996.

Pada 1996, sekira 2000 personel dari kesatuan Kopassus dan Kostrad dikerahkan langsung di bawah perintah Presiden Soeharto demi menjaga Freeport. Untuk itu, Freeport memberikan lagi dana kepada Soeharto sebesar 40 juta dolar AS. Freeport mau melakukan itu agar situasi di Papua stabil dan mereka dapat mengeduk emas lebih banyak lagi demi target mendapatkan superprofit. Sebaliknya, bagi pemerintah, Freeport adalah pendulang uang yang harus diamankan dari apapun.

“Jika orang Papua mengganggu atau menuntut Freeport, aparat akan melakukan tindakan,” tulis Amiruddin dan Aderito.

Pundi-pundi devisa negara bertambah lewat tangan pengeruk Freeport. Ini menjadi penghasilan terbesar dari Papua untuk Indonesia. Akan tetapi, yang diuntungkan dari kerja sama ini hanyalah penguasa Orde Baru, segelintir elite Papua, dan sang pemilik modal. Soeharto -yang berjuluk Bapak Pembangunan Nasional- telah mengingkari harapannya untuk membangun masyarakat lokal di Papua.

 

Posted by: Admin

Copyright ©Historia“sumber”

Hubungi kami di E-Mail: redaksi.tolipost@gmail.com